Liburan di Dunia Fantasi
Rindu Paman
Lemah terbakar menimbulkan aroma seperti sate panggang. Itulah saatnya ikan sudah matang.Rikma mengangkatnya dari sebuah wajan ke piring selebar dua jengkalnya. Beberapa bahan pelengkap di taruh disampingnya, sajian pun diangkat dengan perlahan.
Kaki mengayun meninggalkan tempat mengolah makanan. Rikma mengantarkan masakan itu ke sebuah meja yang dikerumuni anggota keluarga serta seorang tamu anak perempuan manusia. “Tada, masakan udah siap. Silahkan dinikmati,” katanya sambil meletakkan sajian di tengah meja. Dia pun duduk berdekatan dengan Daisy.
“Wah, Kakak pandai memasak. Pasti ini enak.” Tangan narasega muda ingin segera meraihnya tetapi terhalang oleh sang ayah.
“Sayang, tunggu Ibu dulu. Jangan lupa pakai sendok dan berdoa,” kata sang ayah.
“Baik, Ayah,” sang anak menarik tangannya kembali. Sebuah doa dipanjatkan sambil menadahkan tangan seperti memohon sesuatu.
Sang ibu datang dengan membawakan sajian pelengkap lain. Dia berdoa dahulu sebelum membagikan hasil olahan kepada anggota keluarga, termasuk si tamu kecil.
“Izin tanya, kalian berdoa pada siapa?” tanya Daisy.
“Berdoa ya kepada Tuhan, Sayang. Apa ortumu gak pernah ngajarin itu?” Sang ibu narasega menaruh sepotong daging ke wadah Daisy.
“Akyu gak punya ortu. Om dan Tante yang ngrawat akyu dan ngajarin akyu banyak hal. Pi, akyu lupa berdoa kalau mau makan, hehehe,” tawa kecil Daisy.
Makan malam berlangsung dengan penuh hikmat dan keceriaan. Mereka memasukkan hasil olahan ke dalam tubuh dengan lahap. Terutama untuk Daisy yang memiliki kecocokan rasa dengan para narasega. Bahkan ia mengambil lagi beberapa bagian yang masih tersisa.
Malam semakin larut. Hawa mengantuk semakin mendesak tubuh untuk segera berpindah alam. Namun hal itu tidak berlaku untuk Daisy. Gadis kecil itu mengeluarkan air mata walaupun sudah berbaring di dekat Rikma. “Om,” ucapan di sela tangisan.
“Sy, kamu kenapa?” Rikma yang terganggu kenyenyakannya duduk menghadap ke si kecil yang bersedih. Tangan kiri menggoyangkan tubuh Daisy secara perlahan.
“Om, dimana?” tangis Daisy sedikit keras.
“Om? Siapa tuh?” tanya Rikma.
Perkataan yang sama terus diucapkan Daisy. Hal inilah yang membuat Rikma menjadi bingung. Gadis narasega itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Dia beranjak menjauh dari tempat tidur menuju ke luar ruangan.
Kamar khusus orang tua didatangi. Rikma sedikit malu untuk mengetuk pintu dan hanya berdiri saja di dekat sana.
“Rik, katanya mau cepat tidur. Kok sekarang keluyuran, ada apa?” tanya sang ibu narasega.
“Daisy nangis. Aku nggak tahu ada apa,” jawab Rikma.
Kedua orang tua Rikma langsung berlari ke tempat anak manusia berbaring mengeluarkan air mata, diikuti adik Rikma. Mereka berkumpul di dekat Diasy yang tak henti-hentinya menyuarakan rasa sedih. Sang ibu melangkahkan kaki mendekat dan membelai punggung Daisy. “Nak, ada apa?” tanyanya.
“Om mana? Akyu?” Daisy menangis semakin keras.
“Sadar, Sayang. Sekarang sudah malam dan gelap. Besok kita cari Oom bersama-sama, Mau?” sang ikut berbaring di belakang Daisy.
Suara yang dikeluarkan Daisy semakin lama semakin pelan. Terlebih lagi setelah mendapatkan dekapan dari ibu narasega. Sebuah kehangatan kasih sayang seorang ibu dirasakan walaupun tak bisa jika dibandingkan dengan apa yang diberikan sang bibi yang tak ikut dalam rombongan. Air mata tak lagi menetes. Ia pun bisa tenang walaupun mata berwarna merah.
Anggota keluarga yang sempat ke sana kini telah kembali ke tempat tidur masing-masing. Tersisa hanya wanita saja yang ada di ruang khusus anak perempuan itu.
“Bi, apakah Oom...,” Daisy menghentikan ucapannya karena bingung mau apalagi. Dia menoleh ke wajah ibu narasega.
“Pasti bisa ketemu.” Sang ibu mendekap semakin erat untuk memberikan sebuah kehangatan tubuh.
“Betul itu Sy. Beberapa hari yang lalu ada yang nemuin manusia dewasa selain kamu. Yang sabar ya.” Rikma menyelimuti gadis manusia itu dengan kain berbulu tebal. Tak seluruh bagian tubuh, bagian kepala tetap terlihat. Ia pun berbaring di depan Daisy dan mulai memajamkan mata.
***
“Sayang!” sebuah suara tertuju pada gadis kecil itu. Daisy berlari mencari sumber suara itu tetapi tidak ketemu juga. Pohon demi pohon di hutan bervegetasi aneka ragam didatangi, sumber suara tak juga ketemu.
Daisy sampai ke sebuah sungai. Aliran tak deras tetapi seberang sungai tak bisa dilihatnya akibat kabut tebal. Ia merunduk menyelupkan tangan kiri, air pun mengalir kepadanya. Tangan ditarik, gelombang besar malah datang. Daisy berlari secepat mungkin untuk menghindar.
Akar timbul dari pepohonan menghambat kecepatan si kecil untuk menghindar. Alhasil, ia pun ikut tersapu gelombang besar itu. Kedua tangan dan kaki bergerak cepat untuk mengimbangi tubuh agar tak masuk ke dasar air. Sebuah pohon dipegang dan ia merambat ke atas. Ia pun bisa muncul ke permukaan dan tak ikut terseret arus.
Suara panggilan akan dirinya kembali muncul. Daisy menoleh ke segala arah, tiada seorang pun yang bisa dilihatnya. Namun ia tahu akan suara siapa itu. “Om, Tante!” teriaknya.
Sebuah gelombang tak wajar di permukaan air. Dikarenakan sumber suara sudah dekat, ia nekad menuju ke tempat itu. Kedua tangan dan kaki saling bersautan menerjak ombak. Namun yang diharapkan tak sesuai dengan kenyataan. Seekor hewan air bersisik keras menghadang lajunya.
“Naga?” Daisy berbalik arah menghindari hewan itu.
“Sayang!” suara yang samar terdengar dari tempat lain. Daisy segera menggerakkan tubuh menuju ke sana. Rupanya di depan ada sebuah kapal yang sedang lewat.
“Sy, ayo cepat naik,” kata seorang wanita yang tak asing bagi Daisy.
“Tante Utari gak papa, kan?” tanya Daisy.
“Cepat naik atau amu nanti dimakan naga.” Utari melemparkan tali berujung pelampung.
Daisy langsung menarik benda ini dan segera bergerak ke kapal yang terus melaju mengikuti arus.
Beberapa orang ikut menarik tubuh Daisy hingga si kecil itu berada di atas dek kapal. Tangan kiri menyentuh kain basah. Seketika kain itu menjadi kering. Segala air yang terkumpul di dekat tangannya segera dibuang dengan sebuah gerakan.
“Amu tadi ngapain? Nekad benar dekatin naga?” tanya Utari.
“Aku lagi cari Om dan Tante.” Daisy mengusap rambur dan langsung kering seketika.
“Om sudah gak ada. Amu ama Tante aja.” Utari membelai rambut Daisy sebelum memeluknya.
“Gak, Tante pasti salah.” Daisy mendorong wanita yang berada di depannya sehingga dia lepas dari pelukan. Dia berbari ke tepi perahu.
“Amu mau apa? Liat tuh,” tunjuk Utari ke sebuah arah.
Daisy melirik ke kiri. Sebuah gelombang setinggi sepuluh meter menuju ke sana. Kecepatan yang tinggi tak memberikan waktu untuknya bisa menghindar. Namun Gadis kecil itu tak mau menyerah begitu saja dan mengalami kejadian yang sama. Apa yang telah dipelajari dari sang kakek mulai diterapkan. Segenap energi dialirkan pada kedua telapak tangan dan diubah menjadi aura unsur air. Ia pun menggerakkan tangan seperti sebuah tarian indah.