Wanita Penghibur untuk Suamiku

Pernyataaan

Kini jemari Naura memangku wajahnya yang tetap cantik meski banyak noda air mata di sana. Kopi latte yang sudah mulai mendingin dibiarkan begitu saja di hadapannya. 

 
"Nau ... aku ingin berterus terang," sebuah suara cantik membuyarkan lamunan Naura. 
 
Naura membalikkan tubuhnya dengan cepat mengarah ke samping, berhadapan pada wajah Zoya. Naura mulai memandang Zoya serius. 
 
"Aku mulai menyukai Bram, setelah melihat perjuangannya padamu ... Nau. Maaf jika aku lancang. Aku nggak pernah sedikit pun cemburu saat Bram masih menyukaimu. Bahkan kalau nanti kalian bakal bersatu kembali pun, aku nggak keberatan."  
 
Kalimat Zoya barusan sukses membuat Naura membulatkan matanya, ia mulai mendekati Zoya. Saat ini mereka berhadapan sangat dekat, Naura mulai menggenggam jemari Zoya. "Aku tidak akan mungkin lagi kembali Zoy! Dan perasaanmu tidak salah, wajar seorang pria dan wanita bersahabat pasti akan ada rasa yang lebih. Aku titip perasaanku padamu, Zoy." Naura menarik tubuh Zoya mendekat, ia memeluk sahabatnya. 
 
Menepuk pundak sahabatnya dengan lembut. Tidak ada hak untuk Naura memarahi perasaan Zoya yang timbul terhadap Bram, dirinya kini hanyalah sebatas sahabat, tidak lebih. 
 
Sekarang Zoya dan Naura menikmati kebersamaan mereka, tertawa seperti dulu. Bercanda, berbagi cerita dan berkeluh kesah. 
 
Tidak terasa kebersamaan mereka harus terpisah, karena hari sudah mulai gelap.
 
*** 
Di sisi lain, pak Kiki yang sedang menemani kerabat dari teman wanita Bosnya. Hanya tertunduk lesu menyaksikan adegan yang tidak berubah sama sekali sedari siang.
 
Makanan yang ia beri pun sepertinya akan mubazir, pak Kiki menyeruput sebuah kopi hangat di tangannya dan menawari mereka makan lagi untuk ke sekian kalinya. "Buk, Pak, sebaiknya dimakan saja nasi kotaknya, sayang jika tidak dihabiskan. Jadi mubazir ...," ucap Pak Kiki pelan.
 
"Buang saja makanan itu, toh kami tidak perlu dikasihani kami hanya butuh tanggung jawab bukan hanya sekedar makanan kecil seperti ini!" bentak Pria paruh baya itu dengan melemparkan nasi kotak itu di hadapan pak Kiki.
 
"Oke pak," sahut pak Kiki mendengus sebal, ia membungkusi nasi kotak yang super mewah baginya dan makanan ringan lainnya ia bungkusi jadi satu dan ia melangkahkan kaki melewati pria paruh baya itu.
 
Bagi pak Kiki nasi kotak ini begitu mewah, baginya jika harus dibuang begitu saja akan menjadi sangat mubazir. Bagaimana tidak? Kotak itu berisikan ikan dori tepung, ayam bakar kecap, daging teriyaki dan sejenis buah lainnya menghiasi nasi dalam kotak itu. Pak Kiki sengaja membelikan mereka makanan mewah, sepadan dengan berapa jumlah banyaknya uang yang istri bosnya beri.
 
Mungkin menurut orang lain Nasi ini biasa saja, tetapi ... bagi Pak Kiki nasi dengan lauk begini hanya bisa ia beli saat upah kerjanya dinaikkan oleh Pak Abdi. 
 
Pak Kiki menyunggingkan senyumnya, menenteng seplastik besar yang berisikan tiga nasi kotak, cemilan dan minuman lainnya. Ia membayangkan betapa senang anak dan istrinya menerima bingkisan ini.
 
Ia melangkahkan kakinya dengan cepat melewati koridor rumah sakit dan ia baru saja teringat dengan amanah dari buk Naura. Jika nasi kotak ini ia bawa terasa nggak fair, jatuhnya ia seperti penipu yang hanya ingin senang nya saja.
 
Tanpa ragu-ragu pak Kiki mengeluarkan ponselnya dari saku, ia mencari sebaris nama di kontaknya dan menelepon Naura untuk memberi tahu keadaan yang sedang terjadi.
 
Tut ....
 
Tut ....
 
Tulisan di layarnya ponselnya berdering, lalu tiba-tiba berubah menjadi menyambunngkan.
 
"Halo ... Buk, maaf mengganggu. Ini mau ngabarin buk, nasi kotak yang saya belikan mereka nggak mau nerima. Jadi gimana buk?" 
 
"Oh yaudah nggak apa-apa pak, untuk bapak aja ya. Anggep aja rezeki. Kirain ada apa pak." Suara Naura di seberang panggilan.
 
"Yaudah iya, Buk ... terima kasih, Buk." 
 
Panggilan itu terputus ....
 
Pak Kiki terburu-buru melangkahkan untuk menaiki motornya, pikirannya sudah terbayang betapa sumringahnya istri dan anaknya nanti menyambut dirinya.
 
****
 
"Assalammualaikum, Buk ...," panggil Pak Kiki setiba di rumahnya. Rumah bedeng yang hanya berukuran 4x6 meter baginya cukup untuk hanya sekedar berteduh dan berlindung bersama keluarga kecilnya.
 
Dengan suara ketukan dari luar, istrinya pun bergegas untuk membukakan pintu. "Dek, ini ada oleh-oleh sedikit dari Bos abang." Pak Kiki menjulurkan bungkusan besar ke tangan istrinya.
 
Istri menyambut plastik itu dengan senyuman lebar dan anak perempuan berumur 2 tahun 8 bulan yang sedari tadi di dekapan ibunya turun dengan cepat, membongkar seluruh isi dari plastik itu. 
 
Senyuman inilah yang pak Kiki harapkan, senyuman dari ke dua orang tercintanya. Mereka makan bersama dengan nikmat, ada rasa kebahagiaan tersendiri melihat anak dan istrinya menikmati makanan itu dengan lahap. 
 
"Terimakasih Tuhan, telah memberikan rezekiku berlimpah di hari ini," batin Pak Kiki bergumam, sembari mengamati dua orang tercintanya makan dengan sangat lahap.
 
*****
 
"Dari siapa ... Nau?" tanya Abdi yang baru saja melihat Naura menerima panggilan.
 
"Oh itu mas, pak Kiki nelpon." 
 
Abdi membulatkan matanya, jantungnya berdegup kencang. Ia takut jika security nya itu mengabarkan sesuatu tentang kerabat Aqila yang berbuat ulah lagi.
 
"Hah ... pak Kiki? Emang ngabarin apa, Nau?" tanya Abdi lagi dengan memasang wajah yang berusaha ia tahan agar terlihat tidak panik. 
 
"Pak Kiki ngomong, katanya keluarga Aqila nggak mau nerima makanan dari dia. Yaudah deh Nau suruh bawa aja. Dari pada mubazir." Naura mendengus.
 
"Belagu banget sih! Itu tuh yang mas nggak suka! Di 
kasih hati malah minta nyawa!" suara Abdi yang sedikit menaikkan nadanya.
 
"Sudahlah, Mas, namanya juga orang tua. Wajar kalau betingkah kaya gitu." Naura menimpali sembari menenangkan suaminya. Ia mengusap bahu suaminya dengan sangat pelan.
 
Dan saat keadaan sudah mulai kembali tenang, Naura mengajak Abdi untuk makan malam bersama. Mereka melangkah bersamaan ke arah meja makan. 
 
Meja makan yang sedari tadi sudah disiapkan oleh dirinya dan ke tiga asistennya. "Marni, Boah, Loisem!" panggil Naura.
 
Dengan cepat mereka bertiga berdiri di hadapan Naura, melihat tingkah laku mereka Naura hanya membuang napasnya dengan kasar.
 
"Ngapain? Ayok makan! Tapi Marni ke atas dulu yaa panggil Bunda suruh makan ke bawah," titah Naura.
 
Marni dan Abdi pun ke lantai atas, Abdi membopong Berlin dan Marni menggandeng Bunda menuruni anak tangga.
 
"Makan ... Bun," sapa Naura dengan senyuman sangat manis.
 
Bunda mengamati sekitarnya dengan tatapan heran. "Nak, kamu mengajak asistenmu untuk makan semeja bersama kita?" tanya Bunda yang berhasil membuat Abdi dan Naura saling bertatapan. 
 
Ke tiga Asisten itu pun hanya menundukkan kepalanya saat mendengar pertanyaan itu.
 
"Bun, bagi Naura Marni, Boah dan Loisem bukan hanya sekedar asisten. Tapi juga keluarga dan sebuah keluarga memang sudah seharusnya makan di tempat yang sama kan bun?" ujar Naura dengan lembut.
 
Bunda hanya tersenyum mendengar jawaban dari menantunya. Rasanya kebanggaan memiliki menantu seperti Naura bertambah seribu kali lipat.
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!