Wanita Penghibur untuk Suamiku

Aqila

"Tapi, Naura pun hamil anakku, Aqila! Aku tidak ingin menduakan cintanya, apalagi harus menikahi wanita lain lagi!" teriak Abdi dengan suara yang menggelegar.

 
"Lalu? Bagaimana dengan anak kita, Mas?" lirih Aqila.
 
"Stop! Menyebutnya dengan sebutan anak Kita! Dirinya ada karena dirimu yang menjual harga diri kan? Dan Aku sudah membelimu dengan harga mahal, Aqila! Jadi jika dirimu hamil! Itu adalah kesalahan darimu bukan Aku!" 
 
Ucapan yang keluar dari mulut Abdi secara tiba-tiba itu, membuat Aqila merasa terhina dan direndahkan dengan kata-kata yang menyebar keseluruh hatinya. Kata-kata itu bagaikan hujaman yang menusuk hati dengan sangat dalam.
 
Mungkin, Abdi hanya melihat dirinya adalah seorang wanita penghibur rendahan di mata siapa pun! Tetapi yang harus, Abdi ketahui adalah dirinya tidak seburuk apa yang ia fikirkan.
 
Seandainya, Abdi tahu sakitnya menjadi orang yang sangat miskin di kampung, Terhina, dicaci maki bahkan untuk makan pun mereka susah. Ia terpaksa membohongi seluruh keluarganya hanya untuk bekerja di kota demi sang keluarga tercinta. 
 
Membohongi, Ibu, Bapak, bahkan semua orang yang ada di kampung. Berkata jika dirinya mendapatkan pekerjaan yang bagus, layak, dan upahnya lumayan sangat besar. 
 
Dan uang kontrak 1 miliar yang Abdi berikan pun, ia hadiahkan untuk sang Ibu ... harapan dan doanya selama ini terkabul, Aqila mampu menaikkan derajat orang tuanya meski harus menjual harga dirinya sekali pun.
 
Kemudiann saat ini? Abdi mencaci maki dirinya seolah dirinya adalah wanita paling rendah di mata semua orang di muka bumi.
 
Sedangkan jika difikir kembali, Dia dan Abdi adalah orang yang sama, sama-sama melakukan hal sangat kotor untuk kepentingan sesaat. 
 
Lalu apa bedanya dirinya dan Abdi?
 
Sama-sama rendah dan kotor di mata orang kan?
 
Aqila memandangi pria di hadapannya ini dari ujung kepala sampai kaki, lalu tersenyum miring menatapnya.
 
"Kau, berbicara seolah dirimu yang paling bersih. Aku, memang wanita penghibur rendahan persis seperti apa yang dirimu sebut. Tapi, Aku masih menyimpan hati untuk janin yang tidak bersalah ini!" 
 
Aqila menelan ludahnya dengan kasar, ia tergelak dan mengedarkan pandangannya. Meski dengan hati yang sangat terluka dirinya tetap bertahan kuat, menahan air mata yang sedari tadi sudah ingin menerobos keluar dari pelupuknya.
 
"Kau juga mempunyai bakal calon anak kan, dari istrimu? Bagaimana perasaanmu sekarang? Dan bagaimana perasaan Naura saat dirinya mengetahui ia hamil, senang kan? Sama sepertiku, Mas! Aku, sangat senang! Meski anakku tidak seperti anak Naura yang Kau harapkann kehadirannya!" 
 
Suara Aqila serak, ia mulai memejamkan matanya, seperti pasrah pada keadaan.
 
Terdengar, Abdi menghembuskan napasnya dengan kuat. Dengan lembut Abdi mulai menggenggam jemari Aqila, lalu menyatukan jemari mereka. 
 
"Maafkan, Mas, Qil! Mas, tidak pernah mencintaimu. Mas, mohon jauhi kehidupanku," lirih Abdi.
 
"Mas, sudah berapa kali kukatakan padamu, Mas! Aku ini wanita jalang! Bukan perebut suami orang! Aku, bisa kapan pun meninggalkan dirimu. Tapi, bagaimana dengan anakku, Mas?" tanya Aqila dengan nada yang di tinggikan.
 
Abdi melepaskan genggamannya perlahan ia menyenderkan tubuhnya ke kursi, meremas rambutnya dengan raut wajah pusing.
 
Kemudian, Abdi berdiri mengangkat dagunya dengan angkuh. Melempar pandangan tajam ke arah, Aqila. Lalu melangkah mondar mandir dengan jari telunjuk yang ditempelkan ke dahi seperti orang yang sedang berfikir sangat berat.
 
"Oke, Aku akan bertanggung jawab atas kehamilanmu. Aku akan menafkahi segala kebutuhannya nanti, tapi maaf, Aqila! Aku tidak bisa menikahimu," dengan suara yang berat Abdi ucapkan, ia berhenti bergerak memandangi wajah Aqila. 
 
"Bagaimana?" tawarnya lagi
 
"Baiklah, Mas! Jika itu sudah keputusanmu, Aku hargai," lirih Aqila.
 
Abdi, masih memandangi wajah Aqila, lalu ia mencium keningnya dengan lembut dan menggenggam erat jemarinya. 
 
"Terimakasih, Aqila. Terimakasih!" suara Abdi menggebu.
 
Sekarang Aqila sadar, bagaimana posisinya di hati Abdi. Ia tidak akan mungkin bisa mengalahkan, Naura. Istri sahnya Abdi! Apa lagi bermimpi bisa menggantikan posisi itu.
 
Ternyata benar kata pepatah, sebaik apa pun dirimu. Tidak akan mungkin mengalah istri pertamanya.
 
Aqila menatap kosong, mengarah lurus ke arah laju langkah Abdi yang hampir tidak terlihat lagi.
 
"Mamah janji, Nak. Mamah akan selalu mencintaimu, meski dirimu lahir dari kesalahan di mata mereka. Tapi, bagi Mamah, Kamu tetaplah Anugerah terindah yang pernah Mamah rasakan seumur hidup Mamah." Aqila menangis, mengelus perut mungilnya yang mulai membuncit.
 
Kini, Aqila mengedarkan pandangan ke arah sudut ruangan. Ruangan ini terasa sunyi sepi tanpa siapa pun yang menemani, Aqila mula merasakan rindu yang amat sangat pada Ibu. Perasaan bersalah yang mulai datang menghampiri dirinya.
 
Bagaimana, jika nanti Ibu akan tahu tentang kehamilannya ini? 
 
Apa Ibu masih menganggap dirinya sebagai anak yang baik? Atau malah sebaliknya?
 
Rentetan pertanyaan Aqila Pada dirinya sendiri. Yang, Aqila tidak tahu adalah, Ibunya sudah sedari kemarin menemaninya.
 
Aqila dengan perlahan menggeser punggungnya, tangannya tertatih menggapai kabel bel yang fungsinya untuk menghubungkan panggilan dirinya ke ruang perawat.
 
Klik.
 
Bel itu tersambung, tidak lama satu suster berbaju putih biru denga name tag bernama Lusia Dewi menghampiri Aqila. 
 
"Selamat malam, Nona. Ada yang bisa Saya bantu?" tanya Suster itu dengan senyum yang merona di bibirnya.
 
"Malam, Sus, di mana semua perlengkapan Saya, Ya? Lalu ponsel Saya pun kemana? Saya ingin menghubungi, Ibu Saya di kampung," tanya Aqila dengan lirih
 
"Maaf, Nona. Tapi, Ibu Nona sudah dari kemarin menemani Nona di sini. Kemungkinan saat ini, Ibu sedang pulang sebentar." Suster itu melempar senyumannya lagi ke arah Aqila, lalu tanpa perintah dari Aqila, ia melangkah keluar.
 
Aqila yang mendengar kata-kata Suster itu barusan, langsung tertegun, bergeming. Tidak mampu lagi untuk berkata apa pun.
 
Ibu sudah di sini? 
 
Apa, Ibu tahu tentang pekerjaanku? 
 
Lalu sekarang, Ibu di mana? 
 
Ibu kan tidak punya siapa pun di sini, Apartementku pun, Ibu tidak tahu!
 
Cklek.
 
Suara gerakan pintu itu membuyarkan lamunan Aqila, yang lebih mengejutkan lagi ternyata orang yang keluar dari balik pintu adalah kedua orang tuanya. 
 
Dengan pakaian yang serba biru, mereka melangkah secara perlahan menghampiri Aqila.
 
Ibu menatapnya tajam, tetesan air mata mulai terjatuh di sana.
 
"Anakku, Kau sudah sadar?" tanya sang Ibu terisak, ia membelai wajah anaknya. Menciumnya dengan kerinduan.
 
Dan sang Bapak hanya bergeming tanpa fikiran, sangat berbanding terbalik dengan perlakuan sang Ibu.
 
"Pak, apa Bapak nggak seneng ngeliat Aqila sadar?" Aqila mencoba bertanya.
 
Ia menghembuskan napasnya dengan kasar. "Bapak senang, Qil! Sangat! Bapak, hanya kecewa dengan pekerjaanmu yang sebenarnya," Bapak yang melangkah menghampirinya dengan sorot mata kecewa.
 
Putri sulungnya yang selama ini ia banggakan, yang selama ini ia dambakan, Yang selama ini ia pamerkan kesuksesan putrinya ke seluruh penjuru kampung.
 
Ternyata hanya seorang wanita penghibur rendahan di Ibu Kota. 
 
Hatinya sakit!
 
Teramat sakit!
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!