Di sisi lain, Bram yang sudah mulai jengah tinggal sendiri di apartementnya itu. Mulai memutuskan untuk menginap lebih lama lagi di rumah orang tuanya.
Bip
Bip
Bip
Suara klakson mobil Bram terdengar sangat keras, hingga suara itu mengejutkan Irna yang sedang asik dengan lamunan yang sebentar lagi akan tenggelam dalam fikirannya yang dangkal.
"Hah," suara Bram mengatur ritme napasnya sembari merebahkan tubuhnya ke sofa dengan napas yang tersengal-sengal.
"Kenapa, Bram? Naura lagi?" tanya Irna mencoba mencari tahu mengapa putra kesayangannya pulang dengan wajah yang suram.
Bukannya tadi Bram sedang bersama Naura, lalu? Saat ini ... mengapa wajah Bram seolah suram bagaikan orang jalanan yang putus asa akan masa depannya.
Kemudian Irna mengelus bahu Bram dengan sangat lembut, "Zoya menyukaimu? Mamah lebih setuju, kalo kamu dekat dengan Zoya, dibanding Naura!" ucap Irna sangat pelan. Ia tidak ingin sampai menyakiti hati Bram.
Namun sepertinya Bram sangat sensitif, jika mengatakan hal yang berhubungan pada Naura. Bram membalikkam tubuhnya dan menoleh ke arah Irna. "Mah, aku akan menjadi seorang ayah dari 2 anak. Meski aku belum menikah, aku tidak akan mengkhianati Naura sedikit pun!" ucap Bram dengan berat.
Kemudian Irna melepaskan tangannya dari bahu Bram, ia memutarkan ke dua bola matanya dengan malas. "Bram, Mamah juga mau kamu bahagia, Mamah juga mau masa depan kamu bagus. Mamah sayang sama Naura, Mamah juga sayang sama kamu! Tapi otak kita pun harus berfikir, Bram! Kamu tidak akan mungkin terus menerus bersama Naura. Jangan kamu rusak kebahagiaannya, Nak! Demi sebuah obsesimu memiliki Naura!" Irna meraup wajahnya kasar.
"Mah, apa Bram terlihat seperti sedang bermain-main? Mengapa semua orang seakan meragukan perasaan Bram, Mah! Zoya, Naura, dan sekarang ... Mamah pun juga begitu!" ucap Bram dengan nada tinggi sembari beranjak dari duduknya, melangkah kasar menuju kamar.
Bram melangkah gontai dengan perasaan yang amburadul, mengapa semua orang seakan menolak perasaannya itu. Bahkan Naura pun sama sekali tidak pernah berjuang untuk cinta mereka, Naura malah seakan pasrah pada kehidupannya.
Brak!
Bram membanting pintu kamarnya, lalu melempar tubuhnya ke ranjang. Menatap langit-langit dengan nanar, ia seakan membenci sang semesta yang tidak pernah berpihak pada cintanya.
'Aku hanya ingin memiliki Naura seutuhnya, mengejar cintaku yang dulu pernah hilang dari jangkauan.
Dan aku hanya ingin selalu berada di samping Naura, meski aku tahu ... aku telah memilih menyakiti diriku sendiri, untuk demi terus bersama dirinya ...'
Bram mengacau dalam fikirannya ...
Ia memejamkan matanya perlahan, lalu tertidur dengan fikiran yang rumit dan hati yang perih seperti tersayat pisau.
***
Semete kyou no tame ni kitta kami ni kizuite
"Niatteru yo tte" itte hoshikatta
***
Zoya mendengarkan lagu Shiawase dengan bibir yang mengikuti lirik lagunya, air matanya deras mengalir di pipi seakan lagu ini sangat mewakili perasaan di hatinya.
"Salahkah aku mencintaimu, Bram!" lirih Zoya meremas ponselnya.
Zoya sadar perasaannya ini salah, memang tidak seharusnya ia menaruh cinta pada seorang pria yang berstatus sebagai sahabatnya.
Apa lagi ia tahu, Bram sangat mencintai Naura sejak mereka SMA. Yang sampai sekarang pun Bram tidak tahu, bahwa Zoya selama ini mencintai dirinya ... jauh dari sebelum Bram menyatakan cinta ke Naura, mungkin perasaan Zoya sekarang, sama seperti Bram yang selalu mencintai Naura.
Dulu ... Zoya mengalah demi persahabatannya, ia memilih untuk lebih diam mengamati dan mendukung Bram bersama Naura.
Puisi yang dulu Zoya berikan ke Bram sebagai pernyataan cintanya ke Naura pun, sebenarnya isi dari puisi itu adalah tentang pernyataan cintanya ke Bram saat itu.
Tetapi ... Bram sama sekali tidak memperhatikan Zoya! Yang Bram fikirkan hanyalah Naura dan Naura terus menerus.
Dirinya seakan tergila-gila pada Naura, sampai Bram pun mengabaikan kode perasaan dari Zoya. Hingga akhirnya ... Zoya menyerah saat tahu Bram ternyata sangat mencintai Naura.
Ia menyerah demi sahabatnya Naura, yang selama ini Zoya anggap sebagai adik kandungnya sendiri.
Demi Bram dan Naura! Ia rela memendam seluruh perasaan cintanya sampai saat ini!
Demi persahabatan mereka! Ia rela menelan pahitnya rasa cemburu yang ia saksikan sendiri di depan matanya.
Bayangkan ... bertahun-tahun lamanya ia menelan semua rasa keperihan dihatinya!
"Dan sekarang ... salahku apa? Menyatakan rasa cinta yang sudah lama terpendam." Batin Zoya menggerutu, sembari mendongakkan wajahnya ke atas. Seolah menahan air mata yang terlalu deras yang sedari tadi mengalir di pipinya.
Sebenarnya ... Zoya berfikir ini kesempatan baginya merebut cinta Bram dari Naura, ia fikir cinta Bram dan Zoya tidak akan pernah bersatu sampai kapan pun itu. Saat melihat situasi rumah tangga Naura saat ini, tetapi ... fikiran Zoya salah besar! Ternyata Bram sangat memperjuangkan cintanya pada Naura, hingga Bram kehilangan harga dirinya sebagai lelaki!
Zoya membenamkan wajahnya ke bantal lebih dalam, saat ini yang ada difikirannya hanyalah penyesalan!
Menyesal ... mengapa harus menyampaikan perasaan itu dengan menggebu saat ini!
Dan saat ini pasti Naura dan Bram sangat membenci dirinya, karena cinta yang salah ia tempatkan.
"Aku harus apa saat ini, Tuhan? Menemui mereka saja rasanya aku malu!" ucap Zoya terisak sembari menslide foto mereka di galeri ponsel Zoya.
"Maafkan aku, Nau ... maafkan aku, Bram ... maaf atas perasaanku yang sudah merusak persahabatan kita!" ujar Zoya mengusap air matanya yang masih fokus menatap foto mereka.
Zoya sadar dirinya tidak akan pernah menggantikan posisi Naura sampai kapan pun itu! Saat ini perasaan bersalahlah yang ada disetiap gemuruhan dadanya.
Ia menatap foto Naura, apa yang Bram cintai dari dirinya? Kepribadian Zoya dibanding Naura bisa dibilang Zoya lebih unggul dari Naura, Naura lebih kekanak kanakkan. Sedangkan Zoya, lebih mandiri. Ia lebih sering mengandalkan dirinya sendiri dibanding harus meminta tolong pada seseorang.
Kemudian Zoya mengamati lebih dalam foto Naura, ia memperbesar foto di galerinya tepat di wajah Naura, memang ... Naura lebih mempunyai jiwa feminim yang lebih dibanding dirinya. Rambut yang panjang, wajah yang manis dan lembut ... bibir yang indah, bulu mata yang sangat lentik dan hidung mancung minimalis. Sedangkan Zoya, memiliki wajah yang biasa saja ... rambut yang sering diikat dengan aura wajah yang tidak menampakkan ke feminiman sama sekali.
Kemungkinan itulah yang membuat Bram mencintai Naura, dibanding diri ini ...
Tetapi ... apa mungkin hati Bram bisa luluh saat diri ini mengikuti seluruh kepribadian Naura?
'Aku rasa tidak ... karena ... hati adalah hati, cinta adalah cinta dan sampai kapan pun tidak akan pernah terganti, meski satu dunia mengikuti gaya Naura sekali pun.'