Bram duduk di sisi kanan Aqila sembari mengelus lembut rambutnya, sebenarnya Bram benci sekali dengan wanita yang terbaring lemah di hadapannya ini. Masih sangat jelas di pikiran Bram, bagaimana cara ia menghina, mencaci maki Naura di depan mata Bram!
"Saya tau, Qil! Seberapa stressnya kamu, saat kamu kehilangan sosok seorang ayah untuk anakmu. Tapi, apa kamu nggak mikirin bagaimana stresnya janinmu merasakan perasaan sedih Ibunya sendiri! Perkembangan janin dalam kandungan akan mempengaruhi juga bakal tumbuh kembang nya nanti. Buatlah dirimu bahagia, Qil! Untuk anakmu," bisik Bram, di telinga kanan Aqila.
Aqila hanya mengangguk dan meneteskan air matanya perlahan, seolah ia sedang menjalani kesedihan yang amat sangat berat sampai dirinya pun tidak sanggup untuk memikulnya.
Bram berpikir keras untuk hal ini, dirinya ingin menerapkan kelas konseling sekarang juga untuk Aqila. Ia menyuruh kedua orang tua Aqila untuk keluar sebentar memberi waktu untuk ia dan Aqila sekedar bertukar pikiran.
Saat ini Bram memberi Aqila dengan metode setengah duduk, berharap dengan metode ini Aqila akan dapat lebih mengerti apa yang Bram ucapkan.
"Qil, saya di sini mau membantu dirimu untuk keluar dari masalah ini. Kamu ingin bahagia untuk anakmu kan? Kamu ingin anakmu tumbuh menjadi anak yang pintar kan? Ingat, Qil. Anak yang pintar tumbuh dari perempuan yang kuat dan hebat!" ucap Bram dengan tatapan menguatkan menyoroti bola mata Aqila.
Aqila hanya mengangguk perlahan dengan air mata yang tiada hentinya menetes.
"Dan sekarang saya ingin bertanya. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan? Sampai pikiranmu sebegitu lemahnya memikirkan hal itu? Apa semua ini karena Abdi?" tanya Bram dengan tatapan serius.
Aqila menggeleng lemah, ia mulai terlihat membuka mulutnya dengan perlahan.
"Bu-bukan Bram, a-aku ti-tidak mengkhawatirkan soal itu. Abdi pun selalu bertanggung jawab atas kandunganku, selama ini pun ia selalu mengirim pesan bukti transfer jumlah uang untuk keperluan diriku sehari-hari," ucap Aqila yang masih terbata-bata.
Bram menautkan Alisnya bingung dengan jawaban Aqila. Jika bukan karena Abdi lalu karena apa?
"Lalu?" tanya Bram bimbang.
Aqila menangis terisak, ia seolah tidak sanggup menceritakan semuanya pada Bram. Dengan cepat Bram menggenggam jemarinya, mencoba menguatkan Aqila Membuat isyarat bahwa dirinya kuat dan hebat.
Dengan tarikan napas yang kasar, Aqila mengusap air matanya perlahan. "Sebenarnya ... aku nggak kuat, Bram! Aku nggak kuat kalo terus terusan melihat orang tuaku kecewa karna aku. Aku mencoba untuk membahagiakan mereka selalu, tetapi ... saat ini? Saat mereka tahu yang sebenarnya, Bapak seolah jijik melihat diriku. Tatapan Bapak terhadapku seperti melihat kotoran binatang yang dinajiskan olehnya!"
Suara Aqila mulai bergetar, ia menangis sejadi-jadinya. Saat ini Bram tidak habis fikir dengan apa yang baru saja ia hadapi. Saat sang Bapak, pontang-panting mencari keadilan untuk anaknya di luar. Ternyata malah yang mengakibatkan anaknya terpuruk, sakit dan melemah adalah dirinya sendiri.
"Oke, Qil. Kamu sekarang kan akan menjadi sosok orang tua, kamu harus mengerti bagaimana perasaan orang tuamu saat ini. Kamu harus merasakan, seandainya jika kamu di posisi mereka. Kamu harus bagaimana? Dan satu lagi, Qil. Bapakmu sangat dan sangat menyayangi dirimu! Yakinlah padaku."
Bram menepuk bahu Aqila, untuk menguatkan dirinya. Sekarang, Bram tersenyum melihat Aqila yang sedang menangis kencang.
Bram meyakini tangisan itu adalah tangisan yang selama ini Aqila pendam sejak lama. Karena suara tangisan itu terdengar amat sakit dan tersiksa.
"Minumlah." Bram menyodorkan segelas air putih dingin untuk menenangkan tubuh Aqila yang menegang.
Aqila meneguk segelas air, kini keadaannya sudah mulai agak membaik. Tatapannya tidak lagi terlihat kosong, seperti saat pertama Bram masuk menemui dirinya.
Dengan langkah yang cepat, Bram menghampiri kedua orang tua Aqila. Bram menceritakan tentang penyebab keadaan Aqila saat ini.
Bapak mengusap air matanya, ia tidak mengira sama sekali bahwa dirinyalah dalang dari depresi sang putri tercintanya
Pria tua itu semakin kacau wajahnya, ia tidak lagi menanyakan sesuatu pada Bram. Ia langsung melangkahkan kaki yang setengah berlari ke arah Aqila.
Ia memeluk Aqila erat, anak dan Bapak itu kini saling berpelukan haru mata mereka seakan perih yang membuat pelupuk mata itu tiada hentinya mengeluarkan air mata sangat deras.
"Maafkan Bapak, Nak! Bapak tidak pernah sekali pun membencimu. Bapak sangat menyayangimu, Nak." Bapak terus menerus memeluk Aqila dengan erat. Seolah penyesalan itu kini terbesit dalam benaknya.
Bapak mendorong tubuh Aqila menghadap ke wajahnya, ia merapihkan rambut putri sulung tercintanya itu. Membersihkan seluruh wajahnya dari noda-noda air mata yang membekas di wajah Aqila.
Melihat situasi yang semakin membaik, Bram segera berpamitan pulang. Dengan senyum merekah dan langkah yang ringan, pria tua itu menghampiri Bram. Merangkulnya, mengucapkan Terimakasih sedalam-dalamnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
*****
Bram melajukan mobilnya dengan pikiran yang tengah melayang ntah kemana, dirinya seakan sangat bijak menghadapi masalah semua orang.
Namun diri sendiri? Dirinya ternyata lebih rapuh dari pasien yang sering ia temui, ia malu pada sang Ilahi. Ia terus berpura-pura bahagia, sedangkan hatinya pilu.
Bram melemparkan setirnya ke kanan, ia mengarahkan kembali pada arah yang sama. Ia melajukan mobilnya ke arah pulang ke rumah orang tuanya.
Saat ini Bram membutuhkan pelukan sang Mama, bercanda, bahkan bercerita tentang cintanya. Ingin rasanya bercerita tentang percintaannya bersama Naura.
Tetapi? Apa Mama akan menyetujui rasa cinta itu? Sedangkan saat ini Naura telah berganti status menjadi istri orang.
Jika difikir kembali, benar perkataan Naura. Cinta ini tidak jelas akan dibawa ke mana? Dan berakhir seperti apa pun itu, Bram pun tidak tahu!
Setetes air mata, mengalir lolos tiba-tiba dari pelupuk mata Bram yang indah.
Apa cinta ini tidak akan pernah menyatu Tuhan?
Apa cinta ini salah?
Atau hanya aku yang egois memaksakan kehendak untuk memiliki wanita yang aku cintai, Tuhan?
Fikiran Bram meracau, rentetan pertanyaan yang ia pertanyakan pada sang Ilahi membuat dadanya semakin sesak.
Cit ....
Mobil Bram terhenti tepat di depan halaman rumahnya, rumah itu minimalis berlantai 4. Tidak ada security apa pun di rumah ini. Hanya ada security komplek yang rajin mengitari rumah sepanjang malam.
Tok
Tok
Tok
"Mah, Bram pulang," teriak Bram yang menunggu pintu terbuka.
Dengan suara langkah kaki yang terburu-buru melangkah.
Klek
Pintu itu terbuka. "Anak Mamah yang ganteng, sejagat raya, sedunia ... Akherat! Akhirnya kau pulang juga," ucap Mamah Bram dengan tempel pipi kiri dan kanan seperti biasanya.
Bram melenggang memasuki rumah dengan raut wajah yang masam, di tangan kirinya ia menyelempangkan jas berwarna biru muda.
Bram melemparkan tubuhnya ke sofa, lalu sang Mamah menghampiri anaknya yang baru saja datang sudah memasang raut wajah yang kusut. "Bram ... Ada masalah?" tanya sang Mamah sembari mendudukkan dirinya di samping Bram.
Bram bergeming sejenak, memindahkan kepalanya ke bawah ketiak wanita yang wajahnya kini sudah tidak sekencang dulu.
Dengan wajah yang mendongak keatas, Bram menatap wajah Mamah dengan nanar. "Mah ... inget Naura? Yang dulu kepergiannya hampir membuat Bram gila," tanya Bram dengan sendu.
"Eh iya ... Mamah inget tuh, mantan kamu kan? Ke mana ya tuh Anak. Nggak ada kabarnya semenjak kecelakaan tragis keluarganya itu. Dia seolah hilang gitu aja,"
"Bukan mantan, Mah! Dia masih pacar Bram sampai saat ini, tapi sayangnya, Naura udah nikah dengan orang lain."
Wajah wanita paruh baya itu menanggapinya dengan bingung, Mamah menatap heran mengarah ke Bram. Seolah tidak mengerti apa yang saat ini anak lelakinya katakan.