Warna Pelangi Cinta

Kamu Harus Kuliah!

Air mata Faza jatuh, menetes di aspal hitam jalan yang panas, airmata itu langsung terserap dan hilang. Ingatannya akan Ayah, selalu membawa motivasi tersendiri. Kini, dia tahu wasiat itu adalah harta yang tak ternilai dari dunia dan seisinya. Ikhlas! Bukankah orang yang ikhlas tak pernah kesepian. Ada Allah Azza wa Jalla dalam hatinya. Ada semangat orang-orang yang ikhlas di hatinya. Tak ada kesombongan, yang ada hanyalah memberikan yang terbaik untuk kehidupan.

Faza turun dari sepeda. Sepuluh siswa SMA 3 telah menyambutnya dari jauh dengan senyuman mereka. Wajah-wajah ceria para pencari ilmu, lihatlah wajah tulus mereka yang hanya menginginkan kebaikan pada setiap bagian hidupnya. Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan untuknya, Allah jadikan ia paham akan agama. Aku hanyalah penyampai dan Allah yang memberikannya. Umat ini akan senantiasa lurus hingga hari kiamat atau hingga datangnya perintah Allah. (HR. Bukhari dan Muslim).

Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan untuknya, Allah jadikan ia paham akan agama. Dia paham akan agama, itulah kebaikan. Sesungguhnya ilmu itu baru bisa diperoleh hanya dengan belajar. Dan wajah-wajah berjiwa bersih itu hanya  menginginkan kebaikan dalam dirinya. Faza baru tahu akan wasiat ayahnya, ikhlas. Ikhlas hanyalah urusan seorang hamba dengan Rabbnya, Malaikat tak mengetahuinya hingga tak kuasa menuliskan pahala atau kebaikannya dan Syetan tak kuasa merusaknya. Itulah hubungan istimewa antara manusia dan Allah. Dan kenikmatannya hanya bisa dirasakan oleh hati.

”Kakak telat lima menit. Iqof (yaitu denda atau hukuman).” Ricki sedikit cemberut menatap Faza, cinta akan ilmu membuat mantan perokok itu kini lembut hatinya. Di tengah rusaknya moral remaja, ada sebagian kecil yang dengan terseok-seok ingin merubah dirinya, kembali pada Allah Azza wa Jalla. Rasa cintanya akan ilmu menjadikan rasa cinta pula pada orang yang mengajarkan ilmu. Itulah cinta, dia bagaikan tumbuhan jika akarnya kuat maka seluruh cabang, buah hingga daunnya merasakan kesegaran. Semuanya akan terkena imbas cintanya.

”Maafkan Kakak, tadi di jalan ada kecelakaan. Kakak harus ikut membantunya.”

”Kecelakaan apa Kak?” Anis yang jangkung dan kurus bertanya penasaran.

”Kecelakaan motor dengan mobil. Ya udah, ayo kita ke masjid,” dan anggukan dari kesepuluh siswa itu segera menginstruksikan kaki-kaki mereka untuk masuk ke Masjid dan memulai mengkaji ayat-ayat Allah, mengagungkan Allah, menuntaskan rindu padaNya.

Saat remaja di tayangan media rusak, berita hanya menampilkan kebobrokan demi kebobrokan yang terjadi. Sumpah serapah dan pesimistis masyarakat seolah sudah maklum dengan kejadian itu. Menghujat, ”Pelajar sekarang rusak,” atau ucapan ”Bagaimana negeri ini jika remajanya bisanya urak-urakan,” bukankah lebih baik dibina semampu kita. Para remaja butuh pembinaan, jika bukan para kita siapa lagi yang berusaha memperbaiki keadaan. Bukan selalu menyalahkan.

Mengajarkan ilmu bukanlah hanya menunggu para pencari ilmu datang kepadanya. Lihatlah para penjual yang datang dari rumah ke rumah, door to door. Dakwah adalah pekerjaan mulia, kenapa malu? Barangsiapa yang keluar masjid dan tidak ada yang diingininya, kecuali untuk belajar atau mengajarkan ilmu, untuknya pahala sama dengan pahala haji sempurna  

Jika para salesman dan salesgirl mau demi sesuap nasi dan sejumput kenikmatan duniawi berupa persen rupiah dari setiap produk yang di jualnya, rela panas-panas masuk ke dalam gang-gang sempit, dari kampung ke kampung. Kenapa? Para Pendakwah bisa tenang menunggu order dakwahnya, padahal Allah menyediakan surga?

 

          

Jemari lentik itu menari-nari, meliuk, terampil bagai lebah yang baru keluar dari kepompongnya, baru lahir tetapi langsung tahu kemana tujuan hidupnya. Laba-laba yang baru lahir tak perlu diajari membuat sarang yang meliuk-liuk melingkar, burung yang mulai bisa terbang pun tak perlu diajari membuat sarang, kumbang tak perlu diajari induknya untuk mengebor kayu untuk dijadikan tempatnya tidur dan beranak pinak. Sungguh Allah sendiri yang mengilhamkan keadilan untuk semua penciptaan. 

Dia menciptakan manusia, mengajarnya pandai berbicara. Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungannya. Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan, kedua-duanya tunduk kepadaNya. Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca (keadilan) itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu. 

Jemarinya yang lentik beradu kencang dengan Nasheed  yang menggema dari tape milik bu Sud, pemilik kost-kost-an. Bersyukur Azizah mendapatkan ibu kost yang memperbolehkannya menggunakan kamar gudang di samping untuk membuka jasa jahit. Jari-jarinya terdapat beberapa luka goresan, ketika kadang melamun atau memikirkan tugas-tugas kuliah yang belum dikerjakannya. Walau jemarinya telah lihai, mahir namun kadang bisa juga khilaf. Seperti kali ini..

”Astaghfirullah!” jari tengahnya tertusuk jarum kala menjahit rok panjang yang sobek cukup lebar. Darahnya Cuma sedikit, dia biarkan saja menggelembung membentuk tetesan seperti embun. Matanya menatap langit yang luas, matahari sangat panas. Satu wajah yang diingatnya, wajah seorang yang menggemblengnya menjadi tegar. Wajah yang selalu teduh bagai jernih air telaga, wajah yang cahayanya lebih dari mentari kala panas paling menyengat sekalipun.

Kak Faza..., diingatnya kenangan setengah tahun yang lalu. Kenangan itu benar-benar tak bisa dilupakannya sama sekali. Wajah yang biasa lembut dan ceria, hari itu kala hujan berdebam-debam. Wajah kakaknya memerah padam. Tak pernah dibayangkan sama sekali wajah Kakaknya berubah. Kakak..., maafkanlah Iza karena mengecewakanmu. Kenangan kuat itu dia rekam sambil menatap langit, jari-jarinya benar-benar istirahat, berhenti menjahit.

Malam itu..., di rumah bibinya, Husna. Azizah tinggal di rumah Bibinya selama SMA karena letak sekolahnya di SMA 4 lebih dekat letaknya. Karena mereka juga tidak punya rumah lagi.

Hujan turun dengan lebat. Faza, kakaknya, baru saja pulang dari Metro tadi siang. Kedatangannya kali ini ingin membicarakan tentang kelanjutan sekolahnya setelah kelulusannya. Azizah membuatkan Faza teh, hanya setengah gelas itupun tidak kental sama sekali. Hanya sebagai penghangat, dia tahu kakaknya tidak suka minum teh, katanya kurang baik untuk kesehatan.

”Minumlah Kak,” wajahnya yang bersinar, lebih indah dari wajah bulan. Menatap Kakaknya yang mulai menyeruput teh buatannya. Wajah Kakaknya yang tampan namun nampak sedikit keletihan dan kelelahan disana hanya ditutupi oleh sinar keikhlasan yang selalu dipesankannya. Hingga wajah yang kelihatan hanya keceriaan dan ketulusan.

”Kenapa Iza buatkan teh untuk Kakak?”

”Maaf Kak, jahenya kehabisan. Bukankah hambar jika meminum air putih hangat? Gimana kuliah dan kerja Kakak?”

”Khoir (baik), Allah selalu memberikan yang terbaik untuk Kakak dan Iza,” panggilan Iza adalah panggilan yang paling disukai Azizah Sabah An-Nasyath.

”Jadi...,” Faza menatap wajah ayu adiknya. Disana ada gurat lelah yang menyisa, ”Iza mau meneruskan kuliah dimana? Kakak akan memberikan yang terbaik untukmu, Kakak akan memilihkan yang terbaik untukmu, Kakak tidak peduli apapun yang terjadi, yang Kakak inginkan hanyalah kebahagiaanmu,” wajah itu menunggu jawaban dari Azizah.

”Kak, Azizah akan libur dulu untuk setahun. Setelah Kakak wisuda, Iza akan masuk kuliah. Bukankah satu semester lagi atau paling lama setahun sekali Kakak di wisuda?”

Kilat tiba-tiba menyambar, gelegarnya membuat makhluk yang mendengarkannya mungkin akan menutup telinganya. Hening kemudian, Faza menatap adiknya, wajahnya bergetar menahan sesuatu.

”Kau..., kau tega menyakitiku Iza. Kau harus masuk kuliah saat ini juga. Itu keputusanku!”

”Iza tidak mau Kak, Kakak tahu keadaan kita bukan? Aku ingin melihat Kakak selesai kuliah, Iza sangat mencintai Kakak. Untuk makan saja kita kesusahan, biarlah kukorbankan setahun ini untuk mengumpulkan uang untuk keperluan kuliah nanti. Kuharap Kakak menghargai keputusanku.”

”Kau tahu apa yang menjadi kebahagiaanku? aku sekuat tenaga menjadi tegar karena aku yakin Allah bersama kita. Kau tahu apa yang kujaga hingga kukorbankan seluruh hidupku, Ayah menitipkanmu padaku. Itu adalah amanah yang harus Kakak emban. Biarlah kuliah Kakak yang berhenti jika itu bisa menjadikanmu berhasil, bukankah kau bisa bekerja sambil kuliah nantinya. Keputusanku tetap bulat, kau harus masuk kuliah tahun ini juga! Titik!” mata Faza menyinar tajam.

”Kumohon Kak! Pahamilah keadaan ini. Iza rela merelakan semuanya untuk kak Faza dan jangan anggap bahwa Kakak telah mengkhianati amanah Ayah. Bukankah tahun depan masih ada waktu? Iza akan masuk kuliah tahun depan, itu keputusan Iza.”

Petir kembali menggelegar, menciptakan cahaya sepersekian detik. Wajah Faza berubah merah. Semesta melihat sebagai kemarahan pertama lelaki tegar itu.

”Baiklah! Sekalian kau tidak usah kuliahpun Kakak tak akan peduli lagi. Dan jika kau bersikeras tidak mau kuliah tahun ini, maka kau telah menyakitiku. Kau telah menghancurkan semua yang telah kubangun selama ini, kau telah membuat luka memar di hatiku. Sakit..., lebih sakit ketika aku kelelahan bekerja. Sangat sakit Iza..., Lakukanlah sekehendakmu dan jangan lagi anggap aku sebagai Kakakmu,” Faza berdiri dari duduknya. Wajahnya benar-benar marah. Airmatanya tumpah.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!