Wanita Penghibur untuk Suamiku

Dua Lelaki yang Mengejar

Ting ....

 
Sebuah notif pesan bertuliskan sebaris nama di layar ponselnya.
 
"Nau, dimana? Mas udah pulang nih." Isi pesan itu dari suaminya.
 
Bram berusaha mengintip isi pesan itu dengan meninggikan lehernya seperti angsa, Tetapi bukannya terbaca malah wajahnya didorong menjauh oleh jemari Naura. 
 
"Jangan kepo! Ntar kucongkel biji matamu, Bram! Kesel banget Aku!" Naura lagi-lagi harus mendengus sebal.
 
Mendengar perkataan itu, Bram bergidik memegang matanya. Tidak lucu kan? dirinya sudah jomblo, ditinggal nikah, masih sayang banget dengan mantan, terus ditambah lagi kalau Bram jadi buta! Astaga itu komplit banget penderitaan.
 
"Seremnya ...," Bram menjawab singkat.
 
Naura tertawa kuat, melihat mimik wajah Bram yang secara konstan berubah. "Emang dasar ya ... kalau selingkuhan mah, sensitif banget!" bisik Naura di telinga kanan Bram, sembari meledek.
 
"Jangan panggil Aku dengan sebutan itu dong ...," Bram mendengus sebal.
 
Seolah tidak menghiraukan kata-kata Bram, Naura melihat jam tangannya dan dengan refleks berdiri. "Bram, pulang yuk! Udah mau malem ini. Aku nggak enak dengan mertuaku!" ajak Naura.
 
Bram beranjak dari duduknya dengan malas, kakinya terasa enggan sekali melangkah untuk pulang. Dirinya masih terasa sangat kurang untuk bercengkrama, tertawa dan bercanda bersama sang kekasih.
 
**** 
 
"Nau, Aku boleh ngomong sesuatu?" tanya Bram serius.
 
Naura hanya mengangguk, sembari menatap Bram dengan hangat. "Jika Kamu harus memilih, Kamu pilih Abdi atau Aku ... Nau?" tanya Bram sangat pelan.
 
Mendengar pertanyaan Bram, Naura hanya menundukkan kepalanya. Ntah apa yang harus Naura jawab saat ini?
 
Jika ia harus meninggalkan Abdi, lalu menikah bersama Bram. Itu rasanya tidak akan mungkin karena sekarang pun, Naura mulai perlahan mencintai Abdi dengan tulus. 
 
Tetapi ... jika harus meninggalkan Bram, itu pun juga tidak akan mungkin, bukan semata karena cintanya semata. Tapi juga karena anak di dalam kandungannya ini.
 
Naura melemparkan kepalanya ke kursi, mengusap wajahnya dengan pusing. Lidahnya keluh tidak mampu untuk menjawab apa pun.
 
Citttt ....
 
Kemudian, Bram menghentikan laju mobilnya. Ia memegang wajah Naura. "Maafkan Aku, Nau. Maaf karna membuatmu stres." Bram mencium bibir Naura, menyentuhnya pelan. Lalu menaikkan Naura kepangkuannya.
 
Bram, memang sangat tergila-gila pada Naura. Rencana busuk pernah terlintas di fikirannya untuk menghancurkan rumah tangga Naura, tetapi ... fikiran itu langsung ia tepis. Bram tidak mau Naura membencinya, Bram ingin semua keputusan biarlah Naura yang memutuskan. Bahkan untuk pernikahan mereka nanti.
 
Meski itu terdengar omong kosong! Bagi Bram pernikahannya bersama Naura, adalah impian terbesarnya. 
 
Bram akan menunggu pernikahan itu, selamanya ... sampai akhir hayatnya.
 
"Arh! Sakit Bram," Naura merintih kesakitan.
 
Dengan cepat Bram mengangkat tubuh Naura, mendudukkanya di kursi sebelumnya. "Yang mana, Nau? Apanya yang sakit?" tanya Bram panik.
 
"Perutku, Bram. Keram!" sahut Naura sembari memegangi perutnya.
 
"Ya Tuhan, maapkan aku ya sayang," Bram mengelus lutut Naura dengan pelan.
 
"Bram, kata dokter kandunganku ... dalam keadaan Aku yang lagi hamil muda sekarang, itu dilarang keras untuk berhubungan badan keseringan," jelas Naura menyoroti mata Bram yang sedari tadi mencium punggung tangan Naura. 
 
"Maaf, Nau ... habisnya Kamu gemes sih, cium aja boleh ya?" tanya Bram dengan langsung mencium bibir Naura, tanpa menunggu jawaban dari Naura.
 
Ia melumatkan bibir Naura dengan gemas, sebenarnya yang selama ini Bram lakukan itu bukan hanya sekedar nafsu belaka. Tetapi karena kerinduannya yang amat sangat rindu pada Naura yang membuat dirinya seakan tidak ada habis-habisnya membelai tubuh wanita tercintanya ini.
 
"Eeemmmhh ... emmhh, Bram! Aku mau pulang, udah malem ini," ucap Naura dengan bibir yang masih menempel di bibir Bram.
 
Bram mendorong pelan tubuh Naura dan mengecup dahinya pelan. "Terima kasih, Nau." Bram kembali pada kursinya dan melajukan mobilnya dengan kencang.
 
Sesampainya di Apartement Bram, Naura turun dari mobil Bram dengan terburu-buru. 
Dengan langkah yang cepat, Naura menaiki mobilnya. Sampai lupa berpamitan pada Bram, Bram yang mengetahui Naura pulang dengan cepat mencoba untuk mengejar Naura untuk sekedar mengucapkann salam. Tetapi ... Bram telat, Mobil Naura sudah dilajukan kencang olehnya.
 
Drrrrt ... Drrttt ....
 
Naura merogoh ponsel di sakunya, terlihat sebaris nama Bram di sana.
 
"Halo, Bram?" 
 
"Aku cuma mau ngucapin hati-hati di jalan, Nau. Jaga dirimu selalu, Aku sangat mencintaimu," ucap Bram dengan suara sendu di seberang sana.
 
"Aku juga mencintaimu, Bram." Jawab Naura dan memutuskan panggilan itu.
 
Naura tidak ada hentinya tersenyum membayangkan wajah Bram, kini dirinya bagaikan anak ABG yang baru saja jatuh kedalam cinta yang rumit.
 
Cittt ....
 
Suara decitan roda mobil berhenti, Naura berhenti tepat di butik bertuliskan Butik Milenial.
 
"Selamat datang, Kak Naura. Apa kabarnya?" sapa salah satu pegawai di sana.
 
"Aku? Baik, oh iya tolong pilihkan baju untuk adikku ya. Pilihkan yang cantik, Dia sekitar usia 18 tahunan. Pilihkan berapa pun, Aku tunggu sini," ujar Naura pasrah, pada salah satu pegawai di butik itu, dirinya memang sangat akrab pada pegawai di sini. Karena dirinya sering mendatangi butik ini hampir setiap 2 hari sekali.
 
Naura menyenderkan kepalanya di kursi, perasaan lelah mulai menghampiri. Naura merogoh sakunya, ia mengambil Ponsel yang sedari tadi terus saja bergetar.  
 
Naura mengerjapkan matanya ke layar ponsel, 2 baris nama di notif panggilan. Mereka tiada henti menghubungi Naura, seolah sedang berlomba merebut perasaan Naura kembali. 
 
Drrrrttt ... Drtttt ....
 
Ponselnya kembali berdering ...
 
"Nau, Kamu di mana? Mas khawatir!" suara bentakan dari seberang panggilan itu.
 
"Aku lagi sibuk, Mas. Aku lagi milihin baju untuk Berlin," sahut Naura berbohong. Sebenarnya itu hanya sebuah alasannya saja untuk tidak ingin mendengarkan rentetan pertanyaan dari suaminya nanti setibanya Naura di rumah.
 
"Astaga, Naura! Maafkan Mas." 
 
Naura memutuskan panggilan Abdi dan baru saja panggilan itu terputus, Bram langsung menghubungi Naura kembali.
 
"Halo, Sayang? Kamu udah sampai rumah kan?" tanya Bram datar.
 
"Aku lagi mampir sebentar ke butik langgananku, Bram. Oh iya, Kamu jangan keseringan nelpon atau chat Aku, Bram! Aku nggak mau nanti ada aja masalah di hidup ini, Aku capek!" sahut Naura
 
"Maaf, Nau. Aku cuma mau ngucapin selamat malam." suara Bram sangat lembut di seberang panggilan itu.
 
Belum sempat Naura menjawab, Bram langsung memutuskan panggilannya. Seolah dirinya tidak puas mendengar jawaban Naura.
 
"Kak, Maaf! Ini semua baju sudah Aku pilihkan." Pegawai itu menghampiri Naura, dengan keranjang besar di tangannya.
 
Naura berjalan setengah terhuyung lemah, ke arah kasir dan para kasir mulai membarcode semuanya.
 
"Total semuanya 18 juta ya Kak," ucap sang kasir dengan senyuman yang paling ramah seantero negeri.
 
Naura mengeluarkan Card Bank nya, setelah membayar Naura langsung melangkah cepat untuk pulang.
 
Ntah mengapa dirinya terasa sangat lemas, sampai mengucap rasa Terima kasih pun Naura lupa. 
 
Setibanya di rumah dengan ketukan pintu dan suara bel yang nyaring, akhirnya pintu itu terbuka juga oleh Abdi.
 
"Naura, Kamu nggak apa-apa?" Abdi membopong bahu Naura, Abdi sangat panik melihat wajah Naura yang sangat pucat membuat dirinya semakin khawatir.
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!