Wanita Tanpa Rahim
Kasih Sayang Emak
Sudah dua jam sejak dipindahkan ke ruang perawatan ini, Aira masih betah menjadi putri tidur. Napasnya teratur. Bibirnya pun sudah mulai berwarna, tak sepucat semula.
Kuraih tangan kanan yang tidak ada selang infusnya. Tangan ini, adalah tangan yang selalu melakukan tugasnya sebagai istri. Perlahan kudekatkan pada bibirku. Hangat. Kini suhunya sudah meningkat.
"Sayang, bangunlah. Aku rindu ...."
Sebuah gerakan kecil terlihat di jemari lentik istriku. Kutajamkan mata untuk memastikan penglihatanku tidak salah.
"Mas, ...."
Suara yang kurindukan terdengar di gendang telingaku. Menimbulkan getaran indah di seluruh pembuluh darah. Kelopak mata Aira bergerak, dan perlahan terbuka.
"Mas." Sekali lagi suara itu memasuki telingaku.
"Iya, Dek. Mas disini."
Kupasang senyum terbaik meski mataku mulai memanas lagi. Tapi sebisa mungkin kutahan agar bendungan ini tidak jebol. Aku ini laki-laki. Selama ini dikenal tegas dan kuat. Tapi jika sudah menyangkut Aira, semua atribut yang melekat padaku hilang.
Aira membalas dengan senyum yang tak kalah manis. Ah, bisa diabetes aku melihat senyum manis itu terus-menerus.
"Bagaimana bayi kita, Mas?"
Bagai ditusuk sembilu mendengar pertanyaan itu. Sudah kudaga hal ini akan terjadi. Tapi ... apa mentalnya sudah siap untuk kehilangan?
"Adek yakin qadla Allah yang terbaik, kan?" Dia mengangguk. Namun sorot matanya bertanya-tanya. "Allah lebih sayang junior kita."
Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Senyum manis masih menghiasi wajah ayunya. Namun sinar matanya mengandung luka. Binarnya meredup, seiring dengan lelehan kristal bening di kedua sudut mata itu.
Jantungku seperti berhenti berdetak, melihatnya membisu dalam derai tangisan. Aku tahu ia amat kehilangan. Karena aku pun sama.
"Bolehkah Adek bertanya, kenapa harus kita?"
Pertanyaan itu menyayat kalbu. Sangat pedih memang. Kutatap netranya yang sembab. Meyakinkan dirinya bahwa aku sudah mengikhlaskannya. Dan berharap dia pun sama.
"Karena Allah Tahu kita kuat. Allah tidak akan memberi ujian di luar batas kemampuan hamba, kan? Kalau kita diberi ujian ini, berarti Dia telah memilih pundak kita untuk menanggungnya."
Isakan Aira makin terdengar. Dielus-elusnya perut yang rata miliknya. Kemudian beralih ke dada.
"Yang sabar ya, Dek. Kita masih punya kesempatan lain."
Tiba-tiba Aira tersengal. "Dek! Dek!, Jangan begini, sadarlah, Dek!"
"Dek! Bangun, Dek!"
Aira yang baru saja sadar, mendadak tersengal dan kembali pingsan. Mungkin ia belum sepenuhnya menerima kenyataan ini.
Lima tahun usia pernikahan kami, tapi Allah baru memberikan calon buah hati yang kami dambakan. Tidak sedikit rupiah yang sudah keluar untuk terapi dan mendatangi dokter kandungan. Bahkan hampir semua dokter SPOG dari Jawa Tengah hingga Jawa Timur sudah kami datangi. Semuanya mengatakan kami tak ada masalah. Sistem reproduksiku dan juga istri baik-baik saja. Kata mereka hanya soal waktu.
Dan kini, ketika waktu itu tiba, kami kembali harus menelan pil pahit kehilangan bahkan sebelum dilahirkan. Dari luar, bidadariku itu tampak tegar. Kuat seperti baja. Namun siapa sangka, jika mentalnya tak sekuat apa yang terlihat.
Kupencet tombol darurat untuk memanggil dokter atau perawat. Dalam hitungan detik, para perawat sudah berdatangan. Disusul dokter Erik yang menangani istriku. Tangan-tangan terampil itu begitu cekatan memeriksa kondisi Aira. Aku memilih menyingkir ke pojok agar tim medis bisa melaksanakan tugasnya dengan leluasa.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai.
"Bagaimana istri saya, Dok?"
"Alhamdulillah, nggak ada masalah berarti. Tolong jangan diajak bicara tentang sesuatu yang membuatnya sedih dulu, Pak. Terutama tentang bayinya yang sudah tiada. Sepertinya hanya shock."
Ada kelegaan mengalir di dada. Kuamati wajah istriku. Pucat. Napasnya teratur, membuat irama naik turun pada perut ratanya. Kuelus dengan lembut perut yang pernah mengandung benihku itu. Dada ini berdesir.
"Kenapa kau pergi secapat ini, Nak?"
***
Silau cahaya membuat mata Aira mengerjap. Bulu matanya yang tidak terlalu tebal mengibas-ngibas, lalu terbuka sempurna. Kupasang senyum terbaik untuk menyambutnya setelah hampir 24 jam ia terpejam.
Kuraih tangannya yang lembut, dan kubawa ke bibir ini. Senyumnya terbit, begitu manis.
"Gimana keadaanmu, Dek? Apa yang sedang dirasakan sekarang?"
"Aku baik-baik saja, Mas." Senyum itu tak luntur, tetap mengembang bak kelopak mawar yang sedang mekar.
"Aku lapar," ucapnya malu-malu. Ada semburat merah menghiasi pipi kala mengatakannya. Istriku ini, meski sudah lima tahun kami menikah, sikapnya masih saja seperti gadis yang baru mengenal cinta. Tapi aku suka.
Kuambil nampan yang berisi makanan, buah dan susu. Jatah makan dari rumah sakit yang baru diantar beberapa menit yang lalu. Dengan hati-hati, kubantu Aira duduk, lalu menyuapinya.
"Kata dokter harus banyak makan biar Hb-nya cepat naik."
Tak ada jawaban. Hanya anggukan kepala yang mewakili. Ia tetap fokus pada makannya. Itulah kebiasaan perempuan istimewa ini. Tak mau bersuara jika sedang mengunyah makanan.
Sebuah ketukan sepatu mendekat ke arah kami. Seorang pria berjas putih melangkah ke samping ranjang Aira diikuti dua orang perawat.
Setelah memeriksa beberapa saat, ia bersuara. "Alhamdulillah, Hb-nya sudah naik menjadi 8. Nanti tambah darah lagi ya, Buk."
Aira mengangguk. Kerudung instan yang dipakainya terlihat sedikit melorot ke depan. Kubantu untuk merapikan.
Sebuah ketukan pintu mengganggu adegan romantis kami. Setelah kupersilahkan masuk, sebuah kepala menyembul dari balik pintu. Ternyata emak dan bapak di belakangnya yang masuk.
"Gimana, Le istrimu kenapa?" tanya Emak dengan nada khawatir. Ia meletakkan rantang susun di nakas lalu memutari ranjang dan duduk di samping Aira.
Ditatap seintens itu sama Emak membuat Aira menunduk. Tangannya saling meremas di pangkuan. Aku tahu dia pasti gugup. Takut kalau diinterogasi emak.
"Apa yang terjadi, kenapa nggak kasih kabar Emak sama bapak?"
Kuhela napas panjang. Mempersiapkan jawaban yang tepat agar emak tak menyalahkan Aira. Rasa sayang emak pada Aira begitu besar, tapi terkadang salah mengekspresikan.
"Kandungannya memang lemah, Mak. Aira sudah mengikuti saran dokter, tapi mungkin belum rezeki kita."
Emang menatap Aira dengan mata dipenuhi kaca-kaca. Tangan keriputnya menggenggam tangan Aira yang sudah dingin. Dari ekspresinya, perempuan yang sudah lima tahun mendampingiku itu takut sama emak. Mungkin takut disalahkan. Namun diluar dugaan. Reaksi emak justru membuat kami semua melongo.
"Yang sabar ya, Nduk. Suatu saat pasti ada rezeki lagi. Nggak usah dipikirin kata-kata orang. Yang menjalani rumah tanggamu kan bukan mereka."
Kulihat Aira menyusut air matanya yang sudah menganak sungai. Lalu tanpa aba-aba ia menubruk tubuh tua emak. Mereka menangis bersama. Sungguh pemandangan itu membuatku pilu. Serasa ada yang diremas di dalam dada.
"Wis, nggak usah ditangisi. Semua ini sudah takdir," ucap bapak. Tangan keriputnya mengelus puncak kepala Aira. "Wong menungso iku mung sakdermo nglampahi kabeh paringe Gusti."
Aira menunduk, malu. Hampir saja ia menyalahkan takdir. Menghujat Allah karena sudah mengambil buah hati yang ia tunggu sekian lamanya.
"Gusti, hamba ikhlas," bisik Aira lirih.