Naura

56. Masak untuk Saya ya Bu

Diandra lama berada di kota, dia belum kembali ke Mata Air Surga untuk waktu yang lama. Mungkin, dia sedang memikirkan soal perasaannya. Dia harus jujur pada dirinya dan menerima kenyataan hidupnya.

Hidup hanyalah untuk menerima segela yang diberikan Allah swt. tidak ada kata lain selain itu. Jika sudah bisa menerima hidup dengan Ikhlas, maka itulah kebahagiaan sebenarnya.

Urusan nanti, biarkan Allah yang menentukan. Manusia hanya cukup menjalaninya dengan baik dan berusaha sekuat mungkin. Diandra pun akhirnya kembali datang ke Mata Air Surga. Proyeknya belum selesai, mimpi untuk membentuk tempat yang bagus dan juga mega proyek.

Diandra pun langsung menuju rumah Adam.

Diandra bertamu di rumah Adam, seperti ajakan Adam. Adam sudah duluan di rumah dan membukakan pintu karena terdengar ada tamu wanita yang datang. Itu adalah suara Diandra.

Adam membuka pintu dan Diandra datang bersama Jamilah yang selalu menemani Diandra sewaktu ke Mata Air Surga. Adam mempersilakan mereka masuk dan Adam langsung memandu ke ruang kamar makan.

”Kenapa langsung ke kamar makan Adam?” Diandra agak protes.

”Sudahlah..., aku sudah lapar ayo sekalian makan dulu baru bicara lagi nanti.”

Naura pun akhirnya mengikuti langkah Adam ke ruang makan. Saat mereka duduk di ruang makan tersebut. Adam menuju kamar ibunya yang tidak jauh dari ruang makan itu.

Adam mengetuk pintu dan mengucap salam, ada jawaban dari dalam. Adam pun mengatakan bahwa Diandra sudah datang. Bu Halimah mengatakan sebentar lagi keluar, Adam pun membiarkannya dan kembali ke ruang makan.

”Ibu sebentar lagi keluar, mungkin sedang memakai jilbabnya.”

Diandra dan Jamilah mengangguk dan benar beberapa detik kemudian bu Halimah keluar dan langsung menuju ruang makan dan ikut duduk bersama yang lainnya.

”Nak Diandra tidak lama menunggu kan?”suara Halimah lembut sambil menatap mata cantik milik Diandra.

”Baru saja kok Bu,” Diandra juga seperti menemukan kasih sayang ibunya sendiri pada diri bu Halimah.

Bu Halimah pun kini menatap Jamilah dan menyapanya juga, ”Bi Jamilah juga sehat kan?”

”Alhamdulillah sehat Bu,” Jamilah pun merasa bahwa Halimah memiliki sifat yang baik dan semua orang disapanya tanpa mengenal apapun.

”Baiklah..., ayo kita  mulai makan saja ya,” Adam membenarkan peci hitamnya sambil mengusap kedua tangannya.

”Aku sudah lapar nih, masakan Ibu pasti spesial rasanya. Ayo berdoa dan makan bersama,” Adam sepertinya sudah tak sabar karena menu – menu makanan sudah terhidang dan semua mengundang nafsunya untuk segera makan siang.

”Hussh!” suara Halimah sambil menepuk pundak Adam agak keras, ”Hormati tamu, biarkan mereka dulu yang makan.”

Saat itu, Adam sudah memegang piring, kemudian dia beringsut dan menaruh piringnya kembali, ”Iya Ibu, Apa titah ibu akan Adam laksanakan,” Adam memundurkan kedua tangannya lagi dan menunggu dalam diam dan menatap Diandra serta memberi kode agar segera mengambil piring dan segera makan.

Giliran Adam adalah ketika tamunya sudah mulai makan dan selesai memilih menu makanan yang ingin mereka makan.

Melihat hal itu, Diandra malah terkekeh. Bisa saja, Adam yang biasanya kerasa kepala seperti anak kecil yang menurut pada Ibunya, seolah anak kecil yang takut dijewer telinganya kalau melawan. Diandra jadi betah melihat wajah Adam yang cemberut tak berani melakukan apapun padahal dia sudah kelaparan.

”Kenapa kamu tertawa begitu Diandra, kamu mau menghinaku?”

”Tidak, Tidak... tidak apa – apa,” namun karena nadanya semakin jelas, Diandra malah semakin terkekeh saja. Tidak segera mengambil piring seperti bi Jamilah, melainkan masih menahan tawanya.

”Sudah ambil piringnya dan makan cepat!” nada Adam pelan namun tegas, kalau Diandra tidak segera makan, dirinya juga tidak makan juga. Adam pun memberi kode dengan matanya untuk cepat, naik turun ke arah piring dan lauk dan mengarahkan matanya itu pada Diandra, artinya, Buruan ambil makananmu!

Diandra malah semakin tertawa dan menutupi kedua mulutnya dengan lengannya. Habis sudah kamu Adam, Diandra malah semakin jahil ingin mengerjai Adam. Adam pun tak sabar, dia mengambil piring dan mengambil nasi.

”Adam. Kamu kenapa ambil nasi duluan?” Ibunya, Halimah protes pada Adam.

”Aku mengambilkan untuk Diandra Bu, sepertinya dia memintaku untuk mengambilkan makanan soalnya dia tak bisa menahan tawanya sendiri,” Adam menatap Diandra dan sambil sesekali memberi kode sambil kesal, ”Kami ambi lauk apa Diandra, atau semuanya aku masukin ke dalam piringmu?”

Diandra semakin tak bisa menahan tawanya lagi, dia terkekeh pelan. Bi Jamilah pun melihat hal itu, dia bahagia melihat nonanya Diandra bisa seceria ini bersama Adam. Mereka mungkin menjadi pasangan yang serasi di kemudian hari. Nonanya yang dulu selalu kesepian kini sangat terlihat bahagia bersama Adam dan Halimah. Apakah ini tanda bahwa semuanya akan segera berakhir, berakhir untuk nonanya Diandra menuju pernikahannya?

”Biar aku ambil sendiri Adam. Kau pasti tak tahu apa seleraku, sudah sini berikan piring dan nasinya,” Diandra masih sulit menahan tawanya, senyum kecilnya dengan bibirnya yang mungil semakin terlihat dia menahan tawa itu.

Adam menyerahkan piring yang sudah terisi nasi itu pada Diandra, ”Baik, ini dan segera makan, jangan lupa yang banyak makannya Diandra. Kamu butuh gizi yang banyak. Urusanmu masih banyak, kemarin aku keteteran untuk menghandel semua pekerjaanmu juga.”

”Salahmu sendiri kamu tidak memanggilku segera kembali,” Bibir Diandra sedikit merot ke atas dan mencibir, melawan Adam.

”Kamu saja....”

”Sudah! Sudah! Cukup, ayo makan segera. Kalian kalau mau berdebat nanti di kantor saja, biar para pegawai semua tahu kalau kedua bosnya sedang diskusi hebat. Sekarang makan, ayo makan,” Halimah mengambil piringnya dan meminta Adam dan Diandra untuk segera makan. Tak baik tentunya makan terlalu lama malah berdebat saja.

Adam menghentikan ucapannya, Diandra sendiri merasa menang karena dia dibela oleh bu Halimah. Dia menatap Adam sambil mengangguk dengan senyuman kemenangannya. Adam pun hanya menggeleng perlahan dambil ikut tersenyum juga, ada desir halus di dada mereka. Namun, mereka mampu menutupinya, kebersamaan seperti ini seolah memang merupakan sebuah keasyikan tersendiri.

Keduanya sama – sama memendam rindu, namun seolah seperti awal, ada tembok besar yang menghalangi kedua sisi mereka.

Mereka pun memulai makan, dan detik demi detik berlalu begitu saja.

Diandra memuji masakan bu Halimah, masakannya enak. Kenapa kata Diandra, bu Halimah tidak memasak untuk berbisnis. Namun kali ini, Adam harus melarang soal itu. Katanya, biarlah Ibunya memasak hanya untuk dirinya saja, itu sudah cukup.

Adam tak mau Ibunya lelah dan capek, Adam ingin ibunya banyak istirahat dan bisa menikmati kebersamaan dengan Adam.

Saat itu, Diandra diam sejenak mendengar jawaban itu. Benar, mereka selalu bersama, sulit ketika membiarkan keduanya disibukkan dengan lain hal apalagi memisahkan mereka berdua. Ikatan mereka mungkin sudah seperti jiwa yang menyatu, mereka pasti sudah menghadapi masa sulit dan bahagia semasa hidupnya dan terus bersama.

”Setidaknya...” Diandra memulai ucapannya perlahan, ”Setidaknya, jika saya berada disini. Ibu masakkan untuk saya ya, saya akan berterima kasih untuk bu Halimah.”

Ucapan itu terlontar begitu saja, bu Halimah pun menyadari itu. Dia berdiri dan memeluk Diandra dan kepala Diandra dielusnya. Halimah tidak punya anak perempuan, mungkin dia kangen punya anak perempuan. Atau malah, merindukan seorang menantu?

Adam melihat hal itu, begitupun bi Jamilah. Semua tersihir dalam ketenangan dan sepinya suasana. Hanya desir angin yang lembut menerpa mereka. Adam pun tersenyum, biarlah takdir Tuhan yang akan berkehendak nantinya.

Manusia, hanya bisa menjalani dengan sabar dan tawakkal.

 

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!