Kontrak Pernikahan Hati Tergadaikan
Tawaran dari Orang Asing
“Tolong! Saya mohon!” Alya berteriak, suaranya pecah. “Saya… saya akan melakukan apa saja. Saya akan jadi pelayan, asisten rumah tangga… apa saja! Asal saya tidak kembali ke sana.”
Dr. Rayhan berhenti. Ia menoleh, melihat Alya yang gemetaran. Ada sesuatu dalam suara Alya yang membuat langkahnya tertahan. Sesuatu yang sangat tulus dan penuh keputusasaan. Dr. Rayhan menatap mata Alya, mencari kebohongan di sana, tetapi ia hanya menemukan ketakutan yang murni. Pria itu menatap kacamata tebal Alya, menyipitkan mata. Ia merasa ada sesuatu yang janggal.
“Siapa mereka?” tanya dr. Rayhan, suaranya masih dingin, tetapi ada sedikit nada ketertarikan.
Alya menunduk. “Mereka… mereka keluarga angkat saya. Mereka ingin menjual saya. Menikahkan saya dengan pria tua yang kejam demi uang.”
Dr. Rayhan terdiam. Ekspresinya sedikit melunak, tetapi masih sulit untuk ditebak. Ia kembali duduk di bangku taman. “Kenapa mereka melakukan itu?”
“Mereka… mereka menganggap saya hanya sebagai alat. Mereka selalu mengatakan bahwa kecantikan adalah kutukan, jadi saya harus menutupinya,” bisik Alya.
Dr. Rayhan menatap Alya dari atas sampai bawah, lagi. Ia memperhatikan setiap detail: gaun yang menutupi bentuk tubuhnya, riasan gelap yang aneh, kontras dengan warna tangannya yang cerah dan kacamata tebal yang menyembunyikan mata indahnya. Dr. Rayhan merasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik semua itu.
“ Dijual ke siapa?” tanya dr. Rayhan.
“Pak Soni. Rentenir yang sudah beristri,” jawab Alya.
Dr. Rayhan terdiam sejenak. Ia merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel. Ia mengetik sesuatu dengan cepat, lalu mengamati layar. “Pak Soni… rentenir, terkenal kejam. Namanya sering disebut dalam kasus penipuan dan kekerasan.”
Alya menelan ludah. Ia tahu dr. Rayhan tidak akan percaya, tetapi ia tidak punya pilihan lain. “Saya tidak bohong, Pak.”
Dr. Rayhan mengangkat kepalanya, menatap Alya. “Saya tidak bilang Anda bohong. Tapi kenapa Anda pikir saya bisa membantu?”
“Karena… karena Anda satu-satunya orang yang ada di sini,” jawab Alya, jujur.
Dr. Rayhan mengamati Alya. “Dengar, saya tidak butuh pelayan. Saya juga tidak bisa menampung Anda. Apalagi Anda… seorang wanita. Saya punya banyak pekerjaan, tidak punya waktu untuk mengurus orang lain.”
“Saya mohon, Pak,” lirih Alya, air matanya kembali mengalir.
Dr. Rayhan menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya, seolah-olah Alya adalah masalah yang sangat rumit. Ia menatap Alya, dan entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang menarik dari gadis ini. Sesuatu yang berbeda. Ia melihat keputusasaan di mata Alya, yang terlihat sangat tulus.
Rayhan menghela nafas. “Baiklah, saya akan membantu Anda,” ucapnya, membuat Alya terkejut. “Tapi, ini bukan bantuan gratis. Ini bukan cinta, ini bukan empati. Ini adalah sebuah perjanjian.”
Alya menatapnya, bingung. “Perjanjian?”
“Saya butuh istri,” jawab dr. Rayhan, suaranya dingin dan tanpa emosi. “Ibu saya sakit, dan beliau ingin melihat saya menikah. Saya mencari wanita yang bisa menjadi istri saya di depan ibu saya, tetapi tidak akan menuntut cinta, harta, atau perhatian.”
Alya mematung. Matanya melebar, tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Dr. Rayhan menawarkan sebuah pernikahan, pernikahan kontrak.
“Saya tahu ini terdengar gila,” lanjut dr. Rayhan. “Tapi saya tidak peduli. Saya hanya butuh wanita yang bisa menjadi istri saya. Jika Anda setuju, saya akan membantu Anda. Saya akan memberikan tempat tinggal yang aman, uang, dan semua yang Anda butuhkan. Tetapi dengan satu syarat: tidak boleh ada cinta. Saya trauma, saya tidak bisa jatuh cinta lagi. Jika Anda berani jatuh cinta pada saya, perjanjian ini batal. Dan Anda harus pergi.”
Alya terdiam, mencerna setiap kata. Ia tidak percaya. Sebuah solusi dari masalahnya, datang dari orang asing yang dingin dan apatis. Sebuah pernikahan kontrak… tanpa cinta. Sebuah pernikahan yang akan menyelamatkannya dari Pak Soni.
“Bagaimana?” tanya dr. Rayhan, tatapannya dingin dan menuntut. “Tawaran ini hanya berlaku sekali. Saya tidak suka membuang waktu.”
Alya memejamkan mata, hatinya berdebar tak karuan. Ia tidak tahu apakah ini pilihan yang benar, tetapi ia tahu, tidak ada pilihan lain selain menerima. Dirinya harus lari dari Pak Soni. Kesempatan ini satu-satunya jalan keluar yang harus dia ambil. Menarik napas dalam-dalam, lalu mengangguk.
“Saya… saya setuju,” jawab Alya, suaranya bergetar.
Dr. Rayhan mengangguk, tanpa senyuman. Ia bangkit dari bangku. “Bagus. Jangan sentuh saya lagi. Ikuti saya. Kita tidak punya banyak waktu. Saya akan membawa Anda ke tempat yang aman.”
Alya mengikutinya, berjalan di belakang pria itu, menyusuri jalan setapak. Ia menatap punggung dr. Rayhan, sosok yang akan menjadi suaminya dalam waktu dekat. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya. Ia hanya tahu, ia baru saja membuat perjanjian dengan iblis… yang berwujud dokter tampan yang dingin. Tidak tahu apakah kelak bisa akan selamat dari perjanjian ini atau justru terjebak dan sulit untuk keluar.
Tepat di saat mereka keluar dari taman, sebuah mobil hitam mewah melintas pelan. Di dalamnya, Pak Soni duduk di kursi belakang, matanya menatap tajam ke arah Alya dan dr. Rayhan. Sebuah senyum licik terukir di bibirnya.
“Jadi, kau pikir kau bisa lari dariku, Alya?” gumamnya. “Kita lihat saja, kau tidak akan bisa lari.”
Mobil itu melaju, menghilang di kegelapan malam. Alya tidak menyadarinya, ia hanya terus berjalan, mengikuti dr. Rayhan, tidak tahu bahwa ia baru saja melarikan diri dari satu bahaya… hanya untuk masuk ke dalam bahaya lain.
Dr. Rayhan berjalan cepat, tak menoleh sedikit pun. Alya terhuyung-huyung, berusaha menyamai langkah panjang pria itu. Mereka menyeberangi jalan raya yang kini mulai sepi, melintasi beberapa blok, hingga akhirnya tiba di sebuah mobil sport mewah berwarna perak yang terparkir di pinggir jalan. Rayhan membuka pintu mobil, gesturnya tanpa basa-basi.
“Masuk,” perintahnya singkat.
Alya ragu sejenak. Ia belum pernah naik mobil semewah ini seumur hidupnya. Dengan jantung berdebar, ia menuruti perintah itu, duduk dengan hati-hati di jok kulit yang terasa lembut. Aroma mahal dari parfum mobil menusuk hidungnya. Rayhan duduk di kursi kemudi, menyalakan mesin. Suara mesinnya menderu halus, memecah keheningan malam. Ia memasang sabuk pengaman, lalu mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang, menembus jalanan Jakarta yang lengang.
Selama perjalanan, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Rayhan. Ia fokus mengemudi, wajahnya tetap datar. Alya hanya bisa menunduk, memainkan jemari tangannya yang saling bertautan. Keheningan itu terasa lebih mencekam daripada suara klakson mobil. Ia melirik sekilas ke arah Rayhan. Pria itu tampak tampan dan sempurna, sebuah ironi bagi Alya yang saat itu merasa seperti gumpalan lumpur yang kotor. Bagaimana mungkin takdir mempertemukannya dengan pria sekelas Rayhan, dan menawarkan sebuah ‘solusi’ yang begitu absurd?
“Kita akan kemana?” Alya akhirnya memberanikan diri bertanya, suaranya pelan.
Tidak ada jawaban kecuali hanya tatapan dingin dari pria itu. Mendadak suasana terasa mencekam. Keraguan tiba-tiba menyusup ke dalam diri Alya. Ia menatap jalanan, seketika ia panik melihat jalanan yang sepi terhampar di hadapannya.
"Ki-kita akan k-kemana?"