Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Slamet Si Pengamat
Jam di pos jaga menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit.
Slamet tahu, itu artinya jam di warung Hartati sudah hampir setengah tujuh, karena dilebihkan 5 menit dari waktu normal.
Ia berdiri di depan palang perumahan, menegakkan badan, meski punggungnya mulai sering terasa nyeri sejak beberapa tahun terakhir. Tangannya menggenggam buku catatan kecil, tempat ia menulis keluar-masuk kendaraan. Tulisan tangannya rapi, meski tinta bolpennya sering macet.
Slamet sudah terjaga sejak jam lima. Saat langit masih abu-abu, setelah adzan Subuh selesai berkumandang dari masjid kecil di ujung jalan komplek. Ia salat di pos jaga, di atas sajadah tipis yang dilipat rapi di laci. Tidak lama. Tidak khusyuk-khusyuk amat. Tapi ia selalu berusaha tepat waktu.
“Yang penting niatnya,” begitu katanya pada diri sendiri.
Pagi mulai ramai. Motor-motor keluar beriringan. Mobil satu dua lewat, sebagian melambat untuk menyapa.
“Pagi, Pak Met."
“Pagi.”
Slamet membalas semuanya dengan nada yang sama. Netral. Tidak terlalu ramah, tapi tidak dingin. Ia belajar, terlalu ramah kadang membuat orang lupa batas, berlaku seenaknya.
Seorang ibu berhenti agak lama di palang.
“Pak, semalam ada motor nggak dikenal lewat sini nggak?”
Slamet membuka catatan. Mengingat. “Ada, Bu. Sekitar jam dua. Tapi cuma lewat, nggak berhenti.”
“Oh.” Ibu itu mengangguk, lalu melaju.
Slamet mencatat sesuatu. Bukan karena diwajibkan, tapi karena ia percaya, ~menjaga itu soal mencermati hal kecil. Ia pernah ditegur dulu—bertahun-tahun lalu—karena lalai. Sejak itu, ia tidak pernah lagi menganggap sepele apa pun.
Pikirannya sempat melayang ke rumah. Ke istrinya yang bangun lebih pagi darinya. Ke anak bungsunya yang sebentar lagi masuk SMP. Padahal uangnya belum terkumpul penuh untuk daftar ulang.
Ia menarik napas pelan.
Rezeki sudah ada yang ngatur, katanya. Tapi tetap saja, sebagai kepala keluarga, Slamet merasa tidak pantas terlalu sering mengeluh pada Tuhan.
“Yang penting sehat, masih bisa kerja,” gumamnya.
Jam menunjukkan hampir pukul tujuh. Penghuni terakhir keluar. Jalanan depan kompleks kembali lengang.
Slamet duduk sebentar di kursi plastik pos jaga. Kakinya ia luruskan. Tangannya mengusap lutut. Di saku kemeja, ada uang receh sisa kopi pagi tadi. Tidak banyak, tapi cukup untuk rokok satu batang nanti siang—meski istrinya sering mengomel soal itu.
Ia tidak langsung merokok. Ia tahu waktunya mengepulkan asap belum tiba. Dia bukan orang berpendidikan tinggi, tapi belajar caranya disiplin, termasuk untuk hal kecil seperti ini.
Slamet berdiri lagi saat seorang remaja berlari masuk kompleks. Helmnya ditenteng.
“Pak, saya ketinggalan kartu akses.”
Slamet menatap wajah itu. Mengenali. “Rumah nomor?”
“Blok C, Pak.”
Ia mengangguk. “Masuk. Lain kali jangan ceroboh.”
“Iya, Pak. Makasih.”
Slamet mencatatnya. Bukan untuk laporan. Hanya untuk dirinya sendiri. Ia percaya, mencatat membuatnya lebih bertanggung jawab.
Kalaupun ada hal terjadi di luar kendalinya, setidaknya dia punya petunjuk kecil. Sebagai bentuk kewaspadaannya pada penghuni komplek.
Menjelang jam delapan, matahari mulai panas. Seragamnya terasa lembap. Slamet mengusap keringat di pelipis.
Ia teringat kopi pahit di warung Hartati tadi. Belum dia habiskan. Rasanya masih tertinggal di lidah. Pahit, tapi hangat. Seperti hidupnya belakangan ini. Ia tidak pernah meminta lebih. Hanya berharap cukup.
Slamet melirik langit sebentar, lalu menunduk. Dalam hati, ia berdoa singkat—doa yang tidak diucapkan lantang.
"Titipkan rezekiku di seragam amanah ini, Ya Allah. Kalau lelah, beri kuat. Kalau kurang, beri cukup."
Dianya memang belum semua terjawab. Tapi Slamet merasa sedikit lebih tenang.
Ia kembali berdiri tegak di pos jaga. Menunggu. Menjaga seperti biasa.
*
Partner Slamet datang tepat pukul delapan.
Masih muda, langkahnya lebih cepat, sapanya lebih ceria.
“Pak Met,” katanya sambil tersenyum.
Slamet mengangguk. “Saya pamit dulu.”
Tidak ada serah terima panjang. Buku catatan diletakkan di laci. Kunci pos diserahkan. Slamet melepas topinya, menepuk-nepuk seragamnya sebentar, lalu melangkah pergi.
Ia tidak langsung pulang. Kakinya sudah terbiasa berbelok ke arah warung Hartati dulu.
Jam di dinding warung menunjukkan hampir sembilan. Lima menit lebih cepat dari waktu sebenarnya. Warung sudah lebih lengang. Gorengan tinggal beberapa. Udara di dalamnya masih menyimpan aroma kopi, bercampur minyak panas yang mulai dingin.
“Balik, Pak?” sapa Hartati saat melihatnya masuk.
“Iya, Bu. Ngabisin kopi dulu,” jawab Slamet sambil duduk di kursi ujung.
Hartati menyodorkan secangkir kopi pahit yang dia simpan tanpa bertanya. Slamet mengangguk kecil sebagai terima kasih.
Ia menyeruput pelan. Tidak terburu-buru. Seolah pagi ini belum benar-benar selesai sebelum kopi itu tandas.
“Capek banget, ya?” tanya Hartati sambil menyeka meja.
“Biasa,” jawab Slamet singkat.
Mereka diam lagi.
Setelah kopinya habis, Slamet berdiri. “Saya pulang dulu, Bu.”
“Hati-hati di jalan.”
Slamet tersenyum tipis. “Iya.”
Motor Astrea 800 merah menunggunya di depan warung. Catnya masih kinclong, meski bentukannya jelas motor lama. Semua masih orisinal. Mesin halus. Tidak rewel. Slamet sering bilang, motor ini lebih setia dari banyak hal lain di hidupnya.
Ia menyalakan mesin. Suaranya halus, seperti tahu kapan harus bekerja tanpa banyak bicara. Motornya melaju pelan menyusuri gang sempit setelah warung Hartati.
Di rumah, istrinya sudah menunggu di dapur. Bau adonan kue memenuhi ruangan kecil itu. Tepung di meja, loyang berjajar rapi.
“Sudah pulang, Pak?” tanya istrinya tanpa menoleh.
“Iya.”
Seragamnya belum dilepas. Slamet langsung ikut bekerja. Mengaduk, menuang, membersihkan sisa adonan di pinggir mangkuk. Tangannya cekatan karena mereka sudah terlalu sering melakukan ini bersama.
“Nanti siang bisa diantar?” tanya istrinya.
Slamet mengangguk. “Bisa.”
Istrinya diam sebentar, lalu berkata pelan, “Uang Mya masih kurang.”
Slamet tahu. Ia tidak perlu dijelaskan angka pastinya. Ia hanya mengangguk lagi.
“Kira-kira cukup nggak ya waktunya?” suara istrinya sedikit bergetar.
Slamet berhenti mengaduk. Ia menatap adonan di depannya, lalu berkata pelan, “Kita usahain.”
Tidak ada janji besar. Tidak ada kepastian. Hanya itu yang bisa ia beri.
Siang menjelang, kue-kue dibungkus rapi. Slamet mengikatkan tali di rak belakang motornya. Astrea merah itu kembali bekerja. Mengantar titipan ke warung-warung kecil. Satu demi satu.
Di tengah jalan, ia melintas depan sekolah Mya. Anak-anak keluar gerbang. Beberapa diantar motor baru, beberapa memakai mobil. Mya pernah protes.
[“Malu, Pak. Motornya jelek.”]
Slamet ingat betul kalimat itu. Tapi dia tidak marah. Hanya diam.
Motor ini mungkin kuno. Tapi tidak pernah mogok. Tidak pernah meninggalkannya di tengah jalan. Sama seperti harapannya pada hidup—tidak mewah, asal masih sehat dan menjalani apa adanya.
Angin siang menerpa wajahnya. Slamet menatap lurus ke depan.
Uangnya masih kurang. Waktunya makin sempit. Tapi selama tangannya masih bisa bekerja, ia memilih tidak banyak bicara.
Dalam hati, ia berdoa lagi. Suaranya lirih.
"Cukupkan, Ya Allah."
Motor merah itu melaju pelan, membawa kue, membawa harap, dan seorang ayah yang terus berusaha.
"Pak!" Slamet menoleh, senyumnya merekah saat melihat siapa yang menyapanya.
.
.