Warna Pelangi Cinta

Perjalanan masih Panjang

Kota Metro, siang terik, perjalanan hidup akan terus berlanjut.

Sepenggal kehidupan yang akan membumi, menyisakan sejarah orang-orang yang menjalani hidupnya, bagaikan ketika kita melihat pagi hari maka lihatlah sisa embun bergelantungan di dedaunan dan ranting yang hijau lembut. Ya, dimanapun kita berada, di ambang, di tengah, atau di ujung perjalanan. Yakinlah satu hal, perjalanan akan terus berjalan. Mahasuci Allah yang menciptakan masa depan, masa kini dan masa yang telah lampau. Itulah intinya perjalanan.

Mata itu pelan terbuka kembali, wajah cantik adiknya jelas baginya sebagai penyejuk pandangannya, di sebelahnya ada wajah sendu. Ya, wajah itu yang ditolongnya. Subhanallah, semua atas kehendakMu ya Allah. Kau bimbing langkah hamba untuk segera pulang menjenguk Hafidz. Iya! Hafidz..

“Shafwan mana Iza?” Faza mendudukkan dirinya.

Azizah segera membetulkan bantal di belakang Kakaknya, “Kak Shafwan masih di rumah kak, menjaga Hafidz. sebentar lagi Insyaallah kesini. Dia sering menjenguk kesini di pagi hari dan kadang sorenya hingga malam karena jika malam kak Hafidz dijaga adik-adik kost di belakang kontrakan.”

“Bagaimana keadaan Hafidz sekarang Iza?” Faza tahu tiga orang laki-laki yang kost di belakang Baitul’ilmi yang masih di SMK adalah murid ngaji Shafwan dan Hafidz.

“Kata kak Shafwan beliau sudah semakin baik, tidak pernah menjerit-jerit lagi hanya saja...,”

“Hanya kenapa Iza?” Faza memaksakan dirinya untuk bangkit.

“Jangan banyak bergerak dulu Kak, tubuh kak Faza masih lemah. Kak Faza kehilangan banyak darah. Kak Hafidz hanya belum dapat mengenali orang-orang di sekelilingnya, perkembangannya dia sudah mau disuapi siapapun. Tapi, tubuhnya masih sering menggigil.”

“Terpuji Allah yang telah melenyapkan kesusahan dari siapapun hambaNya yang dikehendakiNya, terpujilah Allah.”

Suara ketukan pintu terdengar dari luar dan mengucapkan salam. Shafwan. Faza, Salwa dan Azizah hampir berbarengan menjawab salam.

“Masuklah Shaf,” Faza mengeraskan suaranya.

Shafwan membuka pintu dan duduk di sebelah kanan Faza yang masih duduk.

“Bagaimana kesehatan Ibumu Shaf? Bukankah terakhir kali kudengar ibumu masuk Rumah Sakit?”

“Sekarang sudah baikan Kak, darah tingginya sedang kambuh. Ibu kebanyakan mengkonsumsi daging dan gula, setelah ini saya yakin Ibu akan lebih hati-hati selama ini kurang mau mendengarkan nasehatku.”

“Kamu harus sabar, dengan kesabaran tanpa batas pada Ibumu Shaf.”

Shafwan mengangguk, “Insyaallah Kak, doanya.”

“Hafidz sudah semakin baik?”

“Iya Kak, dia sangat merindukanmu Kak. Dia sering memanggil-manggil nama kak Faza.”

Faza meneteskan airmatanya, “Allah menjaganya, Allah menjaganya, Allah selalu bersamanya,” Faza mengusap airmatanya dengan punggung tangannya.

“Bagaimana kabar Lutfi dan Zilul? Mereka sudah kembali ke kontrakan? Apakah mereka sudah tahu keadaan Hafidz?”

“Wallahua’lam Kak, saya sudah menghubungi mereka. Namun mereka tak menjawab sms saya, saya telpon kak Zilul tidak mengangkat dan kak Lutfi handphonenya tidak aktif.”

Di ruangan itu hanya Salwa yang belum mengetahui permasalahan yang terjadi, dia heran dengan pembicaraan mereka.

“Pagi ini aku harus memberi materi di kajian halaqah mahasiswa Shaf, sepertinya aku sudah kuat untuk meninggalkan Rumah Sakit. Aku tak mau menyusahkan siapapun, biaya disini pasti mahal. Aku bisa beristirahat di rumah untuk penyembuhan, jika terlalu lama disini akan banyak menguras biaya.”

“Kak Faza tidak usah khawatir, tentang semua jadwal kajian sudah saya beritahukan ke Ghuroba dan mereka menghandle semua kajian yang Kakak pegang. Mereka hanya minta kak Faza beristirahat hingga benar-benar pulih.”

“Iya Kak, untuk biaya tidak usah khawatir nanti kita bisa mencarinya lagi. Sekarang ada orang yang menalanginya dulu, nanti kalau kak Faza sudah sehat kita bisa mengembalikannya,” Azizah paling tahu karakter Kakaknya yang pasti akan mengembalikan uang bantuan dari siapapun untuk keperluannya.

“Baiklah, kali ini aku mengalah. Tapi, siapa orang yang menalangi biaya Rumah Sakit Iza? Apakah dia kak Umar?”

Azizah menggeleng, “Orang itu meminta untuk menyembunyikan identitasnya Kak, jadi Iza harus amanah bukan?” akhirnya Faza hanya bisa mengangguk.

Saat itu Zulfa datang membawa kiriman sarapan, dialah yang selama ini selalu membawakan sarapan. Telah lama bagi Zulfa selalu mendengar cerita tentang Faza dari Azizah, baru kali ini dia melihat sosok tegar yang selalu diceritakan Azizah kepadanya. Saat itulah, Shafwan yang belum bisa menata hatinya meminta izin untuk keluar. Hatinya sungguh terasa seolah diiris-iris, kenapa denganku ya Allah...?

          

Matahari bagai bersinar cerah kembali di wajah Faza, kemajuannya semakin cepat setelah melewati masa kritis. Hanya sobekan pisau itu terlalu dalam dan menggores kecil di hatinya sehingga  butuh perawatan intensif. Azizah tak pernah absen mengurus Kakaknya, ditemani Salwa yang telah memakai jilbab dan Zulfa yang sering mengantarkan makanan.

Keadaan Faza mulai membaik, namun kini sering murung. Itu yang dirasakan Azizah yang paling tahu karakter kakaknya dan permasalahan pelik yang menimpa kakaknya itu?

Siang itu, tiga orang datang menjenguk Faza. Umar, Zainab dan Naurah. Umar langsung mendekati Faza dan mengucapkan salam serta mendoakannya.

“La ba’sa insyaallahu thahuurun ”

“Insyaallah Kak.”

Naurah kaget ketika melihat adik Faza.

“Kak Naurah?” Azizah berciuman pipi dengan Naurah, diikuti Salwa dan Zulfa.

“Azizah kenapa disini? Masih ada hubungan saudara dengan Faza?”

Azizah tersenyum, “Kak Faza adalah kakak kandungku Kak?”

“Jadi...,” ada kekagetan di wajah Naurah. Selama ini aku tidak tahu kalau dia adalah kakaknya Azizah? Pantas selama ini kuperhatikan ada kemiripan.

“Memangnya kau kenal dengan adiknya Faza dimana Naurah?” Umar bertanya penasaran.

“Dia salah satu murid kajian saya Kak yang di STAIN.”

“Dan kau baru tahu sekarang kalau dia adiknya Faza?”

“Salahnya Azizah tak pernah cerita,” semua yang berada di ruangan itu tampak tersenyum, tak terkecuali Faza.

Faza menatap sekilas Naurah lalu menunduk, “Ampuni hambaMu ya Allah, jika dia bukan jodohku maka gantikanlah dengan yang lebih baik. Aku yakin akan setiap keputusanMu ya Allah.

Pintu ruangan itu kembali terbuka dengan dengungan suara salam, ramai.

Faza menjawab salam dan tersenyum ketika rombongan itu masuk, rombongan Ghuroba. Maya, Nurul, Herman, Hilman, Nabil dan lain-lain di Ghuroba. Ruangan itu nampak ramai, Faza menampakkan wajah cerianya.

“Bagaimana ceritanya kak Faza yang pandai bertarung bisa ketusuk pisau?” Hilman merasa tidak terima jagoannya kalah.

Faza tersenyum.

“Pasti musuhnya lebih hebat. Iya kan Kak?” Herman langsung berkomentar.

“Semua ini kesalahanku, jangan salahkan kak Faza,” suara itu teramat berat, seluruhnya yang ada di ruangan itu, yang sedang duduk-duduk di lesehan tikar, yang berdiri dan duduk di kursi terdiam.

“Semua karena saya..., Ak...”

“Tidak ada yang perlu disalahkan,” Faza sekilas menatap Salwa dan mengangguk, “Semua atas kehendak Allah, Dialah yang memperjalankan segala kehidupan sekehendakNya, Dialah yang mengatur segala keperluan dan kebutuhan kita. Dia tahu, dimana saat kita haruslah diberinya kesehatan dan kenikmatan serta kapan Dia akan memberikan kita sakit sebagai sebuah nilai yang terbaik untuk hamba-hambaNya. Kita harus bertawakkal kepadaNya dengan tawakkal yang sebenar-benarnya, sungguh Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-hambaNya.

Bukankah itulah makrifat...

Bukankah itu sebuah keikhlasan...

Bukankah itulah bukti kita meyakiniNya

Dengan menerima dengan cinta

Apapun yang diberikanNya

Rasa gembira dan rasa sakit?

Sungguh, tidak ada yang salah. Jangan dipermasalahkan lagi, biarlah Allah yang dengan kehendakNya menentukan takdirNya sesuai kehendakNya. Kita hanyalah hambaNya yang hanya bisa berusaha dengan sebaik-baiknya,” ada bening yang menetes di kedua pipinya.

Semua orang di ruangan itu larut dalam kebisuan.

          

“Kak Lutfi nitip salam Kak,” Nabil berdiri di dekat Azizah yang tengah terduduk.

“Sekarang dia dimana? Aku ingin meminta maaf padanya.”

“Tidak ada yang patut disalahkan, Naurah sudah menceritakannya pada saya. Semuanya hanya salah paham, saya sudah menjelaskannya pada kak Lutfi. Insyaallah besok kak Lutfi akan ke Metro, dia nitip salam dan maaf belum bisa kesini, Ibu di rumah sedang membutuhkannya.”

“Jazakillah Nabil sudah berusaha menjelaskan permasalanan yang sebenarnya, semoga dia bisa memaafkanku.”

“Seharusnya aku yang meminta maaf pada kak Faza,” Nabil menundukkan pandangannya, “Saya meminta maaf Kak, karena kak Lutfi telah memukul Kakak. Saya heran kenapa kak Lutfi bisa begitu emosi hanya karena...,”

“Sudahlah..., tidak usah diungkit lagi. Saya sudah melupakannya, yang jelas semuanya sudah dimudahkan Allah,” Faza memotong perkataan Nabil.

“Amin. Kak Faza jaga diri baik-baik ya, kami membutuhkan kak Faza.”

Faza mengangguk.

Adzan dzuhur. Para pengunjung banyak yang berpamitan. Shalat dzuhur harus segera di tegakkan sebagai penyangga bagi kekokohan dan  kesungguhan iman yang selalu disemai, dibuktikan kepada Rabb yang mewajibkan shalat.

Saat segerombolan itu keluar dari ruangan itu, seorang wanita paruh baya berpakaian jas berkerah bunga dan lelaki di sebelahnya yang berpakaian parlente tampak tergopoh-gopoh setengah berlari menuju gerombolan yang baru keluar dari kamar menginap Faza. Dua orang itu melewati mereka.

“Pak Ali!” Shafwan kenal dengan mereka.

Lelaki yang dipanggil itu berhenti dan menoleh kearah Shafwan. Dan Shafwan setengah berlari mendekati mereka, beberapa orang di belakangnya merasa heran.

“Kamu..., kamu temannya Zilul di kontrakan kan?”

“Iya Pak. Bapak mau menjenguk kak Faza?”

“Bukan, Zilul kena musibah. Kami baru sampai di Metro.”

“Musibah apa Pak?”

“Dia terluka ditusuk oleh para berandalan. Zilul sekarang kritis.”

“Innalillahi wa inailahi raji’un.”

Pak Ali dan isterinya pamitan kepada Shafwan, Shafwan segera memberitahu orang-orang yang ada di sekitarnya. Mereka kaget, mereka akan mengunjungi Zilul segera setelah menegakkan sholat dzuhur. Metro kembali berduka.

“Jangan kasih tahu kak Faza sekarang,” Shafwan menjelaskan pada Salwa dan Azizah. Mereka hanya mengangguk.

          

“Tolong ambilkan air Iza,” Faza meminta tolong pada Azizah yang baru saja keluar dari kamar mandi untuk berwudhu. Salwa sudah duluan menggunakan mukenanya, dia merasa bertanggung jawab penuh terhadap kesehatan Faza. Dia menemani Azizah tiap malam menunggui Faza.

“Kakak juga mau Qiyamul layl?”

Faza mengangguk.

Azizah mengambilkan air setengah ember dan memberikannya kepada Faza, “Kita jama’ah ya Kak? Sudah lama Iza tidak berjamaah dengan Kakak. Iza rindu suara Kakak.”

Selesai wudhu, Faza duduk bertopang dua bantal. Azizah dan Salwa berdiri di pojok belakang kirinya, Faza sebagai imam. Malam yang tenang dan hening mengabarkan bahwa ada kehidupan yang jarang direguk oleh insan yang terlelap dan lalai dari mengingati Allah.

Di rekaat pertama Faza membaca surat Al-Mulk yang belum lama dihafalnya, tartil dan kehalusannya menyusupkan jiwa-jiwa menjadi tersentuh bagai besi yang lumer karena api yang membakarnya. Teramat lembut, hingga Faza tak bisa menahan airmatanya begitupun Azizah dan Salwa.

Mahasuci Allah yang di tanganNyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu 

Rekaat kedua, Faza membaca surat Ar-Rahmaan. Subhanallah, siapapun yang mendengarkan bacaan itu maka akan bergetar hatinya, sungguh. Surat ini mampu menjadikan manusia menangis demi memaknai artinya.

Tuhan yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 

Sungguh, tidak ada yang patuh kami dustakan ya Allah. Tidak ya Allah, hanya orang-orang kafirlah yang mendustakan segenap nikmat-nikmatMu.

Pagi menjelang subuh, Azizah duduk di sebelah Kakaknya.

“Sudah lebih baik rasanya Kak?”

Faza tersenyum, “Insyaallah, memangnya ada apa?”

“Aku rindu masa kecil Kak, Kakak sering mengajakku jalan-jalan, kita pernah berjualan kue berkeliling desa, Kakak dulu pernah mengajakku memarut kelapa hingga Kakak dimarahi Bapak karena jemari Iza tertusuk besinya. Masa yang indah.”

“Insyaallah, nanti setelah sembuh, Kakak akan ajak berkeliling dan jalan-jalan.”

“Apakah Salwa boleh ikut?”

Azizah dan Faza tampak bertatapan sejenak.

“Boleh, kenapa tidak.”

Hanya Azizah  yang sudah mengehui perihal masalah Salwa, dia merasa harus membantu Salwa agar tidak bersedih setelah semua kejadian yang menimpanya.

          

Ba’da subuh, Ahad.

“Anda bisa ke ruangan saya sebentar?” Dokter berjilbab yang bernama Anita itu menepuk pundak Azizah pelan ketika di ruang tunggu bersama Salwa.

Salwa hanya mengangguk, “Tidak apa-apa, biar aku disini saja.”

Azizah mengikuti langkah dokter Anita yang mungkin usianya telah mendekati setengah abad itu ke ruangan.

“Ada apa Dok? Apakah biayanya kurang?” Azizah penasaran.

“Saya harap dik Azizah bisa tabah mendengarkannya,”

“Ma..., maksud dokter?”

“Kami mengira bahwa luka Kakakmu hanyalah luka luar saja, tapi setelah kami periksa ulang kemarin. Ada yang luka di ginjal Kakakmu, dia terkena Pyelonephritis, sejenis infeksi ginjal. Bahayanya jika tidak segera ditangani maka akan mempengaruhi fungsi ginjal sebagai alat vital bagi manusia.”

“Jadi..., apakah Kakak saya bisa sembuh Dok?”

“Insyaallah, yang paling tepat di antara alternatif yang ada adalah transplantasi ginjal atau pendonoran ginjal. Jika dengan hemodialisis atau cuci darah tidak akan berdampak lama karena ginjalnya hanya buatan.”

“Saya akan mendonorkan ginjal saya untuk kak Faza Dok,”

“Ada beberapa prosedur untuk pendonor ginjal, berfikirlah dengan tenang dulu karena resikonya juga berbahaya.”

“Aku tidak perlu resiko Dok, aku hanya ingin berusaha agar Kakakku tetap hidup dan tersenyum pada dunia Dok,” setelah semua yang terjadi, Azizah hanya bisa menangis di hadapan dokter.

“Ada orang yang bisa bertahan hidup sampai tua hanya dengan satu ginjal saja, karena fungsi satu ginjalnya telah baik. Nanti kamu akan diperiksa jika memang bersedia mendonorkan ginjal tapi jika tidak layak maka kamu harus menerimanya.”

Azizah kini hanya bisa bertawakkal pada Allah.

          

“Kakak sarapan ya? Tadi aku dan Salwa baru saja beli bubur”

“Aku puasa Iza. Apa kau lupa?” Faza menatap wajah adiknya yang terlihat murung.

Azizah tahu kebiasaan Kakaknya itu. Tapi kini? Dan kata Dokter? Azizah menatap Salwa yang tadi masih duduk di kursi ruangan itu dan kembali memandang kakaknya. Mungkin Salwa sedang keluar.

“Kumohon, hentikan dulu puasa kak Faza. Allah pasti memahami keadaan kak Faza, Kakak harus memulihkan keadaan kak Faza dulu. Aku suapi ya Kak?” Azizah memaksakan dirinya untuk tersenyum.

“Aku akan puasa Iza, aku telah berusaha melakukan amanah almarhum Bapak. Aku kemarin telah meninggalkan puasa selama dua hari bukan? Kau ingat, kak Faza hanya berhenti sekali sewaktu Kakak sakit dulu.”

“Tapi kak Faza sedang sakit. Allah Tahu itu bukan?”

“Aku hanya ingin menjadi hambaNya yang bersyukur Iza.”

“Pokoknya kak Faza harus libur dulu, akan kusuapi,” Azizah menyendok bubur itu.

“Ahhh!”

“Kenapa Kak?” Azizah menaruh kembali bubur itu di meja. Faza tengah memegangi perutnya yang di perban.

“Sakit sekali Iza, sakiit...,” Faza meringis.

Salwa yang hendak mengambil air wudhu di kamar mandi ruangan itu menghentikan aktivitasnya. Dia mendengarkan percakapan itu dari dalam kamar mandi.

“Kenapa, kenapa kak Faza tidak menghentikan puasa Kakak!”

“Heh Iza, kamu kenapa menangis. Bukankah kita sama-sama yakin akan ketentuan Allah, jika kau kecewa denganNya lalu siapa lagi yang akan engkau percayai selain Allah. Yakinlah, semua sudah tertulis di lauh mahfudz. Hapus airmatamu.”

“Kakak harus sembuh!”

“Insyaallah, kamu ini kenapa Iza? Kenapa kamu jadi aneh begitu?”

“Aku hanya rindu kak Faza bisa berlari lagi,” Azizah mengusap airmatanya.

Azizah segera mengalihkan pembicaraan, “Masih ingat Kak, kemarin banyak bidadari-bidadari yang cantik dan sholihah disini. Ada kak Naurah, ada kak Nabil. Bagaimana menurut Kakak?” Azizah memaksakan diri tersenyum.

Faza juga tersenyum, “Di mata Kakak kini, engkaulah yang paling cantik. Sudah cukup karunia Allah untuk Kakak, jika Allah menambahnya maka itu adalah bentuk cinta Allah.”

“Pilih mana antara kak Naurah dan kak Nabil?”

“Kamu masih bercanda?”

“Bagaimana kalau dengan Zulfa, teman di kost Iza?”

Faza hanya menggeleng-geleng saja. Membiarkan adiknya menghibur dirinya.

“Atau..., Salwa Salsabila yang Kakak tolong?”

Jantung Salwa di kamar mandi bergetar lebih cepat. Dasar Azizah!

“Kak.”

“Kenapa? Masih mau mengganggu Kakak lagi?”

“Bertahanlah hidup demi Iza, berusahalah untuk sembuh. Jangan tinggalkan Iza Kak.”

Faza terdiam, ada yang aneh dengan ucapan adiknya. Namun, Faza hanya diam dan tidak berusaha mencari jawabannya karena Hp-nya berdering di meja dekat dengan kue-kue yang ditata rapi. Faza mengambilnya.

“Subhanallah, Allah Mahabesar!”

“Ada apa Kak?”

“Bacalah,” Faza menyerahkan Hp-nya, sms. Dan mata Faza telah sempurna berair entah bahagia atau sedih. Azizah penasaran dan membacanya.

”Aslkum, akhi Faza. Novel anda telah kami putuskan, insyaallah kami menyatakan siap bekerja sama untuk menerbitkan novel anda. Insyaallah akan kami kirm kbar minimal seminggu lgi, persiapkan diri untk berangkat penendatnganan kontrak kesepakatan. Semoga sukses. Waslkm. Gemintang Press.”

“Novel Kak Faza akan terbit?” wajah Azizah berubah cerah.

“Insyaallah, Insyaallah Iza. Allah Maha Berkehendak.”

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

“Ahhh!!”

“Kenapa Kak?” Azizah bingung hendak memegangi bagian yang sakit.

“Perutku! Sakiiit sekali...,”

Salwa segera keluar dari kamar mandi dan memanggil dokter, dia berlari ke ruangan dokter tanpa berhenti berteriak, “Dokter! Tolong dia dokter, tolong dia dokter!” masuk ke ruangan dokter Anita dan menjelaskan keadaan Faza.

Dokter Anita  mengikuti berlari di belakang Salwa, sampai di kamar mereka menemukan Azizah yang menangis memeluk Faza yang telah menutupkan matanya. Mendung berarak di terpa angin, selayak daun-daun yang berguguran dan menjejak di bumi, selayak bunga-bunga yang berjatuhan melayang dihempas angin yang lembut, selayak setiap serpihan cinta yang diturunkan Allah setiap saat di hati orang-orang yang merindukanNya, di hati orang-orang yang mencintaiNya.

Penasaran dengan endingnya, silakan baca novel Padang Sajadah... bagian kedua dari novel ini

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!