Wanita Penghibur untuk Suamiku

Tubuh ke Sofa

"Kekasih?" Abdi mengreyitkan dahi, memutar bola matanya ke arah Naura tajam.

 
"Yah! Memang Aku kekasihnya, jauh dari sebelum kau mengenal dirinya," ujar Bram lantang. 
 
Jawaban Bram semakin membuat Abdi bingung, "Jauh dari sebelum aku?" lagi-lagi Abdi mengerutkan dahi dan melepaskan cengkraman tangannya dari kerah pria di hadapannya itu.
 
"Dia mantanku, Mas ..," sahut Naura dengan wajah yang sangat kusut, dipenuhi bekas-bekas air mata.
 
Terlihat Bram merapihkan pakaiannya dan membenarkan kerahnya sambil berkata. "Tapi kita belum ada kata putus dan aku sangat mencintaimu, Nau." Bram membungkuk di kedua lutut Naura.
 
Kemudian Bram mengambil taplak meja dan melemparkannya ke arah Aqila yang sedari tadi meringkuk ketakutan tanpa busana. "Aku nggak mau, mataku yang bersih ini ngeliat tubuh kotormu!" Bram mengulas senyum, kemudian membopong Naura keluar. 
 
"Lepasin Bram! Lepasin!" rengek Naura dengan berkali-kali membuat tinjuan kecil kearah bahu pria itu.
 
"Jangan coba-coba membawa istriku! Atau ...."
 
"Atau apa ha? Sudahlah wahai pria bodoh! Aku sudah merekamnya sedari tadi." Belum sempat Abdi meneruskan pembicaraan, Bram memotongnya kembali dan menunjukkan semacam alat perekam di salah satu kancing baju. Bram sengaja memasangnya tadi, karena dia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya. 
 
Lalu Bram tersenyum puas.
 
Kini Bram mendapati wanita pujaannya kembali, sudah bertahun-tahun lamanya kerinduan itu akhirnya sembuh juga. Dirinya pun tak menyangka Sang Ilahi masih berbuat baik padanya. Bram mengira dia tak akan pernah lagi bertemu dengan gadis yang sangat ia cintai itu.
 
Sekarang? Naura dengan nyata duduk di sampingnya. Dengan lembut Bram mengelus rambutnya. "Sudah ... Nau, tenangkan dirimu dulu ya. Nanti kita pikirkan lagi, gimana jalan keluarnya," ujar Bram seraya menggenggam jari jemari Naura dengan hangat.
 
Naura mematung beberapa detik, seakan gugup dengan keadaan saat ini. Bagaimana pun juga dirinya adalah seorang istri yang harus menjaga kehormatan dirinya dari lelaki lain.
 
"Jangan pernah menyentuhku, apapun itu! Meskipun hanya seujung kuku! Aku sekarang adalah seorang istri Bram!" ujar Naura tegas, Bram memahami itu dan perlahan menarik tangannya kembali.
 
"Oke ... Nau, tapi satu hal. Aku ingin tau langsung apa penyebabmu menjauh dariku." Bram mencoba bertanya, atas apa yang selama ini ada di dalam benaknya.
 
"Aku selingkuh, terus nikah."
 
"Hahaha ... Kau kira Aku anak TK yang dengan mudah kamu bohongi Nau?" Bram terbahak-bahak mendengar jawaban Naura.
 
"Yasudah kalau nggak percaya." Naura seketika melengos dan menghadap ke arah kaca mobil.
 
Naura menyenderkan kepalanya di kaca, air mata Naura menetes tak tertahan, lagi-lagi Naura menyesali keadaannya saat ini ... menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi. 
 
Seandainya keputusan itu takkan pernah terucap! Mungkin saat ini dia sedang menikmati keromantisan dari suaminya yang hampir tiap hari Abdi berikan semenjak mereka menikah. 
 
Napas Naura turun naik di luar ritme normalnya, kesedihannya tak tertahankan. Hatinya sudah terlalu sakit dengan keadaan yang terjadi saat ini. 
 
Bram menghentikan laju mobil, kemudian memutar kepala ke arah Naura "Nau, kau tak apakan?" tanya Bram dengan sangat hati-hati, Bram tak ingin menambah kerusakan hati gadis yang amat sangat Bram cintai.
 
"Menurutmu? Keadaanku sekarang gimana? Apa aku terlihat baik-baik saja? Setelah melihat suaminya bersetubuh dengan wanita lain?" sambung Naura dengan suara dinginnya.
 
Bram sedikit bergidik mendengar jawaban Naura, ia tahu bagaimana hancurnya hati Naura sekarang. "Dasar Pria sialan!" batin Bram mengumpat.
 
Kini situasi semakin hening, mobil kembali dilajukan. Naura menunduk sudah tidak mampu lagi berkata-kata, harapan demi harapan seakan sirna di matanya. Saat ini tak ada lagi fikiran Naura, terkecuali suaminya ... fikirannya terlalu di intimidasi oleh suaminya tak ada satu pun yang ia ingat sekarang. Seakan baginya semuanya tak penting di banding pria tercintanya itu. Bahkan nyawanya pun jika diperlukan, Naura rela.
 
****
Di Rumahnya kini Abdi tertegun duduk di sofa dengan sehelai handuk, meremas rambutnya pusing. "Naura ... maap." Satu air mata lolos dari mata pria mengenaskan. Jujur saja Abdi pun merasa bersalah atas apa yang terjadi. 
 
Dirinya kali ini benar-benar menyakiti Naura, istri yang selama ini ia puja-puja apapun kelakuannya. "Maaf ... Nau, Maaf!" Abdi merebahkan tubuhnya ke sisi kanan sofa. Hidupnya kini benar-benar hampa. Meski sekarang Aqila telah memuaskan seluruh nafsunya, tetapi tetap saja. Tak akan pernah ada yang bisa menggantikan sosok istrinya ... Naura.
 
Lantas sekarang, dirinya harus bagaimana? Abdi meracau dengan pelopak mata yang tertutup. 
 
****
 
Bim ... bimm suara klakson mobil Bram, menunjukkan ke Security agar segera membuka gerbang. 
 
Naura sibuk memutar kepalanya dari arah kiri ke kanan, lalu ke belakang, mengamati keadaan di sekitar. "Hah? Kita ke Apartementmu?" suaranya begitu panik.
 
Tanpa aba-aba apa pun, Bram menggendong Naura keluar dari dalam mobil. Kini dirinya harus menggendong Naura sampai ke lantai 84 menggunakan lift. Naura yang tak mengetahui apapun motif Bram, dengan kasar menggoyangkan tubuhnya dan membuat tinjuan kecil ke arah Bram. "Bram Aku mau pulang!" rengek Naura persis seperti anak kecil meminta sesuatu. 
 
"Tolonglah ... Nau, Aku begini hanya membantumu. Jadi jangan buat seakan-akan aku mau menculikmu!" Bram berpura-pura mendengus dengan kesal.
 
"Bram, mengapa kau masih berbaik hati denganku? Dengan alasan cinta katamu?" tanya Naura tak mengerti.
 
"Suatu hari nanti kau akan mengerti, Nau ..," jawab Bram sembari memainkan mata ke arah Naura, kemudian memencet tombol lift.
 
Naura yang melihat tingkah Bram, hanya memutar bola matanya dengan malas. Bram mengulas senyumnya ke arah lain. Sebenarnya di hatinya saat ini, perasaan bergembira sedang menari-nari di hati. Bram menyembunyikan senyuman senang di wajahnya. Berharap saat ini keadaan memihak padanya dan menghentikan waktu sekejap saja dengan keadaan dirinya sedang menyentuh Naura.
 
"Sadar, Bram ... sadar! Naura bukan milikmu lagi!"
 
 Dengan terpaksa lagi-lagi Bram menyadarkan dirinya. Sembari berjalan yang sengaja ditatih-tatihkan.
 
"Bram ... lama banget ih! Aku pegel nih digendong begini! Pengen rebahan." Naura mengrenyitkan dahi.
 
"Kamu yang digendong aja pegel, apa lagi Aku, Nau!"
 
"Nggak ada yang nyuruh Bram! Nggak ada! Apalagi pake acara kursi rodaku ketinggalan, arh! Kau masih saja bodoh!" Naura berdecak
 
"Aku memang dari dulu bodoh dan kau masih saja bawel!" Bram berdengus.
 
"Dan seharusnya kau menikah denganku, pasti hidup kita sempurnahhh," ledek Bram dengan bola mata memutar ke sudut atas.
 
"Gausah ngadi-ngadi, buruan Bram! Itu pintunya udah deket noh! Kamu lama banget sih. Rasanya Aku pengen lari." 
 
Kemudian Bram berlari menuju pintu dengan kencang. "Ya Tuhan, Bram ... kamu kok bodoh banget. Akuloh jantungnya mau copot!" ujar Naura sembari memegang dadanya.
 
 
Klek! 
 
Bram menggesek card pintunya, kemudian menidurkan Naura ke ranjang. "Arh pegalnya ..," ujar Bram sambil melentangkan kedua tangannya ke atas ranjang.
 
Naura memutar kepalanya ke arah Bram dan membuat mata mereka bertemu, "Kenapa? Gausah mikir macem-macem! Sana tidur di sofa," ujar Naura malas.
 
"Ya Tuhan! Ranjangku! Sudah dikuasai oleh Nenek lampir." Bram melangkah ke arah sofa dan membanting tubuhnya ke sofa.
 
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!