Halal tapi Asing
Skak
"Siapa?" tanyaku polos sambil mengedip.
Emina menunjuk dirinya sendiri, "Aku!"
Aku ikut melihat ke arah jarinya lalu mengedip beberapa kali berpura baru memahami sesuatu. "Oalah..." gumamku. "Kamu tersindir? berarti cocok dong."
"Kak Rin!" protesnya.
Aku menyandarkan siku di sandaran sofa lalu menopang dagu dengan telapak tangan dan wajah tenang.
"Emina, ember itu benda," ujarku tersenyum manis. "Ibarat terisi air tapi orangnya suka mampir-mampir, jadi airnya keruh kebanyakan nyerap debu," tuturku.
Emina memejamkan mata sesaat. "Kak Rin jahat."
"Alhamdulillah sadar."i
Ibu Wardah berdeham pelan, berusaha menyembunyikan senyumnya di balik cangkir teh.
Emina yang sadar tidak mendapat dukungan dari siapa pun akhirnya bersandar lesu ke sofa. Namun dasar Emina, menyerah bukan bagian dari karakternya.
"Tapi aku kan peduli."
"Eh, itu kan kalimat orang kepoan," sambarku.
Emina membelalak, tapi aku melanjutkan dengan nada tenang, "Kek maling yang ketauan malah bilangnya khilaf."
"Kak Rin!"
Aku mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Aku belum nuduh apa-apa, kamu heboh sendiri."
Ruangan itu dipenuhi suara tawa yang berusaha ditahan. Bahkan Ibu Wardah akhirnya menutup bibirnya dengan punggung tangan sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Emina melirik mertuanya tak percaya. "Ibu..."
Ibu Wardah berdeham cepat lalu kembali memasang wajah netral. "Apa?"
"Nggak!" kesalnya.
Aku hampir tersedak melihat ekspresi Emina yang tampak dikhianati oleh backingan utamanya.
Beberapa saat kemudian Ibu Wardah berdiri lebih dulu sambil merapikan jilbabnya.
"Ya sudah," ujarnya. "Ibu cuma ingin dengar langsung dari kamu."
Aku ikut berdiri. Beliau menepuk pelan punggung tanganku. "Kalau memang itu membuatmu lebih baik, jalani baik-baik," lanjutnya.
Beliau menatapku beberapa detik sebelum pamit. Sementara itu Emina yang sedari tadi masih memasang wajah terzalimi akhirnya ikut berdiri sambil meraih tasnya kasar.
Saat berjalan menuju pintu, ia sempat menoleh ke arahku. "Aku tersinggung."
"Ya gitu sih kalau ngerasa mah," kekehku akhirnya tak tahan lagi.
Emina memberi tatapan tajam sambil melengos dan menghentakkan kaki saat melewatik.
Tiga menit kemudian mereka benar-benar pergi.
Aku berdiri di teras memperhatikan mobil mereka keluar dari halaman. Begitu menghilang di tikungan kompleks, aku mengembuskan napas panjang sampai bahuku turun.
Alhamdulillah, selamat dari serangan rudal dadakan. Saat hendak masuk kembali ke rumah, ponselku bergetar.
Satu pesan masuk, dari Nivean. Aku membukanya sambil berjalan pelan menuju ruang tamu.
["Ibu datang?"]
Aku berkedip, menatap layar beberapa detik.
["Raz nelepon minta maaf seperti habis disemprot damkar."]
Tanpa sadar aku tertawa kecil sendirian.
Karena rupanya bukan cuma Emina yang kena tausiah ibu, Raz juga.
***
Hari-hari berikutnya berjalan lebih lancar daripada yang kubayangkan.
Awalnya aku datang ke workshop florist itu dengan perasaan seperti murid baru. Jemariku sempat kaku saat membungkus buket pertama, sempat salah menghitung kebutuhan pita, bahkan pernah menjatuhkan satu gulung wrapping paper yang menggelinding melintasi ruangan seperti serdadu Belanda yang kehausan.
Namun perlahan aku mulai menemukan ritmenya. Pagi mengurus rumah, mengantar dan memastikan kebutuhan anak-anak. Lalu beberapa jam di workshop.
Sesekali aku pulang dengan tangan lemas, punggung pegal, tapi Nivean tidak banyak berkomentar.
Beberapa pekan berjalan lancar hingga masalah mulai muncul. Hidup, memang tidak pernah benar-benar peduli pada jadwal yang sudah kita susun rapi.
Hari itu pesanan mendadak masuk menjelang sore. Sebuah perusahaan membutuhkan puluhan rangkaian bunga untuk acara yang akan digelar keesokan paginya.
Workshop mendadak berubah menjadi sarang lebah, semua benda seakan berebut bersuara. Telepon berbunyi. Printer bekerja tanpa jeda. Kotak-kotak bunga berdatangan.
Aku yang baru saja hendak pulang terpaksa menahan langkah dan berdiri di dekat meja kerja sambil menatap jam di dinding lalu menghela napas.
Jemari bergerak cepat mencari kontak Nivean. Panggilan tersambung setelah beberapa dering. "Mas?"
Suara di seberang terdengar lebih sibuk dari biasanya. "Hm?"
Aku menggigit bibir bawah sesaat, "Kayaknya aku telat pulang."
Di seberang sana terdengar suara orang berbicara dan bunyi pintu dibuka tutup. "Ada apa?"
"Pesanan mendadak." Aku menatap rekan-rekan kerja yang sedang lalu-lalang. "Bisa jemput Saff?"
Hening beberapa detik.
Nivean mengembuskan napas pendek. "Aku lagi ada rapat dadakan."
Deg.
Rasa bersalah langsung muncul. "Kalau susah nggak apa-apa, Mas. Aku cari cara lain," ucapku cepat.
"Nggak usah, aku aja yang jemput."
Meski begitu, aku tetap bisa mendengar nada kelelahan yang disembunyikannya.
*
Aku mematikan sambungan telepon lalu menyandarkan punggung ke kursi kerja beberapa saat.
Rapat yang seharusnya selesai satu jam lalu masih menyisakan beberapa pekerjaan. Jam di sudut layar laptop sudah menunjukkan waktu yang biasanya kupakai untuk perjalanan pulang.
Tanganku mengusap wajah pelan sebelum mengembuskan napas panjang sebab harus memutar arah untuk menjemput Saff terlebih dahulu.
Bukan masalah besar sebenarnya. Hanya saja hari ini memang salah satu hari yang melelahkan.
"Belum pulang, Pak?"
Aku menoleh. Pixylia berdiri di ambang pintu sambil membawa map di tangannya. Perempuan itu tampak baru selesai dari ruang meeting.
"Ada sedikit perubahan rencana."
Dia masuk beberapa langkah lalu mengamati wajahku. "Masalah rumah?"
Aku terkekeh, "Enggak juga."
Kukeluarkan jas dari sandaran kursi lalu mulai memakainya. "Cuma harus jemput anak dulu."
"Bu Azarin belum pulang?"
Aku mengancingkan manset sambil mengangguk. "Ada pekerjaan mendadak."
Pixylia berdecak pelan, "Wah..."
Aku menoleh sekilas. Perempuan itu menyilangkan tangan di dada lalu menyandarkan bahu ke kusen pintu. "Mulai sibuk menata karier?" tanyanya.
Aku hanya mengangkat alis, seraya merapikan meja dan memastikan tidak ada yang tertinggal.
"Suaminya jadi ban serep."
Deg.
Aku masih diam, entah karena malas menanggapi atau memang cari aman saja. Pixylia mungkin hanya bercanda.
"Awas aja kalau kebablasan," imbuhnya.
Tanganku berhenti di kancing jas. Aku menatapnya. "Kebablasan?"
Dia mengangkat bahu. "Biasanya begitu kan. Karena selalu diiyakan."
Deg.
Aku tidak suka ucapan Pixylia sebab menyentuh sesuatu yang pernah lewat di pikiranku.
Saat Azarin sibuk, jadwal kami mulai sedikit berubah. Beberapa urusan yang dulu ditangani Azarin mulai harus kubantu.
Bukan keberatan, hanya belum terbiasa. Namun, bagian kecil dari pikiranku bertanya, bagaimana kalau ini berubah terlalu jauh?
Aku tidak pernah membahasnya, karena setiap kali melihat Azarin pulang dengan mata berbinar sambil bercerita soal bunga, keluhan itu terasa tidak lagi penting.
Dan Pixylia menyentil sisi pikiranku yang picik itu. Aku mengembuskan napas pelan. "Overthinkingmu itu sih."
Pixylia malah tertawa, "Bisa jadi."
Aku meraih kunci mobil dari atas meja. Percakapan itu seharusnya selesai sampai di situ. Namun saat aku hampir keluar ruangan, suaranya terdengar lagi.
"Pak."
Aku menoleh.
"Sering-seringlah tersenyum."
Keningku langsung berkerut. "Kenapa?"
"Meski capek, tetap punya kharisma kok."
Aku memejamkan mata sesaat. "Astaghfirullah."
Pixylia langsung tertawa. Aku hanya menggeleng sambil melangkah keluar ruangan.
Namun setelah pintu lift tertutup dan aku benar-benar sendirian, pantulan diriku terlihat samar di dinding lift yang mengilap. Tanganku masuk ke saku celana. Dan pikiranku kembali mengulang percakapan tadi.
"Karena selalu diiyakan."
Aku menatap angka lantai yang terus berganti. Aku tahu apa yang sedang Azarin cari. Istriku tengah berusaha menemukan kembali bagian dirinya yang lama ia simpan.
"Jadi kangen kamu, Sayang."
"Ciyeeeee, Sayang..."
.
.