Wanita Tanpa Rahim
Masa Kecil Aira 28
Lelaki itu berjalan mendekat, membunuh jarak. Tatapan kami terkunci. Saling mengirim sinyal kerinduan. Padahal belum ada 24 jam kami berpisah. Rasanya seperti bertahun-tahun lamanya.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang? Apa kamu nggak apa-apa? Apa penculik-penculik itu menyakitimu?" tanya pria yang memenuhi ruang di hatiku ini beruntun. Netranya menjelajah seluruh tubuhku. Memutar tubuh ini berkali-kali.
"Sudah, Mas. Malu dilihatin pak polisi. Aku nggak apa-apa, kok."
"Yakin?"
Aku mengangguk mantap. Setelah pamit pada para polisi itu kami pergi. Melanjutkan perjalanan kembali ke kota. Dalam perjalanan, mas Akmal tak henti-hentinya bertanya tentang penculikan itu. Rasa khawatir tergambar jelas di matanya yang teduh.
"Dek, Kamu nggak pernah cerita tentang pria itu. Apa benar yang dikatakannya?"
Ada nada cemburu dari setiap kata yang terucap. Tangan ini terulur untuk menggenggam satu tangannya yang bebas. Lalu menempelkan pada bibir ini.
"Semua itu memang benar, Mas," kulirik imamku yang sedikit menegang. "Tapi aku tak pernah menjanjikan apa pun padanya. Bahkan aku selalu bilang, jangan menungguku." Seulas senyum terbit dari lelaki yang menghalalkanku ini.
"Dulu, hidupku sangat menyedihkan. Ibu dan bapak meninggal saat aku masih kecil. Bude yang hanya berjualan gorengan berusaha keras menghidupiku." Aku menatap lurus jalanan beraspal. Sesekali menyusut air mata yang berlinang.
"Ketika di sekolah, aku di-bully teman-teman, dialah yang selalu melindungiku. Tak ada seorang pun yang mau berteman dengan anak muskin dan yatim piatu sepertiku, kecuali Siti dan pria itu."
Aku menarik napas dalam. Menghirup udara sebanyak-banyaknya agar rongga dada ini tak kehabisan oksigen. "Pulang sekolah, aku membantu bude jualan gorengan. Dan dialah yang membantu mengerjakan PR-ku. Meski setiap hari orang tuanya marah dan melarang untuk dekat denganku, dia tak peduli. Selalu punya cara untuk bisa melindungiku."
Aku menoleh. Menatap suamiku yang fokus menyetir. Tapi aku tahu dia mendengar semua ceritaku. Luka lama yang ingin ku kubur dalam, terpaksa kukorek lagi agar imamku ini tahu kisah hidup istrinya.
"Kelihatannya dia memiliki cinta yang besar untukmu. Seperti besarnya cintaku padamu." Dia tersenyum kecut. Mungkin tak menyangka ada pria lain yang menginginkan istrinya.
Aku mengubah posisi dudukku. Memiringkan tubuh menghadapnya. Kuletakkan tangan kirinya yang berada di atas perseneleng ke dada kiriku. "Tapi di sini, hanya ada satu nama. Dulu, sekarang, dan nanti, insyaa Allah."
Ia tersenyum. Binar bahagia memancar dari mata teduhnya. Kami habiskan perjalanan ini dengan bercerita masa lalu. Agar ke depan tak ada salah paham lagi seperti ini.
***
"Dek, besok Emak kedatangan tamu. Calon besan datang untuk cari hari. Aji dah nemu calon pendamping katanya. Hari ini katanya mulai masak-masak. Kamu bantu emak, ya."
"Yang bener, Mas? Aji dapat jodoh, Alhamdulillah. Ikut seneng, Mas. Kok keluarga cewek yang ke sini, bukannya harusnya keluarga cowok yang ke sana duluan, ya?"
Mas Akmal tersenyum. Lalu duduk sambil menyesap kopi buatanku.
"Pas kita di rumah bude mereka ke rumah keluarga cewek. Waktu itu Mas ditelepon suruh pulang, tapi qadarullah, kita malah kena musibah."
Aku menunduk. Perasaan bersalah merayap ke lubuk hatiku. "Maaf ya, Mas," lirihku.
"Hei, kamu nggak salah, Sayang. Itu musibah." Dia mengelus puncak kepalaku. "Dah, ah. Jangan melow gitu, sana gih ke rumah emak!"
Aku beranjak. Mencium tangannya lalu pergi. Meski jarak rumah kami tak terlalu jauh, aku selalu mencium tangannya jika hendak pergi. Kedatanganku disambut senyum oleh emak. Beberapa tetangga sudah sibuk di dapur.
"Maaf, ya, Mak. Aira baru tahu kalau ada acara," ucapku sungkan. Emak ini memang berbeda dengan tetangga lain yang suka nyiyir. Meski kadang ucapannya ceplas-ceplos, tapi masih bisa menjaga sikap. Kasih sayang emak, sangat luar biasa padaku.
"Bantu yang ringan-ringan saja, Ra. Jangan angkat-angkat!" Emak memperingatkan. Beberapa tetangga menatapku ingin tahu. Kenapa emak melarangku angkat-angkat.
"Emang kenapa nggak boleh angkat-angkat to mbakyu? Aira lagi isi lagi to? Wah selamet yo, bakal duwe putu."
Aku menghentikan aktivitas, menatap emak yang juga menatapku. Sementara mereka masih menunggu jawaban emak.
"Ah, nggak papa. Dia nggak boleh capek-capek. Pandongane wae," ucap emak ambigu. Aku tahu mereka tidak puas dengan jawaban diplomatis emak. Terlihat sekali dari sorot mata mereka yang mencoba mencari jawaban dariku.
"Maksudnya gimana to, lagi sakit? Kalau sakit istirahat saja mbak Aira. Jangan dipaksakan. Di sini sudah banyak yang bantu kok," ucap bulek Sumi yang diangguki lainnya. Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Lalu semua kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Acara masak-memasak ini berlangsung seru. Karena para tetangga yang membantu selalu melempar canda tawa. Sayangnya sesekali dibumbui dengan ghibah. Ah, sepertinya ghibah ini memang sudah menjadi kebiasaan perempuan setiap kumpul. Kalau tidak dikendalikan, efeknya bisa fatal.
Beberapa jenis masakan sudah matang. Seperti jadah, jenang, rengginan, wajik, dan makanan khas daerah sudah selesai dibuat. Beberapa disimpan untuk besok, sebagian lagi dipotong-potong untuk dibagikan pada tetangga yang bantu-bantu. Sementara untuk hidangan berupa lauk pauk dan sayuran, dibuat besok pagi supaya nggak basi.
Bu Ratna, yang tadi berada di ruang sebelah kini ikut nimbrung. Dia kebagian jatah membuat kue bolu dan puding bersama gengnya yang biasa membeli sayur di depan rumah. Melihatku ada diantara ibu-ibu, matanya berbinar. Sinyal bahaya seketika berbunyi. Aku yang sudah terbiasa menjadi bahan ghibahan mereka, sudah paham betul dengan tatapan penuh minat itu.
"Eh, ada mbak Aira juga." Tuh kan bener kataku. Bibirnya tersenyum merekah. Sementara matanya menatap teman-temannya bergantian. Entah apa yang mereka rencanakan kali ini. Aku hanya tersenyum menanggapinya.
"Lama banget nggak kelihatan, Mbak Aira, dari mana saja?"
"Ada di rumah kok, Bu."
"Masa? Yang bener mbak? Kok saya nggak pernah lihat sampeyan belanja. Kayaknya ada empat bulanan ya nggak terlihat. Pulang kampung to, Mbak?" Aku hanya menarik napas lelah. Menghadapi orang ini, butuh stok kesabaran yang banyak. Ia bahkan hafal berapa bulan aku nggak nampak. Hebat.
"Kok, aku dapat kabar katanya sampeyan sakit parah yo. Habis keguguran waktu itu, sampeyan sakit nggak wajar. Apa bener itu, Mbak?"
Dada ini sudah mulai memanas. Kabar burung dari mana ini. Padahal nggak ada seorang pun yang tahu kalau aku sakit. Hanya emak dan bapak saja. Tidak mungkin emak yang mengatakannya.
"Kata siapa, Bu? Saya baik-baik saja, Alhamdulillah."
"Tenan po ra, Mbak. Soalnya ada yang bilang kalau mbak Aira ini kena karma. Katanya mbak Aira sengaja menggugurkan kandungan waktu itu, karena bayi itu ... itu bukan anak mas Akmal," ucapnya lirih di kalimat akhir. Namun cukup membuat semua yang ada di sini menoleh padanya.
Dadaku makin bergemuruh. Kedua mata ini sudah penuh dengan kaca-kaca yang siap untuk pecah kapan saja. Aku hanya menggeleng pelan menanggapi ucapan menyakitkan itu. Siapa yang tega memfitnahku sekeji ini? Astaghfirullah. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Ucapku berkali-kali.