Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan

"Alya! Cepat! Si Soni sudah menunggu!" Suara melengking itu mengoyak keheningan pagi.

Alya menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata di depan cermin. Gaun hitam ketat dengan belahan dada rendah itu terasa seperti belenggu, mencekik setiap inci kebebasannya. Aroma parfum murahan menusuk hidung, dan lipstik merah menyala di bibirnya terasa asing. Ia seperti boneka porselen yang dipaksa berdandan untuk sebuah pertunjukan. Di belakangnya, sosok Ratna, ibu angkatnya, berdiri dengan tangan di pinggang, wajahnya keras dan penuh tuntutan.

"Alya, kamu dengar tidak?" tanya Ratna dengan nada tak sabar, "Cepat! Pak Soni tidak suka menunggu!"

Tangan Ratna menarik paksa Alya ke depan, memaksanya duduk di kursi rias. Di depannya, Ratna membuka kotak rias dengan gerakan kasar. Spons bedak menari-nari di wajah Alya, menciptakan lapisan tebal yang terasa seperti topeng. Eyeliner hitam pekat ditarik di kelopak matanya, menciptakan garis tajam yang aneh.

"Ibu... aku tidak bisa," bisik Alya. Suaranya serak, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak mau."

"Tidak mau apa? Menikah dengan Pak Soni?" jawab Ratna sinis, "Alya, kamu harusnya berterima kasih. Siapa yang mau dengan gadis sepertimu? Pak Soni itu kaya, dia bisa memberimu segalanya. Apa kamu mau hidup miskin seperti ibu dan bapakmu?"

Alya terdiam, kenangan pahit kembali menghantui. Sejak kecil, Ratna selalu menanamkan kebencian dalam hatinya terhadap orang tua kandungnya. Ia selalu diperlakukan seperti beban, hanya berguna sebagai alat untuk mendapatkan uang.

"Tapi, Bu... Pak Soni sudah beristri," ucap Alya lirih, "Aku tidak mau jadi istri kedua."

"Istri kedua?" Ratna tertawa, "Alya, Pak Soni itu bukan suami biasa. Dia rentenir! Istrinya sakit-sakitan, tidak akan lama lagi. Setelah itu, kamu akan jadi nyonya besar! Kamu mau jadi miskin atau kaya raya?"

Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, air mata menetes di pipinya. Ia tidak bisa lagi menahan sakit di dadanya. Perasaan sesak dan putus asa menggerogoti jiwanya. Ia merasa seperti burung yang terjebak di sangkar emas, tidak bisa melarikan diri.

"Sudah! Jangan menangis!" Ratna menggerutu, "Nanti make up-nya luntur!"

Alya menghapus air mata dengan punggung tangannya. Ia melihat bayangan dirinya di cermin, seorang gadis asing yang terlihat seperti boneka pajangan. Ia tidak mengenali dirinya sendiri.

"Ayo!" Ratna menarik tangan Alya, "Pak Soni sudah menunggu!"

Dengan langkah gontai, Alya berjalan ke ruang tamu. Aroma asap rokok dan parfum mahal langsung menyambutnya. Sosok Pak Soni, pria tua dengan perut buncit dan mata keruh, duduk di sofa, senyum liciknya terukir di bibirnya. Di sebelahnya, ada Pak Andi, ayah angkat Alya, yang terlihat cemas dan gelisah.

"Alya, cepat duduk!" Pak Andi menunjuk sofa di sebelah Pak Soni.

Alya duduk dengan canggung. Ia berusaha menghindari tatapan Pak Soni, tetapi mata pria itu terus menatapnya dengan penuh nafsu.

"Jadi, ini Alya?" tanya Pak Soni dengan suara serak, "Cantik sekali. Tidak salah saya datang jauh-jauh."

"Alya memang cantik, Pak," jawab Ratna, "Tapi, kami mohon, Pak Soni tidak boleh memaksanya."

"Tentu saja tidak!" Pak Soni tertawa, "Saya tahu Alya tidak mau. Tapi, saya akan membuatnya mau."

Pak Soni mengeluarkan amplop tebal dari saku jasnya. Ia menyerahkannya kepada Pak Andi.

"Ini mahar yang saya janjikan," ucap Pak Soni, "Anggap saja ini sebagai tanda keseriusan saya."

Pak Andi dan Ratna langsung tersenyum puas. Mereka mengambil amplop itu dan membuka isinya. Mata mereka berbinar-binar melihat tumpukan uang di dalamnya.

"Ini... ini terlalu banyak, Pak," kata Pak Andi dengan suara bergetar.

"Tidak masalah," jawab Pak Soni, "Semua ini untuk Alya. Saya akan memberikan apa pun yang dia mau."

Alya menelan ludah. Ia merasa seperti barang dagangan yang sedang ditawar. Ia ingin berteriak, ingin lari, tetapi kakinya terasa kaku.

"Alya... ayo terima lamaran Pak Soni," bisik Pak Andi, "Demi kebahagiaan kita semua."

Alya tidak menjawab. Ia hanya menunduk, air mata kembali membasahi pipinya. Ia merasa seperti disekap, tidak bisa lagi melarikan diri. Ia tidak mau jadi istri kedua, ia tidak mau jadi budak uang.

Tiba-tiba, Alya teringat sesuatu. Ia teringat akan janji yang ia buat untuk dirinya sendiri. Ia tidak akan pernah menyerah, tidak akan pernah membiarkan orang lain mengendalikan hidupnya.

Alya berdiri, menatap Pak Soni dengan mata yang penuh tekad.

"Maaf, Pak," ucap Alya, "Saya tidak bisa menerima lamaran Bapak."

Ratna dan Pak Andi terkejut. Mereka menatap Alya dengan mata melotot.

"Alya!" Ratna berteriak, "Apa yang kamu lakukan?"

"Saya tidak mau menikah dengan Bapak," Alya mengulangi, "Saya tidak mau jadi istri kedua."

Pak Soni tersenyum, "Kamu pikir kamu bisa menolak saya, Alya?"

"Saya tidak peduli," Alya menjawab, "Saya tidak akan menikah dengan Bapak."

Pak Soni berdiri, mendekati Alya. Ia membelai pipi Alya dengan punggung tangannya, senyum liciknya masih terukir di bibirnya.

"Kamu harusnya berterima kasih, Alya," bisik Pak Soni, "Saya bisa memberikan kamu segalanya."

"Saya tidak butuh harta Bapak," jawab Alya, "Saya hanya butuh kebebasan."

Pak Soni menampar Alya. Suara tamparan itu menggema di ruangan, membuat Alya terjatuh ke lantai.

"Alya!" Ratna dan Pak Andi berteriak, "Apa yang kamu lakukan?"

Alya tidak menangis. Ia hanya menatap Pak Soni dengan mata yang penuh kebencian.

"Saya tidak akan menyerah, Pak," bisik Alya, "Saya tidak akan menikah dengan Bapak."

Pak Soni tertawa, "Kita lihat saja nanti, Alya."

"Sudah, Pak," Ratna mencoba menenangkan Pak Soni, "Alya hanya sedang tidak enak badan. Kita bisa bicarakan lagi nanti."

Pak Soni menatap Alya dengan dingin. Ia menyentuh dagu Alya, memaksanya untuk menatapnya.

"Kamu pikir kamu bisa menipu saya, Alya?" bisik Pak Soni, "Kamu pikir kamu bisa lari dari saya?"

Alya tidak menjawab. Ia hanya menatap Pak Soni dengan mata yang penuh tekad.

***

"Alya! Cepat! Si Soni sudah menunggu!" Suara melengking itu mengoyak keheningan pagi.

Alya tersentak, napasnya tersengal. Ia terbangun dari mimpi buruk itu, keringat dingin membasahi tubuhnya. Mimpi itu terasa begitu nyata, begitu mengerikan. Ia menyentuh pipinya, merasakan sensasi perih bekas tamparan.

"Alya! Kamu dengar tidak?" Ratna kembali berteriak dari luar pintu kamar, "Cepat!"

Alya panik. Ia melihat jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Pak Soni sudah menunggu! Ia harus segera bersiap.

Alya melompat dari ranjang. Gaun hitam itu sudah disiapkan di kursi, tergeletak seperti ular. Ia memejamkan mata, mencari cara untuk lari dari situasi ini.

Tiba-tiba, matanya menangkap sesuatu. Di pojok ruangan, di balik tumpukan pakaian kotor, ada sebuah tas lusuh. Tas itu berisi pakaian lama, yang sengaja ia sembunyikan dari Ratna. Ada gamis longgar, gamis kedodoran, dan sebuah kacamata tebal.

Alya tersenyum. Sebuah ide muncul di benaknya. Tanpa membuang waktu, ia segera mengeksekusi idenya. Lalu bercermin dan tersenyum puas. 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!