Legenda Tombak Halilintar
Tantangan dari Dua Ksatria Gladiet
Riki terus mendorong energinya dengan kuat, dia tidak mau menyerah.
[”Tahan Riki! Kamu harus bertahan dan lakukan kontrol pada Orb Booster!”] kata Tombak Halilintar. Riki paham, kontrol terhadap kekuatan energi itu adalah menjadi kendali dirinya. Orb yang menyala dan berputar di punggungnya harus mampu dia kendalikan.
Kekuatan energi mengalir dalam tubuh Riki, dia memanfaatkan energi kuat itu untuk menyalurkan energi ke tiga item Jarum Halilintar. Dan, Riki dapat melakukan upgrade pada semua kekuatannya dengan energi tersebut.
Tiga item yang mengitari ujung Tombak Halilintar dapat diupgrade, Riki membentuk menjadi tiga senjata yang bisa berpecah. Pertama, membuat armor yang menutupi tubuh Riki dan dapat menahan tekanan dan damage. Kedua, mampu terpecah dan membentuk Orb di punggung Riki, dan ketiga mampu membentuk senjata tombak menjadi lebih kuat.
[Armor perpaduan; Mantel Bajra, Perisai Basilisk dan Armor Tombak Halilintar menahan serangan efek dari serangan lawan]
Riki mampu menghilangkan kekuatan tekanan lawan. Maka, dia dapat berkonsentrasi untuk memperkuat spear energinya. Meskipun Gamo semakin kuat menekan, tapi Riki masih bisa menahan dengan baik. Tekanan dari serangan Gamo bahkan seolah tidak memiliki efek apapun pada tubuh Riki.
Gamo tidak percaya! Kekuatannya benar-benar tidak bisa menghancurkan pertahanan dari Player level rendah itu, dengan seluruh kekuatannya. Apakah lawannya kali ini benar-benar memiliki item Legendary?
”Apakah kekuatanmu berasal dari Item Legendary?” tanya Gamo sambil menggunakan semua kekuatannya.
Riki menahan sambil tersenyum, ”Kamu salah, Gamo. Mereka yang meyakini dan memiliki mental untuk menjadi pemenang. Maka, mereka terus berlatih tanpa henti, dan aku hanya seorang Player yang terus berlatih tanpa henti!”
Saatnya untuk mengakhirnya. Riki menggunakan tangan kirinya untuk menahan serangan pedang energi Gamo. Sedangkan, tangan kanannya memegang Tombak Halilintar dan bersiap untuk menyerang. Energi terpusat, konsentrasi penuh dan mata Riki menyala. Sebuah serangan yang dilepaskan Riki, dengan energi yang kuat bersatunya dengan energi dari orb armor di punggungnya.
”Magic Thunder!”
Aliran listrik saling terhubung, tombak Riki diarahkan pada Gamo dengan tangan kanannya. Energi spear magic muncul di sekitar Riki, dan saat Riki mengontrol energi spear tombak, dia menusukkan tombaknya ke depan.
Wooossh!
Serangan spear energi mengarah pada Gamo yang masih melepaskan kekuatan besarnya. Energi tombak bergerak seperti kilatan super cepat dan mampu menembus serangan Gamo. Serangan Gamo dihancurkan dengan Magic Thunder milik Riki.
Crak! Crak! Kratak!
Energi pedang besar milik Gamo hancur berkeping-keping. Energi tombak terus menerjang menuju ke arah Gamo. Gamo sudah tak bisa meneruskan kekuatannya. Dia membuat defensif dengan pedangnya. Serangan kuat dari spear pedang energi Riki ditahannya sekuat tenaga, dengan pedang item myticnya.
Crak! Prang!
Tidak mungkin!
Pedang item kuat yang dimilikinya bahkan hancur berkeping-keping. Energi tombak melesat lepas ke arah tubuh Gamo. Gamo tak bisa menahan kekuatan besar itu lagi. Dia akan mati! Dan dia pun menutup matanya.
Slash!
Gamo kaget dan dia membuka matanya, spear magic itu berhenti sebelum mengenai dirinya. Riki menahan serangannya dengan baik dengan kontrol energi. Riki membiarkan energi tombaknya tidak bergerak sebelum menghunjam tubuh Gamo.
Gamo tahu bahwa Riki menahan kekuatannya.
”Baiklah Player Riki, aku mengaku kalah!”
Riki tersenyum dan menarik tombaknya kembali. Ksatria kerajaan Balka menyerah pada pertandingannya kali ini. Dia mengakui Riki sebagai Player dengan kemampuan yang kuat. Dia memang level rendah, namun mampu mengalahkannya. Dengan itu, dia akan mendapatkan perhatian dari seluruh Benua Azalea. Di Gladiet, dia sudah mendapatkan tempat. Semua penonton baik NPC maupun Player yang ada di sana, kagum pada kemampuan Riki yang menakjubkan.
Slap!
Tombak ditarik kembali oleh Riki, dia turun dari udara dan kembali ke arena. Pemenang sudah ditentukan. Gamo memberikan hormat pada Riki, dan berterimakasih karena tidak membunuhnya.
[Anda naik level]
[Anda naik level]
[Anda naik level]
[Anda naik level]
[Anda naik level]
Riki tersenyum, sudah saatnya untuk perjuangannya solo leveling di dalam Dungeon dengan seorang diri. Misi lebih berbahaya akan diambil. Beberapa Player mengambil video streaming saat pertarungan Riki dengan Gamo. Mereka menguploadnya dalam channel Nettube mereka, hal itu untuk membuat rating chanel mereka pasti akan meningkat. Selain itu, nama Riki mulai dikenal oleh banyak orang.
Beberapa Player di dalam Gladiet penasaran dengannya, mereka akan mencari tahu soal player bernama Riki.
[Tombak Halilintar mengkonsumsi item kuat, item pedang Balka dengan rank Mytic]
Ah! Tombak Halilintar nampak bahagia. Ternyata dia mengambil kesempatan saat bertempur. Riki tahu bahwa Tombak Halilintar menghancurkan pedang lawannya untuk dimakan. Semoga saja tidak ada yang tahu, dia memang sudah mengincar item pedang itu untuk dikonsumsi. Selera makannya memang kuat. Namun, dia senang karena sudah mampu mengalahkan lawannya kali ini.
Lebih dari itu, kekuatan Tombak Halilintar terus berkembang. Apakah item yang mengitari ujung tombak masih bisa bertambah lagi? Itu masih menjadi misteri bagi Riki. Suatu hari, Riki akan tahu sampai di mana batas kemampuan Tombak Halilintar.
”Berhenti, player Riki!”
Riki hendak pergi dari arena, namun dua orang turun dengan armor kuat di baju mereka. Itu adalah ...
”Kami menantang anda di sini! Kami hanya ingin bertukar pertarungan!”
[Tantangan Battle Player, lawan adalah Ksatria Emas dan Ksatria Perak. Mereka merasa bahwa anda memiliki kemampuan. Mereka adalah anak dari pemilik Gladiet, keduanya suka bertanding ketika menemukan lawan yang kuat]
[Tantangan dibentuk, DITERIMA atau TOLAK!]
Sebuah pilihan bagi Riki kembali muncul. Tantangan ini tentu saja akan menjadi bagian dari legenda. Jika Riki menolak, dia adalah seorang Ksatria yang mundur saat mendapatkan tantangan.
”Apa keuntungannya bagiku?” tanya Riki pada dua ksatria yang turun tersebut.
Ksatria Perak dan Ksatria Emas kaget mendengar pertanyaan itu. Mereka berdua adalah para Ksatria yang tidak pernah ditolak tantangannya. Ketika mereka sudah menantang Player, maka Player itu sudah diakui di seluruh Gladiet.
”Kami akan memberikan anda gelar Ksatria. Dan, jika anda mampu menang melawan kami, maka anda bisa mendapatkan hadiah khusus dari Gladiet.”
Jawaban Ksatria Emas menjelaskan bahwa, gelar Ksatria adalah gelar yang sangat diimpikan semua Player. Apalagi, jika mereka mampu membuktikan diri bisa bertarung dengan menahan serangan Ksatria Emas dan Ksatria Perak.
”Aku ingin kristal yang banyak, aku tidak butuh gelar Ksatria.”
Ksatria Perak cukup kesal, ”Kamu arogan, Player Riki!”
Ksatria Perak memang melihat pertarungan hebat, saat Riki melawan ksatria Gamo dari Balka. Namun, dia kini menawarkan sejumlah kristal? Apakah dia memang bertarung hanya untuk uang, dan bukan mendapatkan gelar sebagai ksatria?
”Tunggu Perak, biarkan aku selesai lebih dulu,” kata Ksatria Emas yang menghentikan adiknya, ”Kami akan memberikanmu kristal dalam jumlah yang banyak. Namun, apakah kamu sanggup bertarung melawan kami berdua?” tanya Ksatria Emas.
Riki tersenyum, ”Ini adalah pertandingan untuk memperebutkan gelar Ksatria dan kepahlawanan. Namun, aku membutuhkan kristal. Bukan tanpa alasan, tapi aku punya alasanku sendiri. Aku akan menerima tantangan kalian jika kalian memberikanku 10 juta kristal!”
Ksatria Emas dan Ksatria Kaget. Baru kali ini ada seorang Player yang mendapatkan berkah dengan tantangan dari mereka. Namun, dia menginginkan kristal dan bukan gelar Ksatria. Gelar Ksatria dari Gladiet, akan membuat Player tersebut dihormati di seluruh Azalea. Namun, ini sesuatu yang baru dan dia hanya menginginkan kristal semata.
”Kami akan menyanggupinya, jika kamu mampu menahan serangan kami berdua.”
”Ksatria Emas, apa yang kamu pikirkan ...”
”Berhenti Perak, aku tahu bahwa Player Riki punya alasan khusus untuk hal itu. Kita tidak boleh mencampuri urusan Player. Kita hanya bertugas untuk menguji mereka, apakah mereka layak menjadi Ksatria. Pilihan Player adalah pilihan mereka sendiri.”
Saka memahami hal itu, ”Anda benar Ksatria Emas. Setiap Player datang ke Sky Legend, dengan alasan mereka masing-masing.”
Ksatria Emas tersenyum, ”Baiklah, jadi apakah kamu menerima tantangan ini?”
”Aku menerimanya.”
[Tantangan diterima, melawan dua Ksatria sekaligus. Dua Ksatria yang bertarung dengan berani demi menilai kelayakan Ksatria di Gladiet]
[Pertandingan dan hadiah ditentukan]
Ksatria Emas dan Ksatria Perak turun ke arena, mereka biasanya bertarung sendiri-sendiri. Kecuali, mereka bertarung dengan sosok ksatria yang kuat. Hari ini, Gladiet mengakui sesuatu yang berbeda dari player Riki, yang saat ini masih di level 101.
Penonton begitu bersemangat, bahkan ada yang melakukan streaming, dan Player di sekitar benua Azalea begitu tertarik. Mereka pun langsung melakukan Simcal untuk menuju pertandingan di Gladiet yang sedang berlangsung. Mereka penasaran setelah melihat streaming Player yang merekamnya.
Sepertinya, ini akan menjadi pertunjukan yang cukup menegangkan. Di salah satu podium paling atas, kursi penonton. Seorang wanita memperhatikan Riki yang bersiap menghadapi dua petarung kuat Gladiet sekaligus.
Dia adalah, Naomi. Wanita Player dari Jepang yang merupakan Pro Player di Jepang, dan pemimpin dari Gulid Sakura. Dia cukup tertarik pada Player Riki. Jadi, apakah dia akan bisa bertahan menghadapi dua Ksatria kuat Gladiet? Dia tertarik dan berharap lebih pada player Riki.
”Apakah kamu yakin kalau dia punya kemampuan dengan level rendah seperti itu?” tanya Sophie yang tergabung juga dalam Guild Sakura. Sophie berasal dari Prancis. Sophie terlihat masih ragu, mungkin si Player Riki hanyalah sosok yang arogan semata.
”Kita tak akan bisa melihat berlian tanpa menggosoknya terlebih dahulu. Kita akan melihat, apakah dia punya kemampuan atau tidak.”
Naomi tersenyum, dia menantikan dengan baik apakah pertandingan ini akan sangat bagus atau tidak.
Di sisi lain, Kim Nara dari Player Korea Selatan juga ada di sisi kursi penonton. Kim Nara yang merupakan Pro Player Korea Selatan sedang melihat player Riki. Dia sendiri sudah mendapatkan beberapa tawaran untuk pertandingan turnamen antar negara. Dia datang ke setiap tempat pertarungan, untuk melihat para Player bertarung dengan kemampuan skill mereka.
Kim Nara pun cukup tertarik pada Riki. Skill yang dimilikinya lumayan bagus. Dia secara tak sengaja datang ke Gladiet, untuk melihat beberapa pertarungan tapi berakhir dengan melihat kemampuan unik yang dimiliki Player Riki.
Riki di arena, dia siap bertanding. Dua orang lawannya juga berada di sisi arena yang lain. Riki masih mengenakan armornya, dia tahu bahwa lawannya bukanlah lawan biasa. Mereka setidaknya di level 140, berdasarkan stat dan kemampuan mereka yang dibocorkan oleh Tombak Halilintar.
”Apa aku punya peluang untuk menang, Tombak Halilintar?”
[”Kamu tidak punya peluang menang jika melawan keduanya, Riki.”
”Lalu kenapa kamu memintaku menerima tantangan ini, Tombak Halilintar?” tanya Riki kembali.
[”Semakin tinggi tantanganmu, itu adalah jalanmu menuju Legenda. Semakin sulit tantangannya, kemampuanmu akan dipacu. Apakah kamu tahu, mereka yang ditekan dan diberikan ujian besar. Merekalah yang punya kesempatan untuk mendapatkan berkah.”]
Selalu begitu, saran yang diberikan Tombak Halilintar tanpa solusi. Riki memang dipaksa untuk membuat refleksnya dalam setiap hal. Kekuatannya selama ini muncul karena kemauan dan juga latihan. Semakin dia tertekan, maka kesempatan berkembang semakin baik baginya.
Jadi ..., Riki tak peduli soal itu sekarang. Pertandingan ini adalah pengujian, jadi mari ikuti dengan sebaik-baiknya.
”Bersiaplah, Player Riki,” kata Ksatria Emas.
”Terima kasih sudah mengingatkanku, Ksatria Emas.”
Brush! Klang!
Pertandingan yang menyita perhatian dari semua penonton di Gladiet pun dimulai ...