Cincin Bulan Persahabatan
Malam Terindah
Aku menulis pesan singkat di Hp-ku untuk keluarga di rumah. Mereka pasti kaget bukan main, ”Aku menikah saat ini juga, segeralah ke Depok. Aku mencintai kalian.”
Beberapa santri datang dan tersenyum kearahku, Syahid masih mengucek-ucek matanya. Dia pasti belum tahu apa yang terjadi. Ketika kutanya dia hanya bilang dibangunkan untuk segera ke Masjid, segera. Sebuah sms masuk.
”Masyaallah, secepat itu Ibu akan mendapatkan bidadari?? Kami bersiap-siap sekarang berangkat, mungkin besok sore baru sampai. Semoga kau diridhai Allah anakku.” aku semakin mantap melangkah.
Ustadz Umair datang. Para santri sekitar dua puluh orang, yang lain mungkin masih terlelap. Aqad mendayu mantap, ijab qabul terucap. Nama isteriku baru kuketahui lengkapnya, ”Zahra Mutaqwiati” Aku telah mendapatkan ketentraman jiwa. Ustadz Umair memelukku erat. Ustadz Wahid juga tersenyum menatapku. Lantunan doa, ”Barakallahulaka wabaraka ’alaiku wajama’abainakuma fikhoiri.” aku diantar Ustadz Umair menuju rumah Ustadz Wahid. Calon isteriku menginap disana. Pak Purwiro memelukku kuat, ”Aku mencintaimu anakku, semoga isterimu, ilmu, hartamu berkah bagimu,” aku mengamininya.
Di depan kamar pengantin. Ustadz Umair menepuk punggungku agak kuat, ”Masuklah, dan jangan mengecewakanku,” senyumnya mengiringi deraian airmata, dia mengusapnya. Dia meninggalkanku.
Aku bingung. Tanganku gemetaran mengetuk pintu pelan, kuucapkan salam. Sebuah suara lembut menjawab salam.
”Masuklah suamiku, pintunya tidak dikunci,” aku membuka pintu itu perlahan. Seorang wanita membelakangiku. Mukena putih bersih masih dipakainya. Aku menutup pintu perlahan. Kamar itu sederhana, hiasannya belumlah sempurna. Hanya ada beberapa bunga di taruh di meja kayu, dan rak buku yang luas. Banyak buku-buku baru dipajang disana.
Dadaku gemetaran, kuraba agar tak lepas jantungku. Sekamar dengan seorang wanita yang tak kukenal? Dia bidadariku? Tapi wajahnya belum kuketahui. Aku duduk dibelakangnya, ikut membelakanginya.
”Berbaliklah isteriku, biarkan aku melihat wajahmu,” jujur dadaku tak kuat lagi kutahan. Rasa penasaran dan ingin tahu berpacu dalam setiap aliran darahku. Seperti apa wajah isteriku? Apakah Ustadz Umair akan rela menjerumuskanku? Tapi aku yakin dengan Allah yang tak akan mendzalimi hambaNya.
”Bersabarlah suamiku. Terangkanlah kepadaku, apa yang kau sukai dan tidak kau sukai dari seseorang agar aku dapat mentaatimu,” suaranya yang lembut telah menggetarkan seluruh jiwaku.
”Aku..., menyukai orang yang sedikit bicara. Dia hanya berbicara jika bermanfaat, aku ingin kau tidak terbahak-bahak jika tertawa, aku ingin kau mengerti keadaanku yang orang miskin harta ini, aku ingin kau menerima cinta Ibuku dan adik-adikku, dan satu hal lagi.”
”Apa itu Suamiku, kini sepenuhnya aku berada di kuasamu.”
”Isteriku harus menerima resiko menikah denganku, dia harus merelakanku dengan ikhlas jika aku pergi untuk urusan Allah, berdakwah untukNya,”
”Insyaallah, adik akan mengusahakan itu semua.” keheningan menyelimuti kamar zafaf itu.
”Sekarang maukah kau membuka tabirmu isteriku?”
”Baiklah, tapi pejamkan dulu matamu suamiku,” aku yang duduk di pinggir ranjang empuk itu memejamkan mata. Sebuah gerakan lembut, tangan kananku disentuhnya dan kecupan lembut mendarat di punggung tangan kananku.
”Sekarang bukalah matamu suamiku,” mataku yang basah memaksa membuka. Aku tertegun, kekagetanku tergantikan rasa manis memandang wajahnya. Wajah pualam, bibirnya yang lembut, matanya jernih dan bening. Wajah bersih itu yang dulu pernah kukejar mengeliling UI, wajah yang dulu kulihat di ruang Fakultas Budaya Sastra. Wanita yang tadi sore kutemui di rumah pak Salim. Dialah adiknya. Kini, semua pertanyaan itu mulai terjawab satu-persatu. Siapa Ustadz Umair? Syaikh Wahid? Lalu Pak Salim? Apakah ini nyata? Dia adalah Mawar. Wanita yang Aku memakai cincin di jemarinya. Cincin yang pernah di pahat almarhum Bapak. Aku menangis tersedu. Rahasia takdirMu yang luar biasa ya Allah.
”Apakah aku menyakitimu suamiku?”