Wanita Penghibur untuk Suamiku

Sumpah, Aku Gak Lihat! 8

Akhirnya menetes juga air mata dari pria tampan nan rupawan itu. Dipeluknya dengan erat wanita yang ia sayangi.

"Bram!" jerit Naura sambil mendorong Bram tersungkur, membuat suasana haru menjadi buyar.

"Ih! Aku lagi salin!" gerutu Naura, dengan sergap Bram menutup ke dua matanya.

"Sumpah! Aku gak liat." Bram melangkah pergi dengan tangan lambang piss.

Zoya cekikan menyaksikan adegan itu, "Oh ya, Nau. Gimana ntar malem kita makan di luar. Sembari kamu ngejelasin semua ini." Zoya menggenggam jari jemari Naura hangat, Naura hanya mengangguk dengan cepat. 

Selesainya Zoya membersihkan Naura, kini Zoya merebahkan tubuh di samping Naura. "Nau, kau tau? Secinta apa Bram denganmu?" tanya Zoya, Naura hanya mengerjapkan matanya dengan jawaban yang hening.

"Seharusnya kami marah, kau pergi tanpa kabar. Seperti hilang ditelan Bumi! Bukan hanya Bram yang kau jauhi, Nau. Tapi juga Aku!" 

Lagi-lagi tak ada jawaban dari bibir manis Naura, hanya terlihat tetesan air mata dari pelupuk mata sahabatnya itu. 

 

"Apa yang kau tangisi, Nau? Hidupmu?" Zoya mengusap air mata Naura. Naura menggeleng seketika.

"Lalu?" 

"Aku lagi mengingat kembali tentang kita. Semuanya begitu terasa indah kan? Dan sekarang ... seolah kebahagiaan itu semua diambil tanpa tersisa dariku." 

"Oh ya, aku belum sempat mengucapkan turut berduka cita atas meninggalnya Tante, Om, Mbak Nadya dan juga adikmu, Nau. Waktu itu aku dan Bram ke rumahmu. Tapi yang kami dapati hanyalah rumahmu yang tersegel oleh Bank." Zoya menatap haru ke arah Naura.

"Sudahlah, aku nggak mau ngebahas tentang mereka. Hatiku terlalu sakit atas kecelakaan itu." Naura membenamkan wajahnya pada bantal.

****

Bram sedang menghisap sebatang rokok dengan tatapan kosong, Bram bukan pecandu rokok. Dirinya hanya merokok di saat sedang memikirkan hal yang membuat otaknya berfikir keras. 

 

Bram mengingat kembali masa-masa indah bersama Naura dan Zoya ....

FLASH BACK ON! 

Sebenarnya Bram, Naura, Zoya adalah 3 orang sahabat yang mungkin saat itu tak akan terpisahkan. Dari Tk, SD, SMP, SMA, sampai ke perguruan tinggi pun, mereka tetap bersama. 

Naura dan Zoya baginya adalah Adik sekaligus tanggung jawab yang harus Bram jaga. Dengan ke wajiban yang tak masuk akal itulah membuat Bram mencintai gadis manja yaitu Naura. 

Di setiap detik, menit, jam. Tak ada henti-hentinya Naura merengek ke arah Bram untuk meminta tolong saat dirinya sedang mengalami kesusahan. Bahkan hanya mengikat tali sepatu pun, Naura akan merengek. Dan lagi-lagi Bram akan membantunya. 

Pernah dulu Bram menghadiahinya sepasang sepatu perekat. Agar tak kesusahan terus menerus katanya. 

Jangan tanya kemana Zoya, Zoya adalah gadis yang mandiri ketua karate di sekolah mereka. Tidak ada yang berani mengganggunya apalagi untuk soal mengajak berkencan. Sudahlah itu tidak akan mungkin bagi para siswa menye-menye, Zoya menyebutnya.

Saat mereka menginjak kelas 2 SMA, Bram mencoba untuk memberitahu Zoya tentang perasaannya pada Naura. Dan Zoya pun mendukung itu. 

Bahkan dari semua rencana ala adegan romantis semuanya disiapkan oleh Zoya. Zoya pun mencatat teks semalaman hanya untuk Bram hapalkan.

 

Dan semua rencana itu berhasil! Bram berpacaran dengan Naura, sekaligus mendapati restu dari kedua orang tua Naura. 

Hari demi Hari tak ada satu hari pun, Bram melewatkan kisah kasih dirinya bersama Naura. Baginya Naura adalah separuh jiwa yang tak pernah sekalipun Bram tinggalkan. 

Naura adalah gadis satu-satunya yang Bram cintai, Naura adalah gadis satu-satunya yang membuat dirinya sukses jatuh hati pada pandangan pertama. Dan Naura lah cinta pertama Bram hingga saat ini.

"Pak Bram, ini kursi rodanya," panggil asisten Bram yang berhasil membuyarkan lamunannya.

"Oh, iya ... iya pak taruh situ aja, terima kasih, Pak ...," ujar Bram sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya. 

Bram melangkah masuk ke dalam kamar, baru saja masuk ... Bram mendapati Zoya dan Naura sedang berpelukan haru. "Enaknya yang lagi kangen kangenan bisa pelukan. Coba kalau aku, bisa dibilang mesum!" Bram memutar bola matanya malas.

 

"Nau, ini kursi rodamu ya ... mau keluar? Aku temenin." Bram mencoba untuk mendekati Naura. 

"Aku mau istirahat aja, Bram ... lagian nanti malam udah janjian nih dengan Zoya. Mau makan malam." 

"Wah ... aku ikut ya!" seru Bram. 

Melihat Bram bersemangat, Zoya menyunggingkan senyumnya ke arah Bram ....

***

Pukul 07:30 WIB 

Zoya mendandani Naura dan menggantikan pakaian Naura yang sudah Zoya pesan sedari tadi. 

"Kau cantik ... Nau," puji Zoya ke arah Naura. 

Dan Naura hanya tersenyum.

Bram segera membopong Naura dan mendudukkan nya ke kursi roda. 

"Di perjalanan saat di dalam lift, Bram bertanya ke arah Naura. "Nau, saat ini yang kau cita-citakan itu apa?" 

"Aku? Punya anak dan hidup bahagia dengan mas Abdi." sahut Naura pelan.

 

Bram berdecak tak kedengaran, ntah apa yang saat ini Bram bicarakan. Yang jelas hatinya semakin sakit mendengar jawaban Naura. 

Di dalam mobil pun Naura hanya ingin di dekat Zoya, bagi Naura kini dirinya harus menjaga jarak pada Bram. Agar tak timbul perasaan yang Naura takutkan. 

Ingat dirinya kini seorang istri! 

Bram yang tak mengetahui perasaan Naura, hanya merasa Naura menjauhinya, tak menganggapnya dan mungkin Naura sebenarnya telah melupakan Bram. 

Bram mengulum senyumnya, menyalahkan perasaannya sendiri. Perasaan yang masih sama seperti dulu, sekarang dia berharap apa? Berharap hubungan Naura dan suaminya pisah? 

"Arh!" Bram meremas rambutnya acak.

"Bram hati-hati jangan ngelamun," ujar Naura dan ntah mengapa Bram senang mendengar kata-kata itu.

Ia tersenyum sepanjang jalan dan menyetir dengan sangat hati-hati.

 

****

Sesampai di parkiran, Naura memandangi di sekitarnya. "Hah? Kalian masih ingat tempat makan kesukaanku?" 

"Bukan aku, tapi itu tuhhh ...." Zoya menunjuk ke arah Bram.

Kini pesanan telah disiapkan, Zoya memandangi pesanan Bram satu persatu. "Ini sih kesukaan Naura semua!" Zoya mendengus kesal. Mendengar itu Bram hanya menaikkan alisnya ke atas. 

"Aku mulai obrolan aja kali ya, jadi yang kamu janjikan tadi, Nau ... kamu mau jelasin kan? Atas apa yang terjadi?" Zoya menatap Naura serius. 

"Aku bingung, Zoy, harus mulai dari mana." Naura melemparkan kepalanya ke arah kursi roda.

"Oke gini, mulai dari apa yang sedang terjadi dalam pernikahan kamu, Nau?" tanya Zoya mulai menggenggam jari jemari Naura. 

Naura menundukkan kepalanya, "Ini semua salahku. Akulah yang menyewa wanita penghibur untuk suamiku." Zoya membulatkan matanya seakan tak percaya apa yang baru saja ia dengar. 

"Semua dimulai saat aku mendengar suara suamiku dari dalam kamar mandi, aku merasa bersalah tidak bisa melayaninya ..." ujar Naura.

Zoya terdiam sejenak dan menoleh ke arah Bram yang sedari tadi memperhatikan sesuatu. 

"Bram! Kamu ngapain sih! Kamu gak ngedengerin Naura ngomong?" bentak Zoya.

"Nggak! Kamu liat ke arah sana, itu suami Naura dengan wanita penghiburnya." Zoya terbelalak mendengar perkataan Bram.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!