Jatuh Cinta di Tanah Lada
Sastra, Tentang Jatuh Cinta dan Patah Hati
Arum sepakat dengan pendapat tersebut. Kendala yang cukup signifikan adalah bahasa, karena untuk bahasa saja masih belum sepakat. Tidak ada bahasa umum atau bahasa baku yang dipakai dan disepakati oleh penduduk di pesisir. Padahal bahasa adalah bahan baku utama dalam sastra. Ia merasa tertantang, mengingat bidangnya sebagai penulis.
"Sastra yang paling langka hari ini adalah warahan. Biasanya para nenek bercerita atau mendongeng sambil menyisipkan pesan saat seorang anak akan tidur. Sastra dan budaya tidak dikenalkan sejak dini. Bukti nyata, anak-anak sekarang tidak memahami Bahasa Lampung. Kita tidak punya literasi yang riil dari lapangan. Tidak ada satu buku atau literasi yang bisa sama-sama dijadikan rujukan. Karena hampir semuanya fiksi." Jumadi memaparkan bagaimana kondisi bahasa saat ini.
"Ada banyak pergeseran atau perubahan tapi harus kita maklumi. Kalau tidak dimaklumi, lambat laun akan hilang. Tiap tahun ada perlombaan nyambai, setidaknya ada peran untuk menjaga nyambai tetap terjaga. Kami ingin ada satu tindakan nyata dari semua pihak misal ada pelajaran khusus untuk belajar sastra lisan. Pemerintah punya peran dalam menentukan pelajaran khusus seperti sastra baik lisan maupun tulisan. Ajarkan anak-anak untuk menulis dengan Bahasa Lampung. Tapi harus fokus mengajarkan menulis dengan bahasa masing-masing daerah. Tidak bisa memaksa masyarakat Liwa harus sama dalam segi bahasa dengan Balik Bukit," lanjut Jumadi.
Arum mencatat dengan cepat. Ia merasa seperti menemukan harta karun pengetahuan. Fakta lain terungkap, di Lampung Barat, sebenarnya pantun sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Semua perkataan yang diucapkan hampir seluruhnya memakai rima. Sekarang, situasi seperti itu sudah mulai langka. Bisa dihitung dengan para pelaku yang mendalami hahiwang, muayak, pantun, warahan, dan bentuk sastra lainnya.
Orkes gambus yang sekarang mulai menjamur lagi pun hanya digandrungi oleh orang tua. Bukan anak muda. Salah satu penyebabnya adalah gempuran media sosial. Selain itu, kegiatan-kegiatan untuk menggali sastra Lampung sangat terbatas dengan alasan klasik, tidak ada dananya.
Masalah lain, seni nyambai yang kini sudah mulai banyak dikenal lagi, mengalami pergeseran. Menurut aturan yang seharusnya, ada empat orang yang naik ke panggung untuk tampil, merekalah yang bisa berpantun atau bertutur, yang lain hanya menonton. Sekarang tidak. Justru yang empat orang itu menari dan yang lain menyanyi.
Saat ini kegiatan seperti itu pun hanya dilakukan ketika pesta pernikahan. Padahal untuk nyambai, ada ritual sendiri yang harus diikuti. Keberadaan seni lokal menjadi sesuatu yang asing. Belum lagi tata titih atau pola perilaku adab masyarakat Lampung sudah banyak bergeser. Bahkan nangguh atau bicara yang menggunakan bahasa perwatin sudah jarang yang mau melakukannya.
Sejatinya, budaya itu harus memenuhi tiga unsur yang melekat. Ada ketertarikan dari diri seseorang dan memiliki kecenderungan ikut yang tinggi ketika seseorang mengamati sesuatu yang menurut dia bagus dan memberikan kesan positif; seseorang pernah mendengar tentang budaya dan siapa yang menyampaikannya; setelah mengamati dan mendengar, seseorang punya kemampuan untuk turut serta merasakan. Ketika tiga itu tidak ada, sulit untuk menggerakkan sesuatu atau budaya.
"Hari ini pergeseran itu pasti terjadi dan harus dihadapi. Kalau tidak, ya tidak akan berkembang. Kecenderungan orang belajar budaya makin sedikit karena dulu nenek moyang kita sudah berkecukupan sandang, pangan, dan papan. Jadi mereka punya waktu yang cukup untuk latihan dan mempelajari kebudayaan. Cukupkan dulu para maestro budaya agar mereka punya waktu untuk kegiatan budaya. Efek negatif dari kondisi tidak cukup atau kekurangan itu adanya pemberian uang dalam bentuk sawer yang saat ini sudah menjadi budaya. Jadi semua kegiatan dilakukan semata-mata untuk uang." Pendapat tersebut dikemukakan oleh Junaidi. Salah seorang dari empat raja yang hadir.
Arum termenung. Baru beberapa bulan lalu Arum mengikuti workshop tentang Bahasa Lampung yang sedang menuju punah. Ternyata hal itu bukan sekadar wacana. Menilik pengalaman Rama Saputra, seorang guru SD dari Kenali, Bahasa Lampung ini masuk dalam kategori rentan terhadap penuturnya. Apalagi kalau berbicara tentang sastra.
Dalam Festival Tunas Bahasa Ibu dengan sasaran utama siswa-siswi SD dan SMP, terasa sekali para guru cukup kesulitan mencari peserta yang dapat berpartisipasi. Dari segi modul pun yang ada di sekolah adalah modul berbahasa Indonesia yang diterjemahkan dan para murid tugasnya hanya menulis atau mengenal aksara saja. Meski hasilnya Lampung Barat mendapat predikat juara umum, tetap diperlukan kerja keras mengejar ketinggalan.
Upaya yang coba dilakukan untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah mengumpulkan para guru utama dan mengundang guru Bahasa Lampung. Hasilnya ternyata lebih miris lagi. Hampir tidak ada guru Bahasa Lampung yang benar-benar mendalami Bahasa Lampung. Bahkan banyak yang pindah menjadi guru Bahasa Indonesia karena dalam sistem pendidikan, tidak ada jurusan Bahasa Lampung.
Pekon Hujung sendiri patut berbangga hati karena mungkin jika tidak ada acara seperti Pesagi Festival Culture, tidak akan ada kesempatan untuk berkumpul dan membicarakan sastra. Jangankan sastra lisan, banyak sekali seni di beberapa pekon yang akan tergerus habis kalau tidak ada upaya untuk melestarikannya. Untuk Pekon Hujung, dalam kurun waktu lima tahun ini diadakan pekan seni rakyat dalam bentuk nyambai.
Terkait sastra lisan, bagi generasi terdahulu, mungkin hahiwang dan yang lainnya memang menarik. Tapi zaman sekarang, marok saja sudah sangat jarang. Anak-anak muda, bujang gadis agak kebingungan dengan marok sehingga perlu dilakukan pembinaan. Padahal, Pekon Hujung memiliki pembina bidang seni.
Arum memeriksa ulang catatan yang dibuatnya. Ia memastikan tidak ada hal penting yang terlewat. Tak lupa, Arum juga merekam diskusi tadi dengan alat perekam yang selalu dia bawa ke mana pun sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu dia tidak sempat mencatat.
Diskusi yang berlangsung seru itu melahirkan rekomendasi agar segera dilakukan pendokumentasian terhadap sastra lisan Lampung. Kali ini acara ditutup oleh Mbak Yuli. Empat raja dari empat paksi yang bisa hadir tampak serius menyimak dan mencatat. Sebagai orang-orang yang memiliki kedudukan penting di masyarakat, peran mereka tentunya akan sangat membantu.
Melihat bagaimana diskusi berjalan, Arum dibuat kagum dengan cara mereka menyampaikan pikirannya. Nyata sekali kalau masyarakat di Pekon Hujung ini memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Cara mereka bertutur sangat runut dan mudah dipahami. Tidak salah jika Nursan pernah mengatakan, para orang tua di Liwa tak akan segan mengirim anak-anak mereka untuk merantau dan bersekolah jauh di Bandar Lampung sejak anak-anak masih belia.
Bahasa yang tertata, struktur kalimat yang begitu rapi, penyampaian yang santun, membuat Arum bisa membayangkan betapa para leluhur mereka begitu menjunjung tinggi pendidikan. Wajar saja jika Liwa melahirkan peradaban yang demikian tinggi.
Bagi Arum, hanya ada dua hal yang bisa melahirkan karya sastra luar biasa: jatuh cinta dan patah hati. Namun, di Pekon Hujung ini Arum menemukan fakta lain. Sastra bukan hanya bahasa cinta. Sastra adalah kehidupan sehari-hari masyarakat di sana.
***