Wanita Penghibur untuk Suamiku

Kasus apa lagi?

"Maksutmu?" ucap Mamah yang bernama Irna ini, mendorong tubuh Bram dengan mata yang menyorot tajam ke arah Bram.

 
Tatapan itu lumayan membuat Bram bergidik ngeri, dengan napas yang mulai tidak beraturan. Bram menjelaskan semuanya. 
 
Bram menjelaskan dengan sangat detail, meski ritme napasnya kini mulai tersengal-sengal dan jantung yang mulai berdegup kencang. Bram berusaha untuk menjelaskan perihal percintaannya dengan sangat apik.
 
Mendengar pernyataan sang Anak, jantung Irna serasa berhenti berdetak. Tubuhnya lunglai tidak berdaya setelah mengetahui sang anak mencintai istri orang lain, dan yang tidak kalah mengejutkan adalah soal kandungan yang diceritakan Bram padanya.
 
Irna menarik napasnya dengan kasar, ia melepaskan cengkraman lengannya yang sedari tadi Bram bergelayut di sana. 
 
"Mamah tahu, kau sangat mencintai Naura! Tapi haruskah sampai segininya, Bram? Tinggalkan wanita itu! Demi kebaikanmu, wanita itu tidak baik untukmu! Ia bisa menghianati suaminya, apa lagi kamu? Yang sekarang hanya status sebagai selingkuhannya saja." 
 
Irna mengatakan itu dengan sangat tegas, ia merasa pergaulan sang anak sudah melebih batasnya. Meski ia telah dewasa namun tidak ada yang salah jika Irna sebagai orang tua harus lebih tegas melarangnya kepergaulan yang bisa merusak jenjang karirnya.
 
Melihat sang Mamah yang telah salah paham atas pembicaraannya, Bram semakin tertunduk lesu. Dirinya tidak merespon apa pun perkataan sang Mamah. 
 
Kemudian ia beranjak berdiri dari duduknya, berjalan dengan tertatih menuju kamar. 
 
Ia merebahkan tubuhnya ke kasur, ternyata benar dugaan Bram sebelumnya. Inilah yang ia takutkan, akan ada kesalah pahaman jika Bram mengatakan percintaannya pada Mamah.
 
Semakin rumitlah kini kisah cinta itu, kasihan sekali cinta ini sudah bingung akan berpijak ke mana. Sekarang ... malah cinta itu tidak mendapat dukungan sama sekali dari sang calon mertua, Bram menyebutnya. 
 
Ia tetap akan selalu optimis, jika suatu saat nanti Naura pasti akan menjadi miliknya dan benar-benar menjadi istri untuk Bram, seutuhnya.
 
 
Bram mulai memejamkan matanya, perlahan mulai lelap dalam keharuan.
 
*****
 
"Wah, Buk. Ini kadonya mau ditarok di mana aja? Marni bingung! Ini kadonya banyak banget," ucap Marni yang sibuk membukakan kado satu persatu, dirinya mulai lelah setelah 4 jam lamanya kado-kado itu tidak juga kunjung habis. 
 
"Hah, iyaa yah ... kok jadi banyak banget. Malah jadi pusing udah kaya mau jualan perabotan bayi Kita!" Naura mendengus sebal, bukannya ia tidak bersyukur. Namun anehnya mereka seperti benar-benar sedang menjadi Pramuniaga perabotan bayi saat ini.
 
"Tapi ini bagus-bagus loh, Buk. Kalo di kampung Loisem, kebanyakan yang ngado pasti, gula, kopi, sabun, sama kain jarit tuh!" sahut Loisem yang seakan terpukau dengan kado-kado mewah yang diberikan oleh kerabat Tuannya.
 
"Hah, elah! Itu mah, Elu nya aja yang punya acara makanya dikasih sabun ronsi. Kalo, Buk Naura. Kan beda! Satpamnya aje nih ngasih bouncer dong, Lu bayangin, Lol. Bagi satpam ini bouncer mahal harganye!" Marni menimpali ucapan Loisem.
 
Mendengar percakapan mereka, Naura hanya menggeleng kepalanya dengan cepat. Ia tergelak melihat kedua asistennya itu. 
 
"Hah? Dari tadi nggak kelar-kelar? Udah ... udah cukup! Biar asisten saya aja yang nerusin tugas kalian. Sekarang kalian, istirahat ya! Kasian tuh, si Ibuk. Pasti pegel pinggangnya," 
 
Suara Abdi yang baru saja datang membuyarkan candaan mereka, dengan langkah yang cepat Abdi menghampiri istrinya. 
 
"Yank, Kita tidur di hotel aja ya, malem ini. Kita istirahat di sana aja, biar rumah dibersihin sama petugas kebersihan yang Mas sewa tadi," ucap Abdi dengan menyodorkan card hotel yang sudah diboking suaminya sedari tadi.
 
Naura mengangguk dan beranjak dari duduknya. Pinggangnya saat ini terasa kebas karena terlalu lama duduk berjam-jam.
 
Naura yang masih menggunakan, dress pink dengan taburan permata dan berlian senilai ratusan juta di dressnya. Berlenggang mondar-mandir tiada henti.
 
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan, hatinya cemas saat seseorang yang ia cari tidak kunjung terlihat.
 
Di mana Bunda?
 
Di mana Berlin? 
 
Naura dengan rasa khawatir menjerit memanggil nama mereka, tetapi tidak kunjung kedua orang itu terlihat di sekitarnya.
 
Naura bertanya pada suaminya, satpam, pada asistennya pun Naura bertanya. Di mana mereka? Seolah semua di penjuru rumah ini sudah mereka lalui namun hasilnya nihil!
 
"Aku nggak bisa pergi tanpa mereka, Mas!" 
 
Suara Naura panik, tiba-tiba gerakannya terhenti ia seolah berfikir seperti ada sudut yang belum ia temui! 
 
Taman di belakang rumah! 
 
Naura berlari kencang mengarah ke sana, ia tidak memperdulikan kandungannya. Yang di fikirannya sekarang, ia harus menemukan sosok kedua orang itu.
 
"Bunda! Berlin!" Naura menjerit.
 
Namun sayang, lagi-lagi panggilan itu tidak terespon. Naura berdiam putus asa, fikirannya meracau memikirkan mertuanya dan adik iparnya itu.
 
Fikiran buruk sempat terbesit di benaknya, dengan bola mata yang diedarkan ke seluruh penjuru kolam, tiba-tiba bola matanya berhenti di semak belukar tepat di ujung pagar rumahnya, semak itu seolah ada gerakan halus di belakangnya.
 
Dengan langkah yang sangat perlahan ia menautkan alisnya bingung. Jantungnya berdegup saat ia mulai menghampiri.
 
"Naura!" panggil Abdi.
 
Sontak panggilan itu membuat Naura mengerjap, ia sangat terkejut atas suara yang dibuat oleh Abdi.
 
"Apasih? Sini!"
 
Kemudian Abdi menyusul dan berlari ke arah Naura, "Ngapain? Ih! Kita nyari di luar aja!" ajak Abdi dengan suara datar.
 
"Husssstt ... akutuh curiga dengan semak-semak itu tuh, dari tadi ngasih gerakan yang kuat! Pasti ada apa-apa nih di balik semak-semak itu!" 
 
Naura menaruh jari telunjuknya di bibir Abdi. Menyuruhnya segera berhenti dari kebisingannya.
 
"Yaudah kamu ke belakang." Abdi menyuruh Naura bersembunyi di belakang tubuhnya, lalu ia mengambil bambu pembersih kolam, yang tersedia di sana.
 
Abdi memukul kuat ke arah semak-semak itu, dan benar saja ia memukul sebuah tumpuan benda, tetapi belum Abdi ketahui itu benda apa. Ia melangkahkan kakinya lebih dekat. 
 
"Ibuk! Mbak Nengsih! Kalian itu memang keterlaluannya! Dasar otak-otak kriminal, mau kalian apa? Belum puas Bryan sudah kujebloskan ke polisi! Sekarang, kalian juga mau?" 
 
Suara bentak Abdi meninggi, setelah mendapati Ibu dan Nengsih tengah membekap Bunda dan Berlin.
 
"Kalian itu benar-benar sangat menjijikkan ya, bagaikan penguntit yang sangat kotor dan bodoh!" 
 
Naura yang gemas melihat kelakuan Ibu dan Ipar tirinya, akhirnya bisa memberanikan diri untuk membuka suaranya.
 
"Cuih! Dasar wanita tidak tahu diri, ingin rasanya aku mengusirmu dari sini!" 
 
Suara Kakak ipar Naura meninggi dan membentak Naura dengan bola mata yang ingin keluar dari tempatnya.
 
Naura menyunggingkan senyumannya dan dirinya yang tidak lagi bisa menahan emosi.
 
Plak! 
 
Tangan Naura menampar keras pipi sang Ipar tirinya itu. Naura terlalu gemas menahan emosinya. Ia pun tidak habis fikir, mengapa dirinya sekuat ini.
 
"Arh!" Mbak Nengsi meringis kesakitan sembari memegang pipinya yang kini memerah.
 
"Mengapa, Mbak? Sakit! Sakitan mana dengan dirimu yang tidak pernah menggap diriku adik iparmu sekali pun! Kau membuat semua keluarga besar Abdi membenciku, kau mempergunjingkan aku di depan mataku bersama teman-temanmu dan dengan sengaja kau mendekatkan diri pada calon istri Bryan seolah kalian sangat akrab dan aku dijauhi! Seolah diri ini tidak pantas masuk ke keluarga kalian!" 
 
Suara Naura bergetar hebat, ia membentak Nengsi sekaligus Ibunya. Ia mengeluarkan semua masalah yang ada di dalam hatinya.
 
"Oh jadi kau dendam? Nggak nyangka ya Aku. Ternyata kamu orangnya pendendam," 
 
Ucap Mbak Nengsi melemparkan senyuman sinisnya.
 
"Ohhh! Aku tidak dendam! Aku hanya jijik."
 
Naura menimpali perkataan itu dengan sangat emosi.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!