Warung Kopi Jam 1/2 Enam
Solusi
Siang itu Ujang pulang dari bengkel, kepalanya masih penuh oleh jumlah kekurangan di sana sini. Uang bayaran mingguan dari si Bapak pensiunan langsung habis separuh buat ganti yang paling penting—rantai dan kampas rem. Nggak semua beres, tapi motor sudah jauh lebih aman dipakai narik.
Sampai rumah, ia makan seadanya. Nasi hangat, sayur bening, tempe goreng. Setelah itu, ia menyelipkan uang ke dalam amplop kecil, lalu menyerahkan ke adiknya yang baru pulang sekolah.
“Buat cicilan sekolah dulu,” katanya singkat.
Adiknya mengangguk, matanya berbinar meski berusaha biasa saja. Ujang hanya menepuk bahunya pelan.
Sore menjelang Maghrib, ibunya duduk di ruang tengah. Nada suaranya pelan, tapi matanya menyimpan semangat yang sulit disembunyikan.
“Jang… ibu mau bilang,” katanya. “Tadi ketemu Bu Sari. Warung Padang dekat rumah itu, lagi butuh tukang cuci piring.”
Ujang terdiam.
“Katanya tetangga kita yang dulu kerja di sana pindah kontrakan jauh. Jadi Bu Sari nawarin ibu. Sayang kalau ke orang lain,” lanjut sang ibu cepat, seolah takut dipotong. “Lumayan, Jang. Selain upah, suka dapat lauk, sayur, sama sambal. Seminggu dua kali, Senin sama Jumat.”
Ujang menelan ludah. “Kerjanya dari jam berapa, Bu?”
“Jam sembilan sampai jam lima. Tapi sering jam tiga juga udah habis. Bisa pulang cepet,” jawab ibunya ringan. “Lagian kebanyakan yang beli dibungkus. Paling cuci wadah makanan aja.”
Nada cerita ibunya meyakinkan. Ujang menunduk. Kepalanya langsung memutar segala kemungkinan. Ia membayangkan ibunya berdiri lama, tangan keriput kena sabun, punggung pegal. Takut ibunya capek lalu sakit.
Tapi di sisi lain, kebutuhan berloncatan tanpa ampun. Kenaikan kelas adik. PKL. Tunggakan. Ongkos transport.
Gaji pensiunan ayahnya—almarhum—cukup buat beras, token, air, gas, dan uang saku adik. Itu pun sisa paling enam ratus ribu sebulan. Selebihnya… ditutup oleh Ujang.
“Ibu beneran mau?” tanya Ujang, suaranya rendah.
Ibunya mengangguk tanpa ragu. “Mau. Ibu masih kuat, Jang.” Ada semangat di wajahnya. Bukan terpaksa, tapi ingin membantu.
Ujang menutup mata sejenak. Dadanya terasa sesak. Di satu sisi, ia ingin melarang. Di sisi lain, ia tahu hidup mereka memang sedang menuntut lebih.
“Kalau capek, bilang ya, Bu,” katanya pelan.
Ibunya tersenyum. “Iya. Ibu tau batasnya.”
Ujang mengangguk. Dalam hati, ia berjanji pada dirinya sendiri. Ibu gak boleh kerja di situ sampai bertahun-tahun. Ibunya seharusnya istirahat, bukan nambah beban.
Ujang menarik napas dalam-dalam, lalu bicara pelan agar suaranya tidak terdengar gemetar. “Sekolah adek sudah mulai kucicil, Bu. Motor juga baru sebagian diganti sparepart-nya. Belum semua, tapi insyaallah aman dipakai daripada kemarin.”
Ibunya mengangguk, matanya menatap meja, jemarinya saling mengusap tanpa sadar.
“Aku cuma minta doa,” lanjut Ujang. “Mudah-mudahan yang ambil jasa ojek bulanan nambah. Jamnya nggak bentrok, jadi bisa keambil semua.”
Belum sempat ibunya menjawab, justru nafasnya mendadak bergetar. “Ibu malah pengin minta maaf, Jang…” suaranya pecah. “Kalau ayahmu nggak meninggal waktu itu, kamu bisa kuliah. Mau masuk pabrik juga gagal… uang jasa titip ke saudara nggak ada. Makanya kamu nggak jadi masuk. Akhirnya jadi ojek…”
Tangis itu jatuh juga. Pelan, tapi dalam.
Ujang refleks mengusap tangan ibunya di atas meja. Menepuk-nepuk pelan, seperti menenangkan anak kecil yang terbangun dari mimpi buruk.
Ujang hanya diam. Dadanya sesak. Dalam kepalanya, kalimat itu berputar tanpa suara.:
Memang semua hal ujung-ujungnya harus ngandelin diri sendiri. Saudara, kalau nggak ada uang, miskin, mana ada mau ngaku saudara.
Ia menelan ludah, lalu memaksa senyum muncul.
“Gak apa-apa, Bu. Sudah lewat,” katanya akhirnya. “Ojol juga profesi halal. Rezekinya jelas.” Ia nyengir lebar, entah untuk ibunya atau untuk dirinya sendiri.
Ibunya masih terisak, tapi tangisnya mulai mereda.
“Nanti,” sambung Ujang, nadanya dibuat ringan, “kalau ada modal, pengin buka bengkel kecil-kecilan. Biar motor nggak bolak-balik bengkel orang. Kan buat ngelancarin adek belajar juga nanti…” Ia terkekeh kecil. “Ibu punya dua montir, hehe.”
Ibunya mengangkat wajah. Matanya merah, tapi ada senyum yang pelan-pelan tumbuh. “Mudah-mudahan,” katanya lirih sambil mengangguk. “Semoga rezeki kalian berdua di bengkel itu nanti ya, Jang…”
Ujang mengangguk balik. Di dadanya, sesak itu belum pergi—tapi kini ada ruang kecil untuk berharap.
Ujang baru saja menyimpan ponsel ke saku jaket ketika notifikasi WhatsApp masuk lagi. Nama Sophia muncul di layar.
"Jang, bisa jemput anakku? Aku nggak bisa keluar. Adiknya demam tinggi."
Ujang membaca pelan, lalu membalas cepat. "Bisa, Mbak. Jam berapa?"
Sophia sempat menyinggung ongkos—standar tarif ojek, katanya, biar enak sama-sama. Ujang langsung mengiyakan. Rezeki ya rezeki. Nggak perlu ditawar.
Sore itu semangatnya naik lagi. Mesin motornya memang belum sepenuhnya pulih, tapi cukup untuk kerja.
Ujang sampai di rumah Sophia menjelang asar. Pagar hijau itu terbuka sedikit. Wajah Sophia kelihatan pucat, matanya cekung.
“Sekalian, Jang,” katanya pelan, “bisa beliin gas sama galon? Sama beberapa belanjaan ke warung.”
Ujang mengangguk tanpa banyak tanya. Ia paham nada capek yang tidak minta dikasihani.
Sore itu, dari ongkos jemput, belanja, sampai tambahan kecil dari Sophia, jumlahnya lumayan.
“Jangan diporsir, Mbak,” kata Ujang sambil menurunkan galon dari motor. “Istirahat kalau capek.”
Sophia tersenyum tipis. “Iya… tapi nggak bisa. Was-was kalau anak sakit.” Ia menghela napas. “Lagi pula yang bungsu itu kesayangan ayahnya.”
Ujang cuma mengangguk. Tak perlu komentar. Beberapa hal cukup didengar.
Ia pamit, menyalakan motor, dan pergi sebelum langit benar-benar gelap.
Sophia masuk ke rumah. Mengunci pagar dan pintu.
Rumah itu kecil dan padat oleh sisa-sisa aktivitas yang belum sempat dibereskan. Mainan berserakan di sudut ruang tamu, swinger pendingin ruangan bergerak pelan dan cukup mengusir pengap. Dinding dekat dapur masih banyak bercak ciprata minyak, dan di wastafel piring menumpuk, menunggu tangan yang sejak pagi tak punya jeda.
Di kamar, lampu menyala redup. Selimut anak bungsunya lembap oleh keringat, napasnya naik turun tak teratur. Di luar kamar, suara kertas PR yang dibalik anak sulungnya terdengar jelas.
Meja makan kosong. Bau asam muntahan masih tertinggal di sudut lantai dan cucian. Anaknya yang bungsu panas, tidur gelisah di kamar. Yang sulung duduk di meja, mengerjakan PR, wajahnya tegang tapi berusaha tenang.
Sophia membuatkan susu untuk si sulung, dan menaruhnya pelan di samping buku. Lalu masuk ke kamar si kecil, mengecek dahi anak bungsunya, mengganti kompres seadanya.
Setelah itu, dia kembali ke dapur. Gas baru sudah terpasang. Galon ada. Tapi perutnya bergetar. Entah karena lapar, capek, atau dua-duanya.
"Masak apa ya…" Tangannya gemetar tanpa ia sadari. Pandangannya berkunang sesaat. Langkahnya goyah saat akan membuka kulkas.
Gubrak.
"Mamaaaaaa!"
.
.