Wanita Penghibur untuk Suamiku

Tidak diakui Sebagai Istri

Naura menyeka air matanya, meminum obat supaya tidurnya akan lelap tanpa kesakit hatian. Lalu ia memperhatikan ke arah tempat tidur Abdi yang kemarin malam tempat itu masih ditiduri oleh suaminya, ke romantisan setiap malam selalu Naura rasakan. Meski dirinya hanya terbaring tak dapat melakukan apapun.

 

"Akulah yang salah, diri ini juga salah! Hanya disentuh dengan Mas Abdi sedikit saja, sudah merasakan sakit yang berlebihan," Naura bergumam di dalam hati, Air matanya terus menetes dan Akhirnya terlelap dalam kepedihan.
 
****
 
Pukul 07.00 WIB.
 
Mas Abdi tak kunjung juga terlihat, popok yang Naura gunakan pun sudah terasa penuh. Dirinya berusaha untuk membuka, tetapi ... lagi-lagi gagal. 
 
Naura menghubungi suaminya. "Halo, Mas. Kamu di mana? Popokku pen ...." belum tuntas Naura memberi tahu Abdi, panggilan itu langsung ditutup.
 
Kini Abdi masuk ke kamar Naura dengan wajah yang datar. Dirinya menggantikan popok Naura dan membersihkan tubuh Naura. Tak ada lagi nafsu Abdi melihat tubuh istrinya itu. Sekarang Naura benar-benar bak boneka seperti yang ia rasakan kemarin.
 
Tetapi ... Naura bersyukur karena suaminya tetap menggantikan popok dan membersihkan dirinya. Naura menggenggam tangan suaminya. "Mas, terima kasih ya."
 
Tidak ada jawaban dari mulut suaminya dan membuat Naura bertanya. "Apa Mas masih mencintaiku?"
 
Dengan hati yang sebenarnya sangat takut Naura menanyakan itu. Takut, jika nanti Abdi menjawab dirinya tak mencintai Naura lagi. 
 
"Kau itu maunya apa, Nau? Kau pikir Mas membersihkan dirimu sekarang, atas dasar tidak cinta? Mas capek, Nau! Janganlah kamu terus menerus membuat Mas kecewa. Dengan perkataan omong kosongmu," cetus Abdi.
 
"Aku mohon, Mas. Tinggalkan Aqila." Naura mulai terisak.
 
"Nau, maapkan Mas. Mas nggak bisa! Aqila sudah Mas kontrak sampai kamu sembuh!" sahut Abdi pelan.
 
"Mas kontrak wanita jahanam itu berapa, Mas? Naura ganti uangnya, Mas." Naura memohon dengan sangat hati-hati. 
 
"Nau, uangmu kan uang dari Mas juga to? Uang itu di simpan baik-baik untuk biaya pengobatanmu, nanti kalo kurang Mas akan jual beberapa saham, Mas." 
 
Mendengar jawaban suaminya Naura terdiam seketika. Harus bagaimana lagi yang akan Naura perbuat? Kini hidup dan mati Naura hanya bergantung pada suaminya seorang.
 
"Oh iya, Nau ... hari ini ada acara pertunangan Bryan. Kau ikut ya," ucap Abdi sambil memakaikan gaun berwarna merah cerah yang bertabur pernak pernik ala mutiara kesukaan Naura. 
 
Sebenarnya Naura enggan pergi ke acara itu, Dia yang Mereka kenal tak ada penyakit saja, sering tak di anggap. Apalagi ini? Batin Naura menangis membayangkan dirinya saat di sana nanti. 
 
Abdi dengan Jas merah tua dipadukan dengan kaos neck dan celana Jeans hitam membuat Abdi semakin tampan layaknya pangeran.
 
Abdi membopong Naura ke bawah, belum sempat mereka menaiki Mobil. Aqila datang. "Lah, Mas? Mau kemana?" tanya Aqila datang memakai dress merah tua, di taburi dengan pernak pernik merah menyala. Warna bajunya senada dengan apa yang mereka pakai.
 
"Ke Acara pertunangan Adikku, kau mau ikut?" ajak Abdi. Naura mengrenyitkan dahi, rasa cemburu yang tiba-tiba muncul dengan melihat Aqila dan Suaminya memakai warna baju yang sama. 
 
Belum selesai Naura memikirkan rasa cemburunya, kini suaminya berulah lagi ... seakan tak ada habisnya rasa sakit yang mereka perbuat. 
 
Naura sengaja didudukkan, di kursi belakang mereka. Sedangkan Aqila duduk berdampingan dengan Suaminya! Naura memegang dadanya, sakit teramat sakit! 
 
"Aku ini Istrimu, Mas! Dan Dia hanya wanita murahan!" jiwa Naura membrontak, tetapi ... raga Naura tetap tegar tersenyum menghadapi situasi ini.
 
Sesampainya di sana, Abdi keluar dari mobil membukakan Aqila pintu lalu lanjut berjalan seraya menggandeng lengan Aqila, tanpa memikirkan Naura di dalam mobil itu. 
 
Naura melihat dari dalam mobil, apa suaminya lupa dirinya di dalam? Mengapa suaminya jika bersama Aqila seperti sengaja mengabaikannya? Apa Abdi berlaga seperti itu agar Aqila fikir, suaminya tak mencintai dirinya lagi? Pikiran Naura penuh diisi oleh mereka berdua.
 
Tidak lama security di rumah mertuanya itu datang membukakan Naura pintu mobil, "Maaf, Non. Saya di suruh Den Abdi. Ngebawa Non ke dalam, Punten ...," ucap Mang Toha, dengan menaikkan Naura ke kursi roda. 
 
Terlihat dari kejauhan, Aqila dan Mas Abdi sedang bercengkrama sembari tertawa kecil bersama mertuanya. Apa yang mereka lakukan? Lalu Aqila? Mas Abdi kenalkan sebagai siapa? 
 
Tak lama Naura menghampiri mereka, "Eh Si Cacat dateng juga ya," sapa mertuanya itu mencebik.
 
Naura hanya tersenyum, sedangkan mas Abdi selalu berupaya untuk menjauhi istrinya. Ntahlah! kini Naura seperti tak mengenal lagi sosok suaminya itu. 
 
"Aku percuma kan untuk nangis? Hanya sia-sia. Kita dekat, Mas ... namun kamu terasa jauh banget." Suara Naura pelan, sambil memperhatikan suaminya dari kejauhan. 
 
"Naura!" sapa Bram, membuyarkan lamunan Naura.
 
"Hah! Kau di sini juga?" sahut Naura yang tercengang dengan keberadaan mantan pacarnya itu. 
 
"Lah, ya iyalah. Calon istri Bryan itu ... ponakan aku, Nau. Terus Kamu ngapain di sini sendirian?" 
 
"Yang Tunangan itu, Adik nya suamiku. Sempit banget nih Bumi!" sahut Naura dengan wajah datar.
 
"Tapi percuma, Bumi menyempit bakalan segede Bola Ping Pong juga, kalo ketemu kamunya saat Kamu udah Nikah mah ... buat apa?" ucap Bram.
 
Naura tak merespon, Matanya sibuk memperhatikan gelagat suaminya dan Aqila. Suaminya dengan santai menggandeng tangan Aqila, Yah ... bisa dikatakan meski ini ramai, publik pun tak akan curiga, jika itu bukan istrinya. Di karenakan Naura jarang sekali pergi keluar rumah bersama Abdi. Bisa di bilang bahkan tak pernah semenjak Mereka menikah.
 
Abdi seharian hanya sibuk di kantor, sedangkan Naura terlalu mandiri untuk seorang Istri. Sehingga kemana pun dirinya pergi, tak perlu meminta untuk diantarkan sang suami. 
 
"Nau, itu bukannya suamimu? Kok dengan wanita lain?" tanya Bram menyipitkan kedua matanya memperhatikan Abdi detail seraya menunjuk ke arah Abdi dan Aqila.
 
"Itu temen kantornya." Naura menjawab datar.
 
"Ah masa? Nyampek digandeng gitu? Sedangkan istrinya dibiarkan sendiri! Kurang ajar sih!"
 
Bram ingin menemui Abdi, tetapi ditarik oleh Naura. 
Bram pun terhenti dan akhirnya Bram mendorong kursi roda itu mengarah ke Abdi. Belum sempat sampai Bram menemui Abdi, seseorang wanita paruh baya dengan pakaian sosialita menghampiri Abdi. "Wah, ini ya istrimu?" tanya wanita itu yang sama sekali Naura tidak pernah mengenalnya, lebih anehnya lagi Abdi tak mengelakkan pertanyaannya.
 
Abdi hanya tersenyum. 
 
 
"Cantik ya Istrinya, cocok deh sama si Abdi." Puji wanita itu. Lagi-lagi Mereka tak mengelak, mereka hanya tersenyum mendengarnya. 
 
"Bukan Tante, itu Istrinya Mas Abdi." Bryan menunjuk ke arah Naura. 
 
"Hah!" Wanita itu terperangah ke arah Naura dan Bram.
 
Abdi berjalan cepat ke arah luar, melewati Naura dan Bram. Di susul dengan Aqila berlari mengejarnya.
 
Naura menunduk melihat kelakuan suaminya, hatinya bagaikan diiris pisau lalu ditaburi garam dan direndam dengan air cabai. Pedih! Sangat pedih! Melihat suaminya yang ternyata malu mempunyai Istri seperti Naura.
 
"Nau! Kamu harus jelasin ke aku, ada apa dengan semua ini?" tanya Bram penuh penekanan, kini mantan pacarnya itu duduk menghadap ke arah Naura.
 
Naura menggeleng pelan, "Bram bawa Aku ke depan ya ...," pinta Naura.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!