Wanita Penghibur untuk Suamiku

Hubungan Terlarang

Bram beranjak dari duduknya ... menghampiri Zoya yang tengah terduduk di lantai, dengan kepala yang menunduk di antara dua kaki. 

 
Kemudian Bram duduk di hadapan Zoya, ia mendongakkan kepalanya mengarah ke wajah Bram. "Zoy ... maaf, aku nggak bisa ngejalanin hubungan dengan siapa pun. Selain Naura! Aku pernah ngerasain kehilangan Naura, Zoy. Kamu tau itu kan? Kamu tau seberapa gilanya aku tanpa Naura ... kamu tau seberapa sakitnya aku kehilangan dia! Dan sekarang ... aku udah ketemu dia, Zoy! Naura udah kembali dipelukanku, Zoy! Tapi kenapa, semuanya seolah menantang hubungan kami?" ujar Bram penuh penekanan. 
 
Zoya melepaskan ke dua tangan Bram dengan perlahan, ia menatap Bram tajam terkadang ia terlihat kesusahan mengatur ritme napasnya. "Kau tau, Bram? Hubunganmu dan Naura ... itu salah! Kau harus sadar dan ikhlas, Naura bukan lagi milikmu, Bram! Naura sudah berulang kali mengatakan, dia mencintai suaminya ... dia tidak akan meninggalkan Abdi hanya karna cintanya yang dulu!" ucap Zoya tegas.
 
Bram beranjak dari duduk, ia mengusap wajahnya dengan kasar. "Aku nggak bisa, Zoy! Aku nggak bisa tanpa Naura!" ucap Bram dengan air mata yang tiba-tiba menetes dari pelupuk matanya.
 
Kini ... hati Bram seolah dibuat kacau dengan keadaan, ia menutupi wajahnya dengan telapak tangan, ia berusaha menutupi air matanya sebisa mungkin di hadapan Zoya. 
 
Zoya yang mengamati keadaan Bram yang sudah sangat terpuruk, langsung beranjak dari duduknya. Dengan langkah terhuyung Zoya menuju mengarah ke Bram. 
 
Ia memegang bahu Bram erat dengan ke dua tangannya, sudah tidak ada lagi senyuman hangat seperti dulu ... saat mereka masih menyandang seorang sahabat.
 
"Lihat mataku, Bram! Apa aku berniat memisahkan cintamu? Apa aku berniat untuk membuang rasa cintamu pada Naura? Nggak, Bram! Nggak! Aku cuma mau kamu tau, aku cuma mau kamu sadar ... kalo hatimu masih ada yang mengharapkan!" ucap Zoya dengan kedua tangan yang mulai turun ke bawah, tepat di wajahnya. Kini wajah mereka berdekatan ...
 
Bram melihat wajah Zoya ... ia merasa sudah kehilangan segala kebahagiaannya saat ini, apa yang harus ia lakukan? Dengan perasaan Zoya, yang sangat tidak mungkin ia balas.
 
Kemudian Bram memejamkan mata perlahan, mencoba untuk menyaring kembali fikirannya yang pulih dan mencoba untuk menenangkan diri sejenak. Lalu perlahan ia mulai membuka ke dua pelupuk matanya. "Kau mencintaiku, Zoy? Sungguh?" tanya Bram dengan pelan.
 
Mata Zoya kini menatap tajam ke dua bola mata Bram, ia mengangguk dengan cepat. Tidak peduli dengan apa yang Bram akan perbuat.
 
Drep!
 
Tiba-tiba Bram memeluk Zoya erat, wajahnya suram menhadap ke belakang. "Terimakasih, Zoy. Telah mencintaiku setulus itu ... aku akan belajar mencintaimu dan berusaha sekeras mungkin untuk melupakan Naura!" lirih Bram dengan nada melemah.
 
Dengan gerakan tiba-tiba, Zoya mendorong Bram dengan kuat. "Aku tidak mau, Bram! Maaf ... bukan maksutku menghancurkan hubunganmu, maafkan aku ... Bram!" ujar Zoya sedikit terisak.
 
Bram menautkan alisnya, melangkah pelan menghampiri Zoya. "Kau tidak perlu meminta maaf, Zoy! Memang sudah seharusnya begini, benar kata Naura ... hubunganku dan dirinya tidak akan pernah bersatu sampai kapan pun. Dan mungkin ini cara Tuhan menghadirkan dirimu, untuk menggantikan Naura di fikiranku." Ucap Bram menguatkan hatinya yang saat ini mungkin sudah sangat hancur tercacah perih bagaikan teriris pisau daging yang sangat tajam.
 
Kini mereka saling berpelukan erat, inikah awal dari cinta Bram dan Zoya? Dan akhir dari percintaan Bram untuk Naura?
 
'Tuhan ... seandainya diri ini masih bisa menggapai kembali cintanya, tolong ... bawalah diri ini kembali lagi bersamanya seperti sedia kala.'
 
'Tetapi ... jika memang cinta ini tidak akan pernah menyatu sampai Bumi berubah menjadi abu, tolong ... buatlah hati ini menjadi mati rasa untuk merasakan perihnya mencintai dirinya.'
 
Fikiran Bram kini tetap bersama Naura, wanita yang sangat ia cintai sampai detik ini. Tetapi ... cintanya bagaikan pusaran hold yang tidak akan pernah sanggup ia menggapainya. Meski dirinya telah mencapai puncaknya perjuangan yang sangat menyakitkan bagi siapa pun.
 
Sekarang ... dengan diri yang sadar, ia telah berhubungan bersama wanita lain yang tidak lain adalah sahabat mereka sendiri.
 
Dan dengan sanggup memutuskan hubungan mereka ... saat ini Bram benar-benar mengandalkan tangan Tuhan untuk cintanya, ia sudah tidak sanggup akan hatinya yang selalu terluka.
 
Saat ini ia melepaskan dan berharap mendapatkan Naura kembali, lalu Zoya? Ntahlah mungkin Zoya hanya menjadi bahan pelampiasan Bram untuk mencoba melupakan Naura.
 
"Jadi sekarang kita jadian?" tanya Zoya dengan wajah memerah malu.
 
Brak! 
 
Bram mendorong Zoya ke ranjang, lalu melemparkan tubuhnya kembali di samping Zoya. "Menurutmu?" ucap Bram sembari ingin mendekati wajah Zoya.
 
Bram dengan perlahan naik ke atas tubuh Zoya ... berusaha membuka kaos tipis yang dikenakan oleh Zoya.
 
Bram mulai memainkan sisi sensitif wanita melumatnya dengan lembut dan berhasil membuat Zoya merasakan kenikmatan yang baru pertama kali ia rasakan.
 
Tubuhnya menggeliat tak karuan, ia meremas rambut Bram dengan kuat. Dan berusaha sekuat mungkin mengatur ritme napasnya yang sudah tidak karuan.
 
Tanpa sadarkan diri Zoya mendesah kuat, ia lansung menutup mulutnya. "Tolong, Bram ... jangan sekarang, aku belum siap." Ucap Zoya tersengal-sengal.
 
Tetapi, Bram yang sudah berada di puncak nafsunya sama sekali tidak menghiraukan perkataan Zoya. 
 
Ia melepaskan seluruh kain yang berada di tubuh Zoya, hingga menampakkan kemolekan tubuh Zoya seleruhya yang belum terjamah oleh siapa pun.
 
Bram mulai menjamah Zoya, Zoya menjerit seketika ... tetapi ... ntah mengapa semakin Zoya menjerit, semakin Bram terpancing dengan nafsunya. 
 
***
 
Setelah 1 jam lamanya mereka berpagut kasih, untuk pertama kalinya Zoya merasakan nikmatnya dari percintaan. Dirinya merasakan perih yang sangat hebat di bagian bawah perutnya. Pinggul seakan ngilu saat mengikuti seluruh permainan dari Bram.
 
Kini Bram memeluknya dari belakang ... mengecup keningnya dengan perasaan yang masih hambar. Tetapi ... beda dengan perasaan Zoya saat ini, ia merasakan bahwa Bram telah mencintai setelah mereka melakukan hubungan intim layaknya pasangan suami istri.
 
"Kamu mikirin apa sayang?" tanya Bram yang masih memainkan sisi sensitif Naura. Seolah tidak ada rasa lelahnya. Tidak jarang Zoya menggeliat, namun ia tahan demi rasa malunya.
 
Zoya tidak menjawab sepatah kata pun ia hanya menggeleng perlahan, sembari menahan rasa kenikmatan yang masih tertahan.  
 
Kemudian Bram menarik Zoya untuk beranjak dari ranjangnya ... Dan membopong Zoya dengan sangat manis ke arah kamar mandi.
 
Sesaat Bram ingin membopong Zoya, dan ingin melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Ia menatap sprei ranjangnya yang basah terkena darah dari milik Zoya. Lalu Bram melemparkan pandangannya ke arah Zoya dengan sangat manis dan penuh akan nafsu bejatnya.
Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!