Wanita Tanpa Rahim
Isi Hati Suamiku
Rombongan ibu-ibu komplek masuk setelah dipersilahkan mbak Nina. Mereka duduk berdempetan di sofa panjang yang kebetulan cukup untuk menampung 6-10 orang.
"Gimana kabarnya mbak Aira, maaf lo baru bisa menjenguk sekarang. Kami baru tahu kalau mbak Aira sakit," ucap bu Desi mengawali pembicaraan. Bibirnya yang merah bergerak-gerak seirama dengan ucapannya.
"Nggak papa, Bu. Maaf sudah merepotkan."
"Yo ndak to, Mbak. Kita ini kan tetangga. Sudah jadi agenda rutin kalau ada yang sakit kita menjenguk." Kali ini bu Intan yang bicara. Sesekali tangannya bergerak memperlihatkan gelangnya yang besar.
Sedangkan mbak Nina tanpa kusuruh sudah berinisiatif membuatkan minuman dan menyuguhkan kue untuk para tamu dadakan ini. Ingatkan aku untuk berterima kasih padanya.
"Mbak Aira, apa benar kabar yang kami dengar kalau mbak Aira habis keguguran?" Bu Yeti menyenggol bu Ratna dengan sikunya. Mungkin merasa tak enak dengan pertanyaan itu. Kubalas pertanyaan itu dengan senyuman.
Kupikir jawaban itu sudah cukup untuk membuatnya diam dari keponya. Ternyata aku salah.
"Ya Allah mbak Aira ... yang sabar ya. Pasti nanti dikasih lagi kok. Buktinya perjuangan panjang mbak Aira sudah dikabulkan. Ya ... meski akhirnya harus kehilangan lagi sebelum sempat lahir. Setidaknya itu membuktikan kalau mbak Aira ini nggak mandul seperti omongan orang."
Bu Yeti mencubit pinggang bu Ratna yang bicara tanpa jeda. Seperti mobil dengan rem blong. Namun sepertinya yang bersangkutan tak merasa bahwa ucapannya seperti belati yang menusuk ke hati, alih-alih bersimpati.
Mbak Nina menggenggam tanganku lagi. Tatapannya seolah berkata, "Tak usah di dengarkan!"
"Bu, tolong jaga perasaan mbak Aira. Dia baru saja kehilangan. Jangan tambah beban pikirannya dengan ucapan seperti itu. Anak itu rezeki. Dan Allah yang mengatur rezeki itu untuk hamba-Nya."
Ibu-ibu itu langsung kicep. Tak berani lagi berkata-kata.
"Silahkan diminum, Bu!" ucapku memecah kebekuan. Meski hatiku sakit karena ucapannya, menjamu tamu tetaplah wajib dalam Islam.
Setelah berbasa-basi, rombongan ibu-ibu komplek itu pamit meninggalkan luka yang teramat dalam di jantungku.
Belum reda rasa sakit yang mendera, seseorang yang membuatku gegana menyembul dari balik pintu setelah beruluk salam. Baru melihat kedatangannya saja sudah membuatku panas dingin.
"Abah, Umi?" ucapku sambil berdiri menyambut mereka.
Tatapan Abah beradu sesaat dengan mbak Nina, lalu duduk di samping Umi. Niatku untuk ke dapur mengambilkan minum untuk mereka dicegah mbak Nina. Dialah yang memilih untuk ke dapur.
Setelah bertanya kabar dan kondisi kesehatanku, Umi mendekat. Berpindah tempat duduk ke sampingku. Netra teduhnya menatap manikku. Sesaat kami saling terpaku. Hingga kedatangan mbak Nina mengalihkan kami.
Entah mengapa dadaku berdebar-debar melihat Abah yang hanya diam. Menikmati teh hangat buatan mbak Nina sambil memegang HP. Tak biasanya Abah begini. Sikapnya yang lembut dan ramah selalu membuatku nyaman.
"Abah dan Umi dari mana?"
Pertanyaan yang nggak mutu sebenarnya. Tapi harus kulontarkan untuk mencairkan kebekuan ini.
Umi menarik sudut bibirnya sejenak. Menyesap teh satu teguk dan meletakkan kembali.
"Dari percetakan suamimu, Aira. Tapi dia sibuk sekali. Jadi kami akhirnya kesini."
Jantungku makin berdetak kencang, menanti kalimat selanjutnya. Menduga-duga apa yang akan dikatakannya.
"Kata Akmal kamu baru pulang dari rumah sakit. Maafkan Abah dan Umi ya, Nak. Kami nggak tahu kamu dapat musibah."
Umi menggenggam tanganku membuat gugup yang melanda dari tadi berangsur sirna. Ada penyesalan terpancar dari sorot matanya. Begitupun Abah. Meski tanpa kata, tapi tatapannya sudah cukup menyiratkan hal itu.
"Untuk masalah yang waktu itu, ... " Abah menjaeda kalimatnya. Menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan. Aku ikut menahan napas menanti lanjutan kalimat itu. "Tak usah dipikirkan dulu. Pulihkan kondisimu saja, nggak usah mikir macam-macam."
Akhirnya aku berani bernapas. Meski dari kalimat Abah masih terdengar ambigu, setidaknya aku masih bisa mempersiapkan diri. Mendiskusikan dengan mas Akmal dan minta petunjuk-Nya.
"Bagaimana kabar mbak Zahra, Bah?"
Butuh keberanian tingkat dewa untuk melontarkan pertanyaan itu. Sisi lain hatiku melarang bertanya tentangnya. Namun entah mengapa otak dan mulutku nggak sinkron kali ini.
Kuremas tanganku sendiri untuk menetralkan detak jantung yang berdentam-dentam ini. Rasanya ingin meledak kalau saja ini bukan ciptaan-Nya.
"Baik."
Hanya itu yang keluar dari mulut Abah. Tak biasanya Abah irit bicara begini. Seperti ada hal besar yang sedang disembunyikan tentang mbak Zahra.
Setelah beberapa saat percakapan kami yang kaku ini, Abah dan Umi pamit. Atmosfer yang tadinya beku kini kembali mencair bersama kepergian orang tua angkatku itu.
***
Satu purnama terlewati. Kini kondisiku sudah sehat kembali. Akupun bisa beraktivitas seperti biasa. Mas Akmal juga semakin jarang di rumah. Waktunya habis untuk mengurus kerjaan dan dakwahnya. Namun aku tak pernah mempermasalahkan.
Hari ini, mas Akmal sengaja di rumah. Katanya rindu untuk berduaan saja denganku. Ah, hatiku berbunga-bunga. Bahkan kami seperti pengantin baru yang sedang berbulan madu.
Sepanjang hari mas Akmal tak membiarkanku beranjak dari sisinya. Meski sesekali ia menjawab chat dari teman dan rekan kerjanya, tapi aku tetap harus berada dalam jangkauan matanya.
"Dek, sekali-kali kita liburan yuk!"
Aku tersenyum menanggapi permintaannya. Bagaimana mungkin bisa liburan, sementara agenda dakwahnya begitu padat. Belum lagi percetakannya yang semakin ramai. Meski sudah menambah tiga karyawan, tapi lelakiku ini masih tak bisa meninggalkan begitu saja.
"Yakin mau liburan? Jangan-jangan cuma alibi doang?"
Mas Akmal terkekeh. Jemarinya menyentuh ujung jariku dan memainkannya.
"Ya ... sambil menyelam minum air lah, Dek!"
"Tuh kan bener. Mana ada liburan hanya berdua. Istrimu ini sudah paham kalau lelaki yang menjadi imamku ini milik umat."
Kurasakan pelukan hangatnya. Mengalirkan energi yang membuatku selalu bahagia disisinya.
"Emang ada agenda apa, sih Mas?"
"Diskusi publik."
"Untuk umum?"
"Iya. Yang diundang tokoh masyarakat, pengusaha, dan mubaligh. Acaranya kan cuma setengah hari, nah sorenya kita bisa liburan berdua. Nginep semalam terus pulang."
Sebenarnya aku ingin ikut. Mungkin itu waktu yang tepat untuk membicarakan permintaan Abah sebulan lalu. Tapi sayangnya aku juga ada acara. Menjadi nara sumber di Rumah Baca. Aku diminta untuk menyampaikan tentang pemberdayaan perempuan dalam Islam.
Terlihat sekali ada kecewa tersirat di raut mukanya. Namun karena dia memahami aktivitasku juga berkaitan dengan umat, dia tak bisa memaksa. Alhasil, hari ini dia benar-benar mengurungku. Tentu saja ada dia yang selalu di sampingku.
Setelah kupukirkan matang-matang, aku memutuskan untuk segera membicarakan masalah itu. Ya lebih baik segera dicari jalan keluarnya dari pada didiamkan saja seperti bara dalam sekam.
"Mas, soal permintaan Abah ... " Aku menjeda kalimatku. Melihat perubahan mimiknya sebelum melanjutkan. "Apa yang harus kita lakukan?"