Wanita Tanpa Rahim

Wanita Misterius

Lelaki beralis tebal ini mengubah posisinya yang semula berbaring menjadi duduk. Tangannya menggenggam tangan mungilku. Netranya mengunci manik mataku sehingga sulit untuk beralih pandangan.

"Adek tahu seberapa besar perasaan Mas? Andai Abah atau siapa pun itu membeli perasaan ini, untuk ditukar dengan bidadari sekalipun, Mas tak akan memberikannya."

Dadaku berdesir mendengar pengakuan suamiku. Selama lima tahun kami membina rumah tangga, hanya sikap dan perilakunya yang menunjukkan seberapa besar cintanya padaku. 

Namun hari ini, ia berkata bak pujangga. Romantis. Tapi membuatku merinding. Bukan karena tak suka, tapi makna dari kalimat itu sangat jelas. Dia tak bisa digoyahkan.

"Apa Adek masih meragukanku?"

Aku menggeleng. Kelabakan mendapat pertanyaan itu. 

"Kalau gitu, tak perlu dibahas lagi. Keputusan Mas sudah bulat. Jangan mencoba mempengaruhi Mas, Dek."

Cukup. Aku kalah. Tak mungkin bisa menggoyang pendiriannya yang sekuat karang. Sisi terdalam hatiku bersyukur karena aku tak akan kehilangan imam yang sangat kucintai. Namun sisi lain takut akan murka Abah dan Umi. 

Bagaimana kalau mereka menganggap aku anak tak tau diuntung? Atau dituduh anak nggak bisa balas budi? 

"Dek, kenapa melamun? Apa Adek nggak suka dengan keputusan Mas?"

Kutubruk dada bidangnya. Menenggelamkan kepala sambil menghirup aroma maskulinnya yang memabukkan. Bulir-bulir bening tanpa permisi jatuh membasahi kaos oblong mas Akmal. 

"Masa depan kita, kita yang memilih. Mas nggak mau memilih aktivitas mubah yang tanggung jawabnya sangat berat. Mas nggak akan sanggup ketika ditanya di akherat kelak. Bagi Mas, Adek satu-satunya bidadari yang harus kulindungi. Janjiku dalam ijab kabul lima tahun lalu sudah tercatat di langit. Aku nggak mau mengingkarinya."

Tubuhku makin bergetar mendengar pengakuannya. Meski sederhana, kalimat itu mampu menghunjam dalam dadaku. Tangis ini tangis bahagia. Tak tergambar oleh apa pun perasaan ini.

"Mas nggak malu punya istri yang belum bisa ngasih keturunan?"

Tangan kekarnya meraih pundakku. Menjauhkan aku dari dada bidangnya. Lalu jari telunjuknya menempel di bibirku. 

"Soal keturunan itu hak prerogatif Allah. Kita tak bisa men-judge. Setiap manusia sudah memiliki ketetapannya sendiri-sendiri. Termasuk kita. Mungkin saat ini kita belum dapat rezeki itu, agar bisa menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikiran kita lebih banyak untuk umat. Bisa jadi anak yang kita idamkan justru membuat kita jauh dari ketaatan jika diberi saat ini. Allah Maha Tahu." 

Inilah yang kusuka dari lelakiku. Pikirannya selalu jernih. Tidak pernah menghakimi keadaan orang. Akhirnya kami menghabiskan waktu untuk berdiskusi. Saling tukar pikiran sehingga membuka wawasan masing-masing. 

 

***

HP mas Akmal tak henti-hentinya meraung. Sementara aku sedang sibuk menyiapkan makan malam. Mas Akmal belum kembali dari masjid untuk salat Isya' berjamaah. 

Aku mencoba mengabaikan dan fokus pada masakan. Namun lagi-lagi dering hp itu mengganggu pendengaranku. Terpaksa kutinggalkan masakan yang sudah hampir matang setelah mematikan api. Lalu berjalan menuju ruang TV dan meraih benda pipih berbentuk persegi panjang itu.

Nomor baru. Tanpa berprasangka apa pun aku mengangkatnya. Menggeser gambar telepon ke warna hijau. Ternya suara perempuan. Aku hanya mendengarkan saja. Tak ada niat untuk menjawab. Entah kenapa perasaanku mulai tak enak. 

Terdengar isak tangis dari seberang sana. Setelah beberapa menit, akhirnya ia berbicara. Meski sambil sesenggukan, telingaku mampu menangkap apa yang dikatakannya. 

[Mas Akmal, kenapa mengabaikanku]

Tanganku gemetar mendengar suara mengiba wanita di seberang sana. Isakan tangisan terdengar di sela-sela kalimatnya. Aku hanya mendengarkan saja. Tak ada niat untuk menjawab. 

[Tak adakah sedikit saja ruang dihatimu untuk ku, Mas? Apa kelebihan Aiara dibandingkan aku? Jelas aku lebih segala-galanya dari istrimu yang mandul itu]

Sakit. Hatiku sakit mendengar ucapan perempuan misterius ini. Jelas dia sangat mengenalku. Tapi siapa? Lututku tiba-tiba lemas, membayangkan Mas Akmal pernah berhubungan dengannya. Meski dari kalimatnya, suamiku tak pernah menaggapi. 

Aku masih terpaku sambil memegang gawai suamiku. Dadaku kembang kempis menahan emosi. Entah sejak kapan mas Akmal sudah berdiri tepat didepanku. Netranya menunjukkan tanda tanya. Kuaktifkan lodspeker agar dia ikut mendengarkan.

[Jawab, Mas!] Suara di seberang sana mulai meninggi. 

[Apa hebatnya Aira sampai kamu nggak mau menerimaku?]

Kulihat netra lelaki yang menyandang gelar suami itu melotot. Lalu menyambar gawai itu dari tanganku. Kupikir ia akan marah padaku karena telah lancang mengangkat telponnya.

Nyatanya mas Akmal justru mematikannya tanpa menjawab sedikit pun. Lalu mblokir nomor itu. Setelahnya ia merengkuhku dalam pelukannya. Menengkan jiwaku yang hampir terbakar api cembru. 

Cukup lama kami berpelukan dalam diam. Membiarkan hati kami yang bicara. 

"Siapa dia, Mas?" Aku melepaskan diri dari kungkungannya. Menatap manik mata cokelat itu untuk mencari kebohongan di sana. 

"Mas nggak tahu. Sudah beberapa bulan terakhir dia sering menghubungi. Tapi mas nggak pernah menanggapi. Setiap kali mas blokir nomornya, dia akan ganti nomor yang baru."

Aku bernapas lega. Setidaknya mas Akmal tidak pernah menanggapi. Sekali lagi kucari kebohongan di matanya. Nihil. Yang ada hanya kejujuran. 

Setelah Kupikir lagi, nggak mungkin suamiku ada main dengan perempuan lain. Sedangkan ia sendiri menolak permintaan Abah. Padahal mbak Zahra jelas bibit, bobot, bebetnya. Apalagi perempuan bucin yang nggak jelas asal-usulnya itu.

***

Hari ini adalah jadwalku ke dokter kandungan. Setelah enam bulan dari peristiwa keguguran itu, aku dan suami sepakat untuk promil ke dokter Agata. Banyak yang memberikan saran agar aku ke sini. 

Sepertinya kami datang sedikit terlambat. Karena antrean sudah mengular. Aku mendapat giliran nomor 63. Kupindai seluruh ruang tunggu ini. Tak ada satu pun kursi kosong tersisa. Terpaksa aku menunggu di luar dengan suami yang asik menjawab chat. 

"Kok kelar?"

"Penuh."

"Oh."

Dua jam lebih aku menunggu. Satu per satu pasien mulai berkurang. Hingga tiba giliranku masuk untuk periksa. 

"Ada yang bisa saya bantu, Bu?"

"Iya, Dok. Kami mau promil."

"Sudah berapa lama menikah?" Dokter melipat tangannya di meja. Tatapannya bergantian memandaku dan suami. 

Jenggotnya yang sedikit memutih menambah kesan wibawa. Jidatnya sedikit menghitam. Pasti itu bekas sujud. Aku sedikit lega, ketika melihat dokter yang religius ini. 

"Sudah pernah hamil?"

"Sudah Dok, tapi gugur saat usia kandungannya baru 10 minggu."

Dokter manggut-manggut. Lalu memintaku berbaring di atas ranjang. Tangannya cekatan menggerakkan alat USG di perutku yang rata. 

"Apa ada keluhan saat haid, Bu?"

"Iya, Dok. Rasanya sangat nyeri. Dan waknya lama. Bisa sampai 15 hari atau lebih ketika datang bulan. Volume darahnya juga sangat banyak dan sering menggumpal."

Dahi dokter Agata mengernyit. Seperti menemukan sesuatu yang belum jelas. Lalu kembali ke tempat duduk semula. Begitupun aku.

"Begini, Pak, Bu. Saya menemukan ada benjolan di rahim Ibu. Diameternya sudah 5cm. Saya harap ini hanya kista jinak. Tapi kita perlu terapi dulu sebelum melakukan program hamil."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!