Dilamar Mokondo yang SALEH

Mogok

Beberapa hari setelah hujan sore itu, kampus kembali ramai.

Mahasiswa berlalu-lalang dari satu gedung ke gedung lain, sebagian berjalan cepat sambil memegang laptop atau gelas kopi plastik.

Zizi keluar dari kelas terakhirnya sambil memeluk laptop. Matahari sudah agak miring, menebarkan cahaya hangat di halaman kampus. Ia berjalan santai melewati pelataran, membiarkan angin sore menyentuh wajahnya.

Langkahnya melambat ketika sampai di depan masjid kampus. Dari dalam terdengar suara kajian. Dua kali dalam sepekan, kampusnya rutin menggelar kegiatan ini, meski hanya satu jam setelah asar.

Zizi berdiri sebentar di anak tangga, mengintip ke dalam lewat pintu yang terbuka. Karpet hijau sudah dipenuhi barisan mahasiswa. 

Ia menghela napas kecil. Hari ini sebenarnya tidak berencana masuk. Tapi entah kenapa kakinya malah berbelok ke sini.

“Ya sudah,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. “Sekali-kali jadi anak salehah, meski aslinya saleheh.”

Zizi duduk di barisan belakang. Tasnya diletakkan di samping, sementara tangannya menopang dagu. 

Suasana di dalam masjid tenang. Hanya suara ustaz yang terdengar jelas. Kajian hari itu membahas tentang arah hidup.

Dia menguap. Matanya mendadak berat. Kenapa kalau dengerin ceramah, tubuhnya seakan lemas, ngantuk? Setan lowbat kah? Kekehnya membatin.

“Seorang muslim seharusnya punya tujuan,” suara ustaz di dalam ruangan. “Bukan hanya rencana dunia, tapi juga rencana menuju akhirat.”

Zizi mendengarkan sambil sesekali mengangguk kecil. Meski jujur saja, pikirannya kadang melayang ke mana-mana.

Beberapa menit kemudian, ketika kajian hampir selesai, seseorang duduk tidak jauh dari tempatnya.

Awalnya Zizi tidak terlalu memperhatikan. Sampai orang-orang mulai berdiri dan bergerak keluar. Barulah ia melihat wajah itu.

Zizi berhenti sebentar di dekat pintu masjid.

Fikri juga tampak sedikit terkejut melihatnya lagi. Ada jeda kecil yang canggung sebelum mereka sama-sama mengangguk.

Lucu juga, pikir Zizi. Baru ketemu sekali, tapi rasanya seperti kenalan lama yang kebetulan sering papasan. Apa jangan-jangan dia CEO yang menyamar? Zizi menunduk mengulum senyum.

Mereka berjalan keluar hampir bersamaan.

Pelataran masjid masih ramai, cahaya sore memantul di lantai yang licin.

Beberapa langkah pertama dilewati dalam diam. Zizi sebenarnya ingin berkata sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Akhirnya ia hanya berkata ringan, “Ramai juga kajiannya.”

Fikri mengangguk pelan. “Lumayan.”

Zizi tidak tahu kenapa, tapi ia merasa pria ini memang bukan tipe yang banyak bicara. Mereka berjalan menuju parkiran. Angin sore bergerak pelan di antara pepohonan kampus.

Zizi melirik sekilas ke arah Fikri. Kemejanya sederhana, lengan digulung sampai siku. Tas ranselnya juga terlihat sudah cukup lama dipakai. Ia terlihat seperti mahasiswa biasa atau mungkin bukan.

Zizi tiba-tiba teringat jaket ojek online yang ia lihat beberapa hari lalu. Pikirannya langsung kembali ke dugaan lama.

Driver… tapi ikut kajian di kampus?

Ia hampir tertawa kecil sendiri memikirkan itu.

Di parkiran, Zizi langsung menuju motornya.

Ia memasukkan kunci dan menekan starter.

Motor itu hanya berbunyi pelan.

Zizi mengerutkan kening. Ia mencoba lagi. Masih sama. “Ayo dong…” gumamnya sambil menepuk-nepuk setang motor pelan.

Starter ditekan lagi. Zizi menatap motornya dengan ekspresi curiga. “Kamu kenapa tiba-tiba begini… ngambek ditinggal lama di sini?”

Tidak jauh dari sana, Fikri yang sudah duduk di motornya memperhatikan sebentar. Ia lalu turun mendekati Zizi. “Ada masalah?”

Zizi menoleh dengan wajah setengah pasrah.

“Kayaknya mogok.”

Fikri mencoba menekan starter sekali. Motor tetap tidak menyala.

“Sepertinya harus ke bengkel.”

Zizi menghela napas panjang. “Ya Allah… kenapa dramanya harus hari ini.”

Tanpa banyak bicara, Fikri sudah memegang setang motor. “Ayo aku dorong pakai motorku. Bengkel ada di depan.”

Zizi langsung menuntun motornya maju lalu Fikri mendorong pelan dari arah kiri, keluar dari parkiran kampus.

Sepanjang jalan, Zizi masih mengomel kecil pada motornya sendiri. “Ini motor sebenarnya baik. Cuma kadang suka cari perhatian, padahal baru dua tahun kita bersama."

Fikri menahan senyum.

Bengkel kecil di depan kampus terlihat cukup ramai. Bau oli langsung menyambut begitu mereka berhenti di depan.

Seorang mekanik memeriksa motor Zizi sebentar, membuka joknya, lalu mencoba menekan starter beberapa kali.

Ia akhirnya menggeleng. “Ini harus ditinggal sampai besok, Mbak.”

Zizi berdiri di samping motornya dengan wajah lelah. “Serius harus ditinggal?”

Mekanik mengangguk. 

Zizi melirik ke jalan raya. "Yakin cuma sampai besok? Nggak sampai nunggu ke pelaminan?"

Fikri terkekeh, "Udah kek orang patah hati gitu sih?"

Zizi cengengesan, tanpa sadar terlalu banyak mengoceh hari ini. Dia lalu menekan ponselnya, mengabari sang mama minta dijemput di bengkel.

Namun, jawaban beliau membuat Zizi memanyunkan bibirnya. Dia diminta pulang sendiri atau menunggu sampai urusan ibunya selesai.

Fikri berdiri beberapa langkah darinya, seolah memberi ruang Zizi berpikir. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia berkata pelan,

“Kalau tidak keberatan… aku bisa antar.”

Zizi menoleh cepat, sebenarnya ingin menolak, tapi kenyataan bahwa ia tidak punya pilihan membuatnya menyerah.

“Boleh… kalau tidak merepotkan.”

Perjalanan pulang terasa cukup tenang. Zizi duduk di belakang sambil memegang tasnya erat-erat. Angin sore berhembus lembut di sepanjang jalan. Zizi sesekali menunjuk arah.

Ketika motor masuk ke kawasan rumahnya, Fikri terlihat sedikit memperlambat laju kendaraan.

Perumahan itu cukup besar. Rumah-rumahnya rapi dan luas. Fikri sempat melirik ke spion

Zizi baru menyadari sesuatu ketika mereka berhenti di depan rumahnya. Fikri tiba-tiba merasa agak canggung.

Ah. Mungkinkah sekarang Fikri mengira dia anak orang kaya atau mahasiswa yang hidupnya terlalu nyaman.

Zizi turun dari motor sambil merapikan pashmina yang hanya dia pakai saat hadir di kajian.

“Terima kasih banyak ya,” katanya tulus.

Fikri hanya mengangguk kecil, ia tidak langsung pergi. Matanya sempat melirik ke arah rumah besar di belakang Zizi.

Zizi tampak sedikit bingung. “Kenapa?"

Fikri mengangkat bahu pelan. “Aku kira kamu anak kos biasa.” Ia menunjuk sepatu dan tas Zizi sebentar. “Penampilan kamu… nggak kelihatan seperti itu.”

Zizi terdiam sebelum akhirnya tertawa kecil. “Jadi Kak Fikri kira aku mahasiswa low budget?”

Fikri tampak sedikit salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya sebentar. Zizi hanya menggeleng sambil tersenyum.

Angin sore lewat pelan di antara mereka. Entah kenapa, Zizi tiba-tiba teringat kajian yang baru saja mereka dengar. Tentang arah hidup.

Ia memiringkan kepala sedikit, menatap Fikri dengan rasa penasaran yang muncul begitu saja. “Kalau boleh tanya…”

Fikri menoleh.

“Kak Fikri punya rencana hidup nggak? Maksudnya… lima tahun ke depan gitu.”

Fikri tampak berpikir sebentar. Tangannya masuk ke saku celana, matanya menatap jalan di depan rumah Zizi.

“Belum tahu pasti,” katanya akhirnya. “Yang penting hidup cukup… dan tetap dekat sama Allah.”

Jawabannya sederhana sekali. Zizi mengangguk pelan. “Pilihan aman ya.”

Fikri tertawa kecil. “Kalau kamu?”

Zizi menunduk sambil memainkan tali tasnya.

Beberapa detik ia tidak menjawab. “Hmmm… aku…” Kalimat itu menggantung di bibirnya. 

.

.

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!