Naura

54. Bangkrut?

Tiga orang terlihat mengawasi sebuah kantor, mereka mengawasi sejak pagi siapa saja yang memasuki pabrik tersebut. Mereka mengawasi dari dalam mobil dan memarkirnya di tempat yang tepat untuk mengawasi pabrik tersebut.

Mereka munggu seseorang yang tengah mereka incar. Mereka mendapatkan tugas khusus untuk mengawasi satu orang tersebut. Tugas mereka sangat jelas dan sudah terarah.

Hingga, ada satu orang yang turun dari mobilnya. Itu adalah orang yang mereka cari dan tunggu. Lelaki yang mereka tunggu itu keluar dari mobil dan seolah melirik kesana dan kemari. Sepertinya, dia merasa tidak nyaman dengan segala hal di sekelilingnya. Lelaki itu masuk ke dalam kantor dimana pabrik yang diawasi tiga orang di dalam mobil.

”Saatnya bergerak, sebelum orang itu lari lagi dan kita akan sulit menemuinya,” kata salah satu di antara mereka.

Dua orang yang berada di dalam mobil itu pun mengangguk dan berkata untuk segera bergerak. Mreka bertiga pun keluar dari mobil itu dan bergegar menuju pabrik yang sudah mereka incar sejak pagi-pagi benar.

Tiga orang lelaki dengan tubuh kekar dan seolah seperti agen FBI saja dari penampilannya. Mereka memasuki sebuah pabrik yang sangat ramai  lalu – lalang orang hendak masuk maupun keluar dari pabrik.

Mereka keluar dari mobil bersama dan melangkah tegap, pabrik yang didatangi mereka itu masih beroperasi seperti biasanya. Mereka terus masuk dan ada seorang penjaga atau satpam yang langsung berdiri. Namun, nyalinya agak ciut karena ketiga orang itu nampak seperti jagoan atau gengster seperti yang ada di film – film.

Satpam itu maju dan agak ragu hendak menghentikan tiga orang kekar dan berotor tersebut. Namun, karena dia sebagai seorang Satpam dan memiliki tugas mengamankan pabrik tersebut. Maka, dia pun memberanikan diri untuk menghadang ketiga orang yang terlihat tergesa-gesa tersebut.

”A.. Ada perlu apa Pak, dan anda bertiga sedang mencari siapa?”

Ketiga orang kekar itu menatap sang Satpam, Satpam itu pun bertambah ciut nyalinya karena ketiganya menatap dirinya.

”Kami mencari saudara Sandi, tunjukkan kami jalannya sekarang juga!” Meski nadanya pelan tapi itu sangaat tegas. Sang Satpam jadi berpikir keras pasti ada sesuatu yang terjadi. Namun, jika dia membawa mereka langsung masuk ke dalam, dia takut ada kesalahan dan dia akan dimarahi oleh pemimpin pabrik tersebut. Tuan Sandi.

”Bapak ini darimana ya? biar saya sampaikan,” tanya satpam perlahan karena sudah merasa takut duluan.

”Kami dari Bank, segera minta saudara Sandi menemui kami. Ini sudah terakhir kalinya kami datang untuk kesepakatan kita. Katakan itu pada Bosmu!”

Si Satpam tak ambil kata lagi, dia langsung bergegas menuju ruangan Bos Sandi. Sepertinya ada masalah besar ini, dia pun bergegas. Sampai di pintu masuk, dia mengetuk pintu bosnya. Dia harus menyampaikan kepada bosnya, siapa yang datang dan ingin menemuinya.

Sang Bos yaitu Sandi nampak terlihat bingung di dalam, dia membuka pintu dan bertanya pada Satpam tersebut ada apa. Satpam pun menjelaskan kalau ada tiga orang datang dan mereka mengatakan dari bank.

Benar-benar sial! Sandi akan bertemu dengan mereka lagi dan ini adalah waktu yang dijanjikan dengan pihak Bank sudah berlalu lewat cukup lama. Apa yang harus dilakukannya? Jika tidak menemui mereka, maka pihak Bank bisa langsung menyegel pabriknya dan akan disita.

Mau tak mau, Adam akhirnya mengangguk dan mengatakan pada satpam bahwa dia akan menemui mereka. Satpam pun kembali ke ruang depan dan mengatakan pada ketiga orang itu untuk duduk dulu sambil menunggu pak Sandi.

Sandi berpikir keras di dalam ruangannya. Apa yang akan dikatakannya pada utusan dari Bank tersebut. Selama ini, dia sudah bersembunyi dan tidak membayar angsuran yang sangat besar. Ah sudahlah! Temui saja dulu dan dengar apa yang mereka inginkan untuk ke depannya.

Beberapa menit kemudian Sandi datang dan duduk di dekat ketiga orang tamunya. Dia harus menghadapi ini, dia harus menghadapi semuanya.

”Maaf saudara Sandi, kami sudah beberapa kali mencari anda namun anda tidak pernah berhasil kami temui, jadi...” salah satu dari mereka menaruh map dan kertas di dalamnya dan dibuka olehnya. Satu orang di antara mereka adalah polisi dengan pakaian biasa. Ini adalah jalan akhir penyelesaian.

Keputusan Bank sudah bulat mengingat kesepakatan yang dibuat dengan saudara Sandi sudah berbelit-belit dan beberapa kali ingkar janji.

Kertas itu menunjukkan surat keterlambatan pembayaran dan juga tunggakan, selain itu bahkan sudah lama terjadi dan bertumpuk. Kesepatakan yang dibuat beberapa kali juga sudah tidak dilaksanakan dan terkesan Sandi lari dari tanggung jawab dan urusan pinjaman tersebut.

”Jika anda tak bisa menyelesaikan ini semua, maka aset anda akan disita oleh pihak Bank.”

Sambil mendengarkan, Sandi mengambil kertas itu gemetaran. Total yang harus dibayarkan cukup besar baginya, apalagi usahanya juga sedang tidak baik sekarang. Tentu, banyaknya pesaing dan juga kehidupannya kini memang sedikit boros.

Benar, semua bermula dari dirinya yang menikah lagi dengan Firla. Dia mencurahkan apapun keinginan Firla dan menyanggupinya. Gaya hidup Sandi juga sangat boros, semuanya berawal dari pengeluaran yang lebih besar dari pemasukan.

Sandi bingung hendak menjawab pernyataan dari pihak Bank, dia terus memperhatikan kertas tersebut dan tak bisa berpikir dengan jernih.

”Kami tunggu itikad baik dari saudara hingga 7 hari ke depan!” mereka pun pamitan dan berpesan jika mereka bisa menyegel pabrik tersebut dan rumah, karena Sandi sudah menyalahi perjanjian.

Mereka meninggalkan Sandi yang masih terdiam dan melihat lembar demi lembar kertas yang dilihatnya, entah dibaca atau tidak. Benar saja! Kehidupannya semakin meningkat, untuk bersenang–senang dan isteri keduanya, Firla juga hidup bermewah mewahan.

Sandi memegangi kepalanya, jari-jari tangannya menelusup ke rambutnya. Semuanya sudah berakhir! Sudah berakhir! Apakah aku akan hancur seperti ini! Apa yang harus dilakukannya agar bisa keluar dalam kondisi terjepit seperti ini.

Apakah dia harus benar-benar menjadikan pabrik ini sebagai pabrik yang disita? Itu tidak mungkin! Sandi harus melakukan sesuatu, dan dia akan memikirkannya dengan baik.

Usaha pabriknya bermasalah dan kekurangan hasil sehingga harus meminjam uang untuk operasional agar tidak bangkrut serta menggadaikan dua rumahnya sekaligus. Ada usaha yang ditawarkan temannya dengan untuk 10 persen perbulan, ternyata usaha itu penipuan. Saat itu yang terpikir adalah dengan menggadaikan dua rumah, artinya bisa menutupi pinjaman Bank, namun akhirnya semuanya hancur.

Uang Rp 7 Miliar harus didapatkannya dari mana? Jika tidak maka semuanya akan hancur. Jika 2 Miliar mungkin masih bisa diusahakan dengan menjual rumah, tapi sisanya entah harus mencari darimana?

Sandi berdiri dan memegang map yang barusan diberikan padanya itu. Dia memegang rambutnya yang tak gatal dan menggaruknya sembarangan. Sialan! Begitu geramnya dan membanting map itu ke meja. Dia sedang mencari cara untuk menyelesaikan tagihannya. Tapi harus darimana? Satu – satunya yang tersisa adalah rumah orangtuanya. Dan, itu pun tak mungkin dilakukannya.

Semakin kesal Sandi, dia pun meninggalkan ruangan itu, sambil mencari akal bagaimana caranya dia bisa lepas dari semua ini. Apalagi, dia sedang menyiapkan juga untuk kelahiran anaknya. Di satu sisi, dia sedang menghadapi kebahagiaan di satu sisi semua usahanya akan hancur berantakan.

Sudahlah! Seminggu mungkin ada keajaiban pikirnya.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!