Istri Pengganti Ustadz

Sahur Pertama

Suara sahur saling menyahuti mulai terdengar di telinga, Hanum terbangun dari tidurnya yang sepi melihat jam dinding menunjukkan pukul setengah tiga malam. 

 
Hanum duduk di tepi ranjang menghusap wajahnya, kemudian dalam keadaan masih suci ia mengambil mukenah lalu menunaikan ibadah sholat tahajud. Hanya itulah yang bisa ia lakukan untuk merayu Allah, bercerita hingga menangis pada sang penciptanya dan percayalah ... tidak ada waktu yang dapat tenang di dunia ini, selain waktu tahajud.
 
 
"Ya Allah ... kubiarkan ramadhan menjadi bulan yang menyembuhkanku, mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan menerima takdir darimu dengan kebahagiaan. Amin ...." Doa Hanum di ujung sholatnya.
 
Hanum menyelesaikan curahannya pada Allah, kemudian bergegas turun kebawah sesekali ia menoleh ke arah pintu kamar suaminya dan Nadin. Memandang pintu itu dalam waktu yang lama. Tidak pernah terbayangkan sekali pun di kepala Hanum, jika ramadhan tahun ini harus bertiga dengan sosok wanita lain bukan seorang anak yang selalu ia impikan.
 
Sutttth .... desisan Ustadz Riza dari bawah tangga membuat Hanum terkejut. "Hey, Sayang! Melamun aja sih!" ucap Ustadz Riza sambil melambaikan tangannya.
 
Alis Hanum menaut, "Apa yang kamu lakukan disini?" tanya perempuan berwajah sangat anggun meski tanpa riasan itu. 
 
"Aku membuat steak kesukaanmu dan membuat sambal bawang ikan asin peda kesukaan Nadin," jawab Ustadz Riza sangat lembut dan sopan.
 
Hanum mengulum bibirnya, ntah mengapa kali ini meski Ustadz Riza sudah membuat masakan untuk dirinya ia malah merasa sakit. Sampai ia lupa untuk mengucap kata terima kasih pada sang suami seperti hari biasanya. 
 
"Sweet sekali, rasanya baru menikah kemarin sudah tau makanan favoritnya apa," katanya dengan melangkah ke arah meja makan yang sudah tertata rapih makanan di atasnya.
 
 
Ustadz Riza berdiri mematung sambil mengulum senyum, ia tahu jika Hanum sedang cemburu lalu dengan langkah kecil Ustadz Riza menghampiri Hanum duduk di sampingnya. Menatap mata Hanum dalam hingga istri tercintanya itu tersipu malu bagaikan bunga putri malu yang meredup jika di sentuh. Sontak Hanum menutup wajahnya sambil mencubit bahu Ustadz Riza.
 
Argh!!! 
 
Teriak Ustadz Riza, "Sakit, Sayang!" keluhnya. 
 
Hanum mencebik, "Siapa yang mulai? Ngeliatin orang nyampek segitunya ... haram tau!" canda Hanum seraya menyondongkan bibirnya.
 
"Aku hanya menatap wajah istriku yang sedang cemburu, itu sangat halal, Sayang ...," goda Ustadz Riza. 
 
Bola mata Hanum terbelalak, ia malu ketahuan suaminya jika ia cemburu pada Nadin yang telah sah menjadi istrinya. Sontak Hanum menggelengkan kepala untuk mengelak. 
 
Kemudian Ustadz Riza terkekeh seraya menghusap kepala Hanum. "Sayang, denger yaa ... wanita itu hebat dalam keadaan apa pun, mampu menahan derita yang luar biasa sakit, tapi belum tentu mampu menyembunyikan rasa cemburunya walau sedetik." 
 
 
"Maaf, Mas." Seketika Hanum menunduk merasa bersalah oleh sikapnya yang kekanakan.
 
Ustadz Riza tersenyum, " Ndak apa, Sayang. Nggak perlu sampai meminta maaf," ujar Ustadz Riza sambil mengambil sepiring steak wagyu ingin menyendokkan ke dalam mulut Hanum.
 
Hanum menghindar dengan cepat. "Nadin? Dimana dia, Mas? Kenapa nggak sahur? Ini kan sahur pertamanya bareng kita?" tanya Hanum heran tidak mendapati madunya sejak tadi.
 
Kemudian Ustadz Riza menaruh sendok yang belum sempat ia suapkan untuk Hanum lalu menggeleng. "Hanum enggan untuk sahur bersama ...," jawab Ustadz Riza pelan membuat Hanum menautkan alisnya. "Tapi nggak apa, Sayang ... nanti setelah kita sahur, mas bawakan makanannya ke atas," lanjutnya.
 
 
Hanum masih menatap wajah Ustadz Riza terheran-heran, sedangkan Ustadz Riza seolah tidak ingin membahas hal itu lagi dan mengalihkan membaca doa niat sahur lalu menyendokkan nasi ke dalam piringnya. 
 
Namun, di saat Ustadz Riza ingin menyendokkan makanan ke dalam mulut, Hanum lantas menahannya. Mengambil lengan Ustadz Riza dan bangkit dari tempat duduk. Hanum melangkah cepat sambil menggandeng lengan suaminya. 
 
"Kita bangunkan, Nadin! Meski dia istrimu seharusnya kau bisa lebih tegas padanya!!" celoteh Hanum, sikapnya mulai kembali seperti di pondok tegas dan keras membangunkan para santri yang malas untuk bangun sahur.
 
"Hanum ...."
 
Panggilan Ustadz Riza terabaikan oleh Hanum.
 
"Sayang, dengarkan dulu penjelasanku." 
 
Hanum tetap melangkah cepat menuju kamar Nadin.
 
"Sayang ....," panggil Ustadz Riza kembali, tetapi lagi-lagi hanya diabaikan oleh Hanum.
 
Cklek!!!
 
Hanum masuk tanpa mengetuk pintu kamar dan terkejut melihat Nadin meringkuk di dalam selimut sambil menangis. "Astaghfirullah, Nadin. Kamu kenapa?" tanya Hanum menyingkap selimut Nadin pelan. Ia melihat tangan anak itu gemetaran wajahnya penuh dengan noda air mata.
 
"Apa yang membuatnya takut, Mas?" tanya Hanum menoleh pada suaminya.
 
Ustadz Riza hanya diam takut untuk mengatakan sesuatu.
 
"Nadin ... apa yang membuatmu sampai ketakutan seperti ini?" tanyanya sambil membersihkan wajah Nadin lembut.
 
Nadin yang selalu merasa aman di dekat Hanum pun akhirnya mulai duduk di atas ranjang menghadap pada Hanum, menatap wajah Hanum beberapa detik lalu kepalanya menunduk seketika. "Aku takut pada diriku sendiri ... Umi," lirih seorang anak yang menyesal telah hadir menjadi orang ke tiga di dalam rumah ini, air matanya kembali menetes tidak sengaja.
 
Hanum melebarkan bibirnya, mengambil dagu Nadin lalu menatapnya sendu. "Coba jelaskan pada, Umi. Apa yang kamu takuti dalam dirimu?" tanya wanita yang sedang tidak memakai cadarnya. 
 
Namun, alih-alih menjawab ... Nadin malah menangis berhambur memeluk Hanum. "Aku takut ... aku merusak kebahagiaan, Umi!" jawab Nadin cepat. 
 
Hanum mendorong tubuh Nadin pelan, menatap wajahnya dalam. "Umi bahagia ... Nadin yang abi nikahi bukan orang lain." 
 
Nadin tetap menggeleng, wajahnya masih ia tundukkan. 
 
"Tadi dia mengintip saat aku sedang ke kamarmu dari celah pintu slide, dia melihat semuanya." Ustadz Riza berbisik pada Hanum.
 
Mendengar perkataan itu raut wajah Hanum berubah menjadi lebih tegas. "NADIN! APA BENAR YANG DIKATAKAN ABI, JIKA TADI KAMU MENGINTIP KE DALAM KAMAR UMI?" tanya Hanum menaikkan nadanya satu oktaf. 
 
Nadin yang terkejut berubah menjadi tegang. "Maaf, Umi! Nadin nggak bermaksut, Nadin hanya ingin memastikan Umi dan Abi tidak lagi marah," jawabnya gemetar.
 
Hanum menarik napas panjang, kemudian bangkit dan berdiri menghadap pada Nadin. "Nadin ... apa pun alasannya itu nggak sopan! Jangan kamu ulangi lagi, paham?!" suara Hanum meninggi terdengar seperti membentak. 
 
"Siap, Umi. Maaf ...."
 
Hanum menggenggam tangan Nadin dan mengajaknya untuk makan sahur bersama, "Kita sahur pertama ya ... sudah lupakan saja, Umi seperti itu ada banyak hal yang tidak bisa kamu ketahui dan sebabnya bukan dirimu!" ujar Hanum sembari melangkah keluar menggandeng lengan Nadin. 
 
Sedangkan Ustadz Riza hanya mematung dan mengikuti, sebagai suami yang beristri dua ... dia tidak pantas mengikut campurkan masalah kedua istrinya dengan pembelaan yang malah akan memperkeruh suasana. 
 
***
 
Ketiganya kini telah berkumpul di meja makan, Ustadz Riza menuntun doa niat sahur dan mereka makan dengan lahap menikmati suguhan yang dibuat oleh Ustadz Riza untuk kedua ratunya.
 
Sesekali Hanum mencuri pandang pada Nadin, 'Aku senang memilikinya ya Allah ...,' batinnya. 
 
Namun, pandangan Hanum yang ditujukan pada Nadin terlalu lama. Hingga ia ketahuan dan Nadin membalas tatapan itu. 
 
Saat keduanya saling bertatapan, dering ponsel Hanum terdengar melengking dari atas. Hanum hendak mengambilnya, tetapi Nadin menawarkan diri untuk mengambil ponsel Hanum. "Biar aku saja, Umi!" tawarnya sambil berlari.
 
Setibanya Nadin memberikan ponsel Hanum, lagi-lagi ia dibuat gelagapan dengan isi pesan yang ada di dalam ponselnya. 
 
[Umi di depan, tolong buka kan pintu]
 
Hanum tidak menyangka, Umi secara tiba-tiba datang ke rumah secara mendadak saat waktu sahur pula. Ia memandang suaminya lalu melangkah untuk membuka pintu.
 
Cklek! 
 
Umi menoleh ke belakang, dirinya kusut, matanya sembab dan sangat berantakan. "Umi sendirian? Ada apa? Ayuk masuk dulu." 
 
Wanita separuh baya itu menggeleng, "Umi hanya ingin menjemputmu, Nak ...," lirihnya serak.
 
Perasaan hati Hanum tak menentu, tidak biasanya Umi datang sendirian tanpa Kyai. Dia terus bertanya keberadaan Kyai, tetapi Umi hanya tetap diam saja membuat Hanum semakin khawatir.
 
Belum terjawab pasti pertanyaan Hanum tentang Kyai, Nadin malah datang membuat Hanum semakin gelagapan. "Bu Nyai?" panggil Nadin dari belakang yang membuat Umi menoleh pada Hanum dengan pandangan bingung. 

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!