Naura
25. Biarkan Aku Di Sini
Masih di Danau Kenanga. Adam yang mulai memahami jati dirinya dan mulai bangkit. Dia ditemani oleh Diandra yang selalu menemaninya saat berada di desa tempat Adam tinggal.
”Jadi apa yang akan kau lakukan selanjutnya Adam?” Diandra bertanya tenang pada Adam. Dia berdiri dan berjongkok di hadapan bunga mawar yang tumbuh di pinggiran danau.
”Kau adalah hadiah dari Allah untuk keluarga kami Diandra. Entah bagaimana kami membalasnya. Kau sudah menyertaiku hingga aku bisa berdiri tegak kembali. Entah apa yang kau pikirkan, tapi kamu memiliki masa depan sendiri. Sedangkan aku, aku akan fokus untuk menyembuhkan diriku dulu.”
Tiga bulan lamanya sejak kaki dan mata Diandra sembuh, dan baru kali ini dia bisa berbicara dengan terbuka bersama Adam. Biasanya Adam hanya akan mengangguk dan membiarkannya bercerita sendirian. Diandra betah meskipun tak dihiraukan dan berbicara sendiri pada saat Adam masih pesakitan.
Agak terkejut dengan penjelasan Adam, Diandra pun kembali menatap Adam, ”Jadi..., apakah hubungan kita akan berakhir begitu saja Adam? Ketika aku sudah sembuh dan dirimu juga sudah sembuh. Apakah berarti semuanya juga berakhir? Kita akan menjalani hidup kita masing-masing?” Ada getir dalam kalimat-kalimat yang dilontarkan Diandra.
”Aku tak tahu akan kemana jalanku Diandra. Kau orang yang kaya, apapun bisa kau miliki. Kamu cantik dan pasti jalanmu akan terang benderang seperti matahari. Namun, aku adalah orang yang baru saja bangkit dari kegelapan. Aku mau meresapi makna kehidupan itu sendiri. Aku terlalu lama jatuh, aku tak tahu bagaimana aku akan menghadapi esok hari.”
Semilir angin kembali menerpa wajah mereka, tiupan angin juga menggeraikan kedua rambut mereka.
”Tapi... bagaimana...” kalimat Diandra agak terputus dan ketika hendak meneruskannya Adam sudah menimpalinya.
”Kamu tidak harus terpaku dan terpenjara dengan sumpahmu sendiri. Sumpah adalah sumpah namun ketika itu mengarah pada kezaliman terhadap diri sendiri maka kamu bisa membatalkannya. Kau memiliki masa depan yang cerah, jangan terpenjara karenaku Diandra.”
Kata-kata Adam seolah menusuk hati Diandra begitu saja. Selama ini sebenarnya Adam sangat mengetahui kondisi di sekitarnya dan dia hanya seorang yang tak sanggup bangun semata.
”Boleh aku tahu apa yang kamu inginkan setelah bangun dari semua ini?” Diandra masih mengejar tanya, apa yang akan dilaukan Adam sebenarnya setelah sembuhnya. Apakah akan bekerja, atau mengurusi sesuatu yang besar atau akan melakukan kebaktian dengan menjadi seperti layanan kepada masyarakat. Diandra masih sangat penasaran.
Adam terdiam sejenak, dia berpikir mendalam. Memang, dia sendiri masih kosong untuk memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya. Namun, setidaknya dia memiliki seorang Ibu dan sahabat baik yaitu Syarif. Untuk Naura sendiri..., Adam sedang berusaha melupakannya sejauh-jauhnya. Semoga di masa depan dirinya bisa melupakan Naura dan menjalani hidup normal seperi manusia pada umumnya.
”Baiklah..., saya ingin disini,” entah kenapa hal itu yang terucap begitu saja dalam pikiran Adam. Seolah jiwanya ingin tetap ada di Danau Kenanga. Itu yang dipikirkannya saat ini.
”Apa maksudmu tinggal disini?” Diandra mengejar pernyataan Adam, dia masih bingung dengan kata-kata Adam.
”Entahlah..., tapi aku ingin berada disini. Saya nyaman berada disini, saya ingin membangun sesuatu disini sehingga aku bisa melihat air danau setiap hari.”
Semilir angin kembali mengipasi mereka. Diandra pun berpikir kalau Adam masih belum bisa melupakan Naura. Sedalam itukah cinta Adam hingga dia pun ingin selalu bersama kenangannya itu sepanjang hidupnya?
”Apakah kamu memang tidak bisa hidup tanpa bayangan Naura?” pertanyaan Diandra langsung menusuk di hati Adam, pertanyaan yang sangat sensitif bagi orang yang mencinta yang sudah ditinggalkan kekasihnya.
”Bukan begitu,” Adam berdiri dan berjalan mendekati Danau Kenanga, dia duduk berjongkok dan mengambil air dengan satu tangannya. Mengangkatnya dan tetesan-tetesan air berjatuhan dari sela-sela jarinya itu.
”Aku ingin membangun peradaban disini, aku ingin membangun sesuatu usaha agar Danau ini bisa hidup dan banyak orang bisa menikmati indahnya Danau ini. Meskipun itu tanpa Naura dan Adam sekalipun. Danau ini akan dicintai oleh banyak orang, ada atau tidaknya nama Adam dan Naura sekalipun.”
Sambil berkata demikian, Adam melihat wajah Diandra. Angin semilir menimpali kedua mata mereka yang tengah saling menatap. Sesekali daun berguguran dan memisahkan pandangan mereka.
Diandra terkesima dengan penjelasan Adam, pandangan yang aneh dan sebuah keinginan yang menurut manusia biasa buat apa melakukan hal konyol. Padahal hidup itu adalah untuk bekerja, mendapatkan uang, menikmati uang dan bagaimana dia memiliki segalanya.
Adam memang beda. Dia seorang pujangga sejati. Itulah yang langsung terbersit di pikiran Diandra. Selama ini dia belajar bagaimana memahami manusai, semenjak sembuh dari buta dan lumpuhnya. Dia belajar bagaimana psikologi manusia sehingga dia dapat berkomunikasi dengan orang lain lebih cepat, karena dia selama ini hanya di rumah dan bersama keluarganya semata karena kondisinya saat itu.
”Lalu... apa yang akan kamu bangun saat kamu sudah sembuh disini?”
Adam berpikir lagi, ”Entahlah..., aku belum terpikir membangun sesuatu yang besar. Hanya saja, aku terpikir untuk membuat semacam tempat pariwisata disini sehingga orang tertarik untuk datang dan menikmati senja disini.”
Diandra sudah mengetahui bagaimana pola apa yang dipikirkan Adam. Dia pun berpikir keras, apalagi orangtuanya adalah pengusaha yang bukanlah pengusaha biasa, mereka telah menjadi raja di ibukota dengan empat perusahaan besar yang semuanya masuk ke BEI. Segala macam bentuk usaha dan bagaimana pengelolaan sudah menjadi makanan setiap hari.
”Bagaimana kalau kita bekerjasama, kita akan membangun pusat segalanya disini. Masalah plan atau rencananya nanti kita bahas. Jadi, kita akan menjadi rekan bisnis disini.”
Adam terdiam sejenak, ada yang agak ragu di hatinya. Sebenarnya, ada ketertarikan Adam pada Diandra, wanita sesempurna itu tidak mungkin dia akan menolaknya. Namun, Adam tak ingin jika Diandra melakukan semua hal untuk dirinya karena sebuah sumpah.
Lagian, Adam cukup bahagia bersama Ibunya. Tak memiliki siapapun, asal bersama Ibunya sudah cukup baginya. Kini, dia telah bangun dan akan memulai segalanya dari awal. Urusan cinta itu urusan nanti dan tak terlalu dipikirkan, Adam sudah merasa bersyukur dengan apa yang sudah diberikan Allah kepadanya.
”Jadi..., kita rekan bisnis?” Adam bertanya pada Diandra.
”Benar! Kita akan membangun bisnis besar disini.”
”Baiklah, namun bagaimana teknis dan segala sesuatunya kita bagi secara proporsional, saya tidak ingin kamu melakukan ini karena balas budi, semua harus profesional.”
Diandra tersenyum, ”Tentu saja, semua akan adil.”
Sekali lagi, Diandra ingin melihat bagaimana Adam bergerak sesudah sembuh kali ini, selain itu juga dia merasa nyaman berada bersama Adam dan juga di Danau Kenanga ini.
Selain itu, Diandra penasaran dengan Adam dan ingin mengenalnya lebih jauh. Sepertinya, ada cinta yang sudah merasuk dalam hati Diandra.