Warung Kopi Jam 1/2 Enam

Sederhana saja

Sore itu setelah dari dinas luar kota, motor Fauzan baru sampai di ujung gang ketika ponselnya bergetar. Ia menepi sebentar, membuka helm, lalu menerima telpon.

Dari temannya, putra si Bapak tadi di sekolah. Memastikan bahwa Fauzan bisa membantunya.

Sesampainya di rumah. Dia duduk di sofa ruang tengah. Sophia menyajikan teh hangat di meja sekalian pamit ingin jemput anak-anak.

"Aku ikut," katanya. 

"Bukannya capek?" tanya Sophia. "Nggak, bentar, mau telpon Ujang yang katamu ojol itu," ujarnya sambil meminta nomer ponsel Ujang pada Sophia. Dia lupa kemarin.

Shopia mengirimkan kontak Ujang ke WhatsApp suaminya. 

“Halo Jang,” katanya. "Saya ayahnya Nara."

"Oh iya, Pak," jawab Ujang di ujung sana.

“Lagi buru-buru nggak?”

Suara Ujang terdengar agak serak tapi masih jelas. "Nggak, Pak. Kenapa?”

“Ada orang tua murid. Cucunya satu sekolah dengan Nara. Lagi butuh orang buat antar jemput. Mau?”

“Hah? Mau banget, Pak,” jawab Ujang cepat. “Jam berapa?”

“Nanti aku kirim nomornya. Diobrolin langsung aja.”

“Siap, Pak. Makasih ya.”

Telepon ditutup. Fauzan menyimpan ponsel, lalu menyesap teh dan bangkit. "Aku aja yang jemput," ucapnya menyambar kunci di atas meja lalu menarik resleting jaketnya lagi.

Sesampainya mereka rumah, Sophia sudah di dapur. Ia sedang mencuci sayur, lengan bajunya digulung. Mendengar suara pintu dibuka, ia menoleh.

Nara dan Nura berhamburan memeluknya sebelum ke kamar.

“Masak lagi?” tanyanya Fauzan masuk.

“Iya,” jawab Sophia sambil menaruh piring berisi lauk di meja. “Yang gampang aja kok.”

Fauzan mengangguk. “Ok, kita mandi dulu.”

Ia melanjutkan pekerjaannya. Air kran mengalir, suara wajan kotor berdenting pelan di wastafel terdengar pelan.

Setelah selesai makan, anak-anak menonton televisi. Sophia menghampiri suaminya yang duduk di sofa, menoleh sedikit. “Kemarin… waktu di sekolah,” katanya hati-hati. “Kok kamu kelihatan hormat banget sama bapak itu. Beliau bilang apa aja?”

Fauzan duduk menyandarkan punggung, merentang lengan ke belakang punggung Sophia. “Dia cuma cerita,” katanya pelan. “Soal kesibukan temanku.”

Sophia mendengarkan.

“Temanku sama istrinya pulang sore,” lanjut Fauzan. “Kerja dua-duanya. Selama ini ngandelin bapaknya buat antar jemput. Tapi bapaknya suka drop. Kadang harus ngurus pensiunan, kadang sakit lumayan lama meski batuk pilek, namanya sepuh, kan.”

Ia menghela napas. “Katanya, tanpa istri, hidup tuh ribet. Banyak yang kelihatan sepele, tapi kalau nggak ada yang ngerjain… semuanya berantakan.”

Sophia menunduk. Tangannya memegang ujung bantal sofa, tapi masih diam mendengarkan.

“Di situ aku kepikiran,” Fauzan melanjutkan. “Selama ini aku nganggep peranmu ya… kerjaan rumah. Masak, bersih-bersih, ngurus anak. Padahal ternyata lebih dari itu.”

Ia menoleh ke Sophia. “Kamu yang bikin semuanya jalan. Dari pagi sampai malam. Hal-hal yang nggak kelihatan di mataku.”

Sophia tidak langsung menjawab. Ia melirik anak-anaknya.

“Lebih banyak dari aku,” tambah Fauzan lirih. “Aku baru sadar.”

Suasana langsung hening, hanya ada suara napas mereka.

Sophia menghela napas panjang. “Iya,” katanya singkat.

Fauzan berdiri. “Besok aku libur,” bisiknya di telinga Sophia. “Kamu mau masak apa?”

Sophia menatapnya sebentar, lalu ke kulkas. “Sayur sop ayam, sambal sama tempe goreng. Enak kali ya?”

“Belanja bareng?”

Sophia mengangguk. “Ok.”

Malam merambat pelan, anak-anak mulai masuk ke kamar. Sophia ingin ke sana, tapi jemarinya digenggam Fauzan. 

"Aku kangen," lirihnya sambil mengecup bahu Sophia saat akan masuk ke kamarnya. "Jangan lama-lama, ya."

Sophia hanya tersenyum tipis, lalu mematikan lampu kamar putri mereka dan masuk ke kamarnya.

Di kamar, Fauzan mendekati Sophia yang baru saja duduk di tepi kasur. Dia lalu memeluknya dari samping. Sophia paham keinginan suaminya malam ini. 

Tidak ada kata-kata panjang. Fauzan mencium pelipisnya singkat, lalu bersandar di bahu Sophia. Capek seharian terasa turun pelan. Sophia memejamkan mata, membiarkan diri dipeluk tanpa memikirkan apapun.

Malam itu, keduanya berusaha menikmati lagi keintiman yang sempat terasa canggung. Menyadari bahwa masih membutuhkan satu sama lain.

Setelah subuh. 

Mereka berjalan ke warung depan. Fauzan membawa keranjang kecil. Sophia memilih wortel, kentang, daun bawang. Fauzan mengambil tempe, ayam, bawang, dan cabai.

“Kurang apalagi?” tanya Fauzan, merangkul pinggangnya.

“Udah kayaknya,” jawab Sophia malu-malu, masih teringat keintiman semalam.

Pulang ke rumah, mereka masak bareng. Fauzan memotong kentang agak tebal, Sophia membetulkan sambil tertawa kecil. Kompor menyala. Uap masakan tercium perlahan.

Sesekali mereka melirik jam.

“Hari ini anak-anak pulang cepat,” kata Sophia.

“Iya,” jawab Fauzan. “Kita tunggu. Aku yang jemput mereka."

Siang itu, kehangatan terasa di dapur. Bukan cuma karena api kompor. Tapi karena akhirnya, mereka mengerjakan sesuatu bersama, berdampingan, menunggu anak-anak pulang.

***

Keesokan paginya, warung Hartati sudah ramai sejak matahari belum tinggi benar. Bau kopi hitam dan gorengan hangat bercampur dengan suara sendok beradu pelan.

Sophia mampir setelah mengantar suaminya berangkat kerja. Dia duduk di bangku kayu, menunggu teh manisnya agak hangat. Tangannya memeluk tas kecil di pangkuan.

“Mbak Sophia.”

Ia menoleh. Ujang berdiri di depan warung, helm masih di tangan, wajahnya sumringah seperti habis dapat kabar baik.

“Makasih ya, Mbak,” kata Ujang tulus. “Soal kemarin.”

Sophia tersenyum. “Oh, iya. Jadi?”

Ujang mengangguk cepat. “Beliau mau. Cucunya juga mau dianter.”

Sophia sedikit condong ke depan. “Anaknya yang sekelas Nara?”

“Beda kelas, Mbak,” jawab Ujang. “Tapi sepantaran. Kata suami Mbak.”

Sophia mengangguk pelan.

“Tapi,” lanjut Ujang sambil menggaruk tengkuknya, “Kalau nanti Nara mau sekalian, saya bisa angkut dua-duanya. Rumah Mbak dulu, baru beliau," jelasnya.

Ujang tersenyum kecil, seperti ingin meyakinkan. “Sama-sama anak perempuan.”

“Iya,” kata Sophia ringan. “Oke, Jang.”

Ujang tampak lega. “Siap, Mbak. Saya pamit.” Ia melangkah pergi, motornya menyala pelan, lalu menghilang di tikungan.

Tak lama, dua sosok muncul dari arah berlawanan. Reza dan Hima. Keduanya langsung duduk, memesan kopi masing-masing.

“Saya udah dua minggu nggak ngerokok,” kata Reza sambil meniup kopi panasnya. “Badan rasanya enteng, Mas.”

Hima terkekeh. “Saya juga lagi nyoba. Biar hidup lebih sehat.”

Reza melirik, setengah bercanda. “Kayaknya sehat-sehat aja, Mas Hima.”

Hima mengangkat bahu, senyum malu-malu. “Ya… pengin kualitas vitalitas lebih oke. Biar pas coba program lagi, nggak gagal amat.”

Hartati yang sejak tadi mendengar hanya tersenyum. Ia menuang kopi, lalu berkata pelan, “Yang penting niatnya baik. Saya doain aja.”

“Aamiin,” sahut Reza cepat.

Sophia ikut tersenyum, meski tidak ikut menyela. Ia menghabiskan tehnya, lalu berdiri.

“Saya pulang dulu, Bu,” katanya pada Hartati.

“Iya,” jawab Hartati. “Tumben buru-buru lagi."

Sophia mengangguk. “Iya. Mau siapin bahan bikin kue bareng anak-anak.”

Wajahnya terlihat cerah saat mengatakan itu.

Hartati memandang punggung Sophia yang menjauh, lalu bergumam pelan, hampir seperti doa, “Alhamdulillah.”

Warung kembali ke riuh kecilnya. Dan pagi berjalan seperti seharusnya, sederhana, tapi penuh rasa syukur.

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!