Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Ikhtiar Lagi

Deg.

Hima menelan ludah. Tangannya yang tadi mau mengambil ponsel dari tasnya malah berhenti di udara.

Anggun masih menatap layar, jarinya geser-geser foto gedung rumah sakit. Putih. Bersih. Modern. Terlihat meyakinkan.

“Dokternya rekomendasi temen kantor,” lanjut Anggun, semangatnya belum turun. “Katanya banyak yang berhasil. Kita bisa mulai konsul bulan depan.”

Hima mengangguk kecil tapi bukan setuju, hanya bereaksi biasa.

“Mas?” Anggun akhirnya menoleh. “Kok diam?”

Hima menarik napas. Duduknya bergeser, punggung ditegakkan. Seolah bersiap akan menghadapi rapat penting.

“Dek,” katanya pelan, “boleh aku ngomong jujur?”

Anggun mengangguk cepat. “Ya ngomong aja. Ini kan soal kita.”

Hima menatap lantai sebentar. Lalu ke wajah istrinya yang cantik dan penuh harap.

“Aku bukan nggak mau ikhtiar,” ujarnya hati-hati. “Aku juga pengin punya anak ... Banget.”

Anggun tersenyum kecil. “Terus?”

“Tapi aku kepikiran satu hal terus,” lanjut Hima. “Kalau kita mulai ini… dengan utang.”

Anggun menghela napas. Senyumnya mengendur.

“Kita bisa cicil, Mas,” katanya. “Aku juga kerja. Kita sama-sama ASN.”

“Iya,” Hima mengangguk. “Tapi kalau gagal?”

Anggun terdiam.

“Kalau harus ngulang?” Hima melanjutkan. “Kalau di tengah jalan kita malah capek berantem karena uang?” Nada Hima masih rendah. Tapi justru itu yang bikin terdengar berat.

“Aku capek ditanya kapan, Mas,” suara Anggun mulai bergetar. “Aku capek ngerasa kurang sebagai perempuan.”

Hima refleks menoleh. “Aku nggak pernah bilang kamu kurang.”

“Tapi dunia bilang gitu,” sahut Anggun cepat. “Orang tua, tetangga, temen kantor. Semua lihat aku seolah ada yang salah.”

Hima menutup mata sebentar. “Dek,” katanya pelan, “aku cuma takut… kita maksa sesuatu yang belum waktunya.”

Anggun menggeleng. “Ini bukan maksa. Ini usaha.”

“Usaha yang berat,” balas Hima jujur. “Dan aku takut, di tengah jalan nanti … kita malah saling nyalahin.”

Sunyi. Hanya suara kipas angin berputar pelan.

Anggun menyeka sudut matanya. “Jadi menurut Mas, aku harus nerima aja? Nunggu tanpa kepastian?”

Hima mendekat sedikit. “Aku minta kita mikir bareng. Pelan-pelan.”

Anggun tersenyum tipis. Getir. “Pelan-pelan itu enak buat orang yang nggak tiap bulan ditanya soal kesehatan rahimnya.”

Kalimat itu menusuk. Hima terdiam.

“Maaf,” kata Anggun kemudian, suaranya melemah. “Aku capek.”

Hima mengangguk. “Aku juga.”

Mereka duduk berdampingan, tapi jarak terasa ada. 

Anggun mematikan layar ponselnya. “Aku nggak maksa Mas jawab sekarang,” katanya lirih. “Tapi aku pengin kamu tahu… aku pengin jadi ibu. Sama kamu.”

Hima menoleh. Dadanya sesak. “Aku tahu,” jawabnya pelan. “Dan justru karena itu aku nggak mau sembarang ambil keputusan.”

Anggun bangkit. “Aku ke kamar dulu.”

Langkahnya pelan, tidak membanting pintu. Tapi justru itu yang membuat Hima lebih takut.

Hima tetap duduk di sofa. Menatap ruang tamu yang rapi dan sepi. Jadi suami itu, pikirnya, bukan soal menang atau nurut. Tapi milih risiko mana yang sanggup ditanggung… tanpa kehilangan satu sama lain.

Ia mengusap wajah. Menghela napas panjang.

Di kamar, Anggun duduk di tepi ranjang. Tangannya menekan perutnya sendiri.

“Ya Allah,” bisiknya. “Aku cuma pengin satu.”

Dan malam itu, di rumah yang tenang, dua doa naik ke langit—dengan harapan yang sama, tapi cara meminta yang berbeda.

Anggun hanya butuh ruang sebentar sebelum air matanya jatuh di depan Hima. Ia masih duduk di tepi ranjang, punggungnya tegak seperti biasa. Kebiasaan perempuan yang terbiasa terlihat kuat. Tangannya lagi-lagi mengusap perutnya sendiri.

Empat tahun.

Anggun mengingatnya dengan jelas. Tahun pertama, ia masih tersenyum setiap ditanya. Tahun kedua, mulai belajar bercanda. Tahun ketiga, ia tertawa lebih keras dari seharusnya. Dan tahun keempat—ia mulai diam.

Diam bukan karena tidak ingin menjawab. Tapi karena lelah menjelaskan sesuatu yang bahkan tubuhnya sendiri tak bisa ia paksa.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Rambut rapi. Wajah bersih. Hidupnya terlihat teratur—seperti yang selalu ia usahakan. Ia terbiasa mengatur. Jadwal kerja, isi kulkas, lemari, sampai rencana libur tahunan. Termasuk rencana menjadi ibu.

Bukan karena ambisi. Tapi karena di kepalanya, hidup memang seharusnya berjalan begitu. Menikah. Punya anak. Menjadi keluarga utuh.

Dan ketika itu tidak terjadi, Anggun merasa gagal—meski tak ada yang berani mengatakannya terang-terangan.

Ia menghela napas panjang. Kata-kata suaminya masih menggantung di udara. Utang itu beban.

Anggun paham. Ia juga menghitung dan tahu risiko. Ia juga ngerti bayi tabung bukan jaminan.

Tapi yang Hima tidak rasakan adalah pandangan kasihan itu. Tatapan setengah iba dari ibu-ibu arisan. Candaan tipis yang ujungnya selalu sama.

“Masih berdua aja?”

Setiap kali itu terjadi, Anggun pulang dengan senyum, lalu menangis di kamar mandi. Diam-diam. Sendiri.

Ia ingin marah. Tapi kepada siapa? Kepada tubuhnya sendiri?

Anggun merebahkan diri. Menatap langit-langit kamar. Ia tidak ingin menekan Hima. Ia tahu suaminya juga lelah. Ia tahu Hima bukan laki-laki yang lari dari tanggung jawab. Justru karena itu, Anggun takut—takut keinginannya dianggap beban.

Apa aku terlalu memaksa?

Atau aku hanya terlalu lama menahan?

Air matanya jatuh satu. Lalu dua. Ia ingin dipeluk. Tapi lebih dari itu, ia ingin diyakinkan—bahwa keinginannya menjadi ibu bukanlah sesuatu yang egois.

Di luar kamar, langkah Hima terdengar pelan mendekati pintu kamar. Anggun menutup mata.

“Ya Allah,” bisiknya, hampir tak bersuara. “Kalau aku harus sabar, tolong kuatkan.”

“Kalau aku harus berjuang, jangan biarkan aku sendirian.”

Ia menoleh ke arah pintu. Ingin memanggil. Tapi urung.

Malam masih panjang. Dan untuk pertama kalinya, Anggun menyadari—bahwa menjadi istri bukan cuma soal bertahan bersama, tapi juga berani mengakui luka sendiri.

Ia mengusap wajahnya. Menarik napas. Besok, ia mungkin akan bicara lagi. Dengan nada lebih pelan. Dengan ego yang diturunkan.

Tapi malam ini, ia ingin diakui dulu—oleh dirinya sendiri—bahwa ia lelah, dan ingin diperjuangkan.

Sementara di luar kamar. Hima ragu-ragu di depan pintu. Apakah masuk sekarang atau nanti?

Hima menarik napas panjang. Ia menekan tuas pintu perlahan.

Anggun menoleh. Matanya masih merah, tapi wajahnya sudah lebih tenang. Hima duduk di lantai, bersandar ke sisi ranjang. Tidak langsung bicara.

“Dek,” katanya akhirnya, suaranya rendah. “Aku pengin punya anak. Sama penginnya kayak kamu.”

Anggun terdiam.

“Tapi aku juga pengin rumah ini tetap aman,” lanjut Hima. “Bukan cuma sekarang. Tapi sampai nanti… entah kapan Allah titipin.” Ia menelan ludah. “Orang tua aku nggak ngelarang. Mereka cuma takut kita saling tuduh."

Anggun menunduk.

“Aku nggak mau jadi suami yang cuma bilang iya,” kata Hima pelan. “Tapi aku juga nggak mau jadi suami yang bikin kamu ngerasa sendirian.”

Hening menyelimuti kamar.

Hima menatap lantai. “Kalau kita jalan, aku mau kita jalan bareng. Kalau kita nunggu, aku juga mau nunggu bareng.”

Ia tidak tahu apakah itu cukup menenangkan. Tidak tahu apakah itu jawaban yang Anggun mau. Tapi Hima memilih jujur.

Dan dari situlah, ia berharap—apa pun keputusan nanti—tidak lagi terasa seperti beban yang ditanggung sendirian.

"Ya udah coba. Sekali ini aja." Anggun menatapnya lurus, dengan penuh harap.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!