Wanita Tanpa Rahim
Ternyata Dia Penculiknya 27
"Aira, akhirnya kau datang, sayang. Aku tahu kamu pasti akan datang," ucap lelaki yang pernah membantuku dulu. Matanya berbinar melihatku. Ada rindu yang menyorot darinya. Namun justru itu membuatku muak.
Caranya sangat murahan. Berulang kali kutengok ke kanan dan kiri, berharap mas Akmal datang menyelamatkan. Tapi mana mungkin, mas Akmal bahkan tidak tahu daerah ini. Mungkin dia tidak akan mengira ada sebuah rumah tua di tengah hutan ini.
Kedua preman yang menyeretku tadi sudah melepaskan cekalan tangannya. Namun tetap berjaga di belakangku. Kang Edi maju. Memperpendek jarak antara kami. Aroma nikotin dari tembakau linting yang dihisapnya menguar memenuhi rongga hidung ini. Andai aku tak menghormatinya sebagai kakak, dan orang tuanya yang masih ada kerabat jauh dengan almarhum bapak, sudah kutendang pria ini hingga meringis kesakitan. Apa dia lupa kalai aku karate?
"Aira, tinggalkan pria kota itu dan menikahlah denganku," ucapnya lembut. Rokok yang masih setengah ia buang dan diinjak menggunakan sendalnya.
Aku hanya memicing tanpa ada niat menjawab. Apa dia pikir pernikahan itu main-main yang bisa sesukanya diputus dan sambung dengan yang lain? Ku pikir setelah hampir 17 tahun berpisah, dia akan mendapatkan wanita yang cocok untuknya. Fakta bahwa dia masih sangat menginginkan ku sungguh mengejutkan. Bahkan dia menghalalkan segala cara, itu diluar akal sehatku.
"Aira, kenapa kamu tega sama aku? Sepuluh tahun aku kerja ke luar negeri agar bisa dapat uang banyak. Lalu membangun rumah impian untuk kita tinggali." Ia menengadahkan wajahnya. Menjeda kalimatnya sejenak, lalu menatapku sendu.
"Selama ini aku selalu menutup mata dan telinga tentangmu. Bahkan tak pernah memercayai ucapan orang jika kamu telah menikah. Aku pikir itu hanya kabar burung." Matanya telah memerah mengucapkan hal itu. Lalu duduk di kursi tua yang di tarik ke hadapanku.
"Kamu tahu Aira, orang tuaku sudah setuju dan memberi restu jika kita menikah."senyumnya mengembang diantara tangis lirihnya. "Jadi apa yang membuatmu ragu?"
"Karena aku sudah menikah, kang. Kamu sendiri tahu kan?"
"Tinggalkan dia Aira! Tinggalkan!" teriaknya sambil berdiri. Tangannya hendak menggenggam tanganku, namun langsung kutepis. "Hiduplah bersamaku, Ra. Kumohon."
Tubuhnya melorot dan lututnya menumpu pada lantai yang masih tanah itu. Kedua tangannya menangkup di depan dada. Tatapannya mengiba, membuat hatiku gerimis melihatnya. Hampir saja aku meraih tangannya jika tak ingat kami bukan mahram.
Melihatnya seperti ini, seperti kembali pada masa lalu. Masa di mana kami masoh sekolah dulu.
"Maaf, Kang, aku nggak bisa. Tolong jangan begini. Relakan aku bahagia bersama suamiku, Kang."
Aku sedikit mundur melihatnya mendekat. Alarm bahaya di otakku menyala. Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Ra! Tolong hargailah perjuanganku. Aku rela nggak kuliah karena kerja. Demi cita-cita hidup bersamamu, ku lupakan masa mudaku. Apa kau nggak tersentuh sedikit pun melihat pengorbanan ini?"
Cukup lama ia mengungkapkan uneg-unegnya. Aku hanya menimpali sesekali. Diriku yang sudah lelah berdiri akhirnya limbung. Namun sekuat tenaga aku menahan agar tak tumbang. Sekali lagi aku berharap ada bala bantuan yang datang. Nihil. Nggak ada tanda-tanda mas Akmal datang.
Pikiran ku langsung melompat ke sana. Ke tempat di mana mas Akmal ditodong senjata. Apakah dia baik-baik saja. Atau dia dilukai. Aku segera berlari menuju pintu yang sedikit terbuka karena dua penjaga tadi keluar atas perintah bosnya, kang Edi. Sedangkan kang Edi yang sedang meratapi nasibnya, nggak fokus memperhatikan . Kesempatan ini tak kusia-siakan. Dengan langkah seribu, aku terus berlari menyusuri jalan setapak ini. Medannya yang sedikit sulit membuatku jatuh bangun.
Dari kejauhan terdengar teriakan kang Edi memanggil namaku. Amarahnya menggelegak menyelimuti kawasan hutan ini. Sementara dua orang penjaganya tadi pergi entah kemana. Kalau nggak salah disuruh mencari makan untuk kami.
Ya Allah, tolonglah hamba. Tolong selamatkan hamba dari orang ini. Sambil terus berlari, aku meraih HP yang ada di saku. Mencoba menghubungi mas Akmal untuk menjemput. Sayang, sinyal di sini tak ada. Dari tempatku berlari, terlihat jalan raya yang begitu lengang. Napasku tersengal-sengal. Namun aku tak boleh menyerah. Tinggal beberapa langkah lagi, kakiku nyampai jalan raya.
Tanganku terus mencoba menghubungi mas Akmal. Mengirim lokasi supaya bisa dideteksi keberadaanku. Tepat bersamaan dengan kaki ini menapak aspal, kudengar lagi suara kang Edi yang semakin dekat. Aku terus berlari mencari bantuan. Sebuah mobil terlihat mendekat. Tanganku terus melambai memintanya berhenti.
Tepat saat mobil berhenti, kang Edi sampai di pinggir jalan. Tanpa diminta, aku langsung membuka pintu mobil dan masuk. Lalu mobil melaju dengan kencang. Cukup lama aku menormalkan napas yang sudah ngos-ngosan. Hingga suara sopir menyadarkanku.
"Maaf, mbak, mau kemana? Siapa laki-laki tadi?" tanya sopir yang baru kusadari seorang polisi. Mobil yang kutumpangi ternyata mobil patroli. Aku bernapas lega karena bertemu orang yang tepat.
"Bawa saya ke kantor polisi saja, Pak. Saya butuh perlindungan. Orang tadi barusan menculik saya, tapi saya bisa kabur dan bertemu pak polisi."
"Apa mbak kenal orang itu?" Aku ragu untuk menjawab kenal. Karena nanti pasti kang Edi akan ditahan polisi. Tidak, bagaimana pun, kang Edi nggak jahat. Ia hanya berubah karena terobsesi padaku.
Aku menggeleng. Lalu berkata, "tadi sebenarnya saya sama suami, Pak. Tapi suami saya ditodong pisau dan saya dibawa ke tengah hutan. Jadi sekarang saya nggak tahu dimana suami saya," ucapku sambil menunduk.
Kucoba sekali lagi untuk menghubungi suamiku. Nomornya aktif. Tapi nggak dijawab. Apa yang terjadi padanya, yaa Allah. Tolong lindungi suamiku.
Sampai di kantor polisi mobil yang ku kenal sudah parkir di sana. Perasaan ku makin tak enak. Menduga-duga sesuatu yang mungkin saja menimpa suamiku. Mengingat bisa saja dia dibunuh oleh kedua preman itu.
Dengan langkah lebar aku memasuki kantor polisi. Mataku memindai seluruh ruangan, mencari keberadaan sang imam yang tak tahu nasibnya bagaimana sekarang. Tatapan mata-mata para polisi tak kuhiraukan. Setelah ini, kalau suamiku sudah ketemu pasti aku minta maaf pada mereka karena telah membuat gaduh.
Mataku sudah berair karena tak mendapati seluruh ruangan tak ada mas Akmal. Lalu siapa yang membawa mobil itu? Handphone ku berdering, menampilkan nama sumiku tercinta. Alhamdulillah, ya Allah.
Dengan dada berdebar, kuangkat panggilan itu. "Kamu di mana, Mas? Kenapa mobilmu ada di kantor polisi. Dan bagaimana keadaanmu?" ucapku tanpa jeda. Saking senangnya hingga tak memberinya kesempatan bicara.
"Di belakanmu, sayang."
Aku menoleh, dan ... Mendapati seorang lelaki telah berdiri di sana. Air mata ini mengalir lagi tanpa diminta. Ingin ku berlari tapi kaki sepertinya tak mampu melangkah. Rasanya seperti terhunjam dalam perut bumi. Hingga akhirnya aku hanya bisa terisak di sini.