Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Hidup terus berjalan
Pagi datang seperti biasa. Tidak ada tanda-tanda istimewa. Matahari naik pelan, menyapu atap-atap rumah dengan cahaya pucat. Jalan depan warung Hartati masih lengang, hanya sesekali motor lewat membawa orang-orang yang buru-buru memulai harinya.
Hartati membuka warung lebih pagi dari biasanya. Ia menyapu lantai, menata kursi plastik yang semalam dipakai ramai-ramai, lalu menyalakan kompor. Air untuk kopi dipanaskan. Minyak goreng dipanaskan. Rutinitas yang sama, gerakan yang sudah dihafal tubuhnya di luar kepala.
Hidup memang begitu. Tidak menunggu siapa pun siap.
Tak lama kemudian, Hima datang.
Ia duduk sendirian. Tidak langsung memesan. Tangannya menggenggam ponsel, layarnya mati. Seolah benda itu berat hari ini.
Hartati memperhatikannya sekilas. Tidak bertanya. Ia tahu, ada hari-hari ketika seseorang hanya butuh ditemani diam.
“Kopi, Mas?” tanya Hartati akhirnya.
Hima mengangguk. “Iya, Bu.”
Kopi diseduh. Uapnya naik tipis. Hima menatapnya lama sebelum bicara. “Belum berhasil, Bu,” katanya pelan, seolah takut kata-kata itu mengendap di hatinya yang kecewa.
Hartati meletakkan cangkir di depannya. “Belum,” ulangnya lembut. “Bukan tidak.”
Hima tersenyum tipis. “Anggun bilang begitu juga. Katanya… mungkin kami disuruh belajar sabar yang lain dulu.”
“Dan Mas Hima?” tanya Hartati.
Hima menghela napas. “Saya belajar menerima, Bu. Ikhlas dan mungkin bakal coba lagi.”
Hartati mengangguk pelan. “Berarti hatimu lagi dibesarkan.”
Hima menunduk, menyesap kopinya perlahan. Tak lama, Reza datang. Wajahnya tenang, seperti warna kemejanya. Tapi, ada kegugupan yang tidak ia sembunyikan.
“Pagi, Bu,” sapanya.
“Pagi. Pesan apa?” tanya Hartati sambil tersenyum.
“Kopi juga,” jawab Reza. “Doain saya, Bu. Minggu depan lamaran.”
Hima menoleh. “Beneran?”
Reza mengangguk. “Iya. Kami sudah sepakat nggak mewah.”
“Sepakat itu yang bikin spesial,” kata Hartati ringan. “Lebih dari kemumetan apapun.”
Reza tertawa kecil. “Iya, Bu. Saya baru paham sekarang.”
Ia terdiam sebentar, lalu menambahkan, “Saya nggak janji hidup Rini bakal kelimpahan. Tapi saya beneran bertanggungjawab sama dia.”
Hartati menatapnya lama. “Itu doa yang baik,” katanya. “Bukan janji kosong.”
Menjelang siang, Sophia mampir sebentar. Anak bungsunya tertidur di motor, kepalanya miring bertumpu di bantal yang terpasang di dashboard.
“Bu, beli tempe dua sama tumis sayur,” katanya. “Hari ini cuma masak sedikit. Kemarin kebanyakan mie.”
Hartati terkekeh. “Pelan-pelan, Mbak. Hidup nggak mesti ngrasa grusu.”
Sophia mengangguk. “Iya. Tadi suami bilang, malam ini gantian dia jagain anak-anak. Saya boleh tidur duluan.”
“Wah,” sahut Hartati. “Itu nikmat. Rezeki.”
Sophia tersenyum. “Iya. Baru tau ternyata istirahat itu perlu izin dan kesepakatan juga.”
Ia pamit. Anaknya masih tertidur. Hima memperhatikan motor itu menjauh.
“Serepot itu punya anak,” gumamnya pelan.
“Tapi juga sebesar itu doanya,” jawab Hartati.
Sore pun muncul membawa gurat senja. Warung tetap berdiri di tempatnya. Orang-orang datang dan pergi seperti biasa.
Menjelang magrib, Hartati menutup warung. Ia merapikan kursi, menyiram lantai, lalu duduk sebentar sendirian. Langit berubah warna. Angin berembus lembut.
Ia teringat hidupnya sendiri. Pernah berharap banyak. Pernah merasa doanya dikabulkan. Pernah juga merasa hampa.
Dulu ia bertanya, kenapa harus aku?
Sekarang ia bertanya, apa yang bisa aku lakukan?
Hartati menengadah. Tidak meminta apa-apa. “Ya Allah,” bisiknya. “Terima kasih masih memberi aku peran.”
Ia tahu, hidup tidak selalu memberi jawaban. Tapi selalu memberi jalan, meski sempit dan lambat. Hartati berdiri, mematikan lampu warung. Membiarkan malam, menjaga napas kehidupan ini.
Di luar sana, Reza sedang menyiapkan lamaran sederhana. Hima sedang belajar mencintai proses. Sophia mungkin sedang tertidur lebih cepat malam ini. Dan Anggun… sedang berharap, tanpa memaksa. Semua berjalan. Tidak serempak. Tidak adil. Tapi tetap berjalan.
Hartati menutup pintu warung. Ia tidak tahu apa yang menantinya esok. Tuhan tidak pernah terlambat. Dia bekerja di waktunya sendiri. Dan manusia… hanya diminta belajar percaya.
***
Pagi belum tinggi saat Pak Slamet sudah duduk di warung. Kopinya masih panas, tapi tangannya tidak buru-buru mengangkat cangkir. Ia menatap jalan seperti orang yang sedang menghitung ulang hidupnya—pelan, satu per satu.
Ujang datang sambil membawa kantong plastik berisi roti tawar dan sebatang rokok.
“Sarapan murah, Pak,” katanya sambil duduk.
Pak Slamet tersenyum. “Yang penting kenyang.”
Ujang membuka bungkus roti, tapi tidak langsung dimakan. “Pak,” katanya ragu, “boleh jujur nggak?”
“Kalau sama saya, blak-blakan aja,” jawab Pak Slamet santai.
Ujang menghela napas. “Kadang saya takut ngajak nikah.”
Pak Slamet menoleh. Tidak kaget. “Takut nggak sanggup,” lanjut Ujang. “Takut nggak bisa jadi laki-laki yang bener. Duit pas-pasan, kerja kadang ada kadang nggak.”
Pak Slamet mengangguk pelan. “Takut itu manusiawi,” katanya. “Yang bahaya itu nekat tanpa mikir ke depannya gimaba.”
Ujang tersenyum kecil. “Berarti saya normal ya, Pak.”
“Banget,” jawab Pak Slamet. “Saya dulu nikah juga takut. Bedanya, dulu nggak ada yang bisa diajak curhat dan ngajarin buat jujur sama rasa takut.”
Ujang menggigit rotinya. “Terus gimana, Pak? Kalau takut terus?”
Pak Slamet menyeruput kopi. “Ya jalan aja. Jangan nunggu berani baru mulai...”
Ujang terdiam. Kalimat itu masuk pelan-pelan ke pikirannya.
Pak Slamet melanjutkan, suaranya lebih rendah. “Sekarang giliran saya yang takut. Takut anak-anak saya salah jalan. Takut mereka nggak bahagia. Takut nggak bisa ninggalin bekal yang cukup.”
Ujang menoleh. “Padahal dari luar kelihatannya Bapak santai.”
Pak Slamet tertawa kecil. “Santai itu bukan berarti kosong pikiran. Cuma belajar nyimpen dengan tenang.”
Ujang mengangguk. “Berarti… hidup itu ya ganti-gantian cemasnya, ya, Pak.”
“Iya,” kata Pak Slamet. “Yang beda cuma isinya.”
Mereka diam sebentar.
“Jang,” kata Pak Slamet akhirnya, “kalau kamu nanti nikah, jangan kebanyakan nanya, geecep aja bantu tanpa diminta atau disuruh.”
Ujang tersenyum. Kali ini lebih lepas. “Siap, Pak.”
Pak Slamet berdiri lebih dulu. “Saya jalan dulu.”
Ujang ikut berdiri. “Makasih, Pak.”
Pak Slamet menepuk bahu Ujang pelan. “Semangat ya, Jang.”
Hartati tampak murung sore ini. Dia menutup warung lebih cepat dari biasanya. Pulang dari sana, dia tak langsung ke rumah. Tapi menuju suatu tempat.
Dia berdiri di depan sebuah makam. Tanahnya masih rapi dengan nisan sederhana, tanpa bunga berlebihan.
Ia duduk bersimpuh, datang sendirian.
“Mas,” katanya pelan, hampir seperti berbisik. “Hari ini aku kangen lagi.”
Angin menggerakkan dedaunan di sekitar makam.
“Aku sering kesal, ngeluh dan ngerasa sendiri,” lanjutnya. “Tapi aku baik-baik aja. Masih bisa ketawa.”
Hartati menunduk. Tangannya terkatup.
“Aku nggak sekuat yang orang kira,” suaranya bergetar. “Tapi aku masih berdiri.” Ia menarik napas panjang. “Doain aku ya. Biar aku nggak cuek dengan sekitar… dan nggak kejam sama diri sendiri.”
Hartati mengusap wajahnya lalu berdiri perlahan.
Langit senja menguning. Waktu tetap berjalam—dengan atau tanpa kita siap. Dan di antara lelah, takut, dan doa-doa yang lirih, hidup terus menemukan caranya sendiri untuk bertahan.
.
.
TAMAT.