Aku Bukan Anak Haram - Starla
Eliza disuap pergi
Ia menyerahkan ponsel itu pada Albana yang duduk di sampingnya. “Kirim pesan, bilang aku sedang rapat.”
Albana yang berdiri di sisi Saba mengangguk cepat. Rapat berlanjut. Grafik ditampilkan. Suara presentasi saling bersahutan dan makin panas. Beberapa pemegang saham berbicara bersamaan. Dan pesan untuk Eliza tak pernah terkirim.
“Ayah Julia sudah menarik sebagian sahamnya!” “Ini bisa menjatuhkan kepercayaan pasar.” “Kita perlu pernyataan resmi!”
Saba duduk tegak, wajahnya tenang meski rahangnya tegang.
“Perusahaan ini tidak bergantung pada satu nama,” ucapnya mantap. “Operasional tetap jalan. Kontrak tetap lanjut. Tidak ada yang perlu ditakutkan.”
“Bagaimana dengan konflik internal keluarga Anda?” salah satu menyindir.
Tatapan Saba mengeras. “Itu urusan pribadi saya. Tidak ada hubungannya dengan kinerja perusahaan.”
Rapat pamungkas berlangsung berjam-jam. Saba hampir tidak berhenti berbicara. Menjamin, menenangkan, menyusun strategi cepat. Ketika akhirnya selesai, langit sudah gelap.
Albana menyerahkan ponselnya kembali. “Banyak panggilan masuk, Bos.”
Saba mengangguk singkat, lalu berjalan menuju mobil. Di dalam, ia membuka layar.
Puluhan notifikasi. Sebagian besar dari Eliza. Pesan-pesan panjang. Nada marah. Tersudut. Tersakiti.
Saba mengerutkan kening. Tak ada pesan darinya untuk Eliza, apa Albana lupa? Pikir Saba langsung menekan panggilan.
Beberapa dering menunggu, lalu diangkat. "Brengsek! Kamu menipuku!”
Saba memejamkan mata sesaat. “El… ada apa?” suaranya lelah, berat.
“Kamu ambil paksa Starla dariku! Tanpa bilang! Tanpa izin! Sumpah demi Tuhan aku benci kamu!”
Saba terdiam dua detik. “Ambil paksa? Apa maksudmu?”
“Sekolahnya! Dia dipindahkan! Tanpa aku tahu! Tanpa tanda tanganku!”
Saba menegang. “Apa?”
“Jangan pura-pura nggak tahu! Ulahmu kan? Orang kaya brengsek!”
Emosi yang seharian ia tahan akhirnya tersulut. “Jangan kurang ajar, El. Aku nggak paham apa yang kamu omongin. Jelaskan baik-baik.”
“Kamu pikir aku bodoh? Kamu punya kuasa, punya uang! Kamu ambil anak itu dari hidupku!”
“Heh! Aku seharian di kantor!” bentaknya tanpa sadar.
Sunyi sepersekian detik. Lalu suara Eliza yang pecah, “Aku benci kamu.”
Klik. Panggilan terputus.
Saba menatap layar kosong beberapa detik. Dadanya sesak. Kepalanya berdenyut. Ia tidak mencoba menelepon kembali malah mematikan ponsel dan melemparkannya ke kursi penumpang. Lalu bersandar, memejamkan mata.
Mobil masih melaju pelan dan berhenti kasar di halaman rumah.
Saba turun tanpa menutup pintu dengan benar. Baru beberapa langkah masuk, saat akan menaiki anak tangga, suara maid menyambutnya dari ruang tengah.
“Non Starla demam, Tuan.”
Langkahnya terhenti. “Sejak kapan?”
“Sejak sore. Tadi saya kira hanya kelelahan.”
Saba gegas berjalan cepat menuju kamar di atas. Starla terbaring pucat. Pipi kecil itu merah. Napasnya lebih cepat dari biasanya.
Saba mendekat, menyentuh kening Starla. Panas tinggi.
“Kenapa nggak dibawa ke dokter?” suaranya meninggi.
Maid tadi berdiri canggung di sudut kamar. “Tadi… tadi Nyonya bilang tunggu saja, Tuan. Dan Nona kecil sudah dikompres…”
“Sejak jam berapa panas tinggi begini?” tatapan Saba tajam.
“Sejak sore ... pulang sekolah, dia gak makan, Tuan, langsung tidur…”
Rahang Saba mengeras. “Dan kalian biarkan?”
Maid itu terbata. “Kami sudah bujuk, tapi Non Starla nggak mau…”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Saba mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Starla mengerang pelan, matanya setengah terbuka tapi kosong.
“Siapkan mobil. Sekarang.” Nadanya dingin saat mulai menuruni tangga.
Ruang IGD berbau antiseptik, mungkin baru disemprot ulang oleh petugas jaga.
Saba duduk di kursi samping ranjang, masih dengan kemeja kerja yang kusut dan lengan tergulung. Rambutnya sedikit berantakan. Ia belum sempat mengganti apa pun.
Starla sudah dipasangi infus kecil di tangannya. Saba memijat pelipisnya perlahan, mata terpejam beberapa detik. Hari itu seperti tak memberinya ruang untuk bernapas, apalagi sekedar beristirahat.
Kasur berderit pelan. Starla membuka mata. Pandangan kecil itu menangkap sosok di sampingnya. Lalu perlahan berpaling ke arah lain. Bibirnya mengatup rapat.
Saba menunduk, napasnya berat. “Ayah tahu… ayah salah sama Starla.”
Tak ada jawaban.
Ia duduk lebih dekat, suaranya melembut, hampir putus asa. “Ayah minta maaf.”
Namun kelelahan menariknya lebih dulu. Tangannya masih bertumpu di tepi ranjang ketika kepalanya perlahan terkulai ke samping kasur. Ia tertidur begitu saja, masih duduk.
Starla menoleh pelan. Dilihatnya wajah Saba dari dekat—garis lelah di bawah mata, rahang yang tak lagi setegang tadi. Ia diam. Tangannya yang bebas bergerak sedikit, hampir menyentuh lengan ayahnya… lalu berhenti.
Starla memejamkan mata lagi. Beberapa kali mengigau sepanjang malam... “Ibu…”
“Starla nggak nakal…”
"Ibu."
Suara itu lirih, tapi cukup untuk membuat Saba terbangun berkali-kali. Setiap kali ia mendengar nama itu, dadanya terasa sesak. Starla lebih menginginkan Eliza dibanding dirinya.
Menjelang pagi, ia menatap anaknya yang masih gelisah dalam tidur, bibirnya bergerak memanggil satu nama yang sama.
Saba meraih ponselnya, menekan nama Eliza.
Dering pertama.
Kedua.
Ketiga.
Tak ada jawaban.
Ia mencoba lagi. Tetap tak diangkat.
Saba menatap layar yang perlahan meredup, lalu kembali menatap Starla.
"Kamu kangen ibu? Kapan bisa lepas dari Eliza, kalau gini terus?" keluh Saba, membuang napas sambil merebahkan punggung ke kursi.
Pagi merambat pelan ketika pintu kamar kos Eliza diketuk keras.
Eliza yang semalaman nyaris tak tidur membuka pintu dengan wajah sembap. Di depannya berdiri Albana, dengan pakaian kerja.
“Maaf datang pagi-pagi.” Napasnya sedikit terengah. “Non Starla dirawat. Demam tinggi.”
Wajah Eliza langsung pucat. “Apa?”
“Tadi malam masuk IGD. Sekarang sudah agak turun, tapi… dia terus memanggil Anda.”
Kalimat terakhir itu membuat jantung Eliza seperti diremas.
Tanpa banyak tanya, ia meraih tas dan menyambar kunci motornya menuju rumah sakit yang Albana sebutkan.
Starla baru saja dipindahkan ke kamar perawatan ketika Eliza tiba.
Saba berdiri di sisi ranjang, membantu perawat mendorong tempat tidur kecil itu. Ketika melihat Eliza masuk, langkahnya terhenti sepersekian detik. Eliza tak menatapnya. Ia langsung mendekat ke Starla.
“Sayang…”
Mata kecil itu terbuka perlahan. Butuh dua detik untuk mengenali wajah di hadapannya.
“Ibu…” suaranya serak, hampir tak terdengar.
Eliza tersenyum meski matanya panas. Ia membelai rambut Starla, mengecup keningnya yang masih hangat.
Saba berdiri di sisi lain ranjang, diam. Wajah Starla langsung terlihat lebih tenang.
Siang itu, Eliza membantu menyuapi Starla bubur hangat sedikit demi sedikit. Anak itu menurut. Sesekali menyandarkan kepala ke lengan Eliza.
Demamnya berangsur turun menjelang sore.
Saba menyaksikan semuanya tanpa komentar. Ada sesuatu yang menekan di dadanya—antara lega dan tersisih.
Starla akhirnya tertidur pulas, napasnya lebih teratur. Saba berdiri dekat jendela kamar rawat. “Aku benar-benar nggak tahu soal sekolah itu,” ucapnya pelan tanpa menoleh.
Eliza tak langsung menjawab. Ia masih duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan kecil Starla. Tak mungkin tidak tahu, pikirnya. Tidak mungkin.
“Kalau aku mau ambil dia paksa, aku nggak akan tunggu sampai sekarang,” lanjut Saba, suaranya lebih rendah. “Aku juga kaget soal ini.”
Hening.
Beberapa detik berlalu sebelum Saba kembali bicara, kali ini dengan nada yang lebih rapuh. “Aku minta tolong.”
Eliza akhirnya menoleh.
“Tolong bilang ke Starla… kalau tinggal sama ayah itu nggak apa-apa. Kalau ayah sayang dia. Supaya dia nggak merasa kehilangan kamu terus.”
Kalimat itu seperti pisau tipis yang digores di hati lalu ditarik perlahan. Eliza menunduk. Ia mengerti posisi dirinya dan arah pembicaraan ini.
“Ya,” jawabnya pelan. Meski hatinya terasa tersayat. Pada akhirnya, dia memang akan disingkirkan.
Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.
Hasnawati masuk dengan langkah tenang. Tatapannya langsung jatuh pada Starla yang terlelap.
Eliza berdiri. “Saya pamit.” Ia melangkah mendekat ke pintu, tapi suara Hasnawati menghentikannya.
“Kalau kamu sayang anak itu… jauhi dia.”
Eliza membeku.
“Sampai kapan dia menderita ketergantungan padamu?” lanjut Hasnawati datar. “Kami keluarga aslinya. Dia harus belajar.”
Eliza menatapnya lurus. “Anda ingkar janji.”
Sorot mata Hasnawati tak berubah. “Janji dibuat sesuai kebutuhan.” Lalu ia mengeluarkan sebuah amplop tebal dari tasnya dan menyodorkannya.
Deg.
.
.