Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Ibu gak boleh tumbang

Anak sulungnya bangkit dari kursi begitu mendengar suara jatuh. Gelas susu tersenggol, isinya tumpah sedikit ke meja.

Ia berlari ke dapur, mendapati ibunya terduduk miring di lantai, satu tangan masih sempat menopang tubuhnya.

“Mama!” suaranya meninggi, panik. Tangannya gemetar saat menyentuh bahu Sophia. “Ma… mana yang sakit, Ma…”

Sophia mengerang pelan. Matanya terbuka setengah, napasnya pendek-pendek. Kepalanya terasa ringan seperti melayang, perutnya melilit.

“Ambilkan … air…” bisiknya hampir tak terdengar.

Anak itu berlari ke meja, menuang air dengan tangan gemetar. Saat kembali, ia membantu ibunya duduk bersandar ke dinding. Air tumpah ke kaus Sophia, tapi ia tak peduli. Tegukan kecil itu cukup membuat napasnya sedikit teratur.

“Ma kenapa. Jangan sakit,” kata anak sulungnya, suaranya bergetar. “Adek masih panas.”

Kalimat itu seperti sentakan. Sophia memejamkan mata sejenak, lalu memaksa dirinya sadar penuh. Ia mengangguk lemah. “Iya… mama nggak apa-apa.”

Dengan sisa tenaga, ia bangkit pelan-pelan, berpegangan pada meja. Sekelilingnya masih berputar, tapi ia menahan.

Ia menuju kamar anak bungsunya. Menyentuh dahi kecil itu lagi—masih panas. Dadanya mengencang. Cemas. Lelah. Lapar. Semua menumpuk tanpa sempat dipilah.

Di luar kamar, anak sulungnya berdiri bingung, matanya basah tapi ia gigit bibirnya sendiri, meniru cara ibunya selama ini.

Sophia menarik napas panjang. Dalam hati, ia bergumam lirih, "Nanti aja pingsannya."

Di luar, langit mulai gelap. Sophia duduk di tepi ranjang anak bungsunya, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya mengelus rambut kecil yang basah oleh keringat. Napas anak itu masih berat, sesekali merengek tanpa sadar. Sophia menempelkan kompres lagi, mengganti plester yang sudah dingin dan tidak lagi menempel.

“Iya, Nak… mama di sini,” bisiknya. Entah anaknya mendengar atau tidak.

Di luar kamar, anak sulungnya mondar-mandir. Ia kembali ke dapur, mengambil lap, membereskan air yang tumpah, mengangkat gelas susu, lalu duduk lagi di meja.

Ia melirik ke arah kamar tiap beberapa detik, seperti penjaga kecil yang sedang belajar waspada.

Sophia akhirnya berdiri lagi. Kakinya masih lemas, tapi memaksakan diri ke dapur. Ia menyalakan kompor, memasak nasi dengan sisa tenaga, lalu menumis telur dan sayur seadanya. Bau masakan perlahan mengisi rumah, menggugah selera makan.

“Makan dulu,” katanya pada anak sulungnya, suaranya pelan. “Biar lebih fokua.”

Anak itu mengangguk cepat. “Mama juga.”

Sophia tersenyum tipis. Ia ikut menyuap dua-tiga sendok. Perutnya menolak, tapi ia tahu tubuhnya butuh tenaga. Setelah itu, ia kembali ke kamar, duduk lagi di sisi ranjang, memegang tangan kecil yang panas.

Waktu berjalan lambat. Ponselnya bergetar di saku. "Aku lembur."

Sophia tak membalas. Percuma. Suaminya lebih suka kerja dibanding di rumah. Alasannya untuk kebutuhan anak-anak. Padahal dia lebih butuh sosoknya meski tidak membantu pekerjaan apapun di rumah. Setidaknya hatinya tenang.

Ia menatap wajah anak bungsunya, lalu ke arah pintu kamar tempat anak sulungnya mengintip pelan. Sophia mengangguk kecil, memberi isyarat bahwa semuanya terkendali.

Besok ia akan ke puskesmas, apa pun caranya. "Anggap aja gak punya suami." 

Malam merambat pelan-pelan. Punggung masih bersandar ke tembok yang mulai terasa dingin, tangan tak lepas dari jemari kecil anak bungsunya.

Demam itu seperti pasang-surut. Turun sebentar, lalu naik lagi. Sophia menghitung napas anaknya, satu… dua… tiga…, setiap kali napasnya tersendat, dadanya berdebar.

Anak sulungnya masuk kamar membawa selimut tipis. Tanpa diminta, ia menggelarnya di pangkuan ibunya.

“Ma, biar nggak dingin,” katanya pelan, hampir berbisik.

Sophia menoleh. Tangannya terangkat, mengusap kepala anak itu. “Makasih, Nak.” Suaranya lelah. Anak itu duduk di dekat pintu, punggungnya menempel kusen, matanya tak lepas dari adiknya.

Tak ada lagi suara televisi, tak ada notifikasi yang dibuka. Rumah itu seakan menyempit, hanya berisi tiga napas yang saling menjaga.

Dua jam kemudian. Pintu depan berderit pelan. Suaminya pulang dan lagi-lagi anak-anak sudah tidur. 

Sophia menoleh saat suaminya berdiri di ambang pintu, kausnya sudah diganti, rambut masih setengah basah. Ia menguap, menyandarkan bahu ke kusen.

“Kenapa lagi?” tanyanya datar. "Rumah berantakan amat," ujarnya.

Sophia mengangguk. “Iya, nanti kubereskan. Tadi demam dan sempat muntah lagi.”

“Oh.”

Tidak ada langkah mendekat. Tidak ada tangan yang terulur menyentuh dahi anaknya. Pandangannya sekilas saja, lalu beralih ke ponsel di genggaman.

“Besok aku berangkat pagi,” katanya lagi. “Meeting luar kota.”

“Iya,” jawab Sophia pelan.

Suaminya mengangguk seolah urusan selesai. “Kamu jangan sakit. Nanti aku makin repot.”

Kalimat itu terdengar seperti formalitas, tuduhan dan bukan menjaga keluarga. Ia berbalik, masuk ke kamar mereka, menutup pintu.

Sophia menatap sosok yang menghilang itu beberapa detik. Tangannya masih memegang ujung selimut. Anak bungsunya mengerang kecil, keningnya berkerut.

Ia kembali fokus pada tubuh kecil itu. Mengusap, mengompres, menghitung napas lagi. Sementara di balik pintu tertutup, suaminya sudah tertidur pulas.

Sekitar tengah malam, anak bungsunya terbangun, merengek lirih. Sophia sigap mengangkat kepalanya, menyuapkan air hangat seteguk demi seteguk. Sedikit muntah keluar lagi, membasahi kain. Sophia membersihkannya tanpa suara, tanpa keluhan.

“Sebentar ya,” bisiknya. “Habis ini enakan.”

Anak itu kembali terlelap, napasnya lebih teratur. Panasnya belum hilang, tapi tidak tinggi.

Ia melirik ponsel. Tak ada pesan baru. Ia mengunci layar, meletakkannya terbalik. Malam ini, ia tak ingin berharap pada bunyi apa pun dari sana.

Menjelang dini hari, tubuhnya akhirnya menyerah. Kepalanya bersandar ke tembok, matanya terpejam beberapa detik, bukan tidur. Ia terbangun lagi saat anak sulungnya memanggil pelan.

“Ma… adik udah nggak panas banget.”

Sophia menyentuh dahi kecil itu. Benar. Hangat. Matanya basah, tapi ia tersenyum. “Alhamdulillah.”

Azan subuh menyusup dari kejauhan. Cahaya pucat merayap masuk lewat celah jendela. Sophia berdiri dengan hati-hati, lututnya nyeri bekas jatuh, punggungnya kaku. Ia membasuh muka, minum air, lalu menyiapkan pakaian

“Hari ini kita ke puskesmas,” katanya tegas—lebih pada dirinya sendiri. “Abis sarapan.”

Anak sulungnya mengangguk. Ia membantu mengambil tas kecil, memasukkan buku KIA, botol minum, dan jaket adiknya.

Saat matahari mulai naik, demam itu reda. Sophia menggendong anak bungsunya, menarik napas dalam-dalam, dan melangkah keluar rumah.

Di depan pagar, motor lewat pelan. Ujang melambat, menoleh. Pandangan mereka bertemu sesaat. Sophia hanya mengangguk kecil. Ujang membalas anggukan itu—singkat, tanpa tanya.

Sophia melangkah lagi mengeluarkan motornya. Pagi itu, ada satu hal yang ia pegang erat, anak-anaknya harus baik-baik saja—dan ia akan memastikan itu, apa pun caranya.

Suaminya bangun, berseru bertanya soal sarapan. "Sophia, sarapanku mana?" 

Sophia menoleh dari spion. Suaminya membuka pintu, tapi dia menarik tuas gas, anaknya lebih penting. Toh, cuma sebentar, masih sempat membuatkan sarapan untuknya nanti.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!