Jatuh Cinta di Tanah Lada
Aku Senang Kamu di Sini 1
Pagi masih hangat kuku, embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan di Hujung. Setelah semalaman merenung, Nursan merasa ada kelegaan yang membayang. Ia melangkah pasti menuju area festival, di mana keramaian mulai terbentuk. Ditemukannya Arum sedang menyelesaikan sarapan yang sedikit terlambat, menyaksikan kehebohan di lokasi utama Pesagi Culture Festival.
Ahmad Susantri, atau Santri, berhasil menggoyang panggung dengan gerakan senamnya yang kocak, memicu tawa riuh dari remaja dan ibu-ibu yang antusias. Arum sendiri sampai sakit perut karena tertawa.
"Apa rencana kamu selanjutnya?" Nursan memandang Arum, menarik bangku di sampingnya dan duduk dengan santai, sebelum menyeruput kopinya.
"Aku mau ke Krui. Acara teman-teman DKL dimulai besok jam delapan pagi. Mungkin kami berangkat nanti malam."
"Hanya acara itu?"
"Iya."
"Mau aku antar?"
"Kamu? Nganter aku ke Krui? Kurang kerjaan."
"Aku serius. Kita bisa berangkat sore ini. Kamu ada masalah kalau aku antar?"
"Aku nggak masalah. Tapi Fikri? Bukannya kalian datang bersama?"
"Dia bukan anak gadis yang harus aku jaga."
"Oke kalau begitu. Terima kasih ya."
"Rum, mau jalan-jalan sebentar?"
"Ke mana? Sebentar lagi acara marok. Aku mau lihat."
"Sebentar aja, Rum. Ada yang mau aku tunjukkan. Kalau berangkat sekarang, kita masih sempat melihat acara marok."
Arum tahu, ajakan Nursan bukan sebuah permintaan yang bisa dia tolak. Nursan tidak sedang meminta kesediaannya, tapi memberikan perintah agar dirinya ikut. Tak mau berdebat, Arum berdiri. Mengikuti langkah Nursan dalam diam.
Mereka berjalan perlahan di antara sedikit kebun lada dan kebun kopi yang membentang rapi di lereng Gunung Pesagi. Sulur-sulur lada merambat di tiang-tiang kayu, menjulang setinggi dada. Daun-daunnya lebat, hijau tua, basah oleh embun yang belum sepenuhnya menguap. Langkah mereka terayun pelan di atas tanah liat yang masih lembut, sesekali licin oleh lumut yang tumbuh diam-diam di bawah teduh pohon.
Arum menatap sekeliling, menahan tanya yang sejak tadi berkecamuk dalam kepala. Tapi langkah Nursan yang mantap membuatnya memilih diam, setidaknya sampai mereka tiba di tujuan.
"Aku suka tempat ini," ujar Nursan tiba-tiba. Suaranya tenang, seolah menyatu dengan desir angin di sela-sela batang lada. "Tenang. Wangi. Nggak banyak yang tahu jalur ini."
Arum tersenyum kecil. "Kelihatan. Jangankan tahu, lewat sini aja mungkin banyak yang belum pernah."
Nursan melangkah keluar dari deretan kebun, menyibak semak rendah, lalu menunjuk ke sebuah batu besar yang mencuat di tepi lereng. "Duduk sebentar di situ, yuk. Kita bisa lihat hampir seluruh Suoh dari sini."
Mereka duduk berdampingan. Di depan mereka hamparan lembah Suoh menggelar, seperti lukisan hidup. Sawah-sawah berbentuk petak tak teratur, kabut tipis yang masih menggantung di beberapa titik, dan garis samar Danau Ranau yang berkilau di kejauhan. Gunung Seminung berdiri angkuh di sisi lain, seolah menjadi penjaga waktu yang tak pernah lelah.
"Aku suka tempat tinggi kayak gini," kata Arum pelan. "Rasanya kayak... semuanya kelihatan. Tapi juga terasa jauh."
Nursan mengangguk. "Makanya aku bawa kamu ke sini."
Arum menoleh, menunggu penjelasan.
"Karena kadang, sebelum kita melangkah, kita perlu lihat dari atas. Supaya tahu ke mana arah kita sebenarnya."
Arum masih menatapnya, menunggu.
"Festival ini bukan cuma pentas dan tenda-tenda. Ini juga ajang pembuktian. Banyak yang berharap, tapi juga banyak yang diam-diam menunggu gagal."
Angin berembus lebih dingin. Arum menarik napas panjang. Dalam hatinya, sesuatu perlahan-lahan mulai mengendap. Bukan jawaban, tapi mungkin, niat.
"Rum," kata Nursan, suaranya berat. "Ada yang perlu kamu tahu."
Arum menoleh, merasa sesuatu yang penting akan disampaikan. Nursan memandang jauh ke depan, ke arah keramaian yang semakin memadat.
"Ini bukan hanya soal festival atau kegiatan. Ini tentang pesan ayahku sebelum dia pergi untuk selamanya."
Arum terkejut. Ia tahu Nursan tidak suka banyak bercerita tentang keluarganya, apalagi soal ayahnya. Menurut Fikri, ayah Nursan adalah seorang tokoh yang dihormati di Liwa, seorang yang banyak memberikan pengaruh, terutama dalam hal budaya dan pendidikan. Namun, setelah ayahnya meninggal, Nursan memilih untuk tidak terlalu mengenang atau membicarakan tentangnya.
"Ayahku meninggalkan wasiat," lanjut Nursan, matanya masih tak lepas dari kerumunan di depan mereka. "Wasiat yang selalu aku bawa, tapi jarang aku ceritakan. Dia bilang, harus ada yang mengabadikan budaya Lampung lewat tulisan. Itu satu-satunya cara agar suara kami tidak hilang. Agar cerita kami, tradisi kami, bisa tetap hidup."
Arum terdiam mendengar kata-kata itu. Hatinya bergetar, seperti ada sebuah panggilan yang harus dijawab. Selama ini, ia selalu merasa terhubung dengan akar budaya Lampung lewat Nursan, tapi Arum tidak pernah menyadari seberapa pentingnya hal itu hingga pagi ini.
"Ayahku tidak meminta aku untuk jadi penulis besar, Rum. Tidak ada tuntutan itu. Tapi dia percaya, tulisan akan menjadi saksi," lanjut Nursan, suaranya mulai terdengar lebih lembut. "Aku sudah lama bingung bagaimana mewujudkan itu. Tapi, mungkin ini saatnya. Mungkin kamu yang bisa membantuku."
Arum menatap Nursan, lalu perlahan mengangguk. Rasanya ada beban besar yang kini terpasang di pundaknya. Tapi juga ada semangat baru yang mengalir.
"Jadi, kamu ingin aku... menulis? Menulis tentang Lampung, tentang budaya Lampung?" tanya Arum, masih merasa tak percaya.
"Ya," jawab Nursan singkat, lalu melanjutkan, "Tulislah apa yang kamu lihat, apa yang kita alami di sini. Apa yang mungkin tak akan pernah terdengar di luar sana. Lampung punya cerita yang tak banyak diketahui orang. Itu yang harus kita jaga. Aku tahu kamu bisa."
Arum terdiam sejenak, mencerna semua kata-kata itu. Ia memandang ke arah langit yang mulai terlihat terik. Ia tahu, perjalanan ini bukan hanya tentang dia dan Nursan atau tentang acara yang sedang berlangsung di Hujung. Ini tentang warisan, tentang sesuatu yang lebih besar dari apa yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari.
"Aku akan menulis," kata Arum akhirnya, dengan keyakinan baru yang tumbuh dalam dirinya.
Nursan tersenyum penuh arti. Mereka berdua berdiri dalam diam, seolah memahami bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.
"Rum, boleh aku tanya sesuatu?"
"Dari tadi juga kamu udah banyak tanya."
"Ini masalah pribadi. Aku takut kamu tersinggung."
"Tentang aku yang belum menikah?"
"Kamu ..."
"Aku sudah terbiasa dengan pertanyaan itu. Butuh waktu bertahun-tahun untuk membiasakan telingaku mendengar pertanyaan itu. Aku juga harus melatih mataku menghadapi beragam tatapan, seolah aku berbuat kesalahan hanya karena belum menikah."
"Pasti berat, ya?"
"Menurut kamu? Aku tahu, kamu juga pasti mendapat pertanyaan itu dari banyak orang atau keluarga."
"Mungkin berbeda, Rum. Aku laki-laki. Rasanya tekanan itu tidak terlalu berat bagiku. Memang benar, selalu ada pertanyaan dan tatapan yang membuatku tidak nyaman."
"Atau mungkin karena kamu pernah menikah sebelumnya. Jadi kamu tidak menganggap menikah lagi itu suatu beban."
"Bisa jadi. Kamu sendiri bagaimana?"
"Ya itu, butuh waktu lama banget sampai aku bisa menerima kondisi ini. Fase kritisku sepertinya di umur 30-an. Aku tinggal di Bogor dan kerja di Jakarta, sebenarnya tidak ada yang menggangguku di lingkungan rumah dan kerjaan. Tapi kalau sudah pulang ke Lampung apalagi saat lebaran, aku merasa jadi alien yang tersesat. Hampir enam tahun aku nggak pulang. Tepatnya setelah Hadi menikah. Bapak dan ibuku berubah. Pernikahan menjadi tuntutan. Mereka selalu bilang, 'sebelum bapak ibu meninggal ingin melihat kamu menikah'. Jawaban apapun yang aku berikan, tidak pernah membuat mereka berhenti bertanya."
***