Cincin Bulan Persahabatan

Mencari Mawar

Harus mencari kemana?

Itulah masalahnya. Keyakinanku tidak pernah goyang untuknya, untuk persahabatan. Tapi aku juga sadar, kenyataan tak selalu sesuai dengan angan-angan dan keyakinan. Seusai shalat shubuh berjama’ah di mushola, kusempatkan mengadu kepada Allah agak lama, ”Allah adalah satu-satunya tempat mengadu,” aku teringat pesan Bapak dan Ibu, walau selama ini aku terasa jauh dengan-Nya, setidaknya aku ingin meminta padaNya, agar aku bertemu dengan keyakinanku, cukup bertemu saja untuk meminta maaf. Tidak lebih.

Kuliah telah melewati masa orientasi, aku memasukkan air putih dalam botol kemasan, yang aku beli kemarin di Pasar Minggu sepulang kerja, ke dalam wadah kecil di samping kanan tas. Di halte depan asrama, aku tak menemukan pak Bejan, mungkin belum datang. Aku memasuki bikun terdepan, warna biru saja. Bikun yang ada warna merah di depannya, mempunyai jalur yang berbeda dengan tujuanku ke FE. Di dalamnya ramai dan penuh sesak. Beberapa mahasiswa berebut tempat duduk, yang hanya berada di pinggir kanan dan kiri memanjang. Aku berdesakan berdiri berpegangan pada besi memanjang di atas. Semua mahasiswa serasa saling acuh, tak ada suara. Aku teringat kehidupan di desa yang semuanya serasa satu tubuh, satu keluarga.

Lamunanku tersentak, bukan karena sudah sampai di Fakultasku, bukan pula karena aku berdiri di belakang. Besi pegangan bikun itu bergetar hebat, di kala hatiku resah mendera, menganak pilu. Getaran itu tak terasa di luar, tapi dari dalam hatiku. Sebuah getaran halus, namun terasa menyetrum jiwaku, walau getaran yang tercipta dibarengi dengan getaran beberapa orang di depanku. Ada satu sengatan lembut yang memaksa kepalaku mencari, dari mana getaran lembut itu tercipta, memastikan.

Hanya perasaanku? Kulihat sekitar ada sembilan orang, yang berpegangan lurus di besi di depanku. Dua wanita berada paling depan dan tujuh pria. Semuanya tampak menekuri pikiran masing-masing. Salah satu wanita di barisan kedua menghadap kanan, dia memandangi pemandangan di kanan bikun, mungkin mahasiswa baru.. Kerudungnya ukuran 60cm. Lalu...

Mataku sejenak tertegun pada wanita di barisan depan, walau sedikit tertutup oleh wanita di belakangnya, dan beberapa orang di depanku. Sempat kutatap wajah itu menghadap ke kiri bikun. Matanya begitu indah, wajah bersih bagai bersinar dan tatapannya seolah melalaikanku sejenak dari kehidupan. Dari diakah getaran itu?

Sampai di halte FIB –Fakultas ilmu budaya- wanita berjilbab itu turun. Halte FE sebentar lagi akan sampai, rute bikun yang tidak ada warna merahnya melewati stasiun UI, lalu di pertigaan belok ke kanan dan melewati Fakultas Psikologi, FISIP dan FIB. Setelah itu baru FE. Mataku sempat memperhatikannya, ketika bikun melaju meninggalkan halte.

* * *

Kuliah yang menyenangkan. Aku yang miskin ini sangat bersyukur kepada Allah, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia aku yang dipilih-Nya kuliah, menuntut ilmu, menjadikanku mencintai ilmu itu. Lebih beruntung lagi, aku termasuk yang kuliah di UI. Terlebih lagi, aku masuk kesini dengan mudah dengan Program Pemerataan Kesempatan Belajar (PPKB), yang menikmatinya hanya segelintir orang. Ya Allah, harus kubayar dengan apa semua nikmat-Mu ini, sayangnya kuakui aku belum tahu dengan apa.

Pulang kuliah dengan rindu, rindu ingin kembali lagi esok. Mata kuliah tadi adalah Pengantar Ekonomi dan Pengantar Manajemen. Aku naik bikun sambil tersenym. Sebelum ke Pasar Minggu, aku mempunyai jadwal. Jadwal yang selama ini menjadi tujuan utamaku ke Universitas ini, mencari Mawar. Kuyakinkan di Fakultas Ekonomi, dia tidak ada, karena aku telah mengecek semua nama, dan Mawar tidak ada di antara daftar tersebut. Setidaknya hari ini aku harus mencari ke Fakultas lain.

Apakah aku memang bodoh?

Mencari sebuah nama, di antara delapan belas ribuan lebih mahasiswa, bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami, atau jarum yang dicelupkan di tengah samudera. Tapi keyakinanku terhadap Mawar begitu kuat, hingga menumpulkan pikiranku. Kenapa aku tidak ke Rektorat saja, meminta daftar nama seluruh mahasiswa UI dari setiap Fakultas. Aku berhenti di Rektorat dan mengambil data, Alhamdulillah pihak Rektorat memberikannya, dan aku memfotokopinya. Segera kumasukkan ke dalam tas Boggie biruku, tas kesayanganku, karena bentuknya besar dan warnanya merupakan favoritku.

Aku meneruskan perjalanan, berhenti di samping stasiun kereta api. Masuk gang kecil menuju Pasar Minggu. Rudi, kuli yang sebaya di Pasar Minggu melemparkan senyum kecilnya kearahku. Dia terlihat senang, kami berkenalan kemarin.

Tepat ketika tanganku berjabat dengan Rudi, Adzan dzuhur mendengung. Aku mengajaknya shalat dulu, Senyum kecilnya hilang. Dengan tenang dia memintaku sendirian saja. Aku menganggukkan kepalaku, dan meninggalkannya. Aku harus berdo’a pada Allah untuk mempertemukanku dengan Mawar.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!