Wanita Tanpa Rahim
Inikah Takdirku
Mataku melotot melihat darah segar mengalir ke kakiku. Kulirik jam di dinding, baru jam 4. Ingin sekali kupencet tombol HP, tapi lagi-lagi kuurungkan.
Sakit ini begitu menyiksa. Lantunan doa tak henti membasahi bibir ini. Kumohon pada-Nya agar calon buah hati kami selamat.
Suara salam terdengar dari luar. Aku hanya bisa membalas lirih. Tubuhku sudah lemas menahan sakit dari siang. Kurasakan tangan kekar suamiku mengelus punggung. Kucoba untuk bangkit tapi imamku ini menahan.
Kutatap wajah teduh lelaki yang telah menjadi imamku lima tahun lalu ini. Tiba-tiba tubuhku gemetar. Pandangan mengabur dan gelap.
Aku menangis dalam diam. Menyesali kelalaianku menjaga calon buah hati kami. Entah sudah berapa lama aku tertidur. Ketika bangun, sudah ada di ruangan serba putih ini.
Kurasakan sebuah kecupan hangat di tanganku. Ah, suamiku. Siapa lagi kalau bukan dia? Imamku yang lembut. Aku tahu dia kecewa. Setelah penantian panjang kami, akhirnya harus kehilangan.
Ingin rasanya aku menyalahkan takdir, andai saja tak ingat bahwa semua yang terjadi atas kehendak-Nya. Bahkan daun yang gugur saja atas seizin-Nya.
Masih segar dalam ingatan bagimana reaksi mas Akmal saat tahu aku mengandung. Senyumnya tak berhenti mengembang. Sikapnya berubah protektif. Apa yang kukerjakan selalu dilarangnya. Ah, suamiku ini so sweet banget.
***
Harum masakan menusuk indra penciumanku. Perlahan kubuka mata bersamaan masuknya sosok tinggi tegap ke kamar ini. Sebuah nampan diletakkan di atas nakas. Ekor mataku selalu mengikuti gerak gerik lelaki itu.
Dadaku berdesir tiap kali senyum manisnya terpampang di depan mata. Meski sudah lima tahun kami menikah, namun getar-getar cinta itu masih kuat menunjukkan eksistensinya.
Mas Akmal membantuku bangun dan memapah ke kamar mandi. Sebenarnya sudah kutolak. Tapi dia selalu melarangku berjalan sendiri pasca kuret itu. Katanya takut terpeleset. Ada-ada saja suamiku ini. Aku kan bisa jalan sendiri. Tubuhku juga sudah kuat. Memang masih lemas karena tensi sering ngedrop.
"Dek, habis ini Mas berangkat ya. Percetakan lagi rame. Alhamdulillah banyak order cetak yang masuk. Kalau ada apa-apa telpon, jangan diam saja."
Aku hanya mengangguk. Lalu ikut beranjak mengantarnya sampai ke depan pintu. Sebelum pergi ia selalu memberi banyak wejangan seperti seorang ibu yang meninggalkan anaknya di rumah sendirian.
Untuk membunuh bosan karena di rumah sendirian, aku iseng-iseng membuka gadget. Berselancar di medsos sekadar membaca status teman-teman. Sudah lama juga aku tak membuka aplikasi warna biru ini. Mataku membelalak saat tanpa sengaja status ning Zahra lewat di wall fb-ku.
[Menanti jawaban]
Entah aku yang terlalu sensitif atau memang kebetulan, status itu seperti mengingatkanku akan permintaan Abah. Jemariku tak berhenti disitu. Terus bergeser hingga ketemu status lainnya.
[Semoga indah pada waktunya]
Kugeser lagi.
[Sulit digapai]
[Jadi yang kedua, insyaallah Ikhlas]
Dadaku bergemuruh membaca status-status itu. Pikiranku berkelana. Membayangkan bermadu dengan anak gururuku. Ada yang nyeri menusuk di sudut hati ini.
Kutarik napas panjang, dan menghembuskan perlahan. Kututup gawai yang menjadi sumber kegalauanku ini. Kuucap istighfar berulang-ulang hingga dadaku terasa longgar.
Suara salam dari puntu yang sedikit terbuka membuatku batal beranjak. Seorang akhwat yang sangat kukenal masuk setelah kupersilahkan.
Senyumnya merekah bak mentari di pagi hari. Otomatis hal itu menular juga padaku. Kerudung besarnya sedikit melambai setiap kali melangkah.
"Bagaimana kondisimu sekarang, Ai? Kok masih terlihat pucat gini?"
Kurasakan kehangatan menjalar ke tubuh saat tiba-tiba mbak Nina memelukku. Tubuh ini bergetar tanpa kendali. Air mata yang sudah mengering kembali mengalir. Ah, kenapa aku cengeng sekali.
"Menangislah kalau memang bisa membuatmu tenang. Tumpahkan semua sampai tak ada yang mengganjal lagi."
Kurasakan belaian lembut di punggung. Mengalirkan ketenangan yang menembus ke jiwa.
"Aku ... Aku harus bagaimana, Mbak?" ucapku sesenggukan. Tangisan ini sudah reda, tapi isakannya tak bisa berhenti.
Tatapan lembut mbak Nina membuatku menunduk, malu.
"Serahkan semuanya pada Allah. Apa yang terjadi pada kita semua atas kehendak-Nya. Ikhlaskan saja, Ai. Yakin saja pada ketetapan-Nya."
"Iya, Mbak. Aku sudah mengikhlaskan. Ini soal lain."
Kuceritakan status ning Zahra yang membuatku galau. Mbak Nina hanya menanggapi dengan senyum. Tak memotong atau membantah ucapanku. Ia dengarkan sampai aku selesai menyampaikan uneg-uneg ini. Kutunjukkan status-status itu. Baru sadar jika postingan ini sudah setahun yang lalu. Jadi, apa ... ah, aku tak berani menduga.
Ning Zahra orang baik. Akhlaknya sudah terpuji. Bahkan selama ini, aku tak pernah mendengarnya berkata kasar atau membantah Abah.
Tangan mbak Nina menggenggam tanganku dengan lembut. Tatapan kami bertemu. Saling mengalirkan energi satu sama lain. Kutahu dia orang yang tepat untuk kumintai pendapat. Selain usianya lebih tua lima tahun dariku, pemahaman agamanya juga diatasku.
"Coba bicarakan sama suamimu. Apa dia menerima permintaan Kyai Jumhuri?" Manik kami masih beradu. "Apapun yang akan kalian putuskan jangan sampai hawa nafsu yang mendominasi. Ini bukan soal sepele. Masa depan kalian taruhannya."
Aku mengangguk setuju. Memang tak seharusnya menuruti ego dalam hal ini. Tapi siapalah aku yang begitu cinta sama mas Akmal?
Sudah seperti aturan tak tertulis, titah Abah wajib dituruti. Tentu saja Abah tidak akan mungkin mengambil keputusan tanpa berpikir matang. Pasti ada sesuatu yang tidak kami tahu.
Abah adalah sosok yang sangat bijaksana. Dulu ketika menjodohkanku dengan mas Akmal, beliau menjelaskan alasannya dengan gamblang. Hingga tak ada keraguan di hatiku untuk menerima mas Akmal yang menurut mata manusia biasa tak sebanding dengan kami.
Pendidikannya tak sampai perguruan tinggi. Keluarganya biasa-biasa saja. Tapi Abah bisa melihat potensinya, hingga terbukti hidupku bahagia bersanding dengannya.
Dan kini ... ketika Abah kembali memutuskan, haruskah aku menolak? Bertahun aku mengabdi padanya, mendapat ilmu dan tumpangan hidup dengan layak. Hingga aku bisa melanjutkan S-1 berkat jasanya.
Ah, kenapa permintaan Abah kali ini begitu sulit? Andai rumah atau kendaraan hasil jerih payah kami yang diminta, mungkin aku tak keberatan memberikannya. Tapi ini ... suami. Belahan jiwaku. Imamku.
Ning Zahra, dulu aku sangat mengidolakannya. Tapi kenapa sekarang ia rela menjadi yang kedua? Dan kenapa pula harus mas Akmal? Bukankah dia bisa mendapatkan lelaki soleh mana pun yang ia mau?
Lagi-lagi aku larut dalam lamunan. Begitu banyak pertanyaan berkelindan dalam benakku. Saling membelit seperti benang kusut. 'Ya Allah, inikah takdirku? Harus kehilangan calon buah hati setelah penantian panjang. Lalu harus kembali merelakan milikku dibagi dengan orang?'
Suara riuh di teras menyadarkanku kembali ke dunia nyata. Bahkan baru ingat jika mbak Nina masih setia di sampingku. Entah apa yang merasukiku. Akhir-akhir ini nelamun seolah menjadi hobi.
"Relakah aku dimadu?"