Setelah beberapa menit Abdi menghangatkan tubuh Naura dan membiarkannya tenang di dalam pelukan dada Abdi yang bidang. Kini ia mendongakkan wajah Naura keatas, menyorot tajam mengarah ke dalam bola mata Naura.
Dan sekarang mereka saling menatap merungsut masuk ke dalam fikiran masing-masing ... Abdi menggendong tubuh Naura meletakkannya di atas tubuh Abdi, rambutnya berantakan ... wajahnya sangat kacau dipenuhi bengkak memerah karena menangis terlalu lama. Namun entah mengapa wanita yang tengah berada di atas tubuhnya ini mau diapakan aura kecantikannya tidak akan hilang, "Kau kenapa, Nau?" tanya Abdi dengan nada yang sangat pelan.
Naura menggeleng cepat, ia tidak mungkin lupa jika pria di bawah tubuhnya ini adalah seorang suami yang pencumburu akut. Bahkan Naura sangat dijadikannya ratu di rumah ini, itu semua karena Abdi yang selalu ingin menyempurnakan rumah tangga mereka dan menebus kesalahan yang dulu pernah ada, katanya.
Abdi menurunkan Naura dari tubuhnya dan beranjak dari tidurnya ... kini ia duduk bersila di atas ranjang menghadap pada wajah Naura.
"Jangan pernah membohongiku atas perasaanmu, Nau! Aku hanya ingin kau berterus terang!" suara Abdi terdengar santai, tetapi nada suara itu sangat menggelegar dari seluruh sudut ruang kamar mereka.
Kemudian Bram yang melihat keadaan Naura sangat terhimpit dengan keadaan, melangkah pelan menghampiri mereka. Bram mengamati terus menerus gelagat tingkah Naura saat ini, ia terus memandang bibir Naura. Seolah tidak ingin ketinggalan satu patah kata pun dari dalam mulutnya.
"A-aku ... me-mencintai dirinya," ucap Naura dengan ketidak sadarannya namun tidak berlangsung satu detik. Naura menyumpal mulutnya dengan ke dua tangan.
Bram yang tersentak atas pengakuan Naura terhadap suaminya hanya bisa memasang wajah merah padah, matanya membulat seakan ingin keluar dari tempatnya.
"Maaf, Mas ... maksutku, aku mencintai dia sebagai sahabatku. Tidak lebih ... dan saat tadi tingkahku seperti menahan sesaknya di dada, itu karena aku menghargai dan menghormati dirimu sebagai suamiku di hadapan tante Irna dan Zoya sahabatku." Ucap Naura menelan ludahnya kasar dan berharap suaminya akan percaya pada perkataanya dan tidak akan memperpanjang masalah ini.
Abdi hanya bergeming yang sedari tadi fokus menatap wajah Naura, kemudian ia memicingkan senyumannya lalu melemparkan senyuman itu kearah yang berlawanan pada Naura.
Ntahlah ... sepertinya Abdi tidak menerima penjelasan itu, tetapi ... ia memilih untuk tidak memperkeruh suasana.
"Oke, kalo gitu sekarang ... aku mengerti, aku ingin keluar sebentar. Jaga dirimu baik-baik dan jangan pernah melakukan tindakan yang sangat bodoh seperti tadi." Ucap Abdi dengan raut wajah yang sangat memendam kekecewaan dan melangkah gontai ke arah pintu, ia meninggalkan Naura dengan suasana hatinya yang sedang tidak menentu. Tetapi ... Abdi tidak peduli itu, setelah mendengar perkataan Naura tadi ... hatinya seolah perih seperti luka yang di baluri dengan pasir putih dan berendam di dalam air lautan yang asin.
'Aku memang pernah salah, Nau! Tetapi kesalahanku yang sekarang ... itu didasari dari rencana dendammu, lalu sekarang? Aku yang berbesar hati meminta maaf dan ingin memperbaiki segalanya. Dirimu malah seakan dengan sengaja pergi ke arah ruang yang gelap, menghidupkan korek api, menabur bensin dan bermain api dengan sangat lincah.' Abdi menggurutu di dalam hatinya ia mengumpat tiada hentinya atas perkataan Naura tadi.
***
"Kau tau, Bram? Bagaimana hancurnya suamiku saat mendengar perkataanku? Sangat hancur bukan? Itulah mengapa ... aku selalu berkata, kita tidak pernah bisa bersama sampai kapan pun! Tetapi ... bukan dengan perpisahan begini yang aku harapkan," ucap Naura sembari memejamkan kedua bola matanya ... Naura masih berfikir jika Bram pasti ada selalu di dekatnya.
Ia sangat yakin itu!
Naura selalu merasakan kehangat dari Bram, kehangatan itu Naura rasakan sangat dekat.
"Kau ada di sinikan, Bram? Jika ia ... tolong peluklah aku, sekali lagi ... aku ingin merasakannya!" ucap Naura dengan nada tegas. Tetapi ucapan itu Bram hiraukan begitu saja, ia tidak ingin Naura mengetahui jiwa Bram mengikuti Naura ke manapun Naura pergi.
Kini Naura bergeming sejenak, ia mulai menebalkan rasa sensitifnya ... tetapi hal itu sia-sia, nyatanya aura itu tidak lagi kembali ia rasakan.
Naura membenamkan wajahnya lebih dalam, menangis sekencang-kencang mungkin. Meratapi keadaan yang tidak berpihak padanya sama sekali.
Bram yang berada tepat di samping Naura, tidak tahu akan terus berbuat apa lagi dengan hati yang hancur melihat Naura ... Bram mulai menjulurkam tangan kanannya mengarah ke rambut indah Naura, ia membelainya sangat lembut tanpa terasa air mata itu menetes ke tumpuan wajah Naura.
Dengan gerakan yang cepat, Naura membalikkan tubuhnya. Ia merasakan kehangatan dari tubuh Bram dan air yang menetes dari atas kepalanya ... itu nyata!
Naura yang merasa kesehatannya sudah mulai terganggu, beranjak berdiri ke arah lemari dan mengambil sehelai dres berwarna biru muda kesukaannya.
Dan berlari keluar dengan tampilan wajah yang sangat berantakan, Naura berlari ke bawah anak tangga dengan langkah yang di ikuti oleh Bram.
"Nau, mau kemana?" Bunda tiba-tiba teriak menanyakan sesuatu pada menantunya yang sangat kelihatan hancur, namun pertanyaan itu tidak seperti biasanya ... Naura mengabaikan dengan langkah gusar menuju ke arah parkir.
Kini Naura mengusap air matanya yang terus saja menetes, ia tidak mampu lagi menahan kesedihannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi melebihi kecepatan Om gadun bawa anak perawan.
Bram yang jiwanya kini hanya menjadi roh saja tiada hentinya bergidik ngeri ... perasaan mual kini menghampiri Bram dan Bram pun tidak tahu harus berbuat apa? Di saat mual yang terus menerus tiada hentinya ia masih terus berfikir. Dimuntahkan saja atau tidak? Dan jika ia muntahkan ... apakah yang keluar adalah semua isi dari dalam perutnya? Itulah yang Bram takutkan setelah kejadian air mata yang terjatuh di tumpuan wajah Naura tadi.
Cup!
Dengan perasaan yang bingung Bram mencium pipi Naura, itu sengaja Bram lakukan ... agar Naura memperlambat laju mobilnya.
Tangan Naura meraba pada pipi kanannya, kecupan pipi memang bukanlah hal yang tabu bagi Naura ... namun jika yang melakukannya adalah makhluk halus seperti ini. Itu lain ceritanya!
Wajah Naura memerah padam, ia menatap ke arah wajah Bram ... yang terlihat di mata Naura hanyalah sebuah kursi penumpang di sampingnya.
Air mata Naura semakin deras mengalir di pipinya, perasaannya semakin tidak menentu. "Apakah aku gila, Bram? Karenamu aku gilaaaaaaaa." Teriak Naura sekuat mungkin, bahkan teriakan itu mampu memekakkan telinga Bram. Hingga Bram tersadar dari komanya.
Matanya berdelit ... napasnya terengah-engah, ia mengedarkan pandangannya menyusuri sudut ruangan. Tubuhnya pegal, perih dan linu ... ia mengangkat ke dua tangannya dengan perlahan.
Sekarang ia sadar, jiwa Bram telah kembali pada tubuhnya ... bunyi langkah berlarian terdengar dari kejauhan, tiba-tiba di balik pintu itu keluar para perawat berpakaian putih-putih masuk dengan bergerombolan.
Setiap detail tubuhnya mereka periksa, sampai alat yang terpasang di tubuh Bram mereka periksa dengan hati-hati.
"Luar biasa! Ini mukjizat ... pak Bram benar-benar melewatkan masa kritisnya!" ucap salah satu dokter di hadapan Bram.
Mendengar perkataan itu, Bram menautkan alisnya. "Luar biasa, hanya karna dentuman teriakan Naura yang sangat memekak di telinganya, jiwanya kembali memasuki raganya. Karena tidak tahan terus menerus menghadapi teriakan Naura yang selalu menggema." Batin Bram menggurutu sembari menggambarkan senyuman lebar di wajahnya.
Kini peralatan yang terpasang pada tubuh Bram, mereka lepaskan satu persatu dan sesaat para perawat dan dokter ingin meninggalkan ruangan Bram. "Dok, aku ingin bertemu Naura. Hanya Naura ... jangan izinkan yang lain masuk termasuk ke dua orang tuaku," ucap Bram dengan tegas, Bram sengaja saat ini tidak ingin bertemu siapa pun ... terkecuali Naura. Ia tidak ingin suasana hatinya saat ini dirusak oleh siapa pun.
"Tapi ... Pak! Yang di luar hanya ada ke dua orang tua bapak dan pacar bapak bernama Zoya," jelas perawat itu dengan perlahan.
"Berhenti menyebutnya pacarku, dia bukan pacarku ... yang bernama Naura akan datang sebentar lagi, mungkin saat kamu keluar ... dia sudah berada di depan ruangan ini. Dia memakai dress berwarna biru mudah, rambutnya terikat dan wajahnya sangat cantik tanpa polesan apa pun," ucap Bram sembari tersenyum mengarah ke wajah perawat.
"Baik, Pak." Ucap perawat itu dengan tatapan yang meragu.
Bagaimana mungkin Bram tahu siapa yang akan datang menemuinya?
Dan bagaimana mungkim Bram tahu wanita itu memakai baju warna apa?
Perawat itu melangkah dengan sorotan mata yang memandang Bram sangat aneh, ia mengira Bram hanya berhalusinasi efek dari komanya.
Tetapi ... perkiraanya langsung ia tepis sesaat setelah ia keluar dari pintu dan mendapati perempuan dengan ciri-ciri yang sama, ia meneguk ludahnya perlahan. "Buk, Ibuk yang bernama Naura? Saat ini sudah ditunggu dengan Pak Bram, sekarang!" ucap perawat itu dengan name tag Ardiantara di seragam dinasnya.
"Nggak bisa! Saya mamahnya, saya yang harus menengok anak saya terlebih dulu!" Irna mengotot keras di hadapan perawat itu.
"Buk, saya hanya menjalankan tugas. Pak Bram belum mau ditemui siapa pun terkecuali, Buk Naura! Jika ibuk masih ngotot, silahkan saja ... tetapi saya tidak bertanggung jawab atas kondisi Pak Bram nantinya. Saya permisi dulu." Ucap perawat dengan melangkah lenggang melewati Irna.
Tamat.
Akan ada Season 2 nya.