Wanita Penghibur untuk Suamiku

Ceraikanlah Aku, Mas!

"Seriusan ... Bram, yang itu? Kita nggak lagi di adegan Novel atau drama ikan terbang kan? Kok kebetulan banget?" ujar Zoya setelah menunjuk ke arah Abdi.

 
Bram mengangguk cepat, Naura yang sedari tadi pusing dengan pikirannya. Hanya mengabaikan mereka. Tetapi ... semakin lama, mereka semakin terlihat seru pada topik pembicaraan mereka.
 
"Kalian ngapain sih?" 
 
Bram dan Zoya terperanjak panik memutarkan diri ke arah Naura, mereka berdua kaku tidak bisa menjawab apa pun. Lidah mereka kaku seperti zombie yang baru saja terkena virusnya.
 
Naura menoleh ke arah Bram dan Zoya yang membuat mereka sedari tadi sibuk memperhatikan arah itu. "Mas Abdi? Aqila?" ujar Naura terkejut dengan apa yang dia lihat, apa mereka sering makan berdua seperti ini? Lantas inikah perlakuan suaminya saat sang istri hilang bersama teman prianya, bukannya sibuk mencari keberadaannya malah seolah bersenang senang dengan kepergiannya.
 
Naura memutar kursi roda dengan sopan ingin menghampiri mereka, tetapi belum sempat Naura sampai ke tempat kursi mereka. Mertuanya telah datang terlebih dulu dengan senyuman yang cantik mengarah ke Aqila.
 
Degh!
 
Hatinya teramat sakit melihat senyuman itu, senyuman yang tak pernah Ibu mertuanya berikan untuk Naura. Kini malah Ibu mertuanya tersenyum dan memperlakukan Aqila dengan lembut? "Apa dia gila? Atau sengaja ingin merusak rumah tanggaku?" 
 
Rentetan pertanyaan penuh di kepala Naura, Naura dengan sigap menemui mereka. "Kalian ngapain disini?" tanya Naura dengan tatapan tajam ke arah Abdi.
 
Abdi yang mendapati Naura menemuinya hanya bisa terdiam bak batu kali, ia terkejut bukan main. "Gini loh Nau, suamimu ingin menikah lagi. Abdi tadi mengundang ibu makan malam, untuk meminta izin menikahi Aqila," sambung Ibu mertuanya.
 
"Izin? Aku istrinya ... buk, yang seharusnya memberi izin itu aku bukan ibuk!" Naura meremas dadanya, bercak darah mulai terlihat di kain baju. Naura terlalu memeras dadanya dengan kuat. Demi Tuhan ... Naura tak pernah menyangka hal ini akan terjadi sebelumnya.
 
"Oh! Ya nggak bisa, aku ini ibunya. Aku berhak memutuskan siapa yang benar-benar pantas menjadi menantuku," ucapnya dengan nada bentakan.
 
Naura menarik napasnya dan mendongakkan kepalanya ke atas, seakan tak mau air matanya terjatuh untuk hal yang menjijikkan seperti ini. "Ibu mungkin memang tak menginginkanku, tapi ingatlah ... buk, aku adalah pilihan anakmu! Dan ibuk tidak ada hak sedikit pun atas rumah tanggaku, apa lagi untuk pernikahan kedua!" ujar Naura dengan balik sedikit membentak ibu mertuanya, dengan sekuat hati dan butuh keberanian extra Naura bisa menjawab perkataan ini.  
 
Ibu mertuanya yang jiwanya sangat pantang untuk di bentak, seketika bangkit dari tempat duduknya dan menampar Naura. 
 
Plak!
 
"Kau siapa? Berani membentakku. Cuih!" ujarnya mendengus sembari meludah ke arah Naura.
 
"Sudah ... buk, cukup! Maafkan Mas, Nau." Abdi yang sedari tadi hanya menutup wajah dengan kedua tangannya, kini dengan lemas berbicara dengan tatapan nanar ke arah Naura. 
 
Bram yang melihat kejadian itu, bergegas menuju ke arah Naura. Namun lengannya ditarik oleh Zoya. "Itu rumah tangga mereka ... Bram, itu urusan mereka. Bukan kita, jangan mengikut campuri urusan orang lain meski kita temannya," ucap Zoya seraya menepuk bahu pria mengenaskan itu. Bram hanya menuruti dan duduk menyenderkan kepalanya letih.
 
Di sisi lain, Naura yang sedari tadi menahan tangisnya, akhirnya air mata itu jatuh juga setelah mendengar suara suaminya.  
 
"Maaf katamu? Dengan mudahnya Mas bilang maaf, setelah semua yang Mas lakukan ke Nau, Mas? Dan sekarang Mas ingin menikahi wanita murahan itu?" ujar Naura sambil tersengal sembari menunjuk ke arah Aqila.
 
"Maafkan Mas, Nau, Mas jatuh cinta padanya ...," lirih Abdi, kemudian menoleh ke arah Aqila, menatapnya dengan tatapan penuh kehangatan. Kehangatan yang dulu satu-satunya menjadi milik Naura. 
 
Naura menutup wajahnya dengan kedua tangan, perkataan itu bagai kilat di siang bolong. Perasaannya kini seperti di iris tipis tipis lalu di buang berserakan tak bertuan. 
 
"Tuhan ... apa yang harus Naura lakukan saat ini? Mas Abdi yang mencintaiku, kini sudah mencintai wanita lain. Apa lagi-lagi ini salahku?"
 
Naura menangis sangat haru.
 
Mas Abdi terlihat berdiam sesaat, dengan Aqila yang bingung yang harus membawa situasi ini bagaimana. Keadaan saat ini sangat kacau! Ibu mertuanya pun sampai tak mampu berkata apapun. 
 
"Nau, Mas hanya ingin menikahi Aqila demi kamu. Agar kamu mempunyai teman dan Mas tak merasakan kesepian, seperti katamu dulu," lirih Abdi hangat di hadapan Naura. 
 
"Persetan dengan kata-kata demi Aku, Mas! Jangan melibatkan aku dan mengorbankan perasaanku, hanya karna hawa nafsumu." 
 
Naura menatap tajam Aqila lalu dengan bergantian menatap ke arah suaminya. "Teganya Mas Abdi menyakiti perasaanku sampai sedemikian sakitnya."
 
Apa tak cukup hanya bermain dan bersenang senang saja, dengan wanita penghibur itu. saat seluruh pengorbanan jiwa dan seluruh kekuatan hatinya untuk merasakan sakit yang teramat sakit dan selalu mencoba untuk mengobati rasa sakit dengan sendiri. Kini malah keadaan yang sebelumnya tidak Naura harapkan malah hadir dalam hidupnya, seakan pengorbananannya kemarin tidak ada gunanya.
 
"Aku sungguh sangat mencintaimu, Nau ...," ucap suaminya sambil menarik lengan Naura.
 
"Mencintaiku?" tanya Naura dengan tertawa hambar. 
 
"Kata-kata apa yang pantas untuk omong kosongmu ini, Mas?" Naura menyeringai.
 
"Mbak, aku mohon dengarkan Mas Abdi. Mas Abdi hanya ingin aku menemani Mbak Naura," sambung Aqila dengan ragu.
 
"Menemaniku? Apa dari kemarin kau menemaniku? Kau hanya sibuk bercinta dengan suamiku kan! Aku baru tau wanita penghibur itu sangat rendah! Serendah harga dirimu!" Naura mendengus dengan amat sangat kesal.
 
"Naura cukup!" bentak suaminya
 
"Kau membentakku demi wanita rendahan ini? Wanita yang sengaja aku sewa demi memuaskan nafsumu kan? Dan sekarang ingin kau nikahi? Kau gila?" ucap Naura sambil menyunggingkan senyumnya.
 
"Naura ... mas mohon. Cukup!" ucap Abdi dengan lirih. 
 
Naura menggeleng, sembari melemparkan kepalanya ke kursi roda. Berdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu ....
 
Kemudian Naura membangunkan dirinya santai, perlahan menarik napasnya dengan pelan lalu menghembuskan tarikan napas itu. 
 
"Oke, Mas, kau mencintainya kan? Kau ingin menikahinya kan ...," ujar Naura memutuskan perkataannya, seolah tak sanggup mengatakan apa yang harusnya dia katakan. 
 
Bibirnya seakan keluh, air matanya menetes deras tak tertahan. Naura mengerjapkan matanya.
 
"Apa harus Aku katakan seperti itu, Tuhan? Apa perpisahanlah jalan keluar dari segalanya? Aku sangat mencintai suamiku, sangat! Sangat dan teramat sangat mencintainya."
 
Pikiran Naura kini penuh dengan kata-kata cinta terhadap suaminya, kemudian Naura menatap dalam Abdi dengan tatapan seperti mengharapkan sedikit rasa kasihan terhadap dirinya.
 
"Oke Mas, jika dirimu ingin menikahinya. Ceraikanlah aku!" suara Naura penuh penekanan, kini setetes air mata lolos membasahi pipinya.
 
 
 
 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!