"Nau, seharusnya Kamu nggak perlu segininya sama si Berlin, malah jadi nyusahin kan!" ucap Abdi yang menjajarkan tingginya di hadapan Naura, Abdi meminumkan segelas air putih pada Naura.
Naura meneguknya dengan pelan, menerima sambutan Abdi yang begitu lembut. Malah membuat Naura semakin merasa bersalah.
Ntah fikiran dari mana yang tiba-tiba menghantui Abdi, dirinya beranjak dari duduk dan merogoh saku Naura untuk mengambil ponselnya. Kemudian melemparkan tubuhnya dan duduk berdampingan bersama Naura.
Oh Tuhan!
Jantung Naura berdegup kencang, apa yang sebenarnya Abdi fikirkan? Tidak seperti biasanya Abdi seprotektif itu, sampai ia harus mengecek semua isi dalam ponsel Naura.
Drrrrttt ... Drrttt ...
Untunglah, ponsel Naura bergetar tepat waktu. Abdi mengangkat panggilan itu dengan konstan, Naura memanjangkan lehernya, ia sangat penasaran ingin tahu siapa yang menghubungi dirinya semalam ini.
Apa orang itu tidak kenal waktu!
Tetapi, bagaimana jika yang menghubungi Naura adalah, Bram?
Tidak!
Tidak!
Itu sangat tidak mungkin!
Dirinya kan sudah lebih dulu Naura peringati! Dan sudah dipastikan, Bram tidak akan berani melanggar.
"Ya Ampun, Pak! Harus malem ini juga?" Abdi memekik dengan pelan.
Naura membulatkan matanya, sembari menarik baju Abdi seperti orang yang ingin cepat diberi tahu.
"Oke, Saya kesana!" ucap Abdi sembari menutup panggilannya.
Naura menaik turunkan alisnya. "Siapa sih?" tanya Naura singkat.
Seolah tidak menghiraukan kata-kata Naura, Abdi dengan segera membopong tubuh Naura ke atas. "Kamu itu lagi hamil! Nggak baik, kalo harus naik turun tangga terus menerus," ucap Abdi yang mulai menaiki anak tangga.
"Terus ... yang tadi siapa?" Naura melemparkan pertanyaan yang sama, dirinya masih sangat penasaran dengan siapa sebenarnya Abdi berbicara.
"Itu, Pak Kiki! Mas, disuruh jenguk si Aqila,"
"Hah! Kenapa? Si Aqila udah sadar, Mas?" tanya Naura dengan perasaan menggebu sembari menatap raut wajah suaminya.
"Dia masih koma! Tapi, Mas disuruh ke sana untuk ngelunasin biaya perawatan aja, Nau ...," ucap Abdi berbohong. Ia tidak ingin memberitahukan tentang Aqila yang sudah sadar dari komanya.
"Ohh." Naura menganggukkan kepalanya, seolah percaya dengan apa yang baru saja Abdi ucapkan.
Sebenarnya, Abdi tidak menginginkan kabar kebaikan apapun dari pihak Rumah Sakit. Yang ia inginkan adalah kabar kematian! Itu saja.
Hanya kematian itu yang membuat rumah tangganya menjadi tentram, hanya itu! Tidak lebih!
Dan sekarang pun sudah terlintas di benak Abdi untuk mencelakakan wanita penghiburnya itu.
Abdi menaruh pelan istri tercintanya ke ranjang saat Abdi hendak mencium bibir Naura, Seketika Abdi langsung terhenti dengan mata tajam menyoroti bibir bawah Naura.
"Bibirmu bengkak? Kenapa, Nau?" tanya Abdi
"Hah? Masa iya?" jawab Naura mengerjapkan mata sembari menyentuh bibirnya, benar saja bibir bawahnya terasa sangat perih.
"Oh ini, kayanya tadi kegigit waktu makan,"
"Lain kali hati-hati dong, Sayang," Abdi mencium Naura dengan sangat lembut di bibirnya, seolah lelaki itu tidak ingin menyakiti istrinya sedikit pun.
"Mas, mau ke rumah sakit sebentar ya, Nau." Abdi berpamitan pada Naura, lalu perlahan melangkah ke arah luar.
Sebenarnya, Abdi sempat menaruh curiga pada Naura. Ia sering sekali melihat bibir Aqila bengkak seperti itu, karena ulahnya yang selalu tidak pernah bisa menahan gejolak nafsunya yang besar.
Tetapi ... fikiran itu langsung dengan cepat ia tepis! Aqila adalah Aqila! Sampai kapan pun, tidak akan pernah sama jika dibandingkan pada Naura.
Aqila, adalah gadis murahan yang bisa saja seluruh dunia ini pernah mencicipi tubuhnya. Sedangkan, Naura? Naura adalah istrinya yang setia dan patuh pada dirinya.
Yah itu benar! Pasti bengkak di bibir Naura itu diakibatkan karena kecerobohan dirinya saja, bukan ulah orang lain!
Fikiran Abdi meracau tidak karuan, setelah melihat keganjalan yang terjadi pada Naura hari ini.
Abdi melajukan mobilnya dengan malas, seharusnya malam ini ia bisa tidur menemani istrinya. Bukan malah menemui wanita sialan itu! Abdi mengumpat tiada henti.
Citt ....
Mobil yang dilajukan Abdi terhenti di halaman parkir rumah sakit, ia turun dari mobil pun masih sangat malas. Ditambah lagi dengan dinginnya malam yang menusuk sampai ke dalam.
Kini Abdi berdiri menatap lurus ke arah Aqila, dari balik cermin. Tidak ada apa pun di sana, bahkan keluarganya pun tidak ada yang menemani. Dirinya hanya sendiri, berbalut kain putih dengan kabel-kabel di seluruh tubuhnya.
Abdi mulai mengganti pakaian dan bergegas masuk keruangan ICU. ia melangkah pelan dan berhenti tepat di hadapan Aqila!
"Aku menghabiskan uang 2 milyar hanya untuk wanita rendahan sepertimu, Aqila! Dan dengan uang segitu pun, Kau tetap ingin menuntut keadilan dariku?"
Suara Abdi yang terdengar begitu kejam itu sangat menghancurkan perasaan Aqila, yang baru saja terbangun dari komanya. Aqila menatap lurus ke arah wajah tampan yang ia kira dulu lelaki di hadapannya dengan status masih menikah itu, sangat mencintai dirinya! Dibanding istri sahnya sendiri.
"Aku cuma ingin anakku bisa mempunyai Ayah seperti yang lainnya, Mas! Cuma itu, tidak pernah lebih!" suara Aqila sangat lemas.
Namun, lelaki pujaannya ini mengabaikan kata-kata Aqila padanya. Tangan kekar Abdi itu dengan gerakan cepat mengambil bantal yang tersisipkan di bawah kepala Aqila. Abdi dengan emosi yang sedang ada di puncaknya, langsung membekap wajah Naura.
Kini tubuh Naura mengejang dengan kuat, ia memberontak sekuat tenaga agar tidak kehilangan oksigen di dalam tubuhnya.
Di saat Aqila mulai melemah, Abdi seperti tertampar kembali. Ia seketika melepaskan bantal itu dari wajah Aqila, dirinya tidak ingin menjadi pembunuh seperti mendiang Sang Papah!
Aqila dengan napas yang tersengal-sengal, mencoba mengatur kembali ritme napasnya. Abdi meraih dagu Aqila kasar dengan sorot mata ketidak pedulian yang terpancar dari sana.
"Aku ingin Kau mati, Aqila!"
Napas Aqila terdengar cepat, perasaan terhimpit yang dirasakan Aqila membuatnya takut.
"Aku hanya ingin rumah tanggaku berbahagia, Aqila! Aku hanya ingin hidup bersama Naura seorang! Hanya Aku, Naura dan Anakku, Itu saja! Aku hanya ingin hidup damai bersama keluargaku, tanpa dirimu! Aku mohon."
Suara Abdi menangis, Aqila tidak pernah melihat air mata itu sebelumnya. Ia kira lelaki di hadapannya ini sudah tidak lagi mencintai istrinya, tetapi kali ini, Aqila salah! Ternyata, Abdi adalah seorang suami yang sangat mencintai istrinya.
Bahkan, Abdi rela terus menerus ingin melenyapkan dirinya hanya untuk ketenangan dalam keluarganya.
"Mas, Aku ini seorang penghibur! Bukan perebut suami orang, jadi jika Kau menganggapku akan terus mengganggumu itu salah! Aku mengharapkanmu saat ini, bukan karena diriku! Tapi karena calon anakku! Aku calon Ibu yang ingin melihat anakku bersama ayahnya!" ucap Aqila lemah dengan deraian air mata yang mengalir deras di pipinya.