Dinikahi Calon Ipar
Menagih Janji
"Eh, Gita, belanja juga?" Kedua sahabat lama ini langsung berpelukan. Menyingkir dari tempat itu dan membiarkan Deata menyelesaikan pembayaran.
"Alhamdulillah, ini sudah delapan bulan. Kamu ...?" Diana tak melanjutkan pertanyaannya.
"Anakku sudah dua."
"Oh ya? Masyaa Allah, lama tak berkabar tahu-tahu dah berbuntut dua," ujar Diana nyengir. Mereka terlibat obrolan panjang sampai suami Diana mendekat.
"Sudah, Mas?"
"Udah. Yuk!" ajak Desta sembari menarik pinggang sang istri. Saat itulah tatapan matanya bersirobok dengan Gita. Sesaat keduanya terpaku. Kenangan silam masa SMA teringat kembali oleh mereka.
Gita adalah orang yang pernah menolong Diana waktu kecelakaan dulu. Saat itu Diana berlarian ke halte karena ia tak mau ketinggalan UAS. Saat bersamaan ada pengendara sepeda motor dengan kecepatan tinggi melaju dari arah kanan. Spion motor itu menyenggol tubuh Diana membuatnya terjatuh. Untuk hanys luka ringan sehingga ia masih bisa ikut UAS. Gita yang sedang mengendari mobil berhenti menolongnya dan mengantar Diana ke kampus. Sejak saat itu mereka sering ketemu dan menjadi akrab.
"Desta!"
"Gita!"
Keterkejutan dua orang ini memaksa Diana kembali ke alam nyata. Keduanya saling kenal? Saat benak wanita itu masih diliputi rasa penasaran, Gita tanpa diminta menjelaskan.
"Ha-ha-ha, lucu, ya? Dulu kita berpacaran, sekarang kamu malah menikah dengan temanku," ucap perempuan dengan penampilan elegan ini.
Perkataannya cukup mampu menjawab rasa penasaran Diana. Ketiganya lalu terlibat obrolan ringan sampai suami Gita datang.
"Hai Leo!"
"Hai, Des! Wah makin sukses aja nih, pak dokter. Apa wanita cantik ini istrimu?"
Perkataan Leo menciptakan semburat pink di wajah Diana. Dipuji secara terang-terangan oleh pria asing membuatnya tak mampu menyembunyikan rasa malu.
"Ya dia bidadariku. Calon ibu dari anak-anakku," jawabnya sembari mengeratkan tangannya di pinggang sang istri.
"Wah, beruntung sekali kamu. Kupikir kamu akan menikah dengan wanita ular itu!"
Gita langsung menyikut perut suaminya yang ceplas-ceplos tanpa disaring. Merasa tak enak pada Diana yang sangat polos.
"Maksudmu wanita ular?"
Leo tak mengindahkan pelototan sang istri. Ia menjelaskan bahwa selama Desta berhubungan dengan gadis itu, di belakang Meta berhubungan dengan pria lain. Tak hanya satu. Bahkan hampir berganti-ganti tiap pekan. Bahkan satu diantara mereka adalah tan Desta sendiri.
Begitu lihainya Meta bisa menyimpan rapat kebohongannya hingga bertahun-tahun. Entah Desta yang bodoh atau dibutakan cinta.
Namun kini Desta bersyukur karena istrinya bukan dia. Melainkan Diana yang cerdas dan polos. Untuk pertama kalinya ia tak menyesal telah berusaha melecehkan Diana. Karena berkat hal itu dia dipaksa untuk menikahinya.
"Aku terlalu bodoh waktu itu. Dibutakan cinta hingga tak tahu tentang kebenaran yang ada. Ternyata bertahun-tahun aku menjalin hubungan dengan rubah betina. Dan kamu, sebagai teman kenapa nggak mengingatkan?"
Leo melotot dituduh demikian. Pasalnya duku ia pernah mengingatkan pria ini dengan memberi bukti beberapa foto Meta memasuki hotel bersama pria yang berbeda. Namun berakhir babak belur karena dipukuli Desta.
"Kurasa kamu nggak lupa hampir membuatku pingsan waktu itu!"
"Sorry, Bro. Aku kalap," ujarnya sambil menampilkan gigi-giginya yang rapi.
***
Mobil yang ditumpangi pasangan suami-istri itu telah memasuki pelataran rumahnya. Desta memanggil seorang penjaga untuk membawa barang-barangnya masuk.
Suami-istri yang semakin harmonis ini masuk sambil bergandengan. Namun langkah mereka berhenti mendapati ada tamu di ruang depan. Tubuh Diana tiba-tiba membeku.
"Ibu," lirihnya.
Kedua wanita paruh baya itu menoleh serempak. Namun mata wanita yang membersarkan Diana itu langsung tertuju pada tangan Desta yang bertengger di pendak sang istri. Tatapan kecewa sekaligus kebencian terlihat jelas darinya.
"Sayang, kemarilah. Duduk di sini," ucap Mommy sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya.
Seperti kerbau dicocok hidungnya, pasangan muda ini menurut. Duduk berdampingan dengan Mommy yang berhadapan dengan Ibu.
"Ada apa, Bu?" tanya Diana dengan suara bergetar menahan sesak di dada. Orang yang dulu menjadi malaikat pelindungnya, kini menatap benci padanya.
"Aku hanya mau menagih janji pada suamimu!" ucap wanita itu dingin. "Setelah Diana melahirkan, kamu harus segera menceraikannya!"
"Tidak! Saya tidak akan menceraikan istri saya setelah tahu kebusukan putri Anda!"
Wanita itu tertawa sumbang. Seperti orang gila yang terus tertawa terbahak-bahak. Diana merasa ngeri melihat orang yang pernah menjadi teladannya berubah seperti itu.
"Maksudmu seperti apa? Apa perlu kuingatkan siapa yang telah membuatnya jadi seperti itu? Dia masuk bui karena kamu! Kalau kamu tidak menolaknya dia pasti nggak akan berbuat nekat meracuni makanan itu!"
Sorot wanita itu semakin tajam dan mengerikan. Tak ada lagi tatapan lembut dan teduh yang dulu selalu Diana lihat. Wajah keriputnya juga semakin terlihat bengis dengan seringai jahat terpahat di sana.
Kini giliran Desta yang tertawa. Lebih tepatnya menertawakan mantan calon mertuanya. Ibu dan anak sama saja. Benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sekarang ia tahu, sifat licik Meta didapat dari orang tuanya.
"Kamu sudah sepakat akan menceraikannya setelah satu tahun. Kuingatkan janjimu itu kalau kamu lupa. Satu lagi, dulu kamu menolak menikahi Diana karena hanya ingin hidup bersama Meta. Jadi jangan mengelak lagi."
"Itu dulu. Sebelum aku tahu kalau ternyata putrimu juga berselingkuh di belakangku! Bahkan saat aku masih belum mengenal Diana, dia sudah bergonta-ganti pacar layaknya ganti baju. Anda pikir saya tidak tahu?"
Tubuh wanita itu menegang. Keringat dingin mulai membanjiri pelipisnya. Ia tak menyangka semua rahasia putrinya akan terbongkar oleh Desta.
Dulu ibunya memang tak pernah melarang putrinya berhubungan dengan siapapun. Karena dari sana, ia bisa mendapatkan segalanya. Laki-laki yang dipacari putrinya semua orang kaya. Jadi ia tak melarang asal bisa bermain cantik. Siapa sangka setelah perjuangannya, Desta tahu semua.
"Kenapa, Bu? Kaget karena saya tahu semua kebusukan putri Anda? Bahkan aku sangat bersyukur karena Diana lah yang menjadi istriku. Dia yang kalian anggap benalu selama ini, jauh lebih terhormat dari putri Anda!
"Diam! Kamu tak tahu apa-apa tentang putriku! Kamu sudah dibutakan oleh wanita ini! Sasarlah!" Suara Ibu meninggi. Matanya nyalang dengan jari menuding kurus pada Diana yang sejak tadi tak bersuara. Ia lebih memilih untuk menyaksikan saja perdebatan ini.
Sementara Mommy juga tak mau ikut bersuara. Ia merangkul Diana dan menyalurkan ketenangan padanya.
"Justru saya menyesal telah dibutakan oleh putri Anda. Tolong, sekarang keluarlah dari sini, kalau Anda tak ingin ikut menyusul putri Anda di sel!"
Lagi-lagi tubuh wanita ini menegang. Ia merasa nasibnya berada di ujung tanduk sekarang. Lebih baik dia pergi dari sini daripada pria muda di depannya membongkar semua di depan Diana.
Tanpa permisi, wanita itu keluar dan pergi meninggalkan rumah megah itu. Menyisakan tiga orang yang sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Mas?"
"Sudahlah, sayang ... sebaiknya kamu nggak usah memikirkan apa-apa. Biarkan saja orang tua itu mendapat karma atas apa yang di lakukan dulu."
"Sepertinya ada banyak rahasia yang tak kuketahui," lirihnya.
"Itu tidak penting. Yang penting, kamu dan anak kita sehat," ucapnya sambil mengecup puncak kepala Diana yang menunduk kecewa.