PESANTREN ANGKER

Bab 12. Rahasia

"Dia tidak hidup seperti manusia pada umumnya," lanjut Kyai Taufiq. Dia membuka matanya, menatap Zahra dengan tatapan penuh penyesalan. "Rizwan terkurung. Terkurung di tempat yang tidak bisa dijangkau manusia biasa."

 

"Terkurung? Di mana?" Zahra bertanya dengan suara bergetar.

 

Kyai Taufiq terdiam lama. Sangat lama. Lalu dia menjawab dengan suara yang hampir berbisik.

 

"Pesantren Al-Falah."

 

Zahra merasa dunia berputar. Nama itu. Nama yang sama dengan tempat yang dia lihat di mimpinya semalam. Nama yang tidak terdengar asing. Padahal Zahra belum pernah mendengar tempat itu sebelumnya. 

 

"Pesantren Al-Falah?" ulang Zahra lirih.

 

Kyai Taufiq mengangguk. "Pesantren yang ditutup dua puluh tahun lalu. Pesantren yang dikuasai oleh Jin Malik Azhraq. Di sana, ayahmu terkurung dalam dimensi gaib. Tidak mati, tapi tidak bisa keluar. Dia terjebak selamanya."

 

Air mata Zahra jatuh. Dadanya sesak. Napasnya tercekat.

 

"Kenapa… kenapa ayah bisa terkurung di sana?"

 

"Karena dia melawan jin itu untuk menyelamatkan ibumu dua puluh satu tahun lalu," jawab Kyai Taufiq dengan suara penuh penyesalan. "Dia menang. Dia berhasil mengusir jin dari tubuh ibumu. Tapi, dia tidak tahu bahwa jin itu sudah menyiapkan jebakan. Saat Rizwan pergi ke kampung halamannya untuk mengurus masalah keluarga, jin itu menyergapnya. Menariknya ke Pesantren Al-Falah. Mengurungnya di sana sebagai balas dendam."

 

Zahra menutup wajahnya dengan tangan. Menangis.

 

Ayahnya tidak meninggal. Tapi dia terkurung. Terkurung selama dua puluh satu tahun. Sendirian. Tanpa bisa kembali.

 

"Kyai…" suara Zahra bergetar hebat. "Apa ada cara untuk menyelamatkan ayah?"

 

Kyai Taufiq menatap Zahra dengan tatapan yang sangat sedih.

 

"Ada," jawabnya pelan. "Tapi caranya sangat berbahaya."

 

Zahra mengangkat wajahnya. Menatap Kyai Taufiq dengan mata penuh air mata tapi juga penuh keteguhan.

 

"Apapun itu, akan saya lakukan. Tolong beritahu saya, Kyai."

 

Kyai Taufiq menghela napas panjang. Lalu dia mulai bercerita.

 

"Sebelum aku ceritakan semuanya," ucap Kyai Taufiq pelan, "kamu harus tahu… bahwa apa yang akan kamu dengar malam ini akan mengubah hidupmu selamanya. Kamu akan dihadapkan pada pilihan yang sangat berat. Pilihan antara nyawamu dan nyawa ayahmu."

 

Zahra menelan ludah. Jantungnya berdebar keras. Tapi tatapannya tidak goyah.

 

"Saya siap, Kyai," jawabnya mantap.

 

Kyai Taufiq mengangguk pelan. Lalu dia mulai bercerita.

 

"Dua puluh satu tahun yang lalu," suara Kyai Taufiq parau tapi jelas, "ibumu datang ke pesantren ini dalam keadaan yang sangat buruk. Dia sakit-sakitan. Berat badannya turun drastis. Sering pingsan. Sering mendengar bisikan-bisikan aneh. Tidurnya tidak pernah nyenyak. Mimpi buruk setiap malam."

 

Flashback: 21 Tahun Yang Lalu (2004)

 

Pesantren Darul Istiqomah - Paciran, Lamongan

 

Langit sore berwarna jingga kemerahan. Angin sepoi-sepoi bertiup di halaman pesantren kecil yang sederhana. Suara santri mengaji terdengar merdu dari mushola.

 

Di teras rumah Kyai Taufiq, seorang lelaki paruh baya berusia sekitar empat puluh lima tahun—masih tegap dengan jenggot hitam bercampur uban—duduk di kursi kayu sambil membaca kitab kuning. Wajahnya tenang, penuh wibawa.

 

Tiba-tiba, terdengar suara kendaraan berhenti di depan gerbang. Kyai Taufiq mengangkat kepala.

 

Sebuah mobil tua berhenti. Pintu terbuka. Seorang laki-laki paruh baya turun dengan tergesa-gesa. Dia membuka pintu belakang, membantu seorang wanita muda turun.

 

Wanita itu Khadijah.

 

Usianya baru dua puluh tiga tahun. Wajahnya cantik, tapi sangat pucat. Matanya cekung. Tubuhnya kurus kering. Dia berjalan tertatih, hampir tidak bisa berdiri sendiri.

 

"Kyai! Kyai Taufiq!" panggil laki-laki itu—ayah Khadijah—dengan suara penuh kepanikan. "Tolong! Tolong anak saya!"

 

Kyai Taufiq langsung berdiri. Dia turun dari teras, menghampiri mereka.

 

"Ada apa, Pak Wahid?" tanya Kyai Taufiq.

 

"Anak saya sakit, Kyai. Sudah berbulan-bulan. Dokter tidak bisa menyembuhkannya. Saya mohon… tolong dia!"

 

Kyai Taufiq menatap Khadijah. Mata wanita muda itu kosong, menatap ke depan tanpa fokus. Bibirnya bergetar. Seluruh tubuhnya gemetar.

 

Kyai Taufiq menyentuh dahi Khadijah sebentar. Lalu dia langsung menarik tangannya—dingin. Sangat dingin. Bukan dingin biasa. Dingin yang tidak wajar.

 

"Masuk," ucap Kyai Taufiq dengan nada serius. "Bawa dia ke ruang ruqyah."

 

***

 

Di dalam ruangan kecil berlantai kayu, Khadijah duduk bersandar di dinding. Kyai Taufiq duduk di hadapannya, mulai membaca ayat-ayat Al-Quran.

 

"Bismillahirrahmanirrahim… Alhamdulillahi Rabbil 'alamin…"

 

Khadijah mulai gelisah. Tangannya mencengkeram baju. Napasnya mulai memburu.

 

Kyai Taufiq melanjutkan bacaannya. Semakin lama, semakin keras.

 

"Qul huwallaahu ahad… Allaahus-shamad…"

 

Tiba-tiba, Khadijah berteriak.

 

"AAAAAAHHH!"

 

Suaranya berubah. Berat. Dalam. Bukan suara wanita.

 

Kyai Taufiq tidak berhenti. Dia terus membaca. Tangannya menunjuk ke arah Khadijah.

 

"Keluar! Keluar dari tubuh hamba Allah ini! Dengan nama Allah Yang Maha Kuasa, keluar!"

 

Khadijah tertawa. Tawa yang mengerikan. Tawa yang bukan dari mulut manusia.

 

"Kau pikir kau bisa mengusirku, manusia tua?" suara berat itu bergema dari mulut Khadijah. "Aku adalah Malik Azhraq! Penguasa Biru! Aku sudah bersarang di tubuh wanita ini sejak dia kecil! Dia milikku!"

 

Kyai Taufiq tetap tidak gentar. Dia terus membaca ayat-ayat dengan suara lebih keras.

 

"Qul a'udzu bi Rabbin-naas…"

 

Tiba-tiba, tubuh Khadijah terlempar ke belakang. Kepalanya membentur dinding dengan keras.

 

BRAK!

 

Kyai Taufiq tersentak. Dia maju, ingin menolong—

 

Tapi tiba-tiba, tangan Khadijah melayang cepat, mencengkeram leher Kyai Taufiq dengan kekuatan yang tidak wajar.

 

"Kau… akan… mati…" desis suara itu.

 

Kyai Taufiq tercekik. Wajahnya mulai membiru. Dia berusaha melepaskan cengkeraman itu, tapi tidak bisa. Kekuatan jin terlalu kuat.

 

Pandangannya mulai kabur.

 

Khadijah tertawa. Tawa yang mengerikan. Tawa yang bukan dari mulut manusia.

 

Kyai Taufiq merasakan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Ini bukan jin biasa. Ini Jin Ifrit. Sangat kuat. Tapi dia tidak boleh menyerah.

 

"Allahu laa ilaaha illaa Huw, Al-Hayyul-Qayyuum…" Kyai Taufiq membaca Ayat Kursi dengan suara bergetar tapi tetap kuat.

 

Tubuh Khadijah bergetar hebat. Wajahnya meringis kesakitan—atau mungkin jin di dalamnya yang kesakitan.

 

Kyai Taufiq terus bertahan. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu. Dadanya sesak. Tapi dia tidak berhenti membaca.

 

"Laa ta'khuzuhuu sinatuw wa laa nawm… lahuu maa fis-samaawaati wa maa fil ardh…"

 

"BERHENTI!" teriak suara jin itu.

 

Tapi Kyai Taufiq terus melanjutkan. Tangannya gemetar, tapi tetap terangkat menunjuk Khadijah.

 

Setelah hampir satu jam pertarungan spiritual yang melelahkan, akhirnya tubuh Khadijah melemas. Dia terjatuh ke samping, tidak sadarkan diri.

 

Kyai Taufiq terjatuh juga, napasnya terengah-engah. Dadanya naik turun cepat. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar hebat.

 

Beberapa santri yang mendengar keributan dari luar langsung masuk, membantu Kyai Taufiq berdiri.

 

"Kyai, tidak apa-apa?" tanya salah seorang santri dengan khawatir.

 

Kyai Taufiq mengangguk lemah. "Aku… tidak apa-apa. Tolong… bawa wanita itu ke kamar perawatan. Jaga dia."

Pengaturan

Pengaturan

#fff #EAE6E4 #6E7075 #333

Font

Roboto Merriweather Rubik Lora

Ukuran huruf

- 18 +

Jarak

- 36 +
Episode sebelumnya
Episode berikutnya
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!
Novel Religi dan Anak-anak menunggu untuk anda baca! Juga ada konten Genre lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!