Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Ancaman dibungkus dalil

“Heh!”

Tak ada jawaban.

Bukan karena Sophia tak mendengar. Ia mendengar dengan sangat jelas. Tapi ia memilih membiarkan panggilan itu menggantung di udara dan hilang sendiri.

Di kamar, anak bungsunya terlelap setelah minum obat. Napasnya mulai teratur. Sophia duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding. Tangannya memijat pelipis, matanya terpejam lama. Ada denyut pelan di kepalanya, bercampur rasa perih.

Di luar kamar, langkah kaki suaminya terdengar mendekat, lalu berhenti di depan pintu. Hanya diam, menunggu Sophia menyerah dan keluar menjelaskan, seperti biasanya.

Rumah itu sunyi.

Sophia membuka mata. Pandangannya jatuh ke wajah anaknya. “Maaf ya,” bisiknya, pada dirinya sendiri. Karena terlalu lama membiarkan capeknya dianggap wajar. Terlalu lama mengira diam adalah bentuk sabar.

Di ruang tengah, suaminya akhirnya kembali ke sofa. Ponsel di tangan, layar menyala, tapi matanya kosong. Ada sesuatu yang terasa berbeda hari itu—bukan marah, bukan menang—melainkan kehilangan kendali yang tak bisa ia jelaskan.

Menjelang sore, Nara pulang. Ia masuk pelan, melihat sekeliling rumah, lalu meletakkan telur di dapur dan langsung ke kamarnya. Sophia memeluknya singkat, hangat. 

Malam turun perlahan. 

Sophia akhirnya memasak. Bukan karena diminta atau ingin. Tangannya bergerak otomatis—memecah telur, mengocok, menuang ke wajan panas. Ceplok dan dadar. Itu saja. Tidak ada lauk lain sebab tak ingin berlama-lama di dapur.

Setelah lauk matang, dia susun di meja. Sophia tidak memanggil siapa pun, langsung kembali ke kamar anak-anak membawa piring berisi nasi dan dadar.

Nara duduk di lantai, buku terbuka, pensil di tangan. Sophia duduk di sampingnya, menjelaskan pelan. Sesekali Nara tersenyum kecil ketika akhirnya mengerti. 

Sophia menyuapi mereka bergantian, lalu dirinya pun ikut makan.

Anak bungsunya dimandikan setelah itu, air hangat, sabun bayi, tawa kecil yang akhirnya keluar setelah kemarin lesu.

Mereka bercengkerama bertiga di kamar. Tertawa pelan. Dunia Sophia mengerucut di ruang sempit itu—cukup untuk tiga orang. Ia tidak memikirkan ruang lain di rumah. Seperti selama ini, ia menganggap suaminya tidak ada.

Lampu kamar dipadamkan lebih awal. Jam belum menunjukkan delapan malam, tapi tubuh Sophia sudah menyerah. Ia berbaring, satu tangan memeluk anak bungsunya, satu lagi menyentuh punggung Nara. Napas mereka perlahan teratur. Rumah menjadi sunyi.

Sophia tidak tahu kapan suaminya mendekat ke kamar mereka. Ia tidak mendengar pintu dibuka, atau langkah kaki. Ia hanya tahu, tidur malam itu terasa lebih sulit dari biasanya.

Jika pun ia terbangun, ia memilih menutup mata, berpura lelap.

Ia melihat bayangan suaminya berdiri di ambang pintu, menatap mereka yang tidur saling berpelukan. Lalu perlahan menjauh.

Suara dari meja makan samar terdengar. Tapi, mungkin suaminya urung makan, sebab tidak ada suara piring diambil.

Yang Sophia rasakan hanya sepi. Dia tahu suaminya masih di rumah malam itu. Televisi menyala di ruang tengah, suaranya sayup menembus dinding. Biasanya suara itu mengganggunya. Malam ini, tidak. Sophia membalikkan badan, memeluk anaknya lebih erat.

Sophia terbangun di tengah malam. Cahaya ponsel memantul di dinding ruang tengah. Suara game bergema ramai, memantul dengan sunyinya rumah. Suaminya masih di sana, duduk santai seolah waktu tidak pernah bergerak.

Ia tidak mengusik. Membawa baju kotor Nura, si bungsu, melipatnya asal, lalu mengisi botol minum di dapur. Gerakannya pelan, seperti takut keberadaannya di sadari suaminya.

Saat ia berbalik menuju kamar, suara itu memanggil, datar.

“Sophia.”

Ia berhenti. Menoleh.

“Ngambek?”

“Nggak.” Suaranya sedikit serak. Sophia melangkah lagi, tapi kalimat berikutnya membuat kakinya tertahan.

“Kamu tahu kan, nggak melayani suami itu apa ganjarannya?”

Sophia menatapnya. Datar. “Kapan aku tidak melayanimu? Jika hari ini aku nggak masak atau bersih-bersih, aku juga lagi merasakan capek."

Suaminya terdiam, menatap balik tanpa jawaban. Keheningan menggantung sebentar, lalu ia bangkit. Langkahnya mendekat, tangannya meraih pergelangan Sophia dan menariknya ke kamar.

Ia tidak melawan, sudah tahu ujungnya bagaimana. 

Di ranjang, Sophia menghela napas panjang. Ia berbaring telentang, membiarkan semuanya terjadi tanpa suara. Tidak ada respons, tidak ada lenguhan seksi seperti biasanya, tidak ada perlawanan—hanya tatapan kosong ke langit-langit, seolah dirinya berada di tempat lain.

Saat suaminya selesai, ia bangkit lebih dulu. Mengenakan kembali pakaiannya, meraih botol di sisi ranjang, lalu keluar kamar tanpa menoleh. Tidak ada rengekan meminta pelukan dan bermanja-manja.

Suaminya menangkap keanehan itu, dia hanya mengernyit lalu menarik selimut sampai ke atas dan mulai lelap.

Sophia masuk ke kamar anaknya. Nura masih terlelap. Ia memeluk tubuh kecil itu erat, menahan isak agar tak pecah. Air mata jatuh diam-diam, membasahi bantal.

Selalu saja begitu, pikirnya. Ancaman yang dibungkus dalil. 

“Apa aturan Allah dibuat untuk menekan kami, para istri,” batinnya lirih, “dengan kelakuan suami macam dia?”

Sunyi.

Sophia memejamkan mata, tapi kantuk tak datang. Napas Nura kecil dan teratur di lengannya. Hangat. Berbeda dengan sentuhan barusan yang terasa seperti kewajiban kosong.

Dadanya masih sesak. Ia menatap dinding kamar yang catnya mulai memudar. Sophia seperti melihat hari-harinya sendiri. Hampa samar yang dibiarkan, lama-lama menjalar ke mana-mana.

Kalau tidak patuh, ancamannya agama.

Kalau lelah, tuduhannya durhaka.

Air mata kembali mengalir, tanpa suara. Ia tak ingin anaknya terbangun hanya karena ibunya kalah oleh tangisnya sendiri.

Ia ingat dirinya dulu, yang percaya rumah tangga adalah tempat pulang. Yang mengira taat berarti aman dan diam akan menyelamatkan segalanya. Nyatanya, diam hanya membuatnya makin tak terlihat.

Dari kamar depan, suara game masih terdengar. Televisi masih menyala, suaminya mungkin sudah lelap, meninggalkan kebisingan seperti biasa.

Sophia menarik selimut lebih tinggi, memeluk Nura erat-erat, seolah anak itu satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak benar-benar tenggelam.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!