CEO Muda Yang Tampan
Kehangatan yang Membuat Nyaman
Pagi di Singapura datang terlalu cepat bagi Bella, kelopak matanya bergerak pelan ketika cahaya matahari tipis menyelinap dari sela tirai kamar hotel, kepalanya masih terasa sedikit berat, tapi kehangatan yang melingkupi tubuhnya membuat ia enggan membuka mata sepenuhnya, hangat dan nyaman dan terlalu dekat.
Bella mengerjap pelan, lalu seketika napasnya tertahan, Kevin masih memeluknya.
Lengan pria itu melingkar erat di pinggangnya, sementara wajah Kevin bersandar di atas rambutnya. Nafas hangat Kevin menyapu pelipis Bella, membuat jantung gadis itu langsung berdegup tak karuan.
“Ya Allah...” gumam Bella dalam hati, panik. Ia membeku.
Semalam, setelah ancaman dari Tasya datang, Kevin memang bersikeras agar Bella tidak jauh darinya. Cowok itu bahkan duduk di samping Bella sampai gadis itu tenang. Namun Bella sama sekali tidak ingat kapan Kevin akhirnya ikut berbaring di kasur yang sama apalagi sampai memeluknya seperti ini. Bella menelan ludah.
Perlahan, ia mencoba melepaskan diri tanpa membangunkan Kevin. Tapi baru saja tubuhnya bergerak sedikit, pelukan Kevin justru mengencang.
“Jangan gerak,” suara Kevin terdengar serak dan berat, masih dengan mata terpejam.
Bella terkejut setengah mati. “T-Tuan... Anda sudah bangun?”
Kevin membuka mata perlahan. Tatapannya masih sayu karena baru bangun tidur, tapi tetap saja... terlalu tampan untuk ukuran manusia biasa.
“Dari tadi,” jawabnya santai.
Bella langsung memerah sampai telinga.
“Kalau sudah bangun, kenapa masih... masih meluk saya?” protesnya pelan sambil berusaha menyingkirkan tangan Kevin dari pinggangnya.
Kevin menatap wajah Bella yang merah padam, lalu sudut bibirnya terangkat tipis.
“Karena saya nyaman.”
Bella melotot. “Tuan!”
Kevin akhirnya melepas pelukannya, tapi bukannya menjauh, cowok itu justru menopang kepala dengan satu tangan sambil menatap Bella lekat-lekat.
“Kamu tidur nyenyak?”
Bella buru-buru duduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan. “Mana bisa nyenyak kalau semalaman diancam orang.”
Kevin ikut bangun, wajahnya kembali berubah serius saat mengingat pesan dari Tasya.
“Mulai hari ini, kamu jangan keluar sendiri. Ke mana pun harus sama saya. Paham?”
Nada suaranya datar, tegas, dan tidak memberi ruang untuk membantah.
Bella menatap Kevin sejenak. Biasanya ia akan kesal jika Kevin terlalu mengatur, tapi kali ini ia tahu ancaman itu bukan main-main. Apalagi tadi malam ekspresi Kevin benar-benar berbeda dingin, tajam dan seolah siap melakukan apa saja demi melindunginya.
Bella mengangguk pelan. “Iya, Tuan.”
Kevin menatapnya beberapa detik, lalu menghela napas. “Bagus.”
Bella turun dari kasur, berniat mengambil pakaian ganti. Namun baru dua langkah berjalan, ia baru sadar satu hal yang membuatnya langsung membeku.
“Tuan...” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Saya... gak bawa baju kerja yang layak.” Kevin menoleh.
Bella menggigit bibir. “Saya cuma bawa tiga baju, itu juga asal ambil karena berangkatnya mendadak, yang satu sudah saya pakai di perjalanan, satu lagi buat tidur...” Ia menunjuk koper kecilnya dengan wajah pasrah. “Dan yang terakhir... kaos biasa.” Kevin terdiam.
Lalu tanpa berkata apa-apa, ia mengambil ponselnya dan menekan nomor seseorang.
“Antarkan beberapa set pakaian wanita ke hotel. Ukuran...” Kevin menoleh ke Bella dari atas ke bawah.
Bella langsung menutup dada dengan kedua tangan. “Tuan! Jangan lihat-lihat gitu!”
Kevin mengabaikannya. “Ukuran kecil. Formal dan casual. Sekarang.”
Telepon ditutup.
Bella bengong.
“Sudah.”
“Sudah apanya?” tanya Bella masih melotot.
“Baju kamu sedang diantar.”
Bella ternganga. “Segampang itu?”
Kevin mengangkat bahu. “Kalau punya uang, banyak hal jadi gampang.”
Bella mendelik kesal. “Pamer banget sih.”
Kevin justru tersenyum tipis, lalu berjalan ke kamar mandi sambil membawa setelan jasnya.
“Saya kasih kamu waktu dua puluh menit. Habis itu sarapan, lalu kita ke meeting.”
Bella menjulurkan lidah ke arah punggung Kevin saat pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi.
“Menyebalkan. Tapi... baik juga,” gumamnya pelan.
Setengah jam kemudian, Bella kembali dibuat terpana.
Beberapa paper bag dari butik ternama sudah berjejer rapi di sofa. Ada blouse formal, rok span, blazer lembut warna krem, sepatu heels, bahkan tas tangan yang serasi.
Bella memegang salah satu dress dengan tangan gemetar.
“Ini harganya pasti bisa buat saya hidup sebulan,” bisiknya syok.
Kevin yang baru keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih dan celana bahan hitam menatap Bella sekilas.
“Kalau suka, pakai.”
“Suka sih suka...” Bella menelan ludah. “Tapi saya takut ngotorin.”
Kevin berjalan mendekat, mengambil satu set pakaian, lalu meletakkannya ke tangan Bella.
“Pakai yang ini. Cocok buat kamu.” Bella terdiam.
Tatapan Kevin saat memilihkan pakaian untuknya terasa... aneh. Bukan sekadar bos pada sekretaris. Ada sesuatu yang lembut, sesuatu yang membuat dada Bella kembali berdebar.
“Kenapa diam?” tanya Kevin.
Bella tersadar. “Nggak... saya ganti sekarang.”
Ia buru-buru masuk ke kamar mandi dengan wajah merah.
Di depan cermin, Bella menatap dirinya sendiri sambil memegang baju itu erat.
“Bella, sadar. Ini cuma karena situasi berbahaya. Kevin cuma lagi jagain kamu,” gumamnya mencoba menenangkan hati.
Tapi bagian terdalam dirinya tahu, semakin lama bersama Kevin, semakin sulit baginya membohongi perasaan sendiri.
Satu jam kemudian, mereka tiba di gedung perkantoran mewah tempat meeting diadakan.
Bella berjalan di samping Kevin, masih sedikit canggung memakai outfit mahal dan heels yang membuat langkahnya terasa kaku. Sementara Kevin terlihat sangat percaya diri dengan aura dingin dan berwibawa yang membuat orang-orang otomatis menyingkir memberi jalan.
Beberapa orang asing menyapa Kevin dengan hormat.
“Mr. Kevin.”
“Good morning, Sir.”
Kevin hanya mengangguk singkat. Bella yang melihat itu diam-diam kagum, di Indonesia Kevin memang sudah terlihat seperti pria penting, tapi di sini... auranya jauh lebih kuat, seolah ia bukan hanya pengusaha biasa.
Mereka masuk ke ruang meeting besar dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota Singapura.
Bella duduk di sisi Kevin sambil menyiapkan dokumen, selama pertemuan berlangsung, ia benar-benar fokus bekerja. Sesekali Kevin menjelaskan angka, strategi bisnis dan proposal kerja sama dengan bahasa Inggris yang fasih dan tenang, Bella nyaris lupa bernapas.
“Gila... keren banget,” batinnya.