Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Introspeksi

Suaminya baru pulang menjelang magrib.

Lampu teras menyala. Dari dalam terdengar suara tawa kecil Nura. Ada bau tumisan dari dapur.

Sang suami berdiri sebentar di depan pintu. Ragu. Tangannya sempat terangkat, lalu turun lagi. Tiba-tiba dia merasa asing di rumah sendiri.

Pintu dibuka oleh Nara. Dia mendengar suara motor ayahnya masuk ke garasi.

Sophia muncul dari dapur membawa piring. Rupanya mereka berencana makan lesehan di depan televisi. Tikar terhampar, Nura sudah duduk manis di sana.

“Oh,” kata Sophia singkat.

“Aku… pulang cepat.”

Sophia memberi jalan, menyambutnya biasa saja. Hatinya mencelos, melihat keluarganya asik sendiri tak mengindahkan dirinya. Seketika dia merasa tidak dibutuhkan.

Di dapur, Nara sedang membantu membawa sendok.

Nura duduk bersila. “Ayah,” sapa Nura pelan, menepuk lantai di sebelahnya.

“Iya,” jawabnya duduk di sisi Nura. Suaranya tertahan.

Makan malam berjalan canggung. Ia memperhatikan hal-hal kecil yang baru disadarinya lagi. Sophia menyuapi Nura dulu sebelum dirinya, Nara menunggu giliran mengambil lauk.

“Obat Nura jangan lupa ... Diminum habis makan,” kata Sophia, datar, sambil menaruh gelas air.

“Iya,” jawabnya cepat.

Setelah makan, Sophia membereskan tikar. Ia berdiri, bolak balik membawa piring kosong dan sisa lauk ke dapur. Nara langsung merapikan tikar, menyapu dan mengelap noda dengan kain lembab.

Nura duduk di sofa, kaki kecilnya bergoyang, tangannya memegang botol obat, menunggu Sophia.

"Sama ayah?" Dia duduk di sofa, membujuk Nura meski hatinya merasa hambar sebab kehilangan peran di rumah sendiri.

Nura menggeleng. "Mama."

Nara langsung masuk kamar, Sophia memanggil Nura, menyuapi obat, mengganti bajunya lalu meminta Nura masuk kamar.

Dia pergi ke belakang, lalu kembali tanpa melihat suaminya yang duduk di sofa. 

“Aku… bantu apa,” katanya.

Sophia menoleh. “Sudah selesai.” 

Suaminya terpaku. Sophia masuk ke kamar, mengambil daster. Dia mengikutinya tapi sejurus kemudian Sophia keluar lagi dan masuk ke kamar anak-anak.

Huft. Dia menghela napas. Membuka kemejanya lalu mandi dan keluar kamar, mencari mereka.

Malam itu, Sophia membacakan cerita di kamar anak-anak. Ia berdiri di ambang pintu, mendengar suaranya yang tenang. Ia sadar, jarang menemani mereka.

Setelah lampu kamar anak dipadamkan, Sophia keluar. Mereka berpapasan di lorong.

“Aku mau bicara,” katanya.

“Iya,” jawab Sophia.

Ia duduk di sofa, televisi mati. Sophia duduk di kursi seberang.

“Aku dengar kajian di kantor,” katanya akhirnya, pelan. “Tentang… qowwam.”

Sophia menatapnya tanpa menyela.

“Aku baru ngerti,” lanjutnya. “Selama ini aku pikir tugasku selesai kalau bawa uang banyak. Merasa bahwa sudah memberi kecukupan dan kebahagiaan dengan itu. Ternyata… aku keliru."

Hening.

“Aku sering pakai alasan agama buat membenarkan egoku sendiri,” katanya, suara serak. “Bukan buat jagain kalian dengan benar.”

Sophia menghela napas. “Aku nggak minta kamu sempurna,” katanya. “Aku cuma mau rasa aman. Didengar. Ditemani.”

Ia mengangguk. “Aku nggak janji berubah cepat.” Ia menelan ludah. “Tapi aku mau belajar ada untuk kalian.”

Sophia menatap lantai, lalu kembali padanya. “Aku nggak minta solusi atau apapun,” katanya pelan. “Kami butuh kamu, yang mendengar segala keluhan.”

Malam itu, tidak ada pelukan dramatis atau maaf panjang. Hanya dua orang dewasa yang duduk dengan dan bicara jujur, menimbang ulang arti pernikahan.

Sophia masih duduk, termenung beberapa detik setelah kalimat itu selesai diucapkan.

Belajar ada.

Kalimat yang terdengar sederhana, tapi terasa berat untuk dilakukan, tapi dia tidak ingin mematahkan niat suaminya. Biarlah dia juga belajar tanggung jawab dengan perkataannya sendiri.

Ia menatap ruang tengah yang kini senyap. Tikar sudah dilipat, perabotan tertata rapi. Rumah yang sama, tapi malam ini terasa berbeda. Karena dia merasa tidak sendirian saat bicara.

Selama ini, ia sering bertanya dalam diam. Apakah lelahnya berlebihan, apakah ia terlalu sensitif, atau memang tidak ada ruang baginya untuk mengeluh.

Ia ingat betul bagaimana kata kuat sering diletakkan begitu saja di pundaknya. Seolah menjadi perempuan berarti siap menahan apa pun tanpa suara. Seolah iman adalah peredam lelah.

Padahal yang ia butuhkan sederhana. Didengar. Duduk bersama. Tidak ditinggal sendirian melakukan segalanya.

Sophia menarik napas panjang. Ia tidak menuntut perubahan besar atau permintaan maaf yang panjang. Ia hanya ingin kehadiran suaminya. Yang tidak sibuk membenarkan diri dengan dalil, tapi mau bertanya, “Kamu kenapa?”

Ketika ia berdiri, suaminya mendekat. "Ikut aku ke kamar, ya,” lirihnya memohon.

Sophia menoleh. Hati biasanya dipenuhi penolakan. Tapi malam ini, Sophia mengalah.

“Iya,” katanya singkat.

Mereka berjalan berdampingan masuk ke kamar. 

Qowwam memang bukan cuma soal memimpin, tapi memastikan langkah yang diambil tidak membuat orang di sampingnya tertinggal.

***

Sophia terbangun oleh gemericik air di kamar mandi dan langkah kaki kecil di luar kamarnya. 

Dia melirik jam di nakas, biasanya jam segini rumah masih sepi, tapi hari ini ada sesuatu yang berbeda.

Terdengar suara piring di ambil dari rak, sendok beradu pelan, dan tawa Nura, seperti baru bangun tidur.

Ia keluar kamar.

Suaminya berdiri di dapur, kaus rumah, rambut masih sedikit basah. Nara baru keluar kamar mandi, masih menguap sambil mengusap rambutnya dengan handuk.

“Ayah yang anter hari ini?” tanya Nara.

“Iya,” jawabnya ringan.

Sophia diam di ambang pintu. Ada rasa aneh di dadanya, bukan kaget, tapi belum terbiasa. Dia gegas salat subuh lalu menyiapkan sarapan sederhana.

Setelah sarapan, suaminya duduk di sofa tengah. Nura berdiri di antara kedua lututnya. Ia menyisir rambut anak itu perlahan, seperti takut menarik terlalu kencang.

“Kalau sakit, bilang,” katanya.

Nura mengangguk patuh.

Sophia memalingkan wajah, pura-pura merapikan piring. Dadanya terasa menghangat.

Tak lama, mereka berangkat ke sekolah. Dan pulang dari sana, suaminya menaruh sekresek kue di meja dapur.

“Kesukaan kamu,” katanya singkat.

Mereka minum teh sebentar. Lalu suaminya bersiap ke kantor. 

“Kalau capek,” katanya lagi, sambil mengenakan jam tangan, “tidur aja. Pasang alarm. Aku ingetin kalau anak-anak mau pulang.”

Sophia mengangguk. “Iya.”

“Aku berangkat.”

Ia melangkah keluar, sempat menoleh dan melempar senyum kecil. Sophia membalasnya, ragu.

Setelah rumah kembali sepi, Sophia mengambil tas kecilnya.

“Aku ke warung Hartati sebentar,” gumamnya.

Warung Hartati sedikit lengang pagi ini. Bangku kayu, termos kopi, dan suara radio tua yang mengalun pelan masih menjadi ciri khasnya.

Sophia duduk, memesan kopi hitam. Hartati meliriknya sambil menuang air panas. “Tumben pagi-pagi nongkrong. Biasanya repot sama anak-anak.”

Sophia terkekeh, “Hariku lagi baik, Bu."

Hartati tertawa kecil. “Wah, ini kejadian langka.”

Sophia mengaduk kopinya pelan. Asap tipis naik, wangi kopi tercium.

“Rumah aman?” tanya Hartati santai.

Sophia mengangguk. “Aman, mulai introspeksi lagi.”

“Siapa?”

“Kami,” jawab Sophia jujur.

Hartati mengangkat alis, lalu tersenyum lebar. “Bagus. Semoga langgeng ya, kalian.”

Sophia menyeruput kopi. Menghirup wanginya sambil memejamkan mata, menenangkan.

Setelah sekian lama, ia tidak terburu-buru pulang, apalagi merasa harus kuat sendirian. Ia membiarkan pagi berjalan sebagaimana mestinya.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!