Dia yang Tertinggal
BARISAN ANGKA ACAK 2
Merasa tidak menemukan jawaban dari buku Arkan yang telah dibacanya, Badri mencoba mencari kepingan puzzle lainnya di BA Coffee Shop Sudirman. Dia ingat, rutinitas minum robusta yang selalu dilakukan di Sudirman. Selain mereka berdua, masih ada satu orang lagi yang selalu ada di antara Tamri dan Badri. Dialah Adi Hermawan. Barista pertama yang direkrut oleh Tamri dan Fauzan. Saat ini Adi memegang jabatan sebagai direktur operasional BA Coffee Shop seluruh Indonesia.
Entah mengapa, Badri memiliki firasat kalau ada sesuatu yang diketahui Adi mengenai hubungannya dengan Tamri. Kesimpulan Badri ini bukan tanpa alasan. Tiap kali Tamri mengajaknya menikmati robusta, Tamri selalu mengatakan kepada Adi kalau Adi harus menjaga kesehatannya dan tidak boleh meninggalkan BA Coffee Shop. Adi harus berumur panjang karena suatu hari nanti mungkin saja Badri akan mencari Adi. Ucapan Tamri itu tiba-tiba saja melintas dalam pikiran Badri ketika dia membaca kebiasaan minum kopi antara Arkan dan Tamri.
Tidak sampai sepuluh menit, Badri sudah tiba di BA Coffee Shop Sudirman. Badri memang berkejaran dengan waktu. Untuk saat ini, dia hanya bisa mengajukan cuti selama tujuh hari. Dengan waktu yang sangat singkat ini, Badri dipaksa harus menyelesaikan semua teka teki yang ada di depannya.
Badri mengetuk ruangan Adi. Dia tahu sekali kalau Adi nyaris tidak pernah keluar dari ruangannya kecuali saat dinas ke luar kota. Setelah mendengar jawaban Adi yang menyuruhnya masuk, Badri pun segera masuk.
“Halo, Om. Maaf, aku ganggu,” sapa Badri sambil menghampiri Adi untuk bersalaman.
“Halo, Bad, apa kabar? Om lagi santai, kok, kamu nggak ganggu.” Adi merangkul Badri yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.
“Kamu sibuk terus, ya? Sampai lupa nengokin Om kamu yang udah tua ini.” Adi menepuk pundak Badri pelan.
“Hehehe. Kebetulan lagi banyak banget kerjaan Om. Jadi nggak bisa ditinggal.” Badri mengusap tengkuknya.
“Kamu, nih, perusahaan orang lain kamu urus, terus kapan kamu mau pegang BA? Kasihan Bapak kamu, udah pengin pensiun kayaknya. Om juga sudah tua. Butuh anak muda seperti kamu yang bisa menggantikan di sini.”
“Nantilah, Om. Aku masih belum layak di sini apalagi menggantikan Om sama Bapak. Aku masih belum ada apa-apanya. Om juga belum tua, kok.”
“Lalu kapan Om bisa bebas liburan sama tantemu kalau harus jaga gawang BA terus. Kamu nggak kasihan, lihat Om dimarahi terus sama tante kamu gara-gara sibuk mengurus BA yang sudah tambah gede.”
“Kalau itu, sih, jangan salahkan aku, Om. Salah Om sama Bapak yang ikut-ikutan Papa Tamri gila kerja.”
“Bisa aja kamu jawabnya. Sekarang ada apa kamu ke sini? Bukan karena mau menengok Om, kan? Atau jangan-jangan kiamat udah mau dekat, nih, makanya nggak ada pertanda apa-apa kamu nyasar ke sini.”
Jelas saja Adi bingung. Sejak kuliah lalu kerja, Badri nyaris tidak pernah datang ke kantornya.
“Ada yang mau aku tanyakan, Om. Ini berhubungan sama meninggalnya Papa Tamri dan Datuk Arkan.”
“Rupanya kamu sudah tahu,” sela Adi sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
“Maksud Om?”
“Iya, kalau dugaan Om benar, sepertinya kamu sudah tahu kalau kegiatan minum kopi yang Tamri lakukan bersama kamu itu bukan sekedar minum kopi biasa.”
“Aku malah nggak tahu apa-apa, Om. Apa Om Adi juga tahu kalau aku ini anak Papa Tamri?” tanya Badri penuh selidik.
“Masalah itu, Om juga belum lama tahu. Selama ini Om hanya berpikir Tamri sangat menginginkan anak laki-laki makanya dia begitu menyayangi kamu. Sekitar satu tahun lalu Om baru tahu dari Fauzan kalau kamu memang anaknya Tamri.”
“Aku dikasih buku punya Datuk. Di situ ditulis kalau Datuk sering ngajak Papa minum kopi. Sama persis dengan yang Papa lakukan bareng aku. Tulisan Datuk tentang cerita itu beda sama tulisan-tulisan lainnya. Datuk pakai tinta warna merah khusus di halaman itu. Aku pikir, pasti masih ada yang mereka sembunyikan.”
“Apa yang sama?”
“Takaran kopi dan gula, terus ada juga hitungan yang harus kami sebutkan dulu sebelum minun kopi itu. Apa angka-angka itu ada artinya, Om?”
“Hmmmm bisa jadi. Kamu bisa menyebutkan angka-angkanya?”
“Aku malah lupa, Om. Justru karena itu aku datang ke sini. Sudah lama aku nggak pernah mengingat kombinasi angka-angka itu lagi,” ucap Badri. Tentu saja Badri berbohong. Angka-angka yang diberikan Tamri seolah sudah terpatri dengan begitu rapi di otak Badri. Hanya saja Badri juga masih ingat dengan jelas saat Tamri memintanya untuk tidak menyebutkan angka itu kepada siapa pun. Termasuk Fauzan.
Sesaat Badri melihat ada kilatan kecewa di mata Adi. Badri tidak peduli. Seperti yang dia pernah katakan kepada Pru saat Narti meninggal, jangan percaya siapa pun.
“Kenapa kamu nggak mencatatnya? Angka-angka itu penting banget,” sesal Adi. Dari nada suaranya, Badri jelas bisa menangkap ada kecewa yang dirasakan Adi.
“Aku sama sekali nggak kepikiran kalau itu angka-angka penting. Habis selama ini Papa juga nggak pernah bilang apa-apa tentang angka itu. Aku pikir cuma angka-angka acak saja. Papa iseng mengajak main angka.”
“Papa kamu berpesan, Om harus tetap di sini sampai kamu menanyakan jati diri kamu atau tentang keluarga Rasyid. Bahkan Papa kamu sama Fauzan berani membayar mahal Om supaya Om nggak pergi ke mana-mana. Om juga awalnya nggak tahu kenapa posisi kamu begitu penting di mata Tamri. Ketika itu Om cuma berpikir, Tamri menganggap kamu adalah anaknya yang meninggal saat dilahirkan. Kebetulan kamu juga laki-laki dan sejak bayi sudah berada di sekitar Tamri. Sangat masuk akal kalau Tamri sangat menyayangi kamu. Tapi siapa yang menyangka ternyata kamu itu memang anaknya. Sudah lebih dari lima tahun Om menunggu kapan kamu datang dan bicara tentang hal-hal tidak masuk akal yang berkaitan dengan kamu dan papamu. Entah apa pun itu. Om hanya berharap kamu bisa mengingat lagi angka-angka itu biar penantian Om nggak sia-sia.”
“Memangnya itu angka apa Om?”
“Om juga nggak tahu pastinya. tetapi kamu harus segera menemui orang ini.” Adi mengeluarkan secarik kertas yang sudah lusuh dari dompetnya lalu menyerahkannya ke Badri. “Ini alamatnya. Semoga dia belum pindah.”
“Dia siapa, Om?” Tanya Badri penasaran.
“Teman Papa kamu. Dulunya dia asisten kakek kamu. Om yakin orang ini menyimpan sesuatu tentang kamu dan keluargamu. Sesuai pesan dari papamu, Om harus memberikan alamat ini kepada anaknya jika anak itu datang kepada Om. Dalam pikiran Om, Pruistin yang akan datang, ternyata malah kamu.”
Badri termenung memandangi kertas lusuh di dalam genggamannya. Tertera nama Arif Fajri berikut alamatnya. Badri sedikit menghela nafas ketika membaca alamat yang tertulis – Kuningan. Haruskah dia ke sana? Rasanya Badri sudah tidak punya energi lagi untuk melakukan perjalanan jauh.
***