Wanita Penghibur untuk Suamiku

Ah!

Naura meraba, "Ah basah! Astaga popokku sudah penuh! Bagaimana ini?" Naura melihat ke sekitar, bola matanya menatap Bram tajam. "Nggak! Nggak mungkin!" gumamnya dalam hati.

 
Kini Bram yang bergantian menatap ke arah Naura, Bram sudah sangat hapal pada kelakuan mantan kekasihnya itu, Jika ingin meminta bantuan pada seseorang, pasti akan menatap orang itu dengan tatapan tajam. Bram melempar senyuman nakalnya. "Popokmu udah penuh ya?" tanya Bram seraya melangkah cepat ke arah Naura.
 
Naura yang melihat dirinya sedang ingin dihampiri, segera bangkit dari tidurnya, posisinya sekarang duduk di atas ranjang sembari menunjuk ke arah Bram. "Bram! Jangan macem-macem ya!" ujar Naura seketika wajahnya berubah panik merah padam.
 
"Eh!" Bram terhenti seketika, setelah melihat Naura sebegitu panik saat didekati, Bram mengangkat kedua tangannya, "Aku nggak akan macam macam, Nau! Aku hanya ingin melihatmu lebih dekat. Aku rencananya mau nelpon si Zoya, teman kita dulu. Biar bisa ngebantuin kamu! Kamu ingat kan?" 
 
Naura tak menggubris perkataan Bram, dirinya sibuk mengecek ponsel. Terlintas perasaan kecewa di benaknya. Mengapa suaminya tak menghubungi dirinya? Apa mereka sedang bersenang-senang? 
 
Naura melemparkan kepalanya ke ranjang, mengerjapkan matanya lalu menarik napas. 
 
Apa rumah tangganya tidak dapat kembali utuh dan normal lagi? 
 
Lantas bagaimana dengan cinta yang selama ini Mas Abdi sebut? 
 
Apa itu palsu? 
 
Atau ... hanya sekedar perkataan manis semata? 
 
Air matanya kini menetes tak tertahan, tiba tiba Naura merasa lengannya seperti ada seseorang yang menyentuh. Dengan cepat ia membuka mata, dan benar saja Bram sedang mengelus lengan Naura dengan lembut.
 
"Heh!" Naura reflek menjauh dan memandang Bram sinis, seolah orang yang di hadapannya ini adalah seorang musuh yang harus segera dibinasakan.
 
"Apasih, Nau! Akutuh cuma pengen nenangin. Bukannya dulu kamu seneng ditenangkan dengan dielus rambutnya atau lenganmu."
 
Naura memutar bola matanya dengan malas, "Itu beda bodoh, sekarang aku udah jadi istri orang. Nih gak bagus nih dengan apa yang kita lakuin, sekasur dengan pria lain selain suaminya," ujar Naura mendengus kesal. 
 
"Terus? Suamimu? Tidur dengan wanita lain, di hapadapanmu, Nau! Gimana tuh?" 
 
Naura terdiam sejenak, lalu menarik napas panjangnya. "Oke, Bram. Aku jelasin ya .... sebenernya wanita penghibur itu aku yang minta untuk mas Abdi," ujar Naura yang perlahan menundukkan kepalanya sembari terisak kembali.
 
Bram membulatkan matanya, "Hah? Gimana? Gimana?" ujar Bram seraya mengkerutkan dahi.
 
"Plis lah, kali ini kamu gausah bodoh."
 
"Tadinya sih gitu, selama ini aku memang terlihat bodoh kan Nau? Tapi nyatanya kamu lah yang sebenarnya bodoh!" ujar Bram dengan pelan pelan mendekati Naura.
 
"Memang," ucap Naura tersengal sengal menangis.
 
Klek ... pintu terbuka dan terdengar seseorang melangkah ke arah mereka, "Naura!" gadis itu berlari ke arah Naura seraya memeluknya. Gadis itu bernama Zoya sahabat lama mereka. 
 
"Kamu kemana aja Nau, Sumpah Demi Apapun aku kangen banget." Zoya mengelus rambut Naura dengan lembut. "Kau kenapa, Nau?" tanyanya dengan menaikkan wajah Naura ke atas. 
 
Naura hanya menggeleng dengan cepat, hal itu membuat Zoya memutarkan kepalanya ke arah Bram dengan tatapan tajam.
 
Bram bergidik melihat tatapan Zoya seperti dinginnya Vampir, "Kau apakan kembaranku?" tanya Zoya dengan bola mata yang hampir keluar.
 
"Hah? Kamu masih nyebut Naura kembaranmu, Zoy? dari dulu gak berubah-berubah." Bram yang menyoroti tubuh Zoya dari atas ke bawah. "Aku gak ngapa-ngapain oiy!" Bram mendengus dan menjatuhkan dirinya ke sofa.
 
"Lalu?"
 
Bram menaikkan bahunya. "Lagian kenapa sih kalian itu gak nikah, udah satu kamar begini. Satu kasur pula!" Mendengar ucapan Zoya, Naura membuang pandangan ke arah Bram.
 
Sontak Bram terbahak-bahak mendengar perkataan sahabatnya itu. "Naura udah gak perawan, Zoy!" ujar Bram masih dengan nada suara gamangnya karena tertawa.
 
Dengan cepat Zoya mendamprat mulut Bram. "Uh nah kan! Gemes banget aku dengan mulutmu." 
 
"Lah salahku di mana? Emang nyatanya begitu, Naura udah gak perawan. Karna dia udah menikah dengan orang lain," sahut Bram seraya melangkah malas menghampiri Naura. 
 
Bram duduk di samping Naura dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku telat menemuinya." Suara Bram mengecil. Zoya tahu Bram sangat kecewa pada kenyataan. Terlebih Bram sangat mencintai Naura.
 
 Dan sekarang dia mendapati Naura telah menikah dengan orang lain. 
 
Lantas mengapa mereka bersama dalam satu kamar? Apa Naura berselingkuh? Atau Bram yang merayunya? Zoya seperti dipermainkan atas kendali mereka.
 
"Nau, aku mohon jelasin semuanya dan janganlah selalu duduk di atas kasur, seperti kau habis diperkosa." Zoya menarik Naura cepat sehingga Naura dan Bram tak sempat memberitahunya tentang fisik Naura sekarang.
 
Brugh! 
 
Naura tersungkur seketika. Zoya dengan panik menaikkan tubuh Naura dan Naura pun jatuh kembali. 
 
"Stop, Zoy! Kau masih sama saja, ceroboh!" bentak Bram dan Naura hanya menangis tersengal-sengal yang menambah Zoya semakin bingung. 
 
"Naura sekarang lumpuh dan kebetulan Aku sedang di tugaskan dengan Kepala dokter untuk memeriksanya, begitulah kami bisa bertemu. Lalu tentang Naura yang ada di Apartementku sek ...," 
 
"Stop Bram! Stop! Aku nggak mau orang lain tau tentang pernikahanku yang amat menjijikkan!" Naura terisak-isak.
 
"Hah? Orang lain katamu?" Zoya menatap Naura kecewa.
 
Drrttt ... Drrrt ....
 
Ponsel Naura berdering, panggilan masuk dari suaminya. 
 
"Lodspek ... loudspek," Bram bersuara pelan.
 
[Halo
 
Nau kau dimana? 
 
Kumohon pulang lah]
 
Naura tak menjawab apapun ... Naura bingung harus mengatakan apa. 
 
Dan tiba-tiba di seberang panggilan itu terdengar suara Aqila.
 
'Apa Mas kata Naura?'
 
'Atau aku saja yang berbicara?'
 
Zoya memutar kepalanya ke arah Bram, "Dia siapa?" tanya Zoya pelan dan dijawab Bram dengan jari tangan angka 1 menunjuk ke arah bibirnya.
 
Lalu dengan cepat Naura mematikan panggilan itu. 
 
"Nau, kau harus jelaskan semuanya, ada apa? Kamu kenapa? Dan kamu baik-baik saja kan?" rentetan pertanyaan dari Zoya membuat Naura memegang kepalanya. 
 
"Cukup, Zoy! Jangan bertanya lagi!" Bram segera membopong Naura ke kasur. "Ambil baskom di dapur, lalu ganti lah popoknya. Kau nggak jijik kan?" tanya Bram
 
"Naura seperti adikku, mana mungkin aku bisa jijik." Zoya berdiri dan tak lama gadis itu datang bersama baskom berisi air hangat di tangannya.
 
Naura membuka kakinya dengan malu. Air mata mereka menetes secara bersamaan ... Naura tak menyangka dirinya kini bisa bersama lagi dengan kedua sahabatnya. Dan bersyukur mereka masih memperlakukannya seperti dulu. 
 
"Apa yang kau tangiskan, Nau?" tanya Zoya sambil membersihkan tubuh Naura. 
 
"Aku menangis karna kalian ada di sampingku. Aku tahu itu semua karna keadilan Tuhan." 
 
Tiba-tiba Zoya memeluk Naura dengan haru dan disusul Bram memeluk mereka. Jangan bertanya mengapa Bram menyedihkan seperti ini.
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!