Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kebahagiaan Abdi

Aqila menelan ludahnya kasar, ternyata benar apa yang dirinya takutkan akhirnya terjadi juga.

 
"Maafkan Aku, Pak! Qila hanya ingin Kita hidup layak, Qila ingin kita tidak terhina. Yang selalu mengharapkan sekarung beras dari bantuan pemerintah! Tapi, kenyataannya ... saat Bapak sudah lama mengantri dari pagi sampai sore berdesak-desakkan, waktu giliran Bapak, ternyata Kita nggak terdaftar dalam bantuan pemerintah! Aqila inget itu, Pak! Aqila inget! Hati Qila sakit, Pak! Sakit ngeliat Bapak, Ibuk, nangis karna mikirin nasip anak-anaknya mau makan apa! Perih, Pak rasanya!"
 
Suara Aqila mengegelegar di ruangan itu, tangisannya pecah. Membayangkan kembali nasipnya dulu dan sekarang jerih payahnya hanya menggoreskan luka di hati kedua orang tuanya.
 
"Sudah, Ndok! Sudah! Ibuk, nggak marah, Ibuk, tau. Kamu juga tersiksa," 
 
Suara wanita paruh baya ini terdengar serak, sebenarnya jauh dari lubuk hatinya ingin sekali mencaci. Tetapi, harus bagaimana lagi? Aqila hanya korban dari keadaan, keadaan orang tuanyalah yang harus membuatnya menanggung semuanya.
 
"Lalu, anak yang dikandungmu bagaimana, Aqila?" tanya Bapak dengan suara berat sembari menaikkan kacamata yang bertengger di hidungnya, ia membersihkan sisa air mata yang menetes dari pelupuk matanya, nampak sekali kelopak mata itu mulai terkulai lelah.
 
Pandangan mata Aqila mulai menjadi kosong, fikirannya mulai meracau kemana-mana.
 
Sebenarnya, apa saja yang terjadi saat dirinya terbaring lemah berhari-hari? Mengapa, Ibu, Bapak, seolah semua hal tentang Aqila di perantauan mereka tahu.
 
Tidak ada kesedihan yang lebih besar dari semua ini, semua aib dari dirinya di perantauan terbongkar sudah. 
 
Aib yang ia tutupi selama bertahun-tahun lamanya, kini hancur berantakan. Dan inilah yang Aqila takutkan! Saat mereka tahu diri Aqila yang sebenarnya, akan menggoreskan luka yang sangat dalam di hati orang tuanya.
 
Aqila, perlahan menoleh mengarah lurus dan menatap Bapak dengan sangat dalam. "Abdi, Pak. Abdi bertanggung jawab menafkahi anakku," lirih Naura.
 
 
"Itu artinya, Abdi akan menikahimu? Huh syukurlah," Bapak menghela napasnya pelan.
 
Aqila menggeleng cepat, "Bukan itu, Pak. Abdi tidak bisa menikahiku," ucap Aqila pelan.
 
Wajah pria paruh baya itu mulai berubah seketika, wajahnya maram, dadanya bergemuruh, ia semakin murka dengan keadaan. 
 
"Maafkan Qila, Pak. Maaf!" sekali lagi air mata itu mengalir deras dari pelupuk matanya yang indah.
 
****
 
Abdi menyetirkan mobilnya dengan lajuan yang pelan, ia tidak ada hentinya untuk tersenyum lega. 
 
Pada akhirnya, rumah tangga ia dan Naura akan damai seperti harapannya. Tanpa gangguan apa pun dari luar.
 
Abdi menghentikan mobilnya di tepi taman, ia menghisap sebatang rokok dengan nikmat. Dinginnya malam yang merusuk di tubuhnya seakan tidak lagi ia rasakan.
 
Abdi mendongak ke atas dengan buliran air mata yang menetes mengarah ke langit yang bertaburan bintang. 
 
Terimakasih Tuhan ....
 
Hidupku kini sempurna, inilah yang Aku harapkan. Keluarga yang utuh dengan suara bayi kecil di sekitar.
 
"Doakan Aku, Pah ... maafkan jika anakmu pernah menyakitimu," ucap Abdi dengan suara yang bergetar.
 
Ia usap air mata yang mengalir dari pelupuk matanya, suasana di taman malam ini cukup ramai, beberapa pasangan sangat terlihat berbahagia dengan keadaannya.
 
Abdi mengamati mereka, berfikir ... suatu saat nanti mereka akan merindukan suasana ini dengan pasangan yang berbeda. Bukankah begitu kan? Setiap kehidupan akan terus berjalan, meninggalkan atau  ditinggalkan dengan orang terkasih. 
 
Abdi mengedarkan senyumannya dan melemparkan sepuntung rokok ke bawah semak-semak, lalu menutup pintu mobil dan melajukan dengan sangat cepat ....
 
"Aku pulang, Sayang ..." Abdi tersenyum tidak seperti biasa, jantungnya kini berdegup kencang. 
 
Beberapa pekan ini, Abdi sadar dirinya tidak lagi memperhatikan istrinya. Perasaan bersalah melintas di hati.
 
Ia menghampiri resto mewah dan membelikan 
Naura makanan kesukaannya, berharap dengan makanan ini, Naura akan senang dan menganggap dirinya adalah suami idaman.
 
Setibanya di rumah, dengan cepat Abdi menaiki tangga untuk ke kamarnya. Ia membuka pintu dan melihat tubuh Naura yang terlentang di ranjang. Abdi menelan ludahnya.
 
Bola matanya berkaca-kaca melihat tubuh Naura yang sangat indah di matanya, saat ini. Mengapa baru sekarang, Abdi menyadarkan hal itu. 
 
Abdi melangkah pelan menemui istrinya duduk di samping tubuh Naura, sembari mengelus bahu Naura dengan lembut. "Nau, Mas bawakan sesuatu untukmu," bisik Abdi di telinga kiri Naura.
 
Dengan mata yang menyipit, Naura membalikkan tubuhnya perlahan. "Apa ini, Mas?" suara Naura parau.
 
"Buka saja ..." sahut Abdi sumringah.
 
"Eummmhhh, wah ... makasih, Mas!" dengan gerakan yang cepat, Naura membuka bungkus makanan itu.
 
Burger, salad, steak, dan cemilan coklat ringan pun ada. Naura dengan sumringah menikmati makanan itu. 
 
"Nau, suka?" tanya Abdi menyoroti mata Naura.
 
"Suka, Mas! Banget malah," sahut Naura menggebu.
 
"Nau ... maaf, Mas tadi bohong. Sebenernya ... Aqila udah sadar dari komanya dan Mas udah ngomong dengan Dia, Mas mau tanggung jawab menafkahi anaknya! Tapi tidak untuk pernikahan!" Abdi menggenggam jemari Naura.
 
Naura bergeming sejenak, membulatkan matanya setelah mendengarkan ucapan Abdi. "Terimakasih, Mas. Keputusanmu sudah sangat bijak! Anak yang dikandung Aqila. Itu tetap anakmu, Mas! Sampai kapan pun," Naura melanjutkan makanannya.
 
Sedangkan Abdi hanya tertegun, apakah benar keputusannya ini sudah sangat bijak? 
 
"Mas, ngapain to ngelamun begitu? nggak bagus! Mending ambilin Aku minum, seret tau!" Naura mendengus manja.
 
Suara gemas itu membuyarkan lamunan Abdi, Abdi membuka kantong plastik berisi sekotak minuman sari kacang hijau. "Mas, tadi belikan ini juga, Nau! Katanya bagus untuk janin," Abdi menyodorkan minuman kotak ke bibir Naura yang merona, ditambah dengan bengkaknya yang bertambah seksi.
 
"Nau ... maafkan, Mas ya. Hanya karna nafsu sesaat, Mas bisa melantarkan dirimu. Mas merasa bersalah Nau. Mas tau dirimu pasti sangat sakit hati kan? Maafkan, Mas. Mas, Mohon! Mas, sangat mencintaimu! Sungguh!" 
 
Suara Abdi terisak yang dengan konstan memeluk Naura, ia menangis seperti anak kecil yang merengek pada Ibunya.
 
Naura hanya berdiam membatu, ia bertanya pada dirinya sendiri. Mengapa saat ini pelukan Abdi terasa hambar? 
 
Mengapa pelukan ini seolah biasa saja baginya? Naura merasa bingung secara tiba-tiba, dirinya merasa hampa tidak merasakan apa pun lagi saat Abdi peluk.
 
Pelukan ini tidak sama, saat di mana ia berpelukan bersama Bram. Saat Abdi berkata mencintai dirinya pun, dirinya seakan biasa saja. 
 
Mengapa saat ini, Bram seakan menguasai hatinya! Naura tertunduk pilu dengan fikirannya sendiri.
 
"Nau?" tanya Abdi.
 
Abdi mengangkat dagunya, berhadapan dengan wajahnya saat ini. "Terimakasih, Nau. Terimakasih sudah menjadi istri yang baik untuk keluarga Kita." Abdi beranjak dari hadapan wajahnya dan menciumi perut mungil Naura.
 
Perasaan Abdi tidak bisa digambarkan oleh siapa pun, yang jelas saat ini kebahagiaannya sekarang melebihi kebahagiaan siapa pun juga.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!